
Hidup ibaratnya adalah campuran sinar matahari dan hujan, air mata dan tawa, kesenangan dan rasa sakit. Tapi ingatlah, tidak pernah ada awan yang tidak bisa di tembus oleh matahari.
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan. Dengan kelumpuhan Rayhan tak mengurangi kadar cintaku padanya bahkan semakin hari semakin bertambah. Tak pernah terbesit dalam hatiku untuk mengeluh ataupun meninggalkannya. Rasa bahagia tetap mengisi hari-hari kami. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Aku juga sudah menyewa satu orang pengasuh untuk Farha dan Farhan. Jadi masalah Farha dan Farhan sudah ada Bi Rahmi dan Tini yang menjaganya. Tapi tak lepas dari pengawasanku juga. Sedangkan Rafa sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Untuk ke sekolah Pak Erwin yang selalu antar jemput.
Usia kehamilanku sudah memasuki usia lima bulan. Aku bersyukur janin yang ada dalam kandunganku sehat wal'afiat. Seperti kehamilan sebelumnya aku tak merasakan mual ataupun muntah. Rayhan juga tak mengalaminya. Terkadang jika aku ngidam mau makan sesuatu maka Pak Erwin lah yang jadi sasaran untuk membelikannya. Terkadang Rayhan mengatakan dia yang buat tapi Pak Erwin yang kerepotan, mudah-mudahan wajah anak kami kelak tidak sama dengan Pak Erwin. Karena Pak Erwin itu wajahnya datar banget dan senyumnya sangat mahal alias jarang senyum.
Yang aku tahu dari Rayhan kalau Pak Erwin itu duda beranak satu. Istrinya kabur dengan mantan pacarnya sedangkan anaknya tinggal sama orang tua Pak Erwin.
Tiap kehamilan memang beda-beda, ngidam kali ini aku sukanya dandan bahkan Farha sering menjadi sasaran-ku untuk aku make up.
Aku juga sukanya belanja online meskipun aku tak memakai barang tersebut.
Ketika aku dan Rayhan sedang asyik nonton televisi di kamar muncul keinginanku untuk mendandani suamiku itu.
Aku bergegas ke meja rias untuk mengambil alat tempur make up ku. Kemudian aku menghampiri Rayhan yang sedang bersandar di tempat tidur. Aku senyum-senyum menatapnya.
"Mau ngapain?" Tanyanya, mungkin sudah ada feeling tidak enak ketika melihatku membawa alat make up dan menghampirinya.
"Mau dandanin kamu, Sayang."
"Apa!! Jangan bercanda, Sayang." Ucapnya panik.
"Tapi ini maunya calon bayi kita, Sayang." Ucapku sambil mengelus perutku.
Kalau bicara masalah calon bayinya dia pasti nurut aja tanpa protes meskipun hatinya dongkol.
Dia hanya pasrah saja ketika aku make up.
Setelah selesai aku dandani, aku tertawa terbahak-bahak melihatnya.
'Ternyata biar cowok kalau pakai make up cantik juga " Ucapku masih tertawa.
Aku menyerahkan cermin dan diapun melihat pantulan wajahnya .Dia ikut tertawa sambil menirukan gaya perempuan berbicara.Aku tak berhenti tertawa bahkan sampai mengeluarkan air mata. Tak lupa aku mengambil fotonya.
'Kapan kontrol lagi ke dokter?' Tanyanya.
"Besok."
"Aku temani .' Ucapnya.
Aku di temani ibu aja, Sayang." Ucapku.
"Tapi aku pingin banget lihat calon bayi kita, pingin dengar detak jantungnya." Ucapnya sendu.
"Iya, Sayang, besok kita sama-sama ke dokter." Ucapku membelai pipinya.
Selama kehamilanku ini, dia tidak pernah menemaniku periksa ke dokter. Aku selalu di temani oleh Ibu ataupun mama mertua.
Terkadang perasaan sedih datang karena di saat inilah membutuhkan suami yang siaga untuk menemani kemana saja tapi karena kondisinya yang tak memungkinkan dia tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
Tok tok tok.
Aku bergegas membuka pintu kamar dan ternyata Bi Rahmi yang memberitahukan kalau ada Pak Aldi yang ingin bertemu dengan Rayhan.
"Suruh tunggu sebentar ya, Bi," Ucapku pada Bi Rahmi.
"Ada Aldi mau ketemu kamu, Sayang."
Dia menyuruhku memanggil Pak Erwin untuk membantu memindahkannya di kursi roda.
Setelah memanggil Pak Erwin aku langsung ke ruang keluarga bergabung dengan anak-anakku.
Rayhan dibantu oleh Pak Erwin kemudian menemui Aldi di ruang tamu. Ketika Bi Rahmi datang membawa nampan yang berisi minuman aku segera mengambilnya.
"Biar aku aja yang bawa, Bi."
Aku membawa minuman tersebut ke ruang tamu. Aku heran melihat ekspresi Aldi yang seolah menahan tawanya. Aku melihat Pak Erwin begitu juga. "Tumben si muka datar ini senyum malahan sepertinya menahan tawa." Batinku.
Aku meletakkan cangkir di meja dan ketika aku menoleh ke suamiku aku terperangah dengan apa yang aku lihat. Mukanya masih terlihat cantik dengan make--up hasil karyaku.
Aku merasa bersalah karena keisenganku. Aku hanya menatapnya tanpa bisa mengatakan apa -apa.
Melihatku bengong dia langsung menaikkan alisnya memberiku kode.
Aku langsung mendorong kursi rodanya masuk.
Kudengar tawa Aldi dan Pak Erwin sebentar mungkin mereka menutup mulutnya. Hingga suara tawanya lain di dengar.
"Papa cantik." Ucap Farha.
"Astaga....kamu sih nggak bersihin muka aku " Ucap Rayhan.
Aku hanya cengengesan sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Bawa aku ke depan." Ucapnya lagi.
"Nggak dibersihin dulu mukanya?" Tanyaku.
"Nggak usah, mereka juga udah pada lihat aku cantik." Ucapnya kesal.
"Maaf, Sayang!!" Ucapku merasa bersalah.
Dia langsung luluh saat aku mengucapkan kata maaf, ya itulah keistimewaan suamiku selalu mengalah dan itulah membuatku semakin mencintainya.
"Maaf di terima asal kamu ntar malam on the top again." Ucapnya pelan sambil tersenyum.
"Kan memang selalunya begitu," Ucapku mencubit pundaknya.
Dia hanya terkekeh dan akupun membawanya kembali di ruang tamu.
"Tertawalah kalian kalau ingin tertawa!" Ucapnya saat tiba di ruang tamu.
__ADS_1
"Maafkan kami, Pak Rayhan." Ucap Aldi.
Pak Erwin hanya duduk tak mengatakan apapun.
"Tidak masalah, ini ulah istriku yang ngidam mau dandanin aku, yang aku khawatirkan sekarang jangan sampai istriku ini pingin dandanin Pak Erwin atau kamu Aldi."
"Ha!!!!" Ucap Aldi dan Pak Erwin bersamaan.
Aku tak tahan menahan tawa hingga aku menggelembungkan pipiku. Ingin tertawa tapi merasa nggak pantas, seandainya cuma Aldi mungkin bisa aku langsung tertawa karena dia masih sangat muda tapi ada Pak Erwin yang lebih tua dari kami tidak sepantasnya aku menertawainya.
Karena tak ada gunanya juga tinggal bersama mereka akhirnya aku masuk bergabung kembali dengan anak-anakku.
Malam telah tiba, ke tiga anak-ku sudah masuk ke kamar. Setelah memastikan mereka tertidur aku bergegas ke kamar bersama suamiku.
Ketika aku masuk kamar aku melihat Rayhan masih berselonjor di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
'Belum tidur?" Tanyaku.
"Nungguin kamu, Sayang." Ucapnya.
Setelah memakai skin care andalanku aku naik ke tempat tidur dan memijat ke dua kakinya. Itu memang selalu aku lakukan sebelum kami tidur.
"Pijit yang bagian atas, Sayang." Ucapnya.
Tanganku aku arahkan ke bagian pahanya, aku memijatnya perlahan.
"Ke atas lagi, Sayang." Dia memejamkan mata menikmati pijitanku.
Dia meraih tanganku dan menuntunku mendekat kearahnya. Kalau melihat dari sorot matanya aku tahu dia menginginkan-ku. Dia menarikku semakin mendekat ke wajahnya. Hingga bibir kami saling beradu. Ciuman lembut kembali kami lakukan.Hingga menjadi ******* indah yang begitu nikmat .Meskipun dia lumpuh tapi hasratnya tak berubah untuk selalu melakukannya. Cuma gaya bercintanya saja yang beda.
Akhirnya kamipun melakukannya dengan begitu indah. Menikmati indahnya surga dunia Aku berusaha untuk selalu melayaninya dan memuaskannya. Meskipun terkadang aku menginginkan dia yang seperti dulu mempunyai banyak cara dan gaya untuk memuaskanku.
Setelah penyatuan dan bersama mencapai puncak kenikmatan bersama aku kembali berbaring di sampingnya.
"Kamu pasti lelah, Sayang." Ucapnya sambil mengusap peluh di keningku.
"Hmmmm."
"Maaf...aku nggak bisa puasin kamu, Sayang." Ucapnya sendu.
Aku langsung membuka mata dan menatapnya.
"Aku puas kok, Sayang." Ucapku serius.
"Kamu nggak bohong 'kan?" Tanyanya ragu.
'Aku serius, apalagi sedang hamil begini jadi gaya yang kita lakukan cocok. Selain bagus untuk menghindari tekanan pada perut buncitku posisi ini sekaligus mampu mengontrol kedalaman penetrasi." Jelasku.
" Kamu tau dari mana?"
"Kan aku yang rasain, Aku juga taunya dari Mr. Goggle." Ucapku sambil memeluknya.
__ADS_1
Karena kelelahan akupun terbuai dalam pelukannya.