SESAL

SESAL
Mantap


__ADS_3

Jangan mengejar seseorang karena alasan kamu mencintainya, tapi kejarlah seseorang yan mencintaimu karena yang kamu cintai belum tentu mencintaimu tetapi yang mencintai kamu, sudah pasti buatmu bahagia selalu.


Kebahagiaan tidak di ukur dengan seberapa banyaknya harta yang dimiliki, seberapa seringnya traveling ke luar negeri, seberapa gagahnya atau cantiknya pasangan tapi kebahagiaan itu dari hati, kenyamanan, kesetiaan, kepercayaan dan saling menyayangi dengan pasangan.


Jangan hanya mampu melafalkan kata cinta sedangkan makna cinta kamu pun tidak tahu.


makna cinta yang sebenarnya juga terdapat keinginan yang tulus untuk kebahagiaan orang tersebut.


Karena sejatinya makna cinta yang sesungguhnya didasari oleh ketulusan dan kebaikan hati yang tidak terhingga.


Selama menjalani pernikahan dengan Rayhan, walaupun kehidupan kami dikatakan sangat mapan, punya rumah yang bagus, mobil yang mahal tapi kami hidupnya sederhana. Jangankan liburan di luar negeri bahkan kami belum pernah liburan di luar provinsi. Bukannya tidak mampu. Tapi situasi yang tidak memungkinkan. Awal pernikahan belum sempat pergi liburan aku sudah hamil si kembar. Setelah si Kembar umur sudah bisa ikut Rayhan mengalami kelumpuhan.


Ting...suara dering notifikasi dari ponselku menandakan ada pesan WhatsApp yang masuk. Ternyata dari dokter Tiara. "Tumben dokter Tiara kirim pesan." batinku.


"Assalamu Alaikum, Bu Fani."


"Waalaikum Salam,Dok."


"Maaf mengganggu waktunya."


"Tidak apa-apa Dok, ini juga aku lagi santai."


Hingga suara telpon ku berdering dan ternyata dokter Tiara yang melakukan panggilan.


Setelah basa basi sebentar dokter Tiara kemudian menanyakan tentang pak Erwin.


"Iya...Dok, sejak suami saya mengalami kecelakaan beliau tinggal bersama kami." Ucapku pada dokter Tiara.


Sejak saat itulah aku dan dokter Tiara semakin dekat. Bukan sebagai dokter dan pasien tapi lebih kepada seorang teman. Meskipun umur kami terpaut jauh tapi ternyata dokter Tiara orangnya baik dan cepat akrab. Tiap hari beliau selalu menghubungiku untuk sekedar menanyakan kabarku dan buntut-buntutnya menanyakan Pak Erwin. Ternyata dokter Tiara belum pernah menikah dengan umurnya yang sudah empat puluh tahun. Menurut pengakuan beliau dia pernah menjalin hubungan dengan Pak Erwin waktu mereka masih duduk di bangku SMA. Setelah mereka tamat SMA dokter Tiara langsung memutuskan hubungan mereka tanpa alasan yang jelas.


"Serius banget, Sayang?" Tanya suamiku ketika aku asyik dengan ponsel di tanganku.


"Enggak kok, cuman chat dengan dokter Tiara." Jawabku.


Biasanya kalau sebelum tidur aku sering berbalas pesan dengan dokter Tiara, ya ...yang ditanyakan pastilah Pak Erwin.


Ketika aku dan Rayhan sedang di tempat tidur.


"Sayang... gimana kalau kita comblangin Pak Erwin dengan dokter Tiara?" Tanyaku pada suamiku.


"Mereka itu tidak perlu di comblangin , mereka kan sudah sangat dewasa, kalau mereka merasa cocok ya... langsung nikah aja."


"Tapi ..Sayang... Pak Erwin itu cuek banget sama dokter Tiara." Ucapku.


"Memang pembawaan pak Erwin begitu."


"Sampai kapan sih kamu pusingin urusan mereka?" Tanya suamiku mulai kesal.


"Ya...sampai mereka jadian, Mereka kan sama-sama sendiri ya..siapa tau mereka jodoh." Ucapku.


Dia hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan alasanku.


Rayhan mengelus lembut perutku yang semakin membuncit.


"Lha...dia bergerak, Sayang?? Ucap Rayhan dengan senyum di bibirnya.


"Hai...my baby girl, apa kabar Sayang, mau di jengukin papa ..ya.?? Ucap Rayhan mulai modus.


Sedangkan baby yang di dalam perut aktif bergerak seakan mengerti apa yang di katakan oleh Papanya.

__ADS_1


Aku pura-pura tak mendengar apa yang di katakan suamiku. Bukannya menolak tapi jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Anak-anak belum pada tidur. Kalau belum tidur takutnya mereka akan mengganggu momen indah kami. Aku beranjak dari tempat tidur.


"Mau kemana, Sayang?" Tanyanya sambil mengerutkan keningnya


"Mau lihat anak-anak dulu." Ucapku dan berlalu.


Aku bergegas ke ruang keluarga dan melihat Rafa dan si Kembar masih asyik menonton kartun kesukaannya.


Kulihat Pak Erwin duduk di sofa sedang memainkan ponselnya. Jiwa kepo ku muncul seketika.


"Belum tidur, Pak?" Ucapku basa basi.


Mungkin dalam hati Pak Erwin menertawakan ku dengan pertanyaan konyol ku. Sudah jelas dia masih asyik dengan ponselnya malah aku tanya lagi.


"Dokter Tiara sering nanyain bapak lho."


Yang ditanya malah diam malah aku tak di anggap ada.


Ingin rasanya aku cubit aja itu laki-laki kaku itu. Bisa-bisanya dokter Tiara pernah menjalin hubungan dengan pria batu ini.


Tak lama kemudian ponsel Pak Erwin berdering. Dia meninggalkan aku sendirian.


Aku segera ke dapur untuk membuat susu hamil dan meminumnya.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Anak-anak sudah pada mengantuk semua. Setelah menidurkan mereka aku segera kembali ke kamar. Terlihat suamiku masih menonton televisi.


Aku langsung membaringkan tubuhku di sampingnya dan membelakanginya.


"Anak-anak sudah tidur, Sayang? Tanya suamiku.


"Hmmm,"


Memang sejak aku melarangnya memanggil Mantan dia menggantinya dengan panggilan si Rese.


"Kenapa nggak di angkat?" tanyaku masih membelakanginya.


"Nggak penting " ucapnya singkat.


"Ya udah...tidur yuk!" Ucapku.


"Belum ngantuk, Sayang." Ucapnya sampai membelai rambutku.


"Aku tidur duluan ya?" ucapku lagi.


"Gimana kalau kita undang dokter Tiara ke rumah, makan malam atau apalah alasannya." Ucap suamiku membuatku spontan menghadapnya.


Aku tidak tau kenapa aku ingin sekali mempertemukan dokter Tiara dan Pak Erwin, aku penasaran banget dengan kisah mereka. Biasanya aku tidak mau pusing urusan orang tapi kali ini aku di buat penasaran oleh manusia empat puluh tahunan itu.


"Serius, Sayang?" Ucapku semangat.


"Ya elah....giliran bahas mereka kamu semangat 45"


"Ya..iyalah." jawabku.


"Ampuni aku ya Allah...dosa apa yang aku lakukan hingga istriku berubah jadi begini." Ucap suamiku geleng-geleng kepala.


"Maksud kamu apa?" Ucapku sambil mencubit pinggangnya.


"Awww....ampun, Sayang!" ringisnya.

__ADS_1


"Maksudnya apa?" tanyaku kesal tanpa melepaskan cubitanku.


"Kamu lebih mikirin mereka daripada aku yang dari tadi kelimpungan nenangin adik aku." Ucapnya kesal sambil menunjuk juniornya yang sudah tegak berdiri di balik sarung.


"Ha???" Mataku membulat sempurna ketika mengikuti arah telunjuknya.


"Biarin aja, dia akan bobo sendiri." Ucapku santai.


"Ya udah kalau nggak mau bobo'in nanti aku cari aja gawang lain." Ucapnya membalas ku tak kalah santainya.


"Emang bisa? Kamu kan lum..." Aku tak meneruskan perkataan ku, aku tersadar dengan apa yang baru aku ucapkan. Aku merasa bersalah. Aku merutuk diriku sendiri kenapa bisa keceplosan. Padahal tidak ada niat sedikitpun untuk merendahkannya.


Kulihat dia terdiam tanpa membalas ucapanku.


"Maaf...Sayang aku nggak ada niat buat ka....."Ucapku.


"Kamu nggak salah, emang kenyataannya aku lumpuh."Dia langsung memotong ucapanku yang justru membuatku semakin merasa bersalah.


"Sayang...jangan marah dong." Ucapku merasa sedih.


Dia hanya mengangguk dan mengambil guling dan memeluknya.


Aku langsung menarik guling tersebut dan menggantikan posisi guling tersebut.


"Sayang....Maaf..." Ucapku dengan ekspresi menyesal.


"Tidurlah." Ucapnya.


Kalau aku tidur kamu nggak akan bisa tidur...aku merasakan sesuatu di bawah sana.


Tanpa ba bi bu aku langsung menyentuh benda sensitifnya itu. Kulihat dia memejamkan mata. Aku terus memainkan dengan tanganku dari samping.Rayhan begitu menikmati dengan sentuhan itu. Aku menghentikan permainan tanganku dan seketika matanya terbuka. Tatapan itu begitu sayu seolah meminta lebih.


"Maaf...Sayang....aku nggak ada niat..." belum selesai ucapanku dia telah menarik tengkuk ku dan mencium bibir.


Ciuman begitu panas dan tangannya bergerilya kemana-mana.


Dia melepaskan perpagutan kami dan kamipun berdua dalam posisi terduduk berhadapan. Ku-tatap mata sayu itu yang diselimuti hasrat. Dia mencium kembali dan turun kebagian leher


Dan akhirnya kami melakukan penyatuan yang begitu indah.Peluh kami bercampur di keheningan malam. Sesekali dia mengingatkan kalau aku sedang hamil balapannya jangan ugal-ugalan. Kepuasan yang sangat nikmat hingga kami sama-sama mencapai puncaknya secara bersamaan. Kami sama-sama mencapai puncak yang begitu nikmat.


"Makasih, Sayang...kamu memang yang terhebat " Ucapnya mengusap peluh di keningku.


"Kamu juga, Sayang...Kamu juga yang terhebat." Ucapku tersenyum.


"Tapi jangan sering-sering ambil jatah baby girl kita, nanti stoknya habis ." Ucapku bercanda.


"Daripada mubazir." jawabnya


"Maaf ya Sayang soal yang tadi." Ucapku mengulanginya karena aku belum merasa puas kalau dia tidak menjawabnya.


"Asal servisnya kayak barusan.Wow....mantap betul." Ucapnya menaik turunkan alisnya.


"Mau yang lebih mantap dari yang tadi?' Ucapku menantangnya.


"Siapa takut!!" Ucapnya tak kalah semangatnya.


"Tunggu sampai baby girl kita brojol." ucapku terkekeh dan beranjak cepat ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


.

__ADS_1


__ADS_2