Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Rencana harus berhasil.


__ADS_3

"Asisten tolong bantu Nayara ke kamarnya! Sepertinya Nayara kurang enak badan dan butuh istirahat," pinta Belvan.


"Baiklah Tuan, aku akan membantunya," jawab Asisten


Bibi membawa Nayara ke kamar. " Nayara menurut dan tubuhnya kini terasa makin aneh.


"Aku kenapa? apakah aku punya penyakit lain selain kehilangan ingatan.


Saat itu asisten tahu kalau Nayara akan mendapat perlakuan buruk, sedangkan setahu Asisten Nayara adalah wanita baik-baik.


Asisten membaringkan Nayara ke ranjangnya. Tubuh Nayara mulai basah oleh keringat dan nafasnya ngos-ngosan. Asistent tahu kalau Nayara sedang dalam pengaruh obat pera**sang.


"Nona, apakah kamu baik-baik saja?"


"Apa yang telah anda masukkan ke dalam minuman aku, jawab?!" Nayara membentak bibi sambil mencengkeram kedua lengannya.

__ADS_1


"Tidak ada Nona?" Asistent mulai ketakutan.


"Cepat mengaku, atau jika aku mengalami hal buruk, aku akan membuat kamu dan keluargamu menderita," kata Nayara sambil berusaha mengontrol tubuhnya yang mulai memanas. Setiap sarafnya menjadi begitu sensitif dan bagian bawahnya berkedut kedut tanpa diminta.


Nayara benar-benar gila karena tidak bisa mengontrol tubuhnya. Nayara seperti wanita haus belaian dan ingin segera mendapat pelepasan.


"Pergi dari sini! segera bebaskan aku, cepat lakukan satu hal."


"Maaf Nona, saya benar-benar tidak tahu." Asisten masih berusaha melindungi diri membuat Nayara semakin geram. karena sudah ketahuan bersalah masih tidak kau mengaku."


"Apakah Belvan yang meminta melakukan semuanya?" tebak Nayara.


Nayara semakin tidak tahan dia meminta asistent untuk pergi, dengan cepat Nayara segera mengunci pintu.


"ahh," Nayara merasakan sakit di kedua bukit kembarnya yang mulai menegang, intinya terus berkedut tanpa bisa dikendalikan.

__ADS_1


Nayara meminum banyak air putih, akan tetapi semuanya nihil, tubuh Nayara tetap berkeringat dan sensitif.


"Tolong ini sakit." Nayara mengartikan rasa yang dialami sebagai rasa sakit. padahal itu bukan sakit melainkan sebuah hasrat.


Belvan yang melihat asistent keluar kamar Nayara dengan panik, dia yakin wanita yang dia cintai itu sudah benar-benar dalam pengaruh obat, Belvan berharap Nayara akan menghampiri dirinya dan melampiaskan semua hasratnya.


"Nay, datanglah ke pelukanku, kamu pasti tidak akan sanggup melawan apa yang kamu rasakan itu seorang diri." Belvan tersenyum smirk, dia yakin Nayara tak ada pilihan lain selain melampiaskan gejolaknya padanya malam ini.


"Morgan-Morgan, setelah kembali dari pulau ini, kamu akan menangis karena melihat Nayara sudah menjadi milikku seutuhnya." lirih Morgan sambil memakai piyamanya dan duduk di depan tubuh cermin.


"Nayara sendiri yang akan memilih siapa yang pantas menjadi suaminya. Kamu hanyalah lelaki pecundang, kamu mencintai Nayara tapi tidak berusaha." Belvan kini memakai piyama tidur yang mirip jubah mandi itu. lalu tanpa memakai apapun lagi.


Belvan sudah membayangkan bercinta dengan Nayara, sungguh dia sangat senang, bahkan tawanya sesekali pecah.


Nayara berlari ke kamar mandi, menyalakan shower dengan harapan air yang yang mengguyur tubuhnya mampu merubah keadaan dirinya.

__ADS_1


"Tolong bantu aku. Aku harus kuat untuk bertahan dalam masa ini, atau aku harus menyerah saja." batin Nayara.


Nayara mulai meremas dua miliknya dan menanggalkan bajunya yang basah. Nayara tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk membantu dirinya yang begitu menyedihkan.


__ADS_2