
Ketika dua hati dimaksudkan untuk satu sama lain, tidak ada jarak terlalu jauh, tidak ada waktu terlalu lama. Tuhan pasti mempunyai skenario yang indah untuk mempertemukan dua hati itu.
Di saat hati dilanda gundah, merasakan ingin mendengar kabar dari seseorang walaupun itu hanya sekedar lewat pesan singkat. Dan rasa itu juga seperti yang di rasakan oleh orang yang kita rindukan. Apakan ini bisa dikatakan ikatan batin ataukah hanya kebetulan saja.
Seperti itulah aku dan Rayhan, merasakan apa yang aku rasakan. Saat sedang memikirkannya dia mengirimkan pesan yang sangat aku nantikan. Aku tak tau apakah namanya sudah mengisi relung hatiku, yang jelas aku merindukannya.
Mentari tersenyum menyapa pagi yang indah. Aku bergegas mempersiapkan diri untuk kembali beraktifitas setelah dua hari berdiam di rumah.
Aku melajukan mobil dengan pelan menuju kantor tempat menggantungkan hidup dan putraku.
Senyum terukir di bibir, menyapa setiap teman kantor yang berpapasan denganku.
"Hai Fan, ceria banget pagi ini," Ucap Fani.
"Biasa aja, " jawabku mengelak.
Kami berbincang sejenak sambil tertawa sebelum memulai pekerjaan.
Aku berkutat dengan laptop yang ada di depanku. Hingga waktu menunjukkan jam makan siang. Aku meregangkan otot-otot yang kaku karena kelelahan, sebelum bergegas ke kantin.
Tok tok tok.
Serempak aku, Fani dan ke dua teman yang berada di ruangan itu, menoleh ke arah pintu.
Netraku membulat sempurna melihat siapa yang datang.
"Cari siapa Pak?" tanya Dewi
"Yuk Fan, aku traktir makan siang," ucap Rayhan tanpa menjawab pertanyaan Fani.
Fani hanya mendengus di cuekin.
Fani menoleh ke arahku seakan bertanya lewat telepati tentang siapa pria yang mengajakku makan itu.
Aku tersenyum terpaksa kearah Fani.
"Aku duluan Wi," ucapku sambil berlalu.
Kami berjalan beriringan berjalan meninggalkan Dewi dan yang lainnya..
"Kakak kok bisa ke ruangan ku?"
' Cuma kantor sekecil begini, gampang kok nemuin kamu,' ucapnya sombong.
Ya ellah sombong juga ini orang, kantorku yang sebesar ini di bilang kecil, batinku.
"Maksud aku, kenapa bisa masuk, orang luar nggak bisa sembarang masuk apalagi langsung ke ruang kerja karyawan". ucapku penasaran.
__ADS_1
Rayhan tidak menjawab pertanyaan ku.
Tak jauh dari resepsionis aku melihat bos ku berdiri di sana.Saat melihat kami dia tersenyum simpul kearah kami.
Aku kira dia tersenyum padaku, akupun membalas senyum itu. Hatiku merasa khawatir, jangan-jangan dia akan memarahiku karena ada orang luar yang mencari ku. Tapi tidak ada tanda-tanda dari wajahnya kalau lagi marah. kataku dalam hati.
"Udah ketemu bro?" tanya Pak Bos sambil memukul pundak Rayhan.
Oh ternyata mereka kenal, pantasan Rayhan bebas masuk ke ruangan ku. Karena yang di bolehkan masuk secara bebas di kantor cuma keluarga dan teman Pak Bos.
Kami berlalu meninggalkan Pak Bos dan kami masuk ke mobil. Rayhan melajukan mobilnya menuju arah jalan raya.
"Kamu mau ke restoran mana?" tanyanya.
"Terserah Kakak, tapi yang dekat aja soalnya masih mau balik kerja." jawabku.
" Kamu bolos saja," katanya enteng.
"Nggak ah," ucapku protes.
Mas Rasya lalu mengambil gawainya dan menghubungi seseorang.
"Fani ijin ya," katanya pada orang yang dihubungi tersebut.
Cuma mengatakan kalimat itu kemudian langsung mematikan sambungannya.
"Astaga Kak...bisa-bisa aku di pecat kalau begini." ucapku agak jengkel.
"Tenang aja, si Romi nggak bakalan pecat kamu kok," katanya ke pedean .
"Kakak darimana kenal sama Bos aku?' tanyaku.
"Dia teman baikku, kamu santai saja,".
Aku hanya membulatkan bibirku membentuk huruf "O".
Rayhan kemudian melajukan mobilnya ke sebuah restoran dekat pantai.
Kami masuk dan memesan makanan. Karena memang sudah lapar aku langsung melahap makananku. Kami makan dalam diam, dari caranya makan juga aku bisa mengambil kesimpulan kalau Rayhan memang juga lapar.
Setelah menikmati makan siang, Rayhan tanpa sengaja melihat ke arah jari manis ku, senyum terukir dari bibirnya. Aku tak tahu apakah baru dia lihat di jariku atau dari tadi memang dia sudah melihatnya.
"Sangat pas di jari kamu," katanya terus
melihat cincin tersebut.
Aku hanya tersenyum sambil menunduk. Sejak aku mengambil keputusan dalam hati untuk memberinya kesempatan disaat itu pula aku memakai cincin itu. Meskipun itu sebenarnya bukan sebagai syarat bagi dia kalau aku sudah menerimanya.
__ADS_1
"Kakak kapan datangnya?" karena gugup hanya kalimat itu yang keluar dari bibirku.
"Pas kamu bilang kangen, aku langsung pesan tiket kesini," katanya sambil tersenyum.
Aduh......jadi malu kan, masa di ingatkan lagi. Rayhan benar-benar membuatku grogi setengah mati.
"Kok muka kamu jadi merah gitu," ucapnya lagi.
" Biasa aja Kak," ucapku mengelak.
"Yuk kita pulang kak" ucapku mengalihkan.
" Kita nonton ya?" Rayhan memberi ide.
Boleh juga idenya, sudah lama memang aku nggak nonton di bioskop. Sejak perceraian ku dengan Mas Rasya aku nggak pernah lagi ke sana.
Tak jauh dari Restoran memang ada bioskop jadi kami memutuskan menonton di sana.
Rayhan membeli tiket dan cemilan serta minuman sebelum kami masuk. Setelah duduk di tempat kami. Ternyata yang di pilih Rayhan film super romantis.
Nggak cocoklah nonton film beginian, apalagi kita berdua bukan sepasang kekasih. kataku dalam hati.
Saat adegan romantis-romantis ku lirik Rayhan senyum-senyum sendiri. Ya beginilah kalau bujang di temani nonton yang kayak gini pasti senyum-senyum sendiri. Tidak sama denganku ini mah sudah biasa, apalagi adegannya cuma ciuman doang ..batinku.
Tanpa sadar aku memukul jidatku sendiri, apa sih yang aku pikirkan, benar - benar otak kotor, kataku dalam hati merutuki pikiran kotorku.
Didalam bioskop aku tidak terlalu menikmati film tersebut, sehingga aku hanya makan dan minum saja, walaupun barusan makan siang tapi memang kalau soal cemilan aku jagonya ngemil.
Sebenarnya aku lebih suka film action atau horor, lebih menantang bagiku.
Karena Rayhan melihatku tidak menikmati film tersebut, dia kemudian mengajakku keluar tanpa menunggu film itu selesai.
Saat keluar dari Bioskop, matahari sudah bergeser turun dan suasana di pinggir pantai begitu indah. Rayhan mengajak ku duduk di sebuah taman yang tidak terlalu luas, yang berada tak jauh dari pantai, kita bisa melihat keindahan ombak yang seakan berlomba untuk cepat sampai di bibir pantai, dan dari situ juga kita bisa melihat matahari terbenam.
Kami duduk di sebuah bangku yang mengarah ke pantai.
Rayhan menunduk sambil memainkan kunci mobil di tangannya.
"Fan, apa aku masih harus menunggu?"
"Aku takkan keberatan jika harus menunggu lagi,berapa lama pun aku sanggup." katanya sesekali melihat kearah ombak.
"Kak, Aku pernah terluka, pernah merasakan di khianati, aku pernah berpikir untuk menutup hati ini untuk siapapun. Karena menurutku pria itu sama saja tidak ada yang setia, tidak ada yang tulus. Tapi setelah mengenal kakak , aku mengerti kalau pria pun memiliki ketulusan.
bahkan rela menunggu sampai kapanpun."
Kulihat Rayhan menatapku, kemudian aku mengatakan apa yang kurasakan selama ini terhadapnya.
__ADS_1
.