SESAL

SESAL
Tujuh Jam Non Stop


__ADS_3

Shalat dua raka'at kami tunaikan dengan khusyu. Rayhan yang menjadi imamku dengan syahdunya membacakan ayat demi ayat sampai selesai. Setelah mengucapkan salam dan doa Rayhan berbalik dan akupun menjabat tangan dan menciumnya dengan takzim. Perasaan haru, bahagia dan gugup ketika dia mencium keningku.


Dia menatapku sambil tersenyum lalu membuka mukena yang menutup di kepalaku.


Rambutku yang panjang dan terurai dia selipkan di telinga.


Tatapannya saja membuatku jantungku seakan mau meloncat. Rasa gugup menyelimuti hingga aku hanya bisa tertunduk tak mampu menatap balik netranya.


Dia kemudian mencium keningku agak lama, lalu mengangkat daguku seakan memintaku untuk menatapnya. Netra kami saling bertatapan. Dia semakin memajukan wajahnya hingga menyisakan beberapa senti saja.Deru nafasnya sangat terasa menyentuh kulit wajahku. Kurasakan bibirnya mendarat sempurna di bibir, ada desiran aneh di dalam tubuhku hingga aku memejamkan mata.


"Mamaaaaaa!!!" Rafa merancau dalam tidurnya.


Spontan kami masing-masing menarik diri dan menoleh ke arah tempat tidur. Kami segera ke tempat tidur dan ternyata Rafa hanya mengigau.


Sungguh perasaan tidak enak muncul dalam hati, bukan karena gagalnya perpagutan kami tapi rasa khawatir apakah Rayhan menganggap anakku sebagai pengganggu baginya.


Kami terduduk di pinggiran tempat tidur. Aku sadar pasti semua pasangan yang telah sah menginginkan berduaan saja dengan pasangannya menikmati indahnya pengantin baru, menikmati indahnya yang dikatakan malam pertama sebagai pasangan halal.Begitu pula dengan Rayhan, dia laki-laki normal pasti menginginkan hal itu.


"Maaf, Kak," ucapku lirih.


"Maaf untuk apa?" tanyanya balik.


Aku bingung harus menjelaskan apa, mau terus terang takutnya Rayhan beranggapan aku yang tidak sabaran ingin Making Love.


"Maaf, Rafa tidurnya disini, nggak mau tidur sama ibu, tapi aku akan biasakan dia tidur sendiri kok, Kak."


"Astaga, Sayang, jadi kamu merasa aku menganggap Rafa ganggu kita?"


Aku hanya menganggukkan kepala dan menunduk.


'Ketika aku memilihmu aku juga siap menjadikan kalian sebagai bagian dari hidupku, aku menganggap dia putraku sendiri,jadi jangan menganggap aku hanya menginginkan dirimu saja, "


Aku tersedu mendengar setiap kalimat yang terucap dari bibirnya.


" Jangan nangis, atau kamunya yang nggak sabar ingin ehm...ehm?" Ucapnya sambil menoel daguku.


"Ih apasih, Kak," ucapku malu.


Sudah ku prediksikan pastinya dia akan mengatakan hal itu. Karena setelah beberapa bulan berhubungan dengannya aku tahu sedikit karakternya, humoris dan bisa mencairkan suasana


"Masih banyak waktu, Sayang," ucapnya lagi mengejekku.


"Rafa tidurnya sama kita terus kalau gitu," ucapku memancingnya.


Kulihat mukanya langsung berubah, entah seperti apa tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata.


"Nggak gitu juga,Sayang!, bisa-bisa adik aku karatan, nanti kamu juga yang sengsara," ucapnya terkekeh.


Aku ikut tertawa dengan leluconnya.


Aku tahu kemana arah pembicaraannya.


Dia kemudian memegang tanganku lalu menciumnya.


" Aku akan bersabar, Sayang."


Aku menatapnya dan tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas pengertiannya.


Karena merasa tidurnya terganggu akhirnya Rafa terbangun. Rayhan langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.


Tak henti-hentinya ucap syukur dalam hati karena di pertemukan laki-laki seperti Rayhan yang bisa menerima dengan segala kekuranganku. Aku beruntung menjadi wanita pilihannya. Tidak susah bagi dia mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Semoga kebaikan, ketulusan dan perhatiannya tidak terkikis oleh waktu.


Kami bergegas ke ruang makan untuk sarapan, Fira dan Ridho sudah ada di meja makan.

__ADS_1


Ketika kami berjalan menuju meja makan, Fira tak henti-hentinya tersenyum penuh arti ke arahku.


"Cie..cie..pengantin baru, berapa ronde, Kak?" ucap Fira sambil menaik turunkan alisnya ke arahku."


"Luma----yan, tujuh jam non stop," Rayhan yang menjawabnya tak mau kalah.


"Haa...." Fira dan Ridho berseru kaget sambil saling menatap.


"Kalian bisa, nggak?" seloroh Rayhan kepada pasangan tersebut.


Aku hanya diam mendengar ocehan tidak masuk akal mereka.


"Serius, Kak! Kok bisa?" tanya Fani tidak yakin.


"Ya bisa dong....Lebih dari itu, Fani bisa, iya kan, Sayang?" ucap Rayhan menoleh ke arahku.


"Apa sih, Kak? Nggak masuk akal banget." ucapku.


" Apanya yang nggak masuk akal?" tiba-tiba ayah ikut nimbrung.


" Pengantin baru, Yah, belah durennya tujuh jam non stop." ujar Fira dengan gaya bocornya.


Ayah yang sementara minum langsung terbatuk mendengar omongan Fira.


Kami semua hanya saling menatap karena omongan Fira yang tidak ada filternya.


Ayah hanya senyum-senyum melihat aku dan Rayhan.


"Balas dendam ya, Nak Rayhan?"


Kami bingung apa maksud ayah, mengatakan kalimat itu.


"Maksud, Ayah?" tanya Rayhan penasaran.


"Makanya, jangan asal ngomong," bisikku pada Rayhan.


"Tadi itu cuma bercanda kok, maksudnya tadi malam Fani tidurnya tujuh jam non stop," ucap Rayhan nyengir.


"Hahahaha," Ayah, Ridho, Fira serempak tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya aku juga mau ketawa tapi kasihan lihat muka suamiku.


Ayah dan Fira memang karakternya sama.


Suka bercanda dan bahasanya kadang ceplas-ceplos.


Sedangkan ibu menurun ke aku, kalem, pendiam.


Setelah ibu datang kami pun sarapan bersama dengan tenang.


Setelah jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, kami berangkat ke bandara. Karena penerbangan kami akan take off jam dua belas siang. Sedangkan perjalanan dari rumah ke bandara memakan waktu hampir satu jam.


Sampainya di bandara, sudah ada orang tua dan keluarga Rayhan yang tiba lebih dulu.


Selang berapa saat kemudian, kami beserta rombongan sudah berada dalam pesawat. Rayhan tak henti-hentinya menggenggam tanganku pada saat pesawat lepas landas. Karena Rafa bersama Bi Rahmi.Dia enteng melihat pemandangan dari atas pesawat.


"Kamu maunya bulan madu kemana, Sayang?" ucapnya dengan suara pelan.


" Terserah, Kakak,"


"Siapa tau ada tempat yang akan kamu kunjungi,"


"Nggak ada kok, Kak"


Jujur aku memang tidak terlalu mementingkan yang namanya bulan madu, bagiku semua tempat itu akan menjadi indah kalau kita saling mencintai dan menyayangi. Kebahagiaan bukan di ukur dengan seberapa seringnya jalan-jalan keluar negeri atau shopping belanja barang branded tapi kebahagiaan sesungguhnya ketika pasangan itu saling melengkapi, saling menerima segala kekurangan dan kelebihan, saling percaya dan saling menjaga hati dengan sebuah kesetiaan.

__ADS_1


Setelah lebih satu jam dalam pesawat, kami akhirnya sampai dengan selamat.


Mobil yang menjemput kami sudah stand by di depan bandara. Sebagian keluarga dari Rayhan memutuskan langsung ke hotel tempat diadakannya resepsi esok hari. Begitu juga dengan Ridho dan Fira lebih memilih ke hotel saja. Kesempatan katanya bulan madu yang kedua kalinya. Sedangkan aku dan keluargaku memilih ke rumah Rayhan bermalam.


Setelah kami sampai di depan rumah keluarga Rayhan, aku berdecak kagum dengan bangunan yang ada dihadapanku. Rumah yang sangat megah, halaman yang sangat luas, asri dan teduh.


Rayhan membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk. Kami di sambut hangat oleh keluarga Rayhan.


"Fani....." seseorang memanggilku ternyata itu Rania.


Aku langsung mengenalnya karena kami sering Vidio Call.


Kami berpelukan sambil cipika cipiki. Ada rasa senang karena kami bisa bertemu bahkan sekarang kami sudah menjadi keluarga.


Setelah makan siang dan berbincang cukup lama. Rayhan kemudian mengajakku ke kamar untuk istirahat. Ayah ibuku juga sudah berada di kamar begitu pula dengan Bi Rahmi sudah membawa Rafa ke kamar yang ada di lantai dua .


Aku diajak Rayhan naik ke kamarnya. Mataku membulat sempurna setelah sampai di lantai tiga. Hanya terdapat tiga ruangan di lantai tiga gedung itu. Kamar tidur, ruang kerja, ruangan gym. Dan dibagikan depan ada kolam renang.


" Ini sih layak di sebut hotel, bukan rumah." batinku.


"Ayo masuk." Rayhan membuyarkan lamunanku .


Aku mengikutinya masuk ke kamar. Kamar itu sangat luas dengan dinding welpaper berwarna dasar abu-abu dan terdapat ranjang king size dengan seprai berwarna abu-abu.


"Luas banget kamarnya, Kak" ucapku kagum.


"Biasa aja," ucapnya merendah.


Aku mengambil koper pakaianku, dan membukanya karena ingin mengambil pakaian ganti.


"Di lemari sebelah kanan itu ada pakaian wanita, kalau kamu suka kamu bisa pakai." katanya sambil menunjuk ke arah lemari.


Pikiranku mulai curiga, jangan-jangan dia sering membawa wanita ke kamarnya ini. Jangan-jangan dia tidak sebaik yang aku pikirkan.


Melihat wajahku yang kutekuk dia kemudian menghampiriku dan memelukku dari belakang.


"Jangan berburuk sangka, pakaian itu sengaja aku belikan untukmu."


"Serius, Kak?"


Dia hanya mengangguk dan menggandeng tanganku ke arah lemari, dan membukanya.


Isinya semua pakaian wanita lengkap dengan hijabnya.


Aku melihat satu persatu baju tersebut dan itu memang warna kesukaanku.


Tapi di bagian sudut netraku melihat beberapa baju yang aneh bagiku. Aku mengambil satu dari baju tersebut. Aku terperangah melihat baju tersebut, baju kurang bahan, tipis, pokoknya baju laknat lah pikirku, seumur-umur aku tidak pernah memakai baju jenis itu.


"Kamu suka?" ujar Rayhan sambil menyeringai.


"Semuanya aku suka, Kak, kecuali yang model ini." kataku sambil menyodorkan baju yang ada di tanganku.


" Kamu pakai itu khusus hanya di depanku,"


"Tapi, Kak, aku nggak pernah pakai baju beginian, lebih baik nggak pakai baju," gerutuku.


"Malah itu lebih bagus, Sayang," lebih mudah buatku.


"Ih, kakak ternyata mesum juga,"


"Mesum sama istri sendiri kan nggak dosa, Sayang."


" Aku mandi dulu, Kak, ibu tadi pesan sore ini kita mau diajaknya ke hotel lihat persiapan untuk besok."

__ADS_1


"Aku lihat Rafa dulu," ucapnya sambil berlalu keluar dari kamar.


__ADS_2