SESAL

SESAL
Curahan Hati Rayhan


__ADS_3

Rayhan"s POV


Setelah menunaikan kewajibannya sebagai istri dia langsung terbuai dalam mimpi indahnya. Mungkin karena dia kelelahan karena melayaniku. Ku-tatap wajah ayu itu yang terbaring nyenyak di sampingku. Rasa bahagia, senang, tenteram hati menatap wajah teduhnya. Sungguh wanita yang sempurna.


Aku rapikan helai rambut yang menutupi wajahnya.


"Kamu adalah belahan jiwaku, anugrah terindahku, aku ingin memilikimu di dunia dan akhiratku, seandainya aku dilahirkan kembali aku ingin hanya kamu yang mendampingiku." Gumanku.


Aku sangat bersyukur karena beruntung bisa memilikinya. Dia adalah wanita yang terbaik, sempurna buatku. Sedangkan mantan suaminya adalah pria yang paling terbodoh dan paling merugi di dunia ini karena menyia-nyiakan wanita sebaik dia. Tapi aku sangat berterima kasih pada mantan suaminya karena kebodohannya itulah aku bisa memiliki istriku sekarang.


Perlakuan istriku sebelum dan disaat aku lumpuh tak berubah. Bahkan semakin perhatian. Tak sedetik pun aku mendengar atau melihat dia mengeluhkan keadaanku.


Terkadang aku merasa sedih, kasihan dengannya. Kapanpun aku meminta dia melayaniku, dia siap dan menurut. Walaupun mungkin terkadang dia merasa kelelahan.Sedangkan hasratku terus saja ingin dan ingin melakukan dengannya.


Tubuhnya seakan candu buatku. Walaupun dia hamil tapi itu menambah keseksiannya di mataku. Entah mengapa walau dia hanya menyentuhku saja aku langsung merasa bergairah. Aku tak tau apakah ini normal sebagai laki-laki atau akunya memang yang hyper. Tapi sejak menikah dengannya gairah itu sama saja sampai sekarang.


Seandainya aku tidak sakit seperti ini mungkin tidak menjadi beban buatku karena aku yang akan melakukan gaya apapun yang kami suka. Tapi sekarang dia yang harus kerja keras memuaskan ku. Jangan di tanya apa yang kurasakan saat dia melakukannya denganku sungguh membuatku sangat puas. Melihat tubuhnya di atasku sungguh membuatku sangat menikmatinya.Sungguh nikmat yang tiada tara. Gerakan tubuhnya yang lincah dan agresif membuatku terbang melayang dan puas sepuas-puasnya.Kalau boleh jujur gaya bercinta seperti itulah yang paling aku sukai. Tapi entah dengan istriku.


Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi, andai waktu itu aku tak ke Kafe karena biasanya kalau anakku merengek atau menangis aku akan menunggu sampai dia berhenti merengek kemudian aku berangkat. Atau kadang aku membawa serta mereka mengantar Rafa ke sekolah kemudian kembali lagi kerumah. Tapi mungkin ini memang sudah takdirku mengalami musibah ini.


Aku tak menyalahkan takdir tapi aku mengutuk tindakan para pelajar itu yang seenaknya ugal-ugalan di jalan membuatku harus mengalami kecelakaan.


Terkadang aku merasa sekarang aku adalah laki-laki yang tak berguna, tak ada artinya, egois. Menuntut nafkah batin dari istriku sedangkan aku lumpuh tak bisa melakukan apa-apa bahkan memuaskannya. Dari tempat tidur saja ke kursi roda harus di bantu orang lain. Tapi ketika istriku mengatakan kalau dia merasa puas denganku. Ku tatap matanya untuk menyelami apakah ada kebohongan di sana tapi hanya kejujuran yang kulihat di dalam matanya. Aku merasa lega karena diapun menikmatinya.


Mataku belum juga bisa terpejam, hatiku kalut, pikiranku melayang kemana-mana. Meng-- andai- andai sesuatu yang belum terjadi. Aku ingin seperti ayah yang lain bermain dengan anak-anakku, bermain bola, menggendongnya, menaikkannya di punggungku. Apakah aku akan mendapatkan kesempatan itu?Apakah anak-anakku tidak malu dengan keadaanku di kala mereka besar nanti?


Di dalam doakuaku meminta kesembuhan pada-Nya. Aku tahu Tuhan menyayangiku dengan memberikan cobaan ini padaku. Telah banyak yang aku pinta pada Tuhan dan Dia Maha Pemberi.Aku ikhlas kalaupun misalnya aku lumpuh seumur hidupku. Rencana Allah yang paling indah buatku.


Tak terasa air mata lolos di sudut mata. Cengeng? Lebay? Ya...itulah aku sekarang. Selama ini aku berusaha tegar tidak menampakkan keterpurukan-ku pada istri serta keluarga besarku. Aku tak ingin membuat mereka khawatir denganku. Aku ingin terlihat kuat di mata mereka tapi dalam hatiku sungguh kejadian ini membuatku terpuruk, takut, rapuh. Semakin istriku memanjakan ku, menurutiku, mencurahkan kasih sayang yang tak terbatas buatku membuat dadaku semakin sesak. Aku takut itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Karena dia juga manusia biasa yang mempunyai titik jenuh mengurusi pria cacat sepertiku.


Dadaku terasa sesak karena menahan tangis. Aku menutup mulutku supaya tak terdengar oleh istriku. Hingga aku melihat dia menggeliat dan semakin mengeratkan pelukannya padaku.


Aku menatap langit-langit kamar dengan menahan tangis seakan mau meledak.


Aku menarik napas panjang dan membuangnya perlahan untuk menenangkan diri.


"Kok kamu belum tidur." Tanyanya menatap ke arahku.


Aku kaget mendengar suaranya, aku segera berpaling dan menghapus air mata yang ada di pipi. Tapi terlambat dia sudah melihatnya.


Dia terbangun dan menatapku heran.


"Kamu nangis?" Tanyanya.


Aku tak kuasa lagi menahan gejolak di dada, begitu sesak, aku memeluknya erat dan menumpahkan tangisku.


Dia semakin heran denganku.

__ADS_1


Dia berusaha mengurai pelukanku tapi aku semakin mengeratkan pelukan dan semakin terisak. Tak ubahnya aku seperti anak kecil yang menangis diperlukan ibuku.


Kurasakan tangan halusnya mengusap kepalaku, membelai dan mencium pucuk kepalaku.


Setelah menumpahkan segala sesak di dada aku melepaskan pelukanku padanya.


"Kamu kenapa, Sayang?" Ucapnya lembut.


Aku hanya bisa menggeleng masih tak mampu bersuara.


Dia meraih tanganku dan menciumnya.


"Kamu cinta sama aku, 'kan?"


"Kamu percaya sama aku?"


"Aku berharga buat kamu?"


Setiap pertanyaannya itu aku menjawabnya hanya dengan anggukan kepala.


"Apa artinya aku di hidupmu?" Tanya istriku.


"Kamu segala-galanya buat aku, belahan jiwaku, kamu wanita kedua yang aku paling aku sayang setelah Mamaku." Ucapku sendu.


"Kalau aku segala-galanya, belahan jiwamu, kenapa bebanmu kamu simpan sendiri?"


"Aku tidak mau hanya sebagai istrimu, aku ingin jadi sahabatmu, temanmu tempatmu mencurahkan semua isi hatimu baik suka maupun dukamu." Ucapnya lembut.


Aku menggenggam tangannya dan menaruhnya di dadaku.


"Berjanjilah padaku kamu tak meninggalkan aku meskipun aku lumpuh seumur hidup."Ucapku menatapnya.


Dia membalas tatapanku dengan tatapan yang sulit aku artikan.


Aku mengungkapkan semua yang mengganjal di hati, semua ketakutan, kekhawatiran yang ada di benakku.


"Kamu ragu sama aku? kamu sangsi dengan cintaku selama ini?"


"Bukan begitu, Sayang. Aku cuma takut kamu akan meninggalkanku." Ucapku lirih.


"Astaga...apa harus aku katakan lagi? Aku sayang sama kamu bukan karena fisikmu tapi karena hatimu, Aku mencintaimu karena Allah.


Walaupun kamu lumpuh seumur hidup bahkan walaupun kamu buta, atau apapun itu aku akan menjadi cahaya buatmu, akan terus berada di sisimu.. Kecuali...." Ucapnya menggantung.


"Kecuali apa???"Tanyaku.


"Kamu mengkhianatiku, sudah aku pastikan aku akan meninggalkanmu." Ucapnya tegas.

__ADS_1


Aku memeluknya erat.


"Itu tak mungkin dan tak akan pernah aku lakukan." Ucapku yakin.


"Makanya buang jauh-jauh pikiran konyol kamu, kamu pasti sembuh! Aku yakin itu." Ucapnya menyemangati ku.


"Pakai nangis segala lagi!!..Laki-laki kok cengeng banget." Ucap istriku terkekeh.


"Siapa bilang aku nangis." Sangkalku.


"Iya...kamu nggak nangis cuma air mata kamu yang keluar." Ucapnya mengejekku.


"Itu mah pengaruh hormon, Sayang? Ucapku asal.


"Ngeles aja...Aku yang hamil bukan kamu."


Aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal, memang istri mah selalu benar, dan suami selalu salah.


Dia mengajakku tidur dan dia membaringkan tubuhnya di sampingku.


Aku masih membelai rambutnya dengan lembut.


"Ayo tidur, jangan nangis lagi!" Ucap istriku tersenyum mengejekku.


"Iya...iya..."


"Kenapa ya?Aku nggak vidio-in kamu tadi waktu nangis." Ucap istriku.


"Jangan macam-macam, yuk tidur udah jam 12 malam." Ucapku cepat.


Aku takut dia ngidamnya yang aneh-aneh lagi.


Aku pura-pura tertidur dan sesekali mendengkur supaya dia percaya kalau kalau aku sudah terlelap.


"Tidur atau push up, Sayang?" ucapnya memancingku.


"Push Up ." Jawabku.


"Hahahaha."


Dia tertawa terbahak mendengar jawabanku.


Akhirnya perasaan khawatir, takut, dan ngantuk seketika hilang berganti dengan tawa canda di dalam kamar. Kami berbincang banyak entah apa topiknya yang jelas membuat kami kadang tertawa saling mengejek. Hingga kami terlelap dalam buaian mimpi yang indah.


...*****...


*Rayhan dalam episode ini cengeng, lebay.😀😀

__ADS_1


.


__ADS_2