
Pagi menjelang, matahari bersembunyi dibalik awan, gerimis yang turun seakan tidur adalah hal ternyaman. Pelukan hangat dari sang pemilik hati membuat enggang meninggalkan peraduan. Kecupan hangat di kening membuatku mengerjap-kan mata. Karena semalam tidur sangat larut membuat mata sulit untuk terbuka.
Setelah kami melaksanakan dua rakaat aku bergegas ke kamar anak- anakku. Mereka semua masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin karena cuaca yang mendukung.
Sedangkan Rayhan setelah shalat subuh dia melanjutkan dengan tadarusnya.
Aku ke dapur dan di sana ART sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.Selama kehamilanku dan semenjak Rayhan lumpuh aku jarang ke dapur untuk memasak. Aku lebih banyak menemani suamiku dan anak-anakku. Toh sudah ada ART yang melakukannya.
Aku kembali ke tempat tidur dan membuka ponselku. Kubuka aplikasi WhatsApp dan membaca semua pesan masuk. Aku kemudian beralih ke status. Aku memang suka kepo dengan status di kontak WhatsAppku. Hingga aku melihat Mas Rasya baru membuat status lima menit yang lalu.
"Beginilah kalau tidak ada pendamping, masak-masak sendiri, cuci baju sendiri, tidur-pun sendiri."
Terlihat gambar panci di atas kompor yang sedang menyala.
Aku tersenyum miris membaca statusnya. Dalam hatiku bertanya kenapa dia tidak cari pendamping, yang bisa masakin, rawat dia, layanin dia. Baginya tidak susah cari wanita untuk di jadikan istri. Sedangkan punya istri saja bisa dapat cewek lain apalagi sekarang hidup sendiri tidak ada yang melarang. Tapi itu urusan dia. Tidak ada hubungannya lagi denganku. Tapi kepo dikit dengan statusnya nggak apa-apa juga sekedar hiburanlah buatku.
"Jam berapa ke dokter?" Tanya Rayhan membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum.
"Sekitar jam sepuluh, jadi kamu ikut?" Tanyaku.
"Jadi dong, Sayang?" Ucapnya tersenyum.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat. Kamipun berangkat ke dokter untuk memeriksakan kandunganku. Kali ini aku bersama suamiku dan tentu saja Pak Erwin. Baru kali ini Rayhan dan Pak Erwin menemaniku ke dokter. Biasanya aku di temani ibu dan mama mertua dan akupun menyetir sendiri. Setelah sampai di klinik dokter Tiara. Dengan setianya Pak Erwin mendorong kursi roda Rayhan. Dokter Tiara begitu kaget ketika melihat kami datang. Padahal aku sudah menghubungi dia sebelumnya. Dan mengenai kelumpuhan suamiku diapun sudah tahu karena pertama kali aku periksa dia sudah menanyakan kenapa aku datang tidak di temani suamiku dan akupun menjelaskan tentang kecelakaan yang dialaminya.
Setelah Pak Erwin mengantar kami masuk ke ruangan dokter diapun langsung keluar tanpa mengatakan apapun. Aku lihat dokter Tiara sempat melirik Pak Erwin.
'Apa mereka kenal?" batinku. Tapi sudahlah mungkin ini perasaanku saja.
Aku di suruh berbaring di ranjang dan dengan dibantu seorang perawat dia memeriksaku. Rayhan juga berada terus di sampingku disaat pemeriksaan berlangsung.Rayhan memperhatikan calon bayi kami di layar monitor dengan perasaan haru. Bahkan dia mendengar detak jantung bayi kami dengan alat yang di pasang dokter di telinganya.
Setelah pemeriksaan selesai dan calon baby girl kami sehat. Dokter Tiara kemudian meresepkan vitamin untukku. Pak Erwin kemudian masuk kembali dan membantu Rayhan.
"Kami permisi dulu, Dok." Ucap suamiku.
Dokter Tiara tidak menjawab dia hanya menatap Pak Erwin, sedangkan yang di tatap cuek bebek. 'Sombong amat." batinku, entah apa yang ada di dalam pikirannya.
"Kami permisi, Dok!" Ucapku mengulang kata suamiku.
"I--iya, Bu Fani." Ucap dokter Tiara gugup.
Ketika Pak Erwin akan membalikkan badannya.
"Bagaimana kabar kamu, Win?" Ucap dokter Tiara tiba-tiba.
"Fix mereka saling kenal," batinku.
"Seperti yang kamu lihat." Ucapnya berlalu sambil mendorong kursi roda Rayhan. Aku dan Rayhan hanya saling pandang, antara bingung dan penasaran, ternyata mereka berdua saling kenal.
Dokter Tiara hanya tersenyum kecut melihat respon Pak Erwin.
__ADS_1
Setelah Rayhan dan Pak Erwin keluar, aku masih berdiri di dekat pintu enggang keluar dari ruangan dokter Tiara
"Ehh...boleh tanya... Dokter kenal sama Pak Erwin?"
Biarlah dokter Tiara menganggapku kepo atau banyak tanya, dari pada aku penasaran.
"Dia teman SMA ku dulu," jawab dokter Tiara.
"Oh....." ucapku.
Aku kemudian berpamitan kepada dokter Tiara dan menyusul suamiku.
Setelah menebus obat di apotik kami-pun bergegas ke mobil. Di dalam perjalanan aku memberanikan diri menanyakan dokter Tiara kepada Pak Erwin.
Tapi yang di tanya hanya menjawab seperlunya saja.
"Pak Erwin sudah lama kerja sama Papa mertua?"Tanyaku basa basi padahal aku sudah tau jawabannya.
"Aku kan sudah pernah bilang sama kamu, Sayang ...kalau Pak Erwin itu kerjanya sama papa sejak dia lulus kuliah." jawab Rayhan.
Aku hanya melototkan mataku pada suamiku.
"Aku tanya Pak Erwin," ucapku kesal.
"Pak Erwin SMA nya dimana?" tanyaku lagi.
"Kenapa tanya sekolahan Pak Erwin?"Timpal suamiku lagi.
"Awwww. sakit, Sayang."
"Makanya kalau bukan kamu ditanya jangan kamu yang nyerocos saja."
Sungguh suamiku ini umurnya saja yang tua tapi tidak mengerti kode-kode yang aku berikan. Kalau kode di ranjang cepat dia tangkap. Tapi kalau begini telmi banget.
"Pak Erwin kenal sama Dokter Tiara?" Tanyaku pada Pak Erwin tapi mataku melotot ke suamiku.
Pak Erwin tidak menjawab pertanyaanku.
Rayhan akhirnya ikut penasaran juga, mungkin dia sudah paham sejak tadi aku tanya-tanya Pak Erwin.
"Kamu kenal dokter Tiara?" Kini suamiku yang bertanya.
"Iya, Ray." jawab Pak Erwin
Memang antara suamiku dan Pak Erwin panggilnya cuma nama karena memang mereka sudah kenal lama. Mereka sudah seperti keluarga sendiri. Tapi mungkin pembawaan Pak Erwin yang tertutup sehingga mereka tidak kelihatan akrab.
"Teman SMA ya, Pak?" Ucapku sedikit menggodanya.
Dia tidak menjawab. Kenapa sih kalau saya yang bertanya dia sangat cuek. Lama-lama aku jengkel juga.
"Atau ada kisah kasih di SMU?" Cerocosku.
__ADS_1
"Kisah kasih di sekolah." timpal Rayhan.
"Ya itu maksud aku, Sayang."ucapku cengengesan.
Tak terasa kami sudah sampai di rumah. Aku tak mendapatkan jawaban yang aku inginkan dari Pak Erwin.
Aku bergegas mengajak suamiku ke kamar. Karena ingin bertanya banyak tentang Pak Erwin pada suamiku. Sungguh membuatku sangat penasaran dengan ekspresi dokter Tiara dan Pak Erwin tadi. Apa ini bawaan bayi ya.. aku kepo banget sama urusan orang.
Jangan-jangan anakku nanti tukang kepo, tukang dandan, suka iseng.Jangan sampai Ya Allah.
Setelah sampai di kamar aku menanyakan kepada suamiku tentang Pak Erwin.
"Kenapa sih mau tau banget tentang Pak Erwin? Tanya suamiku.
"Bawaan orok." Alasanku.
"Yang aku lihat tadi sih dokter Tiara lirik-lirik sama Pak Erwin. Jangan-jangan dokter Tiara mantan istrinya Pak Erwin.
"Bukan...aku pernah lihat mantan istrinya Pak Erwin." jawab Rayhan.
"Heran deh ....kamu suka banget kepo urusan orang, tambah cerewet juga." ucap suamiku.
"Hehehe....dari pada aku nangis diam-diam." Ucapku mengejeknya.
"Jangan di bahas lagi." Ucapnya pura-pura membuka ponselnya. Mungkin merasa malu sendiri dengan kelakuannya semalam.
Aku mendekat kearah suamiku, dan mengalungkan tanganku di lehernya dari belakang. Kucium pipinya lembut.
"Sayang.... jangan mancing-mancing dong ..ah."Ucapnya dengan tatapan sayu.
"Siapa yang mancing?" Ucapku seseksi mungkin.
Dia menoleh dan langsung melahap bibirku dengan begitu bergairahnya.
"Mamaaaaaa....."
Teriak si Kembar dari luar kamar sambil mengetuk pintu.
Spontan aku langsung melepaskan perpagutan kami.
"Lagi nanggung, Sayang." Bisik Rayhan.
"Nanggung apanya??kamu mau dengar mereka paduan suara di luar sana?" Ucapku dan berlalu menemui si Kembar.
Setelah membuka pintu kulihat Farha, Farhan dan Rafa sedang berdiri di depan pintu kamar.
"Kenapa, Sayang?" Tanyaku pada mereka.
"Mau sama Papa." Ucap Farha dengan bahasa cadelnya sambil berlari ke arah Papanya.
Begitu juga Farhan dan Rafa. Sungguh mereka dekat dengan Rayhan, aku di tinggalkan sendiri berdiri di depan pintu.
__ADS_1
Karena merasa di abaikan akhirnya aku ke ruang makan membantu ART menyiapkan makan siang .