
Nayara segera meninggalkan gudang, lalu bergegas ke perusahaan.
Seorang lelaki tampan menyambutnya dengan wajah gelisah di depan ruang pribadinya. "Nay, kamu darimana?"
"Aku, aku dari ... Maaf aku izin keluar sebentar."
"Nay, aku khawatir terjadi apa-apa dengan kamu, seseorang melapor kalau kamu keluar dengan Briana?"
"Em, iya ...."
"Nay, aku khawatir dia akan menyakitimu lagi, apakah dia benar-benar tidak membuat ulah lagi?" Morgan menarik dagu Nayara ke kanan dan ke kiri. Dia bisa bernafas lega setelah tak melihat luka sedikitpun di wajah kekasih kecilnya, kecuali hanya bulir-bulir keringat yang terus menetes dari keningnya.
"Pak lepaskan tangan anda dari dagu saya, karyawan lain melihat kita." Nayara tidak mau
"Apa yang akan dia lakukan jika dia melihat kita!
"Pak, anda sudah menikah. aku takut mereka akan memandang anda lelaki yang tidak baik." Nayara ingin membuang rasa gugupnya di depan Morgan. wanita itu pergi ke ruang pribadinya.
Morgan berdiri mematung sambil melihat punggung Nayara dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Nay, jika pekerjaan kamu sudah selesai ikut aku ke ruang santai. Aku menunggumu disana," kata Morgan.
"Baik Pak, pekerjaanku masih banyak. Anda jangan terlalu berharap aku datang," jawab Nayara.
Nayara sedikit menghindari Morgan karena sedikit lagi usahanya akan tercapai, dia tidak mau ketika pergi kembali ke California, justru hatinya akan tersangkut oleh pesona lelaki tampan di depannya.
Menurut Nayara, Morgan juga banyak berubah, bagaimana bisa dia menyamakan dirinya dengan gadis yang dianggap masalalu olehnya.
Di ruang pribadinya, Nayara mengintai ruang penjara Briana melalui ponsel yang sudah disambungkan ke kamera yang ada disana. Dia melihat gadis itu sedang mencari sesuatu di sakunya. Briana terlihat sudah payah dalam kondisi tangan terikat.
Briana, rupanya memiliki ponsel cadangan, dia bisa menghubungi seseorang melalui ponsel rahasia.
Nayara mencoba menguping pembicaraan Briana dengan lelaki yang di hubungi itu dengan memperbesar volume ponselnya.
Briana kesal karena panggilannya pada seseorang tidak segera diterima. Tak lama ada nomor lain yang dihubungi oleh Briana.
"Leon, tolong aku. Leon!
"Apa yang terjadi, Sayang?" Leon seperti berada di sebuah alam terbuka, suara Briana hilang datang terbawa angin.
"Sekretaris sial*n yang ku ceritakan ke kamu itu sekarang semakin berani mengancam ku, dia juga memiliki video tentang hubungan kita, dia ingin memeras ku dengan meminta uang satu miliar. Apakah kau bisa membantu?" Briana berharap Leon akan memberinya uang tebusan untuk dirinya.
__ADS_1
Nayara tertawa terbahak-bahak mendengar permohonan Briana pada Leon, rupanya dia masih tidak menaruh curiga sama sekali kalau Leon sebenarnya tidak memihak dirinya.
"Hallo sayang, apa yang kamu katakan? Sayang apakah kamu masih mendengar aku? Aku lagi di luar kota, disini lagi susah sinyal bisa hubungi aku beberapa hari lagi ke depan," kata Leon yang kembali berakting.
Nayara puas Leon masih setia meski dia tidak bisa dipercaya untuk tidak menghabiskan malam dengan briana.
"Leon! Leon! jangan tutup teleponnya aku bisa mendengar suaramu dengan jelas." kata Briana mulai kehilangan kesabaran
Tut! Tut! Tut!
Leon kini malah memutus panggilannya.
"Leon!" Briana berteriak karena kesal.
Nayara segera meminta pada penjaga supaya segera mengambil ponsel Briana sebelum dia menghubungi lebih banyak orang lagi.
"Serahkan ponselnya Nona!"
"Tidak, jangan ambil ponselku." Briana merengek supaya ponselnya tidak diambil, tapi dua lelaki itu tak mungkin menolak perintah Nayara.
"Kembalikan ponselku," pinta Briana.
"Nona, tidak mungkin kami memberikan ponsel pada tahanan, kecuali jika kita cari mati," jawab penjaga.
"Kami tidak peduli Nona, yang jelas dia membayar kami sangat mahal. bisakah anda diam sebelum kami membungkam mulut anda," gertak pengawal.
Briana diam, dia sudah membayangkan kain kotor yang tergeletak di depannya akan dijadikan penutup mulut.
Ketika malam tiba, Briana menangis sendiri dalam ketakutan, nyamuk mulai silih berganti hinggap dan menghisap darah di tubuhnya dan meninggalkan bekas merah.
Briana juga merasakan rasa lapar yang melilit tubuhnya.
"Beri aku obat anti nyamuk, perut ku juga lapar, jika aku mati kamu akan mendekam seumur hidup di penjara, atau bahkan orang-orang suamiku yang akan langsung menembak kalian."
"Kamu dengar tadi apa yang diminta? hahaha" Si gondrong Mark tertawa.
"Dikiranya kami babunya apa?" Si botak, Jack ikut tertawa.
Briana sangat kesal dengan tanggapan dua lelaki di depannya, bajunya hitam pendek yang dipakai membuat nyamuk lebih semangat untuk mengerjainya.
"Kamu tuli ya?" Briana kesal karena dua orang tidak kunjung memberi pertolongan.
__ADS_1
***
Nayara datang memenuhi undangan Morgan. Lelaki itu sudah menunggu sejak satu jam yang lalu. bahkan Morgan meminta pada pelayan untuk menyulap ruang santai menjadi seperti sebuah cafe dengan banyak hidangan mewah di dalamnya.
"Nayara," panggil Morgan.
"Iya Pak." Nayara menatap Morgan yang tidak lagi memperlihatkan aura dingin lagi pada beberapa hari belakangan ini.
"Nay, apakah kamu bisa temenin makan malam, aku sedang sendiri."
"Oh, tapi hanya makan malam, aku tidak bisa lama-lama karena aku ...."
"Ada janji dengan Belvan." sarkas Morgan.
"Tidak, aku hari ini lumayan lelah, aku butuh istirahat," jawab Nayara.
Aku mengundangmu kesini bukan untuk bekerja, aku menyuruhmu istirahat." Morgan mengusap rambut Nayara lembut menyalakan lilin aromaterapi yang membuat ruangan jadi harum. Semua menu kesukaan Nayara sengaja disiapkan supaya kekasih masa kecilnya itu bisa mengingat masalalu yang pernah dilalui secara berlahan.
Morgan meminta Nayara duduk, lelaki itu bahkan membimbingnya, Morgan meletakkan serbet di pangkuan Nayara.
Nayara tidak fokus, dia takut Briana akan lolos, Nayara ingin tahu apa yang bisa dilakukan oleh wanita itu dengan tangan terikat.
"Nay, kamu melamun?" Morgan melihat Nayara yang sejak tadi tidak fokus.
"Ah tidak." Nayara gugup.
"Baiklah, kita makan sekarang." Morgan mengambilkan Nayara menu kesukaannya.
"Pak, ini tidak benar, anda tidak perlu melayani saya seperti ini aku bisa sendiri." Nayara meminta centong ditangan Morgan tapi lelaki itu menjauhkan tangannya.
"Khusus hari ini, aku ingin memperlakukan kamu dengan spesial," kata Morgan. Lelaki itu menggenggam lembut tangan Nayara yang menggantung di udara dan menciumnya. Sedangkan tangan yang satunya mengambil nasi dan lauk kesukaan Nayara.
Nayara benar-benar merasa tidak nyaman dengan perlakuan Morgan.
"Nay, Aku dan Tomi sudah tahu semuanya sekarang. Kamu adalah Naya kecilku yang dikabarkan orang orang sudah pergi belasan tahun lalu, aku sangat senang kamu masih hidup." Morgan berkata dengan wajah berbinar.
" Saya bukan wanita yang anda maksud, anda salah, pasti gadis itu bukan saya." Nayara masih belum bisa mengingat apapun. Naya tidak ingat siapapun yang ada dimasa lalu kecuali Belvan sahabat kuliahnya.
"Kamu boleh tidak mengakui Nay, tapi asal kamu tahu, aku akan terus membantumu ingat semuanya secara berlahan..
Justru saat ini Nayara takut ingat semuanya, takut mengingat masalalu pedih saat Diana menyiksa dirinya terus menerus, belum lagi kepergian kedua orang tuanya yang tragis, Nayara tidak butuh ingat semuanya, dia cukup mendengar cerita dari mantan asisten rumah tangga nya saja.
__ADS_1
Lagipula Nayara tidak peduli dengan hubungan masalalunya dengan siapapun lagi termasuk Morgan. saat ini ada Belvan yang selalu baik padanya dan membantu dalam setiap masalah, Nayara hanya ingin membalas perlakuan baik Belvan dengan belajar mencintainya. Nayara tidak mau apa yang dikatakan Flora benar. Dia hanya memanfaatkan kebaikan adiknya saja.
Jika benar Morgan bagian masalalunya, Nayara akan melupakan semuanya, apalagi mengingat Morgan sudah pernah menikah dengan Briana.