SESAL

SESAL
Salah Paham


__ADS_3

Memang benar wanita akan menjadi ratu jika menikah dengan pria yang tepat. Dengan cinta dan kasih sayang yang di berikan untukku seakan membuatku jadi wanita yang paling bahagia. Dibalik sakit yang pernah aku alami ternyata ada hikmah besar yang Tuhan siapkan untukku. Ya ... aku dipertemukan seseorang yang sangat mencintaiku.


Setelah acara syukuran tujuh bulanan kami-pun pindah ke rumah yang baru. Tentu saja Bi Rahmi ikut bersama kami. Aku tidak berniat menjual rumah yang dulu karena rumah itu kudapatkan dari hasil kerja kerasku selama bekerja. Aku tak tega untuk menjualnya. Banyak kenangan di rumah tersebut. Aku hanya butuh orang yang bisa merawat dan membersihkannya.


Hari-hari aku lalui dengan penuh kebahagiaan, apalagi orang tuaku dan orang tua Rayhan kadang datang mengunjungi kami. Jadi aku tak merasa kesepian tinggal di rumah. Semua persiapan melahirkan sudah di persiapkan. Yang menurut prediksi dokter tinggal dua Minggu lagi bahkan bisa lebih cepat dari perkiraan itu . Raihan sudah menyuruh Bi Rahmi untuk menyimpannya di tas, jadi pas nanti akan melahirkan langsung angkat saja.


Kandunganku juga sejauh ini baik-baik saja jadi bisa melahirkan normal menurut dokter.


Matahari bersiap kembali ke peraduannya menampakkan senja yang begitu temaran. Ku lihat jam dinding yan menempel menunjukkan pukul enam lewat.


"Kok Rayhan belum pulang?" kataku dalam hati.


Rasa khawatir muncul karena tidak biasanya dia tidak memberi kabar kalau pulang terlambat.


Kucoba menghubungi tapi tidak diangkat. Ku kirimkan chat lewat aplikasi WhatsApp juga tidak di baca. Berkali - kali ku coba menghubunginya tapi hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku hanya berjalan mondar mandir menunggu kedatangannya. Entah siapa yang harus aku hubungi. Aku tak punya nomor salah satupun karyawannya.


"Ya...Allah semoga tidak terjadi apa-apa dengan suamiku." Doaku dalam hati.


Kucoba menghubunginya kembali dengan harapan suamiku mengangkatnya.


"Ya .... Hallo!"


Deg... jantungku seakan mau meloncat keluar ketika mendengar suara yang menjawab teleponku adalah seorang perempuan.


"Ka---kamu siapa?" Tanyaku tergagap.


Pikiranku sudah tak karuan, langsung berpikir kalau suamiku bersama seorang perempuan.


"Aku Maya, Bu," jawab perempuan tersebut.


"Kalian sekarang di mana?' Bentakku emosi.


"Di hotel, Bu.... tapi Pak Rayhan da...."


"Apa???" Aku langsung memotong ucapan perempuan tersebut karena emosi sudah sampai ke ubun-ubun.


Aku langsung menutup sambungan telepon secara sepihak setelah perempuan itu mengucapkan kata hotel.


Akal sehatku sudah tak bisa berfungsi lagi.Sehingga lupa kalau suamiku memiliki sebuah hotel di kota ini. Terbayang suamiku sedang bersama perempuan itu. Entah kenapa perasaan itu langsung muncul dalam hatiku mungkin karena trauma yang namanya perselingkuhan sehingga otomatis itu yang terpikirkan olehku.


Tak terasa air mataku menetes di pipi, membayangkan kalau itu benar-benar terjadi.Entah kenapa biasanya aku bisa berpikir positif tapi kenapa kali ini malah sebaliknya.


Bergegas aku ke kamar mengambil kunci mobil, ingin menyusul suamiku.


Baru saja aku membuka pintu rumah terdengar suara deru mobil berhenti di depan rumah.


Rayhan langsung tersenyum sumringah ketika melihatku membuka pintu. Deru nafasku begitu terasa begitu cepat. Emosi, sakit hati, cemburu bercampur menjadi satu.


Raut muka Rayhan seketika berubah melihat aku sesekali menghapus air mataku yang tak terasa jatuh berderai.

__ADS_1


Dia semakin mendekat dan ketika dia berada di depanku, aku langsung mendorongnya dengan kuat sehingga dia terjungkal ke belakang. Aku tak tau kekutan itu datang tiba-tiba mungkin karena aku saking emosinya.


Rayhan begitu kaget dengan apa yang aku lakukan. Aku membalikkan badan dan melangkah cepat menuju kamar.


Dia berlari memegang tanganku karena melihatku sedikit berlari.


"Kamu kenapa sih?" Tanyanya sedikit membentak.


Aku melepaskan tanganku dengan paksa.


"Justru aku yang seharusnya bertanya, kamu ngapain dengan perempuan itu di hotel?" Ucapku tak kalah emosinya.


"Maksud kamu apa?" Ucapnya kebingungan.


"Tidak usah pura-pura!! Kamu itu nggak ada bedanya dengan mantan suamiku, tukang selingkuh!!'


"Astagfirullah!! Ucapnya menghapus kasar wajahnya.


Dia kemudian mencoba memegang tanganku tapi aku menepisnya kasar.


"Demi Allah!! aku nggak mungkin dan nggak akan pernah menduakan kamu." Ucapnya meyakinkanku.


"Nggak usah bawa-bawa nama Tuhan." Teriakku.


"Kamu sadar nggak aku ini mengandung anakmu, kenapa kamu tega senang-senang di hotel bersama perempuan lain."Tangisku pecah.Aku sudah tak kuat lagi menahannya.


Sedangkan Rayhan terus mencoba memelukku tapi aku selalu memberontak.


Ponsel di tanganku berdering. Aku segera menghapus air mataku dan netraku tertuju pada layar ponsel dan muncul nama suamiku yang menelpon.


Rayhan langsung meraba saku celananya. Dan terlihat baru sadar kalau ponselnya tidak ada.


Karena mengira Rayhan sudah aku tangkap basah akhirnya aku mengangkat telepon perempuan itu.


"Hallo, maaf Bu, mengganggu waktunya."


"Oh...apa kamu tidak puas bersamanya, sehingga menghubunginya lagi?" Ucapku sinis.


"Ma...maksud Bu Fani?" Tanya perempuan tersebut.


Mungkin karena perempuan tadi menyadari kalau ada kesalah pahaman hingga dia langsung menjelaskan.


"Maaf,...saya cuma mau mengatakan kalau ponsel Pak Rayhan ketinggalan di hotel, sekarang ada sama saya di bagian receptionis.


"Ha......" mataku membulat sempurna mendengar penjelasan sang receptionis.


Aku langsung menutup sambungan telponnya tanpa mengucapkan apapun.


Ada rasa bersalah, malu dalam hati hingga aku hanya melihat ke arah lain. Tak mampu melihat ke arah Rayhan.


Ponselku kembali berdering, dan muncul nomor baru di layar.

__ADS_1


"Iya...Waalaikum Salam." Jawabku.


"Saya Maya, Bu ... saya cuma mau minta maaf karena berani mengangkat telepon ibu tadi di ponsel Pak Rayhan, sekali lagi maaf, Bu."


"Iya, nggak apa-apa." ucapku tak enak hati.


Aku langsung memberikan ponselku kepada Rayhan," padahal Maya tidak memintanya.


"Gara-gara kamu, istriku SmackDown aku!' Ucap Rayhan.


""Kamu antar pagi-pagi ke rumah."


'Waalaikum Salam."


Itulah yang di katakan Rayhan dengan Maya di telpon.


Aku hanya bisa nyengir mendengar pembicaraan Rayhan dan Maya. Malu ... itu pasti. Malu sama Rayhan dan Maya.


"Apa...senyum -senyum? Nggak percaya banget sama suami." gerutunya meninggalkanku sendirian.


"Kenapa aku kayak gini, sih? Cemburuan banget." Bathinku.


Aku kemudian ke meja makan untuk menyiapkan makan malam yang tertunda karena sibuk cemburu buta. Kemudian memanggil Rayhan untuk makan bersama. Tapi dia nyuekin aku cuma jawab katanya sudah makan.


Barusannya dia seperti ini terhadapku. Mungkin karena dia marah karena menuduhnya yang bukan-bukan. Akhirnya aku makan sendiri dalam diam dengan rasa bersalah campur malu juga tentunya.


Aku memasuki kamar dan melihat Rayhan sudah terbaring di sana. Biasanya dia akan menungguku dan menyapa calon bayi kembarnya sebelum kami terbuai dalam mimpi yang indah Tapi kali ini dia tak melakukannya. Aku tau dia hanya pura-pura tertidur. Dia sengaja menghindariku.


Aku menyusulnya naik ke tempat tidur. Mencoba terlentang tapi sesak karena perut yang membesar, kucoba membalikkan tubuhku padanya yang terbaring membelakangiku.


"Maaf .." Ucapku tulus.


Tidak ada respon darinya. Aku melingkarkan tanganku memeluknya.


"Kamu masih marah?" Ucapku lagi dan tetap tidak ada respon.


"Awwww....." Aku pura-pura merintih kesakitan dan akhirnya berhasil. Hatiku bersorak riang.


Dia segera berbalik mengahadapku.


""Ada yang sakit?" Tanyanya memegang perutku.


"Si kembar ngambek di cuekin Papanya." Ucapku sedih.


"Kamu sih... jadi istri nggak percaya sama suami," ucapnya masih kesal.


"Maaf..." Ucapku lirih.


"Kamu harus yakinkan hatimu, kalau aku tidak akan khianatin kamu, cintaku itu cuma kamu, dulu,sekarang dan selamanya. Meskipun tak kupungkiri banyak wanita di luar sana mengharap perhatian ataupun memintaku menjadikannya yang kedua, tapi itu tak mungkin dan tak akan pernah kulakukan. Bagiku kamu dan calon anak-anak kita ini adalah anugrah terindah yang Tuhan kirimkan buat aku." Ucapnya panjang lebar.


Aku terkesima mendengar setiap kalimat yang meyakinkanku.

__ADS_1


"Tapi kadang aku takut... kamu akan berubah dan melakukan hal yang sama seperti papanya Rafa."


"Aku bukan laki-laki bodoh seperti dia."Ucapnya kesal.


__ADS_2