
"Tahu darimana, Kamu?" Lamunan Morgan buyar oleh kedatangan Tomi.
"Tuan, Biarpun jomblo. Tapi saya bisa membaca raut wajah wanita yang sedang jatuh cinta."
"Kamu paling bisa, Morgan melempar gulungan kertas pada Tomi. Morgan senang sekali Tomi bilang kalau Nayara menyukai dirinya.
Tring!
Ponsel Morgan berdering, dengan cepat tangan kanan Morgan menyambar benda pipih yang dia abaikan karena sibuk melamun itu.
Setelah dilihat ternyata Nayara yang mengirim pesan, Morgan segera membacanya.
'Morgan, malam ini aku tidak kembali ke Villa, aku harus pulang bersama Uncle dan Aunty ke Apartement. besok mereka sudah kembali, rasanya aku tak bisa jauh dari mereka saat ini.'
[Nay, benarkah kamu sekarang ada bersama bibi dan paman kamu. tidakkah kau ingin mengenalkan aku pada mereka.]
[Lain kali saja, aku sangat lelah, aku butuh istirahat Morgan]
Nayara sebenarnya merasakan lelah hati yang sangat dalam. Keputusan Belvan membuatnya terbelenggu, apalagi paman dan bibi mendukungnya.
[Baiklah, aku juga akan pulang malam ini, kamu hati-hati di jalan.]
[Terima kasih sudah mengerti, maafkan aku jika ada kelakuanku yang menyakiti hatimu.]
[Santai saja Nay, aku dan Tomi akan segera berkemas, jangan lupa hubungi aku jika sudah sampai, aku mencintaimu.] ketik Morgan.
Lelaki itu tersenyum saat mengirim pesan dengan menyematkan kalimat terakhirnya.
Nayara tidak membalas, sebenarnya saat ini Nayara sedang ada di samping Belvan di deretan kursi paling belakang. Asisten Belvan sibuk mengemudi dan Belvan sesekali melirik Nayara yang sedang mengetik pesan.
Bram dan Maria ada di deretan kursi tengah bersama Aunty sedangkan Mama dan papa Belvan ada di mobil lain bersama Flora.
"Honey, bagaimana kalau kamu tidak usah bekerja di perusahaan Morgan."
"Tidak Belvan, tinggal di kota ini aku butuh biaya hidup yang besar, buat apa aku dewasa jika aku masih menggantungkan hidupku pada orang lain."
"Belvan, Nayara itu sedikit keras kepala, jika kamu memutuskan untuk menikah dengan dia, kamu harus banyak bersabar," ujar Aunty
"Benar Aunty, Nayara memang sedikit keras kepala, tapi Belvan akan tetap menyayanginya.
__ADS_1
"Ya, terserah kamu Belvan, tapi biarkan aku bekerja, kita masih belum suami istri, tidak mungkin aku meminta uang darimu terus. Apa nanti yang dunia katakan tentang aku.
Uncle ikut bicara. "Ya, kali ini aku setuju dengan Nayara, biarkan dia bekerja untuk dirinya."
"Baiklah, Uncle. Tapi aku sangat takut ada kumbang diluar sana yang akan mengecup bungaku ini." Belvan menarik Nayara kedalam dekapannya. Nayara menyingkirkan tangan Belvan berlahan, karena dia malu dilihat oleh paman dan bibinya.
Bibi dan Uncle tertawa melihat kenakalan Belvan. Sepertinya hanya Nayara yang memaksa senyumnya.
Tak lama Nayara tertidur. Belvan meluruskan tangannya untuk tempat bersandar kepala wanita pemilih mata indah itu, Nayara tertidur pulas karena hari hampir pagi.
Setelah empat jam dalam perjalanan mereka tiba di apartement, Nayara masih tertidur saat mobil sudah berhenti.
Uncle dan Aunty turun lebih dahulu, sedangkan Belvan dan Nayara masih di dalam. Belvan menatap wajah Nayara yang tampak lebih cantik saat tidur. Belvan sangat senang mengingat acara tunangan berjalan dengan lancar.
Belvan tidak tega membangunkan Nayara, dia ingin menggendongnya sampai apartement. Tapi saat rencana itu belum berhasil, Nayara membuka mata dan menguap. "Kita sudah sampai ya?"
"Iya Honey," kata Belvan. "Mau aku gendong sampai dalam."
"Tidak, sebaiknya kamu segera pulang dan istirahat." Nayara turun dari mobil Belvan dan berjalan sempoyongan karena baru bangun tidur. Sedangkan Aunty dan Uncle sudah turun lebih dulu.
Belvan ikut mengantar Nayara bersama aunty dan Uncle. lelaki itu tidak mengindahkan ucapan Nayara yang ingin dirinya segera pulang saja.
Nayara menganguk meski hatinya tak sejalan. "Iya, kamu lebih baik pulang sekarang. istirahat," kata Nayara.
Belvan mencuri satu kecupan di pipi Nayara. "Nayara tak mampu menghindar, tapi ekspresinya tetap saja terkejut.
Belvan tersenyum. "Jangan menolak lagi, aku kekasihmu sekarang." kata Belvan lirih ditelinga Nayara.
Nayara diam mematung, mendadak kakinya kaku untuk melangkah masuk. Nayara mengamati punggung yang bergerak menjauhi lift. Belvan baginya banyak berubah. Tidak seperti Belvan yang dia kenal dulu.
"Nay, masuk. Dilihatin aja, besok masih ada waktu ketemu lagi," canda Aunty.
Nayara segera masuk ke kamar, dia melihat Uncle sudah tidur pulas di sofa. Tinggal Aunty yang masih terjaga.
"Nay, Belvan meminta kami untuk menyaksikan acara tunangan malam ini, karena kami sangat merindukanmu jadi kami langsung setuju. Belvan lelaki yang tepat buat kamu."
"Tapi Aunty, Nayara dan Belvan sudah bersahabat sejak lama, bukan cinta."
"Hem, lalu siapa lelaki yang kamu cintai jika kamu dan Belvan hanya bersahabat?"
__ADS_1
"Naya tidak tahu, dan Naya tidak ingin memikirkannya."
"Belvan juga cerita sama Aunty, kalau kamu dekat dengan atasanmu di kantor, mantan suami Briana. Bibi tidak setuju jika kamu jatuh cinta dengan dia. Selain dia mantan suami Briana, kamu harus ingat tujuan awal kamu Nay, Kamu harus menghancurkan Briana dan orang yang dia sayangi agar hidupnya menjadi sangat pedih dan sakit. bahkan dia akan menyerah dan tidak sanggup untuk hidup di dunia ini lagi." kata Bibi.
"Morgan tidak bersalah dalam hal ini, dia Teman masalalu Nayara yang diperalat Briana."
"Bibi tidak perduli! Dia tetap mantan suami Briana. Apa kamu tidak punya malu menikahi lelaki yang sudah menjadi bekas kakak tiri yang kau benci? Nay berfikir yang jernih. Apa kamu tidak jijik disentuh oleh tangan yang sama yang pernah memanjakan wanita yang kau benci itu? Bahkan dia pernah berbagi peluh dalam satu ranjang, Bibi membayangkannya saja merasa jijik"
Nayara menjadi sedih mendengar semua penolakan Aunty tentang Morgan. Akan tetapi dia berusaha untuk tidak menangis.
"Banyak lelaki di dunia ini selain dia." kata Aunty lagi seolah menjadi kalimat skakmat yang tidak bisa di bantah lagi.
"Nay, lupakan perasaanmu dengan Morgan, dan lanjutkan misi kamu yang sudah setengah jalan. Kami akan terus memantau gerak gerik kamu, karena Briana sekarang sudah tahu siapa kamu sebenarnya. Dan hati-hati dengan Leon." kata Bibi memperingatkan.
Maria masuk ke kamar untuk istirahat, Nayara mengantar Aunty setelah mengisi gelas minum dan merapikan selimut Aunty, dia juga masuk ke kamarnya untuk istirahat.
Morgan yang masih di jalan menghubungi Nayara, lelaki itu bisa memperkirakan kalau Nayara sudah sampai.
"Hallo Nay."
"Hallo."
"Apa sudah sampai."
"Sudah, baru saja sampai."
"Aku mengkhawatirkanmu Nay. Oh iya besok pagi aku ingin antar Aunty dan Uncle kamu ke bandara, aku sekalian ingin mengenalnya lebih dekat."
"Jangan."
"Kenapa? Nay, kok kamu tidak suka aku kenal dengan keluargamu? Nay, apa kamu tidak percaya kalau dulu kita saling mencintai."
"Aku percaya, tapi aku belum bisa ingat semuanya, aku akan berusaha mengingatnya. Morgan, maafkan aku jika suatu hari aku tidak bisa kembali seperti Naya yang dulu. Yang terjadi di masa dulu, anggap saja sebuah kenangan."
"Nay, jangan bicara seperti itu. Teruslah berusaha mengingat kenangan indah kita. Apa perlu kita lakukan terapi untukmu, kita datang ke psikiater untuk meminta bantuan mereka. Siapa tahu ingatan kamu akan cepat pulih."
'Percuma Morgan, kalaupun aku ingat semuanya, Aunty tidak merestui kita. Aku dan Belvan juga baru saja tunangan.' Batin Nayara.
"Nayara, Nay! Apa kamu masih mendengarku?" Morgan gelisah Nayara lebih banyak diam daripada menyahut panggilannya.
__ADS_1