
"Ada tamu Pak Ray." Ucap Bi Rahmi.
"Siapa?" Tanyaku.
"Pak Rasya." Ucap Bi Rahmi.
"Temuin papa kamu, Rafa." Ucapku padanya
"Mama dan Papa Ray aja, aku di sini aja sama adik-adik." Tolak Rafa.
"Temuin Papa kamu, Nak! Sudah dua Minggu kamu nggak ketemu dia, pasti dia kangen sama kamu." Nasehatku padanya.
Karena Rafa tak beranjak dari tempat duduknya akhirnya aku dan suamiku menemui Mas Rasya.
"Sudah lama, Mas?" Tanyaku basa basi.
"Nggak, baru aja." Ucapnya tersenyum
"Rafa mana?" Tanya Mas Rasya langsung menanyakan putranya.
"Ada di taman belakang, kalau mau ketemu kamu masuk aja." Kata suamiku.Mas Rasya tampak ragu, aku juga merasa heran kenapa suamiku memberi izin Mas Rasya masuk ke dalam biasanya Mas Rasya hanya di ruang tamu saja.
Mas Rasya lalu menatapku sekilas dan aku menganggukkan kepala pertanda aku membolehkannya masuk. Aku kemudian mengantarnya ke taman belakang menemui Rafa. Sekalian aku memanggil ke empat anakku karena aku ingin memberi ruang buat ayah dan anak itu untuk bicara dari hati ke hati. Aku tau Rafa kecewa sama papanya karena mengetahui alasan sebenarnya kami berpisah. Setelah aku memanggil anak-anakku Mas Rasya langsung duduk di samping putranya.
"Mas mau minum apa?" Tanyaku pada Mas Rasya.
"Apa aja, Fan." Jawabnya tersenyum.
Sepuluh tahun sudah perpisahan kami, Mas Rasya tak banyak berubah. Hanya tubuhnya yang agak gemuk dan sekarang dia sudah memakai kacamata. Tak sulit baginya mendapatkan seorang pendamping tapi kenapa sampai sekarang dia belum menikah lagi. Entahlah apa yang ada di pikiran pria tersebut.Aku masuk bersama anak-anakku bergabung dengan suamiku.
"Tamu kok nggak dibuatkan minum sih, Sayang? Ujar suamiku.
"Kan ada Bi Rahmi." Ucapku.
"Bi Rahmi lagi keluar sebentar." kata suamiku.
Aku membuatkan kopi buat Mas Rasya dan membawakannya sendiri.
__ADS_1
"Di minum, Mas." Tawarku padanya.
"Makasih, Fan." Ucapnya sekilas menatapku.
Ketika aku bergegas masuk kembali Rafa menghentikanku dan meminta aku tetap di sana bersamanya.
Kami bertiga dalam diam, tak ada yang memulai pembicaraan kami. Aku menoleh ke pintu yang menghubungkan taman dan ruang keluarga, terlihat di sana suamiku tersenyum dan menganggukkan kepalanya seolah mengatakan kalau aku tetap saja di sini bersama putra dan mantan suamiku.
Ada perasaan canggung dalam hatiku. Sejak kami bercerai baru kali ini kami duduk bertiga aku, Mas Rasya dan Rafa.
Masih dalam keheningan, kami sibuk dengan pemikiran kami masing-masing.
"Sudah lama aku memimpikan saat-saat seperti ini." Ucap Rafa sendu memecah keheningan kami. Rafa memang berfikiran dewasa. Mungkin karena dia anak yang tertua dan punya empat orang adik membuat dia seperti itu.
Deg...ada rasa sedih dan perih menjalar dalam hatiku mendengar pernyataan putraku. Aku kira selama ini putraku tak merasakan kesepian karena sehari-harinya dia riang dan bahagia bersama Papa Ray dan adik-adiknya, ternyata dia juga mempunyai keinginan dan harapan di hatinya.
Mas Rasya hanya terdiam tak mengatakan apa-apa. Netranya menatap lurus ke bunga-bunga yang ada di depannya.
"Rafa sudah lupa kapan kita terakhir berkumpul seperti ini, ada Papa, Mama dan Aku." Ucapnya lagi dengan suara serak seolah ingin menangis.
"Maafkan Papa, Nak." Ucap Mas Rasya menunduk.
"Aku tak merasa menjadi korban, Pa, karena aku punya Mama bak malaikat tak bersayap bagiku, Papa Ray yang selalu memberikan kasih sayang padaku.Aku hanya kecewa kenapa aku harus punya Papa kandung yang tega mengkhianati malaikat tak bersayap itu." Ucapnya semakin terisak.
Akupun tak bisa menahan rasa haru di hati mendengar ucapan putraku. Aku tak patut di banggakan seperti itu. Aku hanyalah seorang ibu yang banyak kekurangan dalam mendidik anak-anakku.
"Itulah kesalahan terbesarku, Nak, menyia-nyiakan kalian, mengkhianati Mama kamu yang begitu baik." Ucap Mas Rasya lirih.
Ku raih tangan putraku dan menggenggamnya.
"Dengarkan Mama, Nak. Ini sudah jalan Tuhan. Tapi satu yang perlu kamu ketahui kami sangat menyayangi kamu, tak ada yang berubah walaupun Mama dan Papa kamu tak bersama, kasih sayang kami tetap akan sama sejak dulu, sekarang dan selamanya." Ucapku meyakinkan putraku.
"Biarpun Mama tak mengatakan itu Rafa bisa merasakannya Ma." Ucap Rafa lagi.
"Maafkan Papa ya Nak? kamu pasti kecewa sama Papa." Ucap Mas Rasya.
"Aku maafkan Papa karena Mama dan Papa Ray selalu mengajarkan aku untuk memaafkan, Tapi rasa kecewa pada Papa itu pasti." Ucap Rafa lagi seolah kalimat-kalimat yang diucapkannya dengan tenang tapi terkadang menusuk setajam silet bagi Mas Rasya.
__ADS_1
"Hmmm...aku sempat marah sama Mama karena aku menduga Mama-lah yang ninggalin Papa karena Papa Ray, tapi setelah tau kenyataannya, itu buat Rafa malu pada diri sendiri kenapa aku punya pikiran picik seperti itu." Jelas Rafa lagi.
Aku dan Mas Rasya seolah menjadi pendengar setia yang mendengarkan keluh kesah anakku. Aku biarkan Rafa menumpahkan segala isi hatinya pada kami selaku orang tua kandungnya.
"Dari kecil aku mengidolakan Papa, pingin kayak Papa kalau Rafa besar, pingin kerja keras kayak Papa, Sayang sama nenek. Awalnya ketika aku lihat foto mama di dompet Papa aku kira Papa hanya setia pada satu wanita yaitu Mama. Dan setelah tau kenyataannya kalau Papa tak lebih seorang penghianat. Aku malu sama Papa Ray karena menuduh dia penyebab Mama pisah dengan Papa." Jelas Rafa.
Mas Rasya merasa malu ketika Rafa mengatakan kalau papanya masih menyimpan fotoku di dompetnya.
"Papa ngaku salah, Nak, Papa sangat menyesalinya, andai waktu bisa di putar kembali aku ingin jadi Papa yang bisa kamu banggakan,tapi aku janji Papa tak akan mengecewakan kamu lagi, Nak." Ucap Mas Rasya sendu.
"Setiap manusia tak ada yang sempurna, Nak, begitu juga Mama dan Papa kamu, jangan jadikan satu kesalahan Papa membuat kamu kecewa. Papa kamu orang yang baik, pekerja keras patut kamu banggakan. Kamu tiru yang baiknya dan jangan tiru yang yang menurut kamu tidak baik."Nasehatku padanya.
Mas Rasya menatapku dengan mata yang berkaca-kaca
"Terimakasih, Fan." Ucapnya tulus.
Aku hanya bisa mengangguk membalasnya.
"Kapan-kapan kita kayak ini lagi ya Pa, Ma?" Ucap Rafa pada kami.
"Iya, Nak...Mama minta maaf karena Mama tak pernah tanya apa keinginan kamu, Mama sibuk dengan kehidupan Mama yang sekarang tanpa peduli dengan keinginan kamu."
Satu jam kami bersama dengan rasa haru, perasaan yang menguras emosi kami tak menyangka kalau Rayhan ada di belakang kami.Aku segera menghapus buliran bening yang menetes di pipi
"Satu lagi Raf, kamu suruh Papa kamu itu cari pendamping supaya dia tak kesepian."Ucap Rayhan memukul pundak Rafa.
"Iya,sebaiknya Mas menikah lagi, supaya ada yang urus." Ucapku menambahkan.
"Belum ada yang cocok," Ucap Mas Rasya.
"Atau mau kembaran sama Rafa?" Ucap suamiku mencairkan suasana.
"Nggak ah ...Papa Ray, aku masih sekolah, belum cukup umur, Papa aja " Ucap Rafa.
"Lampu hijau nih dari Rafa." Ucap suamiku pada Mas Rasya.
Mas Rasya hanya tersenyum mengalihkan pandangan ke arah lain.
__ADS_1
Dalam laut bisa di tebak tapi dalam hati seseorang siapa yang tau. Begitulah Rafa, walaupun dia terlihat riang dan tak ada masalah ternyata dia punya keinginan aku dan papanya duduk bersama hanya bertiga untuk mendengar keluh kesahnya. Aku baru menyadarinya kalau selama ini aku hanya fokus dengan kehidupanku yang sekarang. Tanpa memperdulikan keinginan Rafa. Kenapa juga aku tak pernah berpikiran kalau kami liburan tak mengajak Mas Rasya dan keluarganya. Karena biar bagaimana mereka adalah keluarga dekat Rafa.