SESAL

SESAL
Proyek Masa Depan


__ADS_3

Setelah belanja mainan dan sepatu, kami bergegas untuk pulang, sebenarnya Rayhan mengajakku makan malam tapi karena merasa kelelahan aku mengajaknya langsung pulang.


Terdengar Adzan Magrib berkumandang tepat pada saat kami tiba di rumah orang tuaku. Rayhan mengangkat semua belanjaan yang dibeli tadi di Mall.


"Loh..mau dibawa kemana. Kak?" tanyaku.


"Ke dalam," jawabnya singkat.


.Aku bingung, dan melangkah masuk ke rumah.


Setelah memberi salam, aku mempersilahkan Rayhan duduk, Karena aku mau membersihkan diri dan juga shalat Magrib.


"Oh ada tamu rupanya, nak Rayhan sama siapa kesini?" tanya ayahku keheranan.


"Sama Fani pak," samar-samar aku dengar percakapan mereka.


Setelah membersihkan diri dan shalat aku ke dapur sekalian membuatkan teh buat Rayhan. Ibu sedang menyiapkan makanan untuk makan malam.


" Sejak kapan kamu dekat sama Rayhan?" tanya ibuku.


"Kami nggak dekat kok Bu, kebetulan saja kami ketemu di luar tadi," kataku beralasan.


"Nggak dekat kok di belanjain banyak begitu," tanya ibuku lagi.


"Aku nggak tau Bu kalau itu buat Rafa,"


Untuk menghindari pertanyaan aneh-aneh ibuku, aku ke ruang tamu membawakan teh dan ternyata di sana sudah ada ayah yang sedang menemani Rayhan, dan juga Rafa yang sedang memainkan mainan yang dibeli oleh Rayhan di Mall tadi.


"Di minum Kak" tawar ku kepadanya.


"Lho..mainan ini kok kamu bongkar sih Nak?" tanyaku sambil netraku menatap Rayhan yang meminta penjelasan padanya.


" Memang itu untuk Rafa," jawab Rayhan.


Aku hanya terdiam memandangi mainan yang di mainkan oleh Rafa. Sungguh di luar dugaan ku kalau mainan itu untuk Rafa, seandainya sejak di Mall aku tau itu untuk Rafa, mungkin takkan sebanyak itu yang di belinya.


Karena waktunya makan malam, Rayhan ikut makan malam bersama kami. Setelah berbincang sebentar Rayhan pamit pulang.


Ternyata sudah ada seseorang yang sedang menunggunya di luar.Entah temannya atau sopir taksi online, aku tidak kenal orang tersebut. Dia langsung berpamitan pada orang tuaku.


Sepulangnya Rayhan, ibuku menyerang ku dengan banyak pertanyaan, ternyata dia belum puas dengan jawabanku di dapur tadi.


Aku menjelaskan bahwa kami tidak ada hubungan apa-apa, masa seharian bertemu di kirain dekat, ada-ada aja ibuku ini. Sedangkan ayahku santai-santai saja meskipun seandainya kami ada hubungan, toh itu kan wajar-wajar saja, aku statusnya tanpa suami dan Rayhan tanpa istri, apa salahnya kalau sama-sama mau,


Aku benar- benar pusing mendengar orang tuaku menganggap aku ada hubungan dengan Rayhan, aku juga tau diri dengan statusku.Tidak mungkin Rayhan menyukai seorang janda dengan seorang anak sepertiku.Kayak tidak ada gadis saja. Meskipun aku merasakan perhatian Rayhan tapi mungkin dia menganggap aku sebagai adik atau teman saja, atau bahkan dia kasihan padaku.

__ADS_1


Keesokan harinya sepulang dari kantor, aku menjemput Rafa dan Bi Rahmi di rumah orang tuaku untuk kembali ke rumah. Karena sudah dua hari aku tinggalkan rumahku. Bukan alasan itu saja, jarak kantor dan rumah orang tuaku lumayan jauh.


...*******...


Hari terus berganti, tak terasa tiga bulan sudah pertemuan kami. Karena Rayhan ada proyek di kotaku jadi dia bolak balik dari Kalimantan ke kotaku.


Dia juga semakin dekat dengan Rafa, banyak mainan yang dia berikan untuknya. Mereka juga sering bermain bersama.


Aku bukan wanita yang tidak tau apa sebenarnya keinginan Rayhan. Mustahil seorang pria yang mau menghabiskan waktu kepada seorang wanita kalau hanya sebatas teman. Aku tau dia menaruh hati padaku. Kulihat dari perhatiannya, tatapannya. Tapi aku belum siap untuk membuka hati untuk seseorang. Bukannya trauma hanya belum siap menjalin hubungan yang lebih serius.


Ketika aku sedang sibuk dengan hobby baruku di dunia perbunga-bungaan, karena hari Sabtu jadi Rafa di bawa oleh Mas Rasya.


Ketika aku sedang asyiknya menanam bunga yang baru ku beli online , gawaiku berdering. Kulihat nama" Kumbang" muncul di layar. Nama itu tidak aku ganti di kontak ku karena nama itu aku anggap lucu saja. Seketika senyumku muncul di sudut bibir, entah kenapa rasa bahagia ketika melihat dia yang menghubungiku .


Ku geser tombol hijau dan memulai menerima telpon darinya.


"Aku ada di depan, bukain pintu dong," katanya to the point.


Tuuuuttt. sambungan langsung terputus


Aku langsung ke luar memastikannya.


Setelah pintu terbuka, dia dengan gagahnya berdiri di depan pintu, dengan pakaian santai kaos dan celana pendek.


"Assalamu Alaikum."


"Kamu ini bukannya jawab Salam" katanya sambil mengacak rambutku.


" Nggak Kak, cuma kaget aja, biasanya kan kalau mau kesini Kakak telepon dulu."


"Surprise" katanya.


Aku ajak masuk, tapi sebelum dia masuk dia kembali ke mobilnya mengambil sebuah dos besar.


"Apa itu Kak?" tanyaku.


"Buka aja," jawabnya.


Karena penasaran, aku membuka dos tersebut dan ternyata isinya berbagai jenis bunga. Lengkap dengan pot dan media tanamnya Jika aku perhatikan bunga-bunga itu lumayanlah harganya.


" Astaga Kak, kenapa sih bawa bunga segala," tanyaku sumringah.


" Kamu nggak suka?" tanyanya agak kecewa.


"Suka kok Kak, cuma ini kan nggak murah.'

__ADS_1


"Thanks ya Kak." Ucapku tulus


Tanpa menjawab ku, Rayhan mengangkat dos tersebut ke taman belakang dan kami menata bunga- bunga tersebut.


Setelah menatanya, kami duduk di gazebo, senyum tak pernah lepas dari wajahku. Sungguh bunga-bunga tersebut membuatku senang. Asli cantik banget, sudah lama aku menginginkan bunga tersebut.


Tak lama kemudian Bi Rahmi datang membawakan kami teh dan cemilan.


"Terimakasih ya Bi," ucap Rayhan.


Bi Rahmi hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Rafa kemana?" tanyanya


"Bersama Mas Rasya," jawabku.


"Kamu nggak ikut?" tanyanya sambil menatapku.


"Nggak"


"Kenapa?"


Ya elah pakai di tanyain lagi, masa ikut bermalam sama mantan, apa kata dunia.


"Nanti aku di kira Pelakor'," jawabku asal.


"Justru kamu korban Pelakor'," katanya mengejekku.


Reflek aku pukul lengannya, dia semakin tertawa mengejekku.


"Di minum teh nya, Kak,"


Dia menyeruput teh yang sudah menghangat.


"Kakak kapan datangnya?" mengulangi pertanyaan ku yang belum di jawab dari tadi.


" Tadi subuh" jawabnya.


"Kakak ada kerjaan?" tanyaku lagi


" Iyya, proyek masa depan." jawabnya


Aku hanya ber oh saja.


Karena asyiknya berbincang tak terasa hari sudah sore.

__ADS_1


Sebelum berpamitan dia mengajakku untuk makan malam bersamanya. Dia akan menjemputmu sehabis shalat Magrib. Aku hanya mengiyakan karena bosan juga tinggal di rumah sedangkan Rafa bermalam di rumah neneknya bersama Mas Rasya.


Tidak ada salahnya aku keluar menemaninya, toh hanya sekedar makan malam saja. Kadang aku merasa dia seperti kakak bagiku karena perhatiannya. Tapi dari cara dia menatapku itu kadang membuat jantungku berdetak tak karuan.


__ADS_2