Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Ujian Cinta.


__ADS_3

"Lepas!!"


"Jangan bergerak atau kamu akan merasakan sakit yang amat menyakitkan disisa hidupmu."


"Nay, tolong jangan lakukan Nay, aku berjanji akan menuruti semua keinginannmu, termasuk pergi dari negara ini."


"Maafkan aku Briana, tapi aku sedang tidak tertarik dengan tawaran yang kau buat, tujuanku hanyalah ingin membalas sakit yang siang malam aku rasakan sendiri. Karena kamu dan ibumu aku selalu sendiri!!"


"Nay, jangan aaaa."


Briana memekik keras ketika Nayara menyuntikkan racun ke tubuh nya. Racun yang sama yang pernah diberikan ke tubuh orang tuanya dulu.


Nayara memejamkan mata setelah berhasil menyuntikkan racun mematikan ke tubuh Briana, jarum ditangannya terjatuh karena dia sadar sudah jadi pembunuh untuk pertama kalinya.


Tadinya Nayara mengira kalau dia akan bahagia setelah bisa membalas semuanya, akan tetapi kebahagiaan itu tidak juga dia dapatkan.


Nayara menitikkan airmata melihat Briana tergeletak dilantai, Tulang belulang Nayara ikut lemah, tubuhnya merosot ke lantai sambil menatap Briana yang tak bergerak lagi.


"Andaikan kau dan ibumu tidak melakukan semuanya kepada keluargaku, mungkin ini semua tidak akan terjadi padamu," lirih Nayara.


"Kamu dan ibumu terlalu tamak, ingin menguasai apa yang aku miliki, ini saatnya kamu harus merasakan pembalasan yang pedih Briana.


Disaat yang sama Nayara dibekap oleh seseorang dari arah belakang, menggunakan saputangan yang sudah dibubuhi obat bi*s. Lelaki itu memakai baju serba hitam dan juga memakai penutup wajah membuat Nayara tidak bisa mengenali siapa yang melakukannya.


Nayara dibopong oleh lelaki misterius dan dibawa pergi dari apartement Leon. Lelaki itu mengantarkan Nayara ke sebuah tempat yang aman untuk sementara waktu.


Lelaki itu mencari ponsel Nayara dan menghidupkan mode pesawat yang sedang aktif dan mengirim pesan pada Belvan.


Belvan yang sedang meeting belum sempat membaca pesan dari Nayara. Terpaksa Lelaki misterius itu menghubungi Morgan lewat bantuan pesan juga. Dan Morgan yang sedang makan siang bersama Tomi sangat senang mendapat pesan dari Nayara dan meminta untuk datang segera.


"Tomi sepertinya kita harus secepatnya temui Nayara, dia memintaku datang ke sebuah tempat. Firasat ku tiba-tiba tidak enak."


"Tapi Tuan, makanan anda belum habis."


"Aku tidak bisa membuat Nayara menunggu lama, sejak pagi dia tidak bisa dihubungi, dan sekarang aku sedang khawatirkan keadaannya." Morgan berjalan tergesa hingga Tomi kesulitan untuk mengejarnya.


"Baik Tuan, kita segera datang kesana sesuai keinginan, Nona," kata Tomi patuh.

__ADS_1


Morgan dan Tomi segera meluncur ke jalanan hitam dengan kuda besi terbarunya.


Morgan dan Tomi berputar putar mencari tempat Nayara berada sesuai petunjuk.


Morgan akhirnya menemukan mobil Nayara bertengger di depan rumah kosong.


"Itu mobil Nayara." Morgan segera mengenali mobil milik Nayara karena nomor platnya sudah dia hapal di luar kepala.


Morgan bergegas turun tanpa menunggu Tomi membukakan pintu. Tomi juga ikut berlari di belakang Morgan menghampiri mobil Nayara.


Morgan sangat panik mendapati Nayara pingsan di dalam mobil dengan ponsel tergeletak disebelahnya.


Lelaki misterius yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan, segera pergi setelah tahu Nayara sudah ditemukan oleh penolongnya.


"Tomi! Cepat lakukan sesuatu, Nayara pingsan," ujar Morgan sambil mengintip lewat pintu kaca samping. Morgan segera membuka pintu dan mendapati Nayara tidak bergerak.


"Benar, Tuan." Tomi ikut panik.


Morgan lebih panik lagi, bayangannya sudah sangat buruk, bagaimana kalau Nayara mengalami pelecehan, pembunuhan atau sebagainya. diperiksanya tubuh yang lunglai itu dengan teliti. Morgan akhirnya bisa menghirup oksigen dengan lega setelah mengetahui tak ada tanda kekerasan atau pelecehan pada tubuh Nayara.


"Nay, bangun Nay, ceritakan padaku apa yang sudah terjadi?" Morgan menatap wajah Nayara, memeluk, lalu mencium tangannya penuh syukur. Dia begitu rapuh melihat wanitanya mengalami hal buruk. Meski yang dialami Nayara tidaklah terlalu buruk.


"Kamu benar, Jika dia orang jahat pasti Nayara sudah terluka." Morgan setuju dengan Tomi.


Morgan tidak mau mengulur waktu lagi, dia segera melarikan Nayara ke rumah sakit dan meminta Tomi untuk kembali ke perusahaan dengan membawa mobil miliknya. Morgan ya yang akan mengemudikan mobil milik Nayara ke rumah sakit..


"Tuan, bagaimana jika orang itu masih disekitar sini dan mengancam keselamatan anda," tanya Tomi. Tomi tidak ingin Morgan dan Nayara dalam bahaya.


"Jangan khawatir, aku yakin aku dan Nayara akan baik-baik saja," jawab Morgan.


Tomi setuju, dia akhirnya melepaskan Morgan dan Nayara pergi menuju rumah sakit terdekat, sedangkan dirinya mencoba mencari petunjuk di sekitar, siapa tahu ada orang mencurigakan sedang mengawasinya.


Tomi kalah cepat, Lelaki misterius sudah merubah penampilannya dan pergi setelah memastikan Nayara menemukan penolong yang tepat.


***


Di rumah sakit, Dokter meminta pada Morgan untuk tidak panik. Karena Nayara baik-baik saja.

__ADS_1


"Tuan Morgan, Kekasih anda baik-baik saja, hanya saja dia masih dalam pengaruh obat bi*s. Setelah dua jam dia akan segera siuman," kata Dokter saat ditemui Morgan usai memeriksa kondisi Nayara"


"Syukurlah dokter," Morgan diizinkan masuk oleh dokter.


Morgan membuka pintu pelan, Lelaki itu. tersenyum mengamati wajah Nayara yang seperti orang tidur. "Baby cute, buruan bangun, kamu akan baik-baik aja."


Morhan menutup pintu lalu menarik kursi supaya lebih dekat dengan ranjang Nayara. Morgan duduk di dekat Nayara sambil terus mengamati wajah wanita yang dia sayangi. Meski wajahnya sudah banyak berubah karena operasi saat kecelakaan dulu, tapi Morgan tetap melihat Nayara masih sama, Nayara yang menggemaskan, Nayara yang membuatnya susah untuk memejamkan mata.


"Nay, bangunlah, atau aku akan mencium mu," goda Morgan saat waktu yang ditentukan dokter sudah lewat, tapi yang ditunggu masih nyenyak tidur.


Nayara masih saja betah tidak bergerak, Morgan mencium kening Nayara lalu memencet hidungnya dengan gemas.


"Bangun Nay, atau aku akan mencium bibirmu." bisik Morgan ditelinga Nayara.


Nayara sepertinya mulai bisa mendengar bisikan Morgan. Nayara membuka matanya pelan-pelan.


"Nay, aku tahu kamu akan segera siuman." Morgan sangat senang Nayara membuka mata, lelaki itu terus menggenggam tangan Nayara dan menggosoknya pelan. Berharap Nayara tidak lagi merasa kesepian seperti hari-hari sebelumnya.


"Kenapa aku disini? Kenapa kamu juga disini?"


Nayara mencoba mengingat sebelum dirinya pingsan. Ya, Nayara ingat ada lelaki yang membekap mulutnya dengan sapu tangan sebelum dia kehilangan kesadarannya.


"Kaukah yang melakukan itu?" Nayara mencurigai Morgan yang telah membawanya dari apartement Leon karena ingin menjauhkan dari Briana.


"Melakukan apa Nay."


"Membawaku ke sini dan ingin merusak rencanaku. Tapi anda terlambat"


"Nay, apa yang kamu katakan." Morgan tidak mengerti.


"Kamu tidak rela kalau aku menghabisi Briana, karena kamu sesungguhnya sangat mencintai dia." Nayara menatap Morgan dengan tatapan kebencian. Morgan tidak pernah melihat sorot kebencian yang begitu besar dari manik mata indah itu.


"Ini pasti ada salah paham, aku tidak pernah mencintai Briana." Morgan membela diri, karena itu memang benar. Morgan berusaha untuk meraih jemari Nayara, tapi Nayara menepisnya.


"Nay apa salahku?" Morgan tidak mengerti kenapa Nayara berubah setelah dia siuman.


"Anda tidak bersalah Tuan Morgan, yang salah aku sendiri kenapa harus percaya pada lelaki buaya seperti anda," kata Nayara dengan wajah sinis.

__ADS_1


"Nay, sepertinya kamu telah salah paham, aku harus secepatnya meluruskan semua kesalahpahaman ini." Morgan tidak akan menyerah untuk melunakkan hati Nayara yang tiba-tiba menjadi sekeras batu.


__ADS_2