
Aku berdiri di balkon kamar menatap langit malam yang telah menelan indahnya senja. Namun ia tak lupa menggantikannya dengan sinar bulan yang tak kalah indahnya.
Aku menatap cincin yang di berikan Rayhan kepadaku satu Minggu yang lalu. Cincin itu melingkar indah di jari manis ku. Entah mengapa sejak iya memberikannya padaku, aku sering memakainya tapi kemudian melepasnya dan menyimpan di kotaknya kembali.
Sejak Rayhan mengatakan perasaannya Minggu lalu, dia sudah jarang menghubungiku, walaupun dia menghubungi itu hanya sekedar menanyakan kabarku dan Rafa. Tidak pernah sekalipun dia menanyakan apa jawabanku dengan ungkapan perasaannya padaku.
Padahal aku kangen dengan canda dan leluconnya kalau dia meneleponku.
Kadang aku berfikir apakah ungkapan perasaannya itu hanya candaan bualan semata, ataukah dia memberikan aku waktu sampai aku bisa mengambil keputusan yang terbaik.
Terdengar gawaiku berdering di dalam kamar, aku segera beranjak untuk mengangkatnya. Dari sudut hati yang dalam aku berharap Rayhan yang menghubungiku. Tapi harapanku tidak sesuai dengan keinginan hatiku. Ternyata yang menghubungiku Mas Rasya, mantan suamiku.
Terasa ada semburat kecewa di hati, kenapa bukan nama "Kumbang" di layar gawaiku.
Dengan perasaan kecewa aku mengangkatnya juga.
Setelah mengucapkan salam dan akupun membalasnya. Mas Rasya hanya mengatakan kalau dia akan mengantarkan Rasya pulang ke rumahku agak terlambat.
Aku terduduk di tempat tidur sambil memainkan gawaiku. Ku buka sosmed dan membuka beranda sosmed Rayhan, tidak ada postingan terbaru yang dia posting. Aku beralih ke kontak WhatsApp nya. Aku berniat menanyakan kabarnya, tapi aku pikir-pikir lagi kayaknya gengsi juga memulai untuk menghubunginya.
Untuk menghilangkan kejenuhan aku membaca novel online yang beberapa hari ini tidak aku buka. Pasti sudah ada episode terbaru yang di upload author dari judul novel yang membuat aku penasaran dengan ceritanya.
Karena asyiknya membaca novel online, aku tak menyadari kalau Mas Rasya sudah datang untuk mengantarkan Rafa.
Aku keluar kamar menemui Rafa setelah Bi Rahmi memanggilku dan ternyata Rafa sudah tertidur di gendongan Mas Rasya. Aku dengan sedikit terburu-buru membukakan Mas Rasya pintu kamar Rafa.
Mas Rasya membaringkan anaknya di tempat tidur kemudian aku memakaikan selimut.
Mas Rasya kemudian menatapku merasa bersalah.
"Maaf Fan, Rafa pulangnya terlambat."
"Nggak apa-apa kok Mas," jawabku.
"Fan, bisa kita bicara sebentar?"
__ADS_1
"Sebaiknya kita keluar Mas, takut Rafa bangun'.
kataku beralasan, tapi sebenarnya hatiku tidak enak bicara di kamar , karena kami bukan lagi pasangan halal yang bisa bicara dan bersama di manapun. Hanya karena Rafalah aku bersikap welcome pada Mas Rasya. Karena aku sudah berjanji dalam hati, biarpun kami bercerai tapi Rafa tidak akan kehilangan kasih sayang dari ke dua orang tuanya, hingga pada saatnya nanti kalau Rafa sudah cukup dewasa untuk menerima keadaan kami yang telah berpisah.
Aku bergegas meninggalkan Mas Rasya dari kamar dan menuju ruang tamu.
Aku duduk di salah satu sofa dan Mas Rasya pun ikut duduk tak jauh dariku. Aku mencoba bergeser sedikit karena merasa Mas Rasya duduknya terlalu dekat dengan ku.
Dari tadi perasaanku tidak enak dengan apa yang akan di bicarakan Mas Rasya. Aku bisa menebak pasti ujung-ujungnya nanti dia akan meminta rujuk lagi. Aku bisa menebaknya karena sudah sering kali dia meminta itu. Benar-benar Mas Rasya keras kepala tidak akan mudah menyerah sebelum keinginannya tercapai.
"Aku sudah jatuhkan talak pada Lestari," kata Mas Rasya memulai curhatnya padaku.
"Hah..... kok bisa Mas" ucapku heran
"Ceritanya panjang Fan,"
"Mas harusnya belajar dari kegagalan rumah tangga kita, kenapa sih harus bercerai lagi, kan kalian bisa bicarakan dengan kepala dingin,"
kataku sok menasehati. Padahal dalam hatiku mengatakan apa hubungannya denganku kalaupun sudah bercerai kenapa juga harus lapor ke aku.
"Mas sebaiknya berfikir jernih sebelum menjatuhkan talak padanya" kataku lagi
" Tapi aku nggak terima." ucap Mas Rasya pelan
" Sebesar itukah kesalahan Lestari Mas?" tanyaku penasaran.
Mas Rasya hanya mengangguk pelan, kulihat raut kesedihan di wajahnya.
"Kalau masih bisa di perbaiki hubungannya, sebaiknya Mas memaafkannya,'
"Nggak bisa, aku nggak akan sudi kembali padanya . Dia sudah menghinaku dengan tidur bersama selingkuhannya di rumahku sendiri.' Kata Mas Rasya emosi.
Aku langsung menutup kedua mulutku saking terkejutnya.
Aku beristigfar dalam hati, sungguh Allah Maha Melihat , dulu aku menyaksikan Mas Rasya selingkuh di depan mataku dan sekarang keadaan terbalik dan Mas Rasya menyaksikan istrinya sendiri berselingkuh di hadapannya.
__ADS_1
Benar kata orang bijak tidak perlu membalas sakit hati yang orang lain berikan pada kita, cukuplah bersabar dan ikhlas karena Tuhan tidak tidur. Kalau kita beruntung kita akan menyaksikan orang tersebut merasakan sakit yang pernah kita rasakan bahkan bisa melebihi rasa sakit kita dulu.
Aku terdiam dalam lamunan hingga Mas Rasya kemudian mengatakan penyesalannya telah menghianatiku.
"Sekarang aku merasakan apa yang kamu rasakan dulu Fan, mungkin rasa sakit mu beribu kali lipat dengan apa yang kurasakan saat ini," katanya menyesal.
" Aku sudah menerima karma karena mengkhianatimu," ucapnya sambil sesekali menghapus cairan bening yang berada di sudut mata yang belum sempat menetes.
Ingin rasanya aku mengatakan pada Mas Rasya,
" Bagaimana rasanya di khianati Mas?, sakit bukaannnn???"
Tapi itu hanya dalam hatiku, bukannya tidak berani mengatakannya tapi tidak ada gunanya juga, semuanya telah terjadi. Dendam bukannya menyelesaikan masalah malah akan membuat kita tidak tenang dan menghancurkan diri sendiri.
"Fan, bisakah kita memulainya dari awal lagi,?'
"Beri aku kesempatan sekali ini saja,"
"Kalau seandainya di hatimu sudah tidak ada namaku di sana, setidaknya ini demi anak kita, Rafa," katanya mengiba.
Hmmmm..Apa aku bilang....ujung-ujungnya minta balikan, kataku dalam hati
"Aku mohon Fan, beri aku kesempatan untuk menebus dosa dan kesalahanku padamu," katanya lagi.
" Mas, kalau mau tebus dosa jangan sama aku, mohon ampun lah sama Tuhan," ucapku .
"Aku serius Fan," ucap Mas Rasya lagi.
"Aku janji, aku tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi, aku akan setia," katanya memohon.
Entah mengapa hatiku sekarang tidak tersentuh sedikitpun dengan permintaannya kali ini, dulu ketika dia mengeluarkan jurus ampuhnya untuk membuatku baper , aku akan terhanyut. Tapi sekarang sepertinya rasa itu telah hilang entah kemana, pintu hatiku sudah terkunci bahkan tergembok buatnya.
Aku mencoba merangkai kata supaya dia bisa menerima kalau kaca yang pecah susah untuk di perbaiki lagi begitu juga hatiku yang sudah hancur berkeping-keping tidak akan bisa dia rangkai kembali.
"Maaf Mas, aku nggak bisa, mengenai Rafa kamu bisa kapan saja menemuinya, biar bukan jadwal kamu bersamanya." kataku dengan tenang.
__ADS_1
Aku mengatakan itu sambil meremas ke dua tanganku. Kulihat netra Mas Rasya tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis ku.