Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Nayara ditemukan


__ADS_3

Malam telah larut, Nayara bersimpuh dengan tangan masih terikat di belakang. Sekujur tubuhnya terasa sakit hingga tak bisa dibayangkan lagi rasanya.


Sakit yang dia rasa mungkin lebih sakit daripada kematian itu sendiri, akan tetapi Nayara tidak mau mati, dendam yang sejak lama tertanam di jiwa kini semakin membara.


Dia merutuki kebodohannya yang terlalu lama bertindak, masih melibatkan perasaan dan hati. Ya, Nayara awalnya masih punya rasa tidak tega membuat hancur sebuah rumah tangga yang dibangun atas cinta, tapi rasa itu kini sirna.


Nayara melihat semua orang tengah asyik menikmati makan malamnya.


Mereka terlihat mendapat jatah makan malam spesial dari Briana karena berhasil membawanya ke tempat laknat ini sesuai keinginan bos.


Perut Nayara ikut keroncongan, haus yang kian mencekik tenggorokan dan lapar berbaur menjadi satu.


Nayara terus menatap semua orang yang tengah mengigit daging empal yang terlihat empuk. Belum lagi minuman segar yang mengembun di gelas, seolah tengah menawarkan diri, memanggilnya untuk meminta segera diseruput.


Air liur Nayara nyaris menetes, dengan wajah memelas dia terus menatap ke arah mereka yang sesekali bersulang.


"Hei! kau lapar ya?"


Nayara mengangguk, bibirnya sedikit mengulas senyum


"Kasihan banget Bos, dia belum makan seharian." Seseorang menyahut dengan nada merendahkan.


"Bos, wanita itu belum makan." Bondan memberitahukan pada Briana.


Briana melihat ke arah Nayara, memasang wajah kasihan. Wanita itu mendekat dengan sepiring nasi dan segelas minuman di tangannya.


"Nay, makanlah, aku tahu ku sudah sangat lapar." Briana mendekatkan makanan ke hidung Nayara supaya wanita malang itu bisa mengendus aroma sedap.


"Harum kan? rasanya juga enak sekali, kamu pasti suka."


"Ayo buka mulutmu, biar aku suapi."


Briana menyendok satu sendok nasi dan mengulurkan ke mulut Nayara yang sudah dibuka.


"Wah, jatuh ..." Briana menjatuhkan sendok dan membuat nasinya berceceran dilantai.

__ADS_1


yang semakin membuat kesal, Briana malah menjatuhkan semua nasi di tangannya ke lantai secata sengaja.


"Nayara, maaf sepertinya kamu harus makan nasi sendiri, aku tidak bisa membantumu, nasinya sudah aku taruh dilantai kamu bisa langsung makan dengan mulutmu." Briana berdiri lalu sedikit membungkuk hingga bibirnya tepat berada di telinga Nayara


"Ayo makanlah, aku ingin melihat kamu makan seperti binatang."


Siksaan demi siksaan dari Briana justru membuat dirinya sekarang semakin kuat, Nayara tidak lagi menitikkan airmata, tangannya mengepal hingga otot-ototnya terlihat biru, kontras dengan kulitnya yang putih.


"Kamu bukan manusia!! Percayalah, suatu hari kamu yang akan berada diposisi ku, mungkin akan lebih menyakitkan lagi, dan pada saat itu tak akan ada satu orangpun yang bersimpati termasuk orang yang kamu sayangi. Kamu akan memohon dan bersujud padaku agar aku mengampunimu."


"Plakk!!" satu tamparan kembali mendarat di pipi Nayara yang sudah dipenuhi luka.


"Kamu seorang wanita rendahan, tidak akan mampu membuat mimpimu itu jadi kenyataan, lihatlah sekarang, kamu terikat dan aku terbebas, aku bisa melakukan apapun sesukaku." kata Briana menertawakan ancaman Nayara baru saja.


Briana menginjak kaki Nayara dengan sepatu hak tinggi yang lancip, lalu menekan dan memutar hingga tulang kakinya terasa seperti retak.


"Aaaaa."pekik Nayara.


"Bagaimana rasanya? sakit kan? Briana semakin bahagia hingga dia tak bisa menahan tawanya. "Sekarang saja kamu tak bisa membalas ku, bagaimana kamu akan membalas semuanya. Besok atau lusa mungkin namamu tinggal kenangan, dan aku akan kabarkan pada keluargamu yang tinggal di luar negeri kalau Nayara bunuh diri karena tak sanggup menanggung malu, ketahuan selingkuh dengan CEO di kantornya, menarik bukan?"


"Kamu rupanya baru tahu kalau aku bisa bertindak gila, makanya jangan pernah usik hidupku, termasuk suami,"


"Kamu takut! hahaha, kamu takut kalau Morgan akan memilihku!"


"Tidak!! aku tidak pernah takut."


"Bohong! kamu takut Briana, itu sebabnya kamu membawaku kesini dan menyiksaku. Caramu sungguh licik dan kotor"


"Tutup mulutmu!" Briana semakin marah, matanya membulat, dia menyiram Nayara dengan minuman dingin bersoda. Lukanya semakin perih merasakan air soda meresap ditubuhnya.


Briana mengangkat kursi hendak memukul ke wajah Nayara, tapi ponsel rahasianya berbunyi.


"Nona, Tawanan kita lepas, lelaki itu bukan orang sembarangan, dia memiliki mata-mata dimana-mana dan mengelabuhi kami.


"Bodoh! kenapa bisa lepas!"

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba ruang bawah tanah kosong, laki-laki itu terlepas karena ada yang melepasnya."


Tanpa Briana sadari kalau gaji yang ditawarkan pada penculik Belvan tidak seberapa, laki-laki itu bisa memberinya sepuluh kali lipat.


Briana segera meninggalkan markas tempat Nayara disekap dan ingin memastikan kalau Belvan benar-benar sudah kabur.


Di markas tempat Belvan di sekap Briana mengamuk seperti orang kesurupan, rencananya untuk menjebak Belvan harus gagal.


Belvan segera meluncur bersama asistennya tanpa ada hambatan, berdasarkan informasi dari para anak buahnya Nayara ditemukan di sebuah gudang tua.


"Kamu sebaiknya cari tempat yang aman, aku akan menyusup diantara mereka dengan menyamar sebagai bagian dari mereka.


"Tuan, segera hubungi saya, jika anda menemui kesulitan. Sementara Aku akan mencari persembunyian yang aman." Asistent Belvan menyembunyikan mobil ke semak yang tak jauh dari markas, mereka berdua sangat hati-hati.


Belvan mencoba mendatangi mereka setelah berpenampilan sama dengan para preman, yaitu memakai kaos hitam dan celana hitam, ternyata ada yang Belvan tidak ketahui, anggota mereka semua memiliki Bros dengan gambar tengkorak, jika bisa menunjukkan Bros yang sama, maka mereka tidak akan ragu kalau mereka adalah kawan.


"Maaf, Bros milikku sepertinya jatuh dijalan saat aku berjalan kesini, aku disuruh Nona untuk mengirim anda supaya kalian bisa bersenang senang. Minuman yang aku bawa ini dibeli dari negara Jepang oleh Nona sendiri, kalian belum pernah merasakan sebelumnya.


"Kamu pasti penyusup!" Belvan tetap dicurigai sebagai penyusup karena tidak memiliki identitas pengenal berupa Bros.


Tak ada pilihan bagi Belvan kecuali dia harus mendapatkan Bros yang sama. Belvan pura-pura mencari Bros, saat lelaki itu membantunya, Belvan segera menghajar di semak


Belvan meminta Asisten untuk mengikat dan menyeretnya ke tempat yang jauh, Belvan mengambil Bros yang ada di dada preman tadi.


Belvan segera kembali ke markas, dia bertemu dengan anggota penculik lainnya, Belvan mengatakan hal yang sama kalau dia sedang diutus untuk mengantarkan hidangan penutup dan minumsn spesial, lagi-lagi Bros tanda keanggotaan yang mereka tanyakan, kini Belvan bisa menunjukkan Bros itu.


Belvan diizinkan masuk, mereka terlihat senang sekali mendapat banyak minuman dari Belvan. mereka belum pernah merasakan minuman sultan itu sebelumnya.


Ketika mereka setengah mabuk, Belvan menambahkan bubuk yang bisa membuat mereka tidur dan besoknya mereka dijamin akan muntah darah. Dan bisa saja mereka akan mati kalau tidak segera mendapat pertolongan.


Belvan geram karena para lelaki itu sudah membuat Nayara demikian mengenaskan. Mata Belvan berkaca-kaca ketika dia melihat wanita yang dia sayangi tangannya terikat dengan tiang tubuh dan wajahnya dipenuhi luka dan lumpur, Nayara sangat memprihatinkan.


Belvan ingin memberi tahu Nayara kalau dia telah datang, tapi Belvan menahan diri.


Nayara tidak bergerak, Belvan khawatir Nayara pingsan. Setelah kondisi mulai aman Belvan mendekati Nayara yang masih menunduk dengan mata terpejam.

__ADS_1


__ADS_2