
Hana"s Pov
Menikah bukan hanya mengejar kebahagiaan tapi menghadapi ujian bersama-sama agar terasa ringan. Jika hanya soal kebahagiaan saat aku hidup sendiri pun aku sangat bahagia. Ada kalanya kita berada di titik terendah dan harus menyerah, tapi bukan sekarang waktunya. Selama diri ini sanggup aku akan bertahan dan memperjuangkan pernikahan kami.
Awalnya tak ada niat lagi untuk membina rumah tangga. Setelah kematian suami dan putraku membuatku merasa diri ini perempuan yang sial. Apalagi mendengar cemooh mertua dan ipar-iparku kalau aku ini pembawa sial karena kematian putra dan cucunya. Maklumlah pihak mertuaku masih percaya hal-hal yang begitu.Kenapa aku yang dipersalahkan, bukankah aku di sini yang paling bersedih karena kehilangan anak dan suamiku. Tapi aku diam saja, aku tahu mereka kehilangan. Aku berusaha tegar dan tidak memperdulikan ucapan mereka. Toh mereka akan berhenti sendiri.Aku menyibukkan diriku dengan pekerjaanku yang kebetulan seorang guru.
Hari-hari ku lalui dengan kesibukanku. Bahkan sore hari aku mengajar privat untuk anak-anak yang belum tahu membaca secara gratis.
Aku tinggal berdua dengan ibuku. Ayahku meninggal saat aku masih dalam kandungan. Aku sebenarnya mempunyai saudara laki-laki tapi dia tinggal di kota lain yang lumayan jauh. Hanya Kak Erwin yang selalu datang menjenguk kami. Dia sangat baik dan menganggap aku adik kandungnya. Masalah finansial gaji sebagai PNS lumayan cukup untuk membiayai hidupku dengan ibuku.
Kebetulan waktu itu aku menjadi utusan di sekolahku untuk mengikuti pelatihan di kota tempat tinggal Erwin selama tiga hari. Yang bertepatan juga sehari setelah pelatihan Erwin mengadakan syukuran Toserbanya. Akhirnya aku menunggu acara kakak sepupuku.
Aku bertemu dengan teman-teman Kak Erwin. Aku pikir mereka semua sudah berkeluarga. Ya akhirnya aku melayani mereka layaknya tamu. Kami saling berkenalan. Mereka baik dan mudah akrab. Aku tak menyambut uluran tangan Mas Rasya karena memang aku tak berjabat tangan dengan lawan jenis sejak aku memutuskan berhijab.
Keesokan harinya Mas Rasya datang kembali ke rumah Kak Erwin. Aku hanya mempersilahkan dia masuk karena aku sudah tahu kalau dia seorang duda, karena Kak Tiara yang mengatakannya sebelumnya.
Setelah bertemu dengan Kak Erwin dan pamit pulang, Kak Tiara meminjam ponselku katanya ponselnya tak tahu dia taruh di mana dan akupun melanjutkan pekerjaan dibelakang.
Entah kenapa Kak Tiara dua kali meminjam ponselku.
Beberapa hari setelah ke pulanganku di kampung. Ada nomor baru yang mengirimkan pesan lewat WhatsApp tapi aku tak membalasnya hanya membaca saja. Anggapanku pasti orang iseng. Tak lama kemudian dia menelepon. Karena penasaran juga akhirnya aku mengangkatnya. Dan aku semakin bingung kala dia mengatakan kalau aku yang mengirimkan pesan duluan untuk menyimpan nomorku.Ataukah ini alasannya saja. Ketika dia mengirimkan screen shot percakapan kami mataku membulat sempurna. Pikiranku langsung ke Kak Tiara karena cuma dia yang pernah meminjam nomorku. Aku langsung menghubungi beliau agar menjelaskan kepada Mas Rasya. Aku tak mau dianggap perempuan gampangan. Apalagi statusku sebagai seorang janda.
Sejak itulah kami sering berkomunikasi hanya sebatas menanyakan kabar ataupun pekerjaan.
Hingga suatu hari dia datang ke rumah bersama anaknya. Sungguh membuatku kaget kenapa dia dia bisa tahu rumahku padahal seingatku aku tak pernah memberikan alamat rumah. Hanya nama sekolah tempatku mengajar aku pernah bilang.
Yang paling mengejutkan lagi hari itu Kak Erwin datang. Memang Kak Erwin kadang datang pada hari libur. Tapi ini hanya selang seminggu dia datang lagi.
__ADS_1
Jantungku seakan melompat keluar ketika Mas Rasya menyatakan keinginannya untuk ta'aruf denganku. Sungguh ini sangat tiba-tiba. Kenal saja dengannya hanya lewat telepon.
Apalagi Kak Erwin dan Ibu seolah menyetujuinya.
Hari terus berganti kami saling mengenal satu sama lain. Semuanya dia ceritakan tak ada yang dia sembunyikan.Begitu juga denganku. Yang paling buat aku terkejut setengah mati ternyata Fani adalah mantan istrinya dan mereka pisah karena Mas Rasya ketahuan selingkuh. Sungguh jarang kutemui mantan pasangan suami istri terlihat akrab.
Aku sempat akan menolaknya menjadi suamiku karena pikirku dia akan mengulangi hal yang sama jika kami menikah nanti dan dia meyakinkanku kalau dia sudah bertobat dan itu adalah kebodohan terbesar yang pernah di lakukan olehnya.
Setiap manusia punya kekhilafan. Tidak ada salahnya aku menerimanya sebagai pendampingku. Apalagi ibuku sangat berharap aku menerima Mas Rasya.
Akhirnya aku menerima lamarannya. Kalau ditanya soal cinta, jujur di hatiku belum ada rasa itu untuknya. Tapi bukankah cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu kita selalu bersama. Masih banyak pasangan di luar sana yang bahkan tidak saling mengenal menikah dan terlihat mereka harmonis saja.
Hari pernikahan berlangsung khidmat dan sederhana.Itu memang keinginanku apalagi ini pernikahan kedua bagiku. Walaupun sederhana tapi tetap banyak keluarga yang datang bahkan menginap. Ya begitulah kebiasaan kami di kampung tujuh hari sebelum acara pasti sudah ramai hanya datang sekedar mengobrol atau apalah.Yang membuat aku kagum dengan sosok Fani adalah dia menyempatkan diri datang di acara akad nikah mantan suaminya.
Setelah acara pernikahan selesai masih banyak keluarga yang menginap. Bahkan Kak Erwin dan istrinya menitipkan putrinya kepadaku. Katanya dia ada keperluan, kenyataannya pulangnya pada pagi harinya.
Hari begitu cepat berlalu. Keesokan harinya mereka semua pulang. Aku memang cuti selama satu Minggu.
Malam harinya malam yang paling di nantikan oleh pengantin baru. Siap tidak siap aku harus melayani suamiku. Walaupun tanpa cinta. Aku tak tahu dengan Mas Rasya apakah dia mencintaiku atau tidak.
Kami sudah berada dalam satu kamar. Hanya keheningan yang ada di antara kami berdua.
Aku duduk di tepi ranjang masih dengan penutup kepala yang aku kenakan. Jujur aku sangat gugup.
"Tidurlah," ucap Mas Rasya memecah keheningan.
Aku-pun membaringkan tubuh dengan masih memakai penutup kepala.
__ADS_1
"Kamu nggak gerah pakai jilbab terus?" Ucapnya lagi.
Akupun membuka jilbab tanpa menjawab pertanyaannya. Meskipun sebenarnya aku memakai jilbab tak akan gerah karena meskipun tinggal di kampung di kamarku aku pasang AC.
Toh dia suamiku sudah halal dia melihat apa yang ada pada diriku.
Mas Rasya berbaring di sampingku. Dan dia membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya. Netra kami beradu dan tak kupungkiri setelah melihat dia dari jarak dekat, dia sangat tampan dan senyumnya itu sangat memikat.
"Kamu tidak menyesal menikah denganku?" Tanyanya.
"Apa yang aku putuskan tak akan membuatku menyesal." Ujarku menunduk.
Jantungku terasa berdetak tak karuan. Karena jarak kami hanya berjarak beberapa centi saja. Bahkan deru nafasnya seakan terasa di wajahku.
Lama kami terdiam dalam pikiran masing-masing.
Dia mengecup bibirku sekilas.Kemudian mengulanginya kembali yang cukup lama.
Ada yang berdesir hebat di tubuh ini ketika ciuman itu semakin menuntut. Tubuh ini serasa ingin meminta lebih. Tapi setelah kami akan melakukan penyatuan tiba-tiba dia loyo tak bisa melanjutkan lagi. Mas Rasya tak bisa mempertahankan ereksi yang cukup kuat untuk melakukan hubungan intim.
Terlihat Mas Rasya begitu frustrasi. Aku pun juga heran. Seandainya pengalaman pertama bagiku melakukan hubungan intim mungkin pikiranku akan berkata lain. Tapi aku sudah pernah melakukan sebelumnya tak pernah seperti ini.
Mas Rasya langsung memungut pakaiannya dan memakainya kembali. Kemudian dia terduduk di bibir ranjang.
Dia mengacak rambutnya frustrasi.
"Maaf." Lirihnya.
__ADS_1