SESAL

SESAL
Lamaran


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Rayhan mengajakku ke luar kota. Ketika aku tanya, dia hanya mengatakan akan membawaku ke sebuah tempat yang pastinya aku akan menyukainya.


Tak lupa aku juga membawa serta Rafa.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua setengah jam, kami sampai kesebuah tempat yang sangat indah.


Tempat tersebut agak sedikit berbukit, di penuhi pohon-pohon yang menambah sejuk suasana tempat itu.


Rayhan membawaku berjalan dan ternyata di tempat tersebut merupakan tempat wisata yang baru di buka. Di pintu masuk tertulis,


"Rayni Flowers Garden".


Ketika kami masuk, aku terperangah dengan keindahan tempat itu, sangat cantik. Terdapat hamparan luas yang dipenuhi berbagai jenis bunga yang sedang bermekaran. terdapat juga danau buatan yang berada tak jauh dari taman bunga tersebut.Di dekat danau ada sebuah villa . Di sel-sela taman bunga ada patung berbagai jenis hewan. Itu yang membuat Rafa sangat senang melihatnya.


Kami terus berjalan hingga kami menaiki sebuah bukit, di sepanjang jalan dipenuhi dengan tanaman bunga. Saat kami menaiki tangga untuk menuju bukit kami melalui taman lagi yang berbentuk hati.


"Sangat cantik," batinku.


Rayhan menggendong Rafa untuk sampai ke bukit. Lelah menaiki banyaknya anak tangga tak kurasakan karena cantiknya pemandangan di mataku.


"Kamu suka tempat ini?" tanya Rayhan.


"Suka banget, Kak," jawabku.


Setelah sampai di atas bukit, pemandangan lebih indah lagi. Di atas bukit kita bisa melihat laut nun jauh di sana, dan hamparan sawah penduduk dengan padi yang menguning. Jika melihat ke arah lain hamparan bunga yang sangat indah. Dia tas bukit juga terdapat sebuah bangunan yang berbentuk sebuah perahu, mungkin itu penginapan ataukah restoran.


Rayhan menarik tanganku ke arah samping bangunan berbentuk perahu tersebut.


Alangkah terkejutnya ketika aku melihat orang tuaku, Ridho,Fira dan ke dua orang tua Rayhan berada di tempat itu. Lokasi itu seakan sudah di dekorasi sangat indah dengan di dominasi bunga yang asli.


Aku menatap Rayhan heran sedangkan yang di tatap hanya tersenyum padaku.


Rafa langsung minta turun dari gendongan Rayhan dan berlari ke arah ayahku.


"Ada apa sih, Kak?"


"Kok mereka ada juga di sini?"


tanyaku penuh keheranan.


"Nanti juga kamu akan tau, yuk kita gabung," ucap Rayhan


Kami berjalan beriringan menghampiri keluargaku dan juga keluarga Rayhan.


Fira tak henti-hentinya menaikkan alisnya ketika aku semakin mendekat.


" Cie...cie..yang lagi berbunga-bunga," ejek Fira.


"Apaan sih," ucapku sambil mencubit lengan Fira.


Jujur aku memang tidak mengerti dengan semua ini, Rayhan juga tidak mengatakan apa-apa sebelum dan selama kami diperjalanan.


Orang tua Rayhan mengajak orang tuaku duduk di sebuah meja yang agak panjang

__ADS_1


Om Risman memulai perbincangan dengan orang tuaku, awalnya mereka tertawa bersama tapi aku tersentak ketika mereka menyebut namaku


"Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih karena bersedia datang kesini memenuhi undangan kami, "


"Adapun maksud kami mengajak bertemu, kami ingin meminta anak kamu Fani menjadi menantu kami, istrinya Rayhan,"kata Om Risman.


Netraku membelalak sempurna mendengar orang tua Rayhan melamarku.


Aku lalu menatap Rayhan seakan meminta penjelasan kenapa tidak memberitahukan aku sebelumnya. Rayhan hanya tersenyum simpul ke arahku.


" Seperti yang aku katakan ketika kalian kerumah kami tempo hari, saya menerima lamaran nak Rayhan tapi itu juga tergantung anak kami Fani, karena dia yang akan menjalaninya." jawab ayahku.


"Astaga, Jadi mereka sudah saling bertemu, kenapa juga tidak ada yang memberitahuku," kataku dalam hati.


Aku mendekat ke Fira dan berbisik.


"Kenapa sih nggak ngasi tahu kakak,? biasanya mulut kamu bocor," bisikku pada Fira


"Kak Rayhan sogok aku Kak , katanya.


mau ngasi surprise," ucap Fira terkekeh.


Aku hanya berdecak kesal.


Setelah ayahku mengatakan menyerahkannya padaku. Rayhan lalu berdiri menuju ke arahku.Aku memang sedang berdiri bersama Fira dan Ridho di dekat karangan bunga yang di dekorasi berbentuk hati .


Kemudian Rayhan berlutut di depanku dan mengeluarkan sebuah kotak merah berbentuk love,kemudian dia membukanya dan terlihat cincin yang sangat cantik melebihi cincin yang di hadiahkannya tempo hari , lalu dia mendongak menatapku.


"Menikahlah denganku," ucap Rayhan dengan penuh harap.


Ridho langsung menariknya agak menjauh dari kami.


"Fan .... Maukah kamu menikah denganku?"


Rayhan mengulangi kembali kalimatnya.


Kutatap mata Rayhan dalam, menatap apakah iya tulus memintaku jadi pendampingnya. Dan kata hatiku mengatakan iya.


Sebelum mengatakan iya aku menoleh ke arah ibu dan ayahku, mereka hanya mengangguk sambil tersenyum seakan mengatakan kalau mereka menyerahkan sepenuhnya padaku.


Aku kembali menatap Rayhan sambil tersenyum dan mengangguk.


"Bismillah, Iya Kak, aku mau," ucapku malu-malu.


Meskipun ini bukan yang pertama bagiku, tapi perasaan malu, gugup tetap masih aku rasakan.


Senyum Rayhan merekah saking gembiranya kemudian memasangkan cincin itu di jari manisku. Dia kemudian berdiri menghadap ku, sambil mengucapkan kalimat.


"Terimakasih Fan, aku mencintaimu,"


Aku hanya tersenyum menatapnya, aku terharu karena ketulusan Rayhan, sungguh membuatku sangat di cintai sebagai wanita.Tak terasa sebulir air mata menetes di pelupuk mataku,


tapi aku cepat menghapusnya meskipun Rayhan sempat melihatnya. Senyum bahagia tak pernah luput dari bibirnya.

__ADS_1


Semuanya ikut berbahagia melihat keromantisan kami, ibuku langsung menghampiriku dan memelukku sambil menangis bahagia, akupun merasa terharu dan meneteskan air mata.


Calon mertua juga menghampiri memberikan selamat.


"Terimakasih Nak, kamu mau menerima Rayhan,"ucap Tante Rita dan memelukku.


Kemudian dia memukul lengan anaknya.


"Akhirnya perjuangan kamu tidak sia-sia Ray,"


"Ternyata ucapan itu adalah do'a, dulu Om memanggilmu mantu Om, ternyata sekarang kamu betul-betul akan jadi mantu Om" kata Om Risman sambil tersenyum.


"Ya ellah....yang sedang jatuh cinta, senyum - senyum teroooosss," ejek Fira.


Aku hanya mencubit dan mencubit lagi si mulut bocor Fira.


"Selamat ya Kak" ucap Ridho menyalami kami.


"Sama-sama, Terima kasih ya," ucap Rayhan.


Kami kemudian menyantap makanan yang disediakan oleh pelayan.


Ketika Rafa dan keluarga lain pergi beristirahat ke kamar yang telah di siapkan, aku dan Rayhan masih menikmati tempat itu.


"Kenapa sih lamarannya si sini Kak, nggak di rumah saja ," tanyaku penasaran.


"Kenapa, kamu nggak suka?" tanya Rayhan.


"Suka, malahan suka banget kok,Kak," jawabku.


"Aku yang menginginkannya, aku ingin lamaran ini berkesan buat kamu, meskipun ini jauh dari kata sempurna," katanya menjelaskan.


"Terimakasih banyak Kak," ucapku tulus.


"Aku akan membuatku bahagia semampuku," ucapnya serius.


Rayhan kemudian mengajakku ke villa yang ada di dekat danau. Meskipun dari luar villa tersebut terlihat sederhana tapi di dalamnya sangat elegan, perabotannya terlihat mahal di tambah cat dinding yang berwarna krem, warna faporitku.


Aku tak berhenti mengucap kagum dengan semua yang ada di tempat itu.


"Kamu suka?" tanya Rayhan.


Aku hanya mengangguk.


"Kalau kamu mau, kita bisa tinggal di sini setelah menikah nanti," ucapnya lagi.


"Maksud Kakak?" tanyaku tak percaya


"Iya, tempat ini milik kita, aku sengaja membuat tempat ini untuk masa depan kita."


"Kamu lihat papan nama pas kita masuk tadi?"


Aku hanya mengangguk sambil mengingat yang tertulis pas kami masuk tadi.

__ADS_1


"Kamu tahu Fan, Rayni. aku ambil dari nama kita, Rayhan dan Fani, semoga nama kita selalu berjodoh, tak terpisahkan hingga maut menjemput.


"Kalau Flower itu bunga, karena nama itu adalah nama panggilan sayangku padamu lewat dunia maya."


__ADS_2