
Satu Minggu kemudian, seperti biasa hanya berdiam di rumah. Hanya keluar rumah untuk jalan-jalan di pagi hari. Selebihnya tinggal di rumah bersama Rafa. Terkadang Rayhan juga tidak ke kafe. Ibuku sering datang menemaniku membawakan berbagai makanan kesukaanku.
Setelah makan malam, aku menyempatkan diri menonton sinetron pavoritku yang tak pernah terlewatkan olehku.
Rayhan yang menemaniku sesekali menggantinya dengan channel berita atau acara sepak bola.
"Apa sih... ganggu banget!" Ucapku ketus, ketika dia menggantinya dengan berita.
"Ya...ellah ngapain nonton yang nangis melulu." gerutu suamiku.
Karena merasa terganggu akhirnya remote tidak aku lepas dari tanganku.
Setelah sinetron yang aku tonton selesai dan muncul kata "Bersambung" yang buat aku gregetan .Aku menyerahkan remote kepada suamiku dan aku bergegas ke kamar untuk beristirahat.
"Mau kemana? Temenin aku nonton!!" Ucap suamiku.
"Aku mau shalat Isya,"timpalku.
Rayhan langsung mematikan televisi dan segera menyusulku ke kamar.
Setelah ke kamar mandi untuk cuci muka sekalian berwudhu untuk melaksanakan shalat Isya.
"Tungguin aku, kita shalat berjamaah." ucap Rayhan langsung melangkah ke kamar mandi.
Setelah shalat berjamaah aku bergegas naik ke tempat tidur.
Rayhan pun segera menyusul. Dia mengelus perutku dengan lembut dan dia berbicara dengan calon anak kembarnya itu.
Aku sibuk dengan ponsel dan membiarkan Rayhan terus mengelus perutku.
Ponsel berdering dan kulihat Fira yang menghubungi.
Banyak yang di bicarakan Fira hingga itu kadang membuatku tertawa. Dia menceritakan suaminya yang selalu kerepotan karenanya.
Awalnya elusan Rayhan hanya di bagian perut tapi kini sudah menjalar ke mana-mana. Aku kadang memukul tangannya yang semakin nakal.
Aku asyik dengan Fira bercanda lewat sambungan telepon sedangkan Rayhan asyik dengan setiap inchi tubuhku.
Hingga entah kenapa pada saat dia menyentuh di bagian sensitif tubuhku, spontan ******* itu lolos dari bibirku. Dan seketika gairah menjalar ke seluruh tubuh.
"Astaga...Kak, kamu lagi anu.....???"
Aku masih samar-samar mendengar celotehan Fira dan akhirnya Rayhan mengambil ponselku dan mematikan sambungan itu.
Ciuman yang awalnya lembut kini menjadi sangat menuntut karena gairah yang membara.
Sebelum melakukan penyatuan Rayhan menatapku dengan tatapan sayu karena diliputi gairah.
"Boleh?" Ucapnya serak.
Memang sejak kehamilanku menginjak sembilan bulan sebelum dia melakukannya pasti meminta persetujuanku dulu. Kadang aku menggerutu dalam hati kenapa harus ijin kalau sudah memulainya, maunya sebelum memulainya ... ijin itu dia ucapkan.
__ADS_1
'Kamu bisa kalau di gantung??" Ucapku mencibir.
Seketika moodku hilang karena ijinnya itu.
Dia hanya menggeleng samar.
Melihatku moodku yang tiba-tiba menguap entah kemana dia kembali melancarkan aksinya. Kini dia semakin lihai yang membuatku kembali melayang ke nirwana. Dan akhirnya kami-pun berbagi peluh di kamar yang menjadi saksi bisu perpaduan dua insan yang diliput gairah.
Kami tertidur pulas setelah melakukan penyatuan itu. Meskipun dia melakukan dengan begitu lembut tapi tetap saja menguras tenaga. Hingga menjelang subuh aku merasakan nyeri di bagian perutku. Rasanya mulas seperti ingin buang air besar. Akupun mengambil pakaianku dan mengenakannya kemudian bergegas ke kamar mandi.
Aku merasakan nyeri di perutku,. aku berpikir mungkin karena efek melakukan hubungan tadi malam sehingga terjadi kontraksi. Aku mengambil air hangat untuk melegakan tenggorokanku yang terasa kering. Azan subuh berkumandang membangunkan Rayhan yang terbaring di tempat tidur. Karena melihatku tidak ada di sampingnya dia langsung mengedarkan pandangannya dan tepat tertuju padaku yang sedang terduduk di sofa.Dia langsung melangkah menghampiri ku
"Kamu cepat banget bangunnya, Sayang?"
Ucapnya sambil mengecup keningku.
'Mulas," ucapku singkat.
Mungkin anggapannya mulas karena mau buang air hingga dia segera beranjak ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
"Ayo kita shalat." Ajaknya.
Akupun bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Kami melakukan shalat berjamaah. Hingga ketika aku akan hendak berdiri perutku kembali terasa sakit.
"Aw...." rintihku.
Dia panik melihatku yang merintih ke sakitan dan hampir terjatuh.
Dengan gesit dia menggendongku ke tempat tidur. Setelah terbaring rasa sakit itu tidak terasa lagi. Hingga tiga puluh menit kemudian rasa sakit kembali . Setelah merasakan rasa sakit semakin sering datang dan merasakan ada cairan yang keluar dari jalan lahir si kembar. Aku merabanya dan melihat ada cairan berwarna kemerahan.
"Sepertinya aku mau melahirkan,"ucapku menahan sakit.
"Bukannya Minggu depan?" Ucapnya lagi.
Saking paniknya dia kebingungan harus melakukan apa.
"Cepat ...!! Bawa aku ke Rumah Sakit!!!"Teriakku.
Dia langsung menghampiriku dan hendak menggendongku. Melihatnya hanya mengenakan sarung dan itupun sedikit melorot.
"Kamu pakai celana dulu." Ucapku saat rasa sakit itu mereda.
Dia bergegas mengambil celananya dan memakainya.
Rasa sakit kembali datang membuatku meremas seprai dengan kuat.
Dia segera menggendongku ke mobil, sebenarnya aku menolak untuk di gendong tapi dia tetap melakukannya dan tak lupa menyuruh Bi Rahmi membawakan perlengkapan yang sudah di siapkan sebelumnya. Dan menyuruhnya menghubungi orang tuaku dan mertua.
Mobil dia lajukan dengan kecepatan tingg. Untung masih pagi jadi belum macet.
__ADS_1
Aku hanya mencengkeram lengan suamiku menahan rasa sakit.
"Sakit banget, ya?" Tanyanya lagi.
Keringat sudah mulai turun membasahi keningku.
Setelah lima belas menit kami sampai di rumah sakit, dengan cepat dia menggendongku dan berteriak memanggil perawat.
Aku segera di masukkan ke ruang bersalin. Setelah di periksa oleh dokter, ternyata baru pembukaan empat. Dokter menyarankan aku jalan-jalan atau melakukan kegiatan yang ringan supaya merangsang pembukaan berjalan dengan cepat.Rayhan kelihatan sangat tertekan melihatku. Aku yang kesakitan malahan dia yang keringatan.
Aku mencoba duduk di tempat tidur, Rayhan tak hentinya mengelus punggungku.
"Saaakit...."ucapku lirih.
Dia menarik tubuhku dan memelukku sambil terus mengelus punggungku, sesekali dia mengecup pucuk kepalaku.
Setelah satu jam berlalu dokter kembali datang dan memeriksa kembali. Dan katanya sudah pembukaan enam.
Orang tuaku,Fira dan suaminya pun sudah menunggu di luar hanya ibuku yang sesekali masuk melihatku.
Sakit kembali datang membuatku mencengkeram kuat lengan suamiku. Untuk kuku jariku tidak panjang. Kalau panjang bisa-bisa akan menembus kulitnya.
Aku mengerang kesakitan. Sungguh sakit yang luar biasa. Aku melerai pelukanku pada suamiku. Kulihat matanya berkacaca-kaca.
"Kamu pasti kuat, Sayang!" ucapnya sambil menghapus air matanya yang berhasil lolos keluar.
Aku hanya mengangguk.
Rayhan sepertinya kehilangan kata-kata, biasanya dia banyak bicara tapi entah kenapa dia lebih banyak diam dan melakukan dengan perbuatan yang membuatku sedikit nyaman.
Rasa sakit datang silih berganti tiada henti. Merasa akan buang air aku bergegas ke kamar mandi. Rayhan dengan sigap menggendongku tapi dia kaget karena bagian belakangku basah, bahkan bajunya juga ikut basah.
"Kok basah, Sayang?" Tanyanya heran.
Belum juga dia membawaku ke kamar mandi, dokter Tiara kembali masuk. Hingga dia memeriksanya ternyata ketubannya sudah pecah.
Dokter dibantu satu orang bidan dan tiga orang perawat segera memasang sarung tangan.
"Ibu tarik nafas pelan ya?"Ucap dokter Tiara.
"Tarik nafas....ya bagus, Bu."
Rayhan tak berhenti menggenggam tanganku, menyeka peluh di keningku. Saat sakit luar biasa datang tanganku memegang erat lengannya kemudian tanganku aku pindahkan ke dadanya karena saking sakitnya aku tak sadar mencengkeram dadanya dengan kuat.Sehingga ketika melepasnya ada beberapa kancing bajunya yang terlepas.
Berkat bimbingan dari dokter aku mengejan kuat dan lama dan akhirnya.
"Aaarrgggghhhh......"
"Oek....Oek.....Oek...
"Bayinya cantik," ucap dokter Tiara dan menyerahkan bayi mungil tersebut kepada salah seorang perawat. Aku mendengar helaan nafas Rayhan ketika mendengar tangisan bayi tersebut.
__ADS_1
Bayi pertama lahir bersamaan dengan suara adzan duhur berkumandang.Dan disusul bayi ke dua pada menit berikutnya yang berjenis kelamin laki-laki.