SESAL

SESAL
Tamat


__ADS_3

Defenisi dari kebahagiaan tidak diukur dari segi apapun akan tetapi kebahagiaan dari jiwa yang sederhana dan kebersamaan dengan keluarga adalah kebahagiaan yang sesungguhnya.


Terkadang Tuhan memberikan rasa sakit hati, kecewa sebelum kita mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sejatinya kita tak akan merasakan indahnya kebahagiaan kalau tak pernah mengalami rasa sakit dan kecewa itu.


Selama menjalani rumah tangga dengan suami keduaku yaitu Rayhan. Hanya kebahagiaan yang aku rasakan, tak ada air mata kesedihan hanya air mata kebahagiaan.


Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan bahkan Bulan berganti Tahun Rafa juga sudah kuliah di Universitas terbaik di kota ini. Dan dia di nyatakan lulus jurusan kedokteran.


Begitu juga dengan anak-anakku yang lain. Mereka semua tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan saling menyayangi.


Setiap suamiku ke luar kota aku selalu ikut dengannya. Karena anak-anak juga sudah bisa di tinggal bersama Bi Rahmi. Itupun hanya satu kali dalam sebulan dan hanya dua atau tiga hari.


Sedangkan Mas Rasya dan Hana belum juga memiliki anak.Kami tetap memelihara hubungan baik karena biar bagaimana ada Rafa anak kami berdua.


Memelihara dendam juga tidak baik hanya akan merugikan diri sendiri. Apalagi aku sudah memiliki pengganti yang sangat mencintai dan memanjakanku.


Hari ini adalah pernikahan salah satu karyawan hotel suamiku.


"Kamu udah siap, Sayang?" Ujar suamiku.


"Bentar " Ujarku.


"Aku tunggu di bawah ya?" Ucapnya lagi.


Tanpa membalasnya dia segera turun menungguku di lantai bawah.


Sebenarnya Rayhan menyuruhku ke salon tapi aku lebih memilih makeup sendiri dengan bermodalkan tutorial di YouTube.


Setelah selesai aku tatap wajahku di cermin.

__ADS_1


"Perfect." Gumanku tersenyum.


Aku puas dengan hasil karya goresan tangan sendiri. Make up yang natural ditambah dengan gaun yang digunakan dengan warna maroon dengan jilbab yang senada. Suamiku memakai batik berwarna maroon juga.


Aku turun menemui suamiku yang sudah pasti bosan menungguku.


'Maaf lama menunggu." Ucapku cengengesan.


Rayhan hanya menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Wow....cantiknya istriku.' Ujarnya.


"Serius? Make up ku nggak blepotan kan?" Tanyaku agak tidak percaya.


"Sangat cantik." Ujarnya lagi sambil menaikkan jempolnya padaku.


Di dalam mobil kami tak pernah diam mengobrol.


"Serius make up aku nggak norak ya?" Ucapku lagi merasa was-was. Aku takut suamiku hanya mau menyenangkan hatiku saja.


"Sangat bagus malah... justru aku yang merasa ketuaan jalan bareng kamu." Ujarnya terkekeh.


"Gombalnya nggak usah gitu amat." Ucapku meninju pelan lengannya.


Setelah tiga puluh menit Rayhan mengemudi akhirnya kami tiba di pesta pernikahan tersebut.


Malam telah berlalu dan pagi menyapa. Kebetulan hari Minggu jadi kami memilih tinggal di rumah saja.


Anak-anak sedang bermain bola di samping rumah. Kami bentuk dua tim. Rafa, Fadhiyah dan Fadhilah menjadi satu tim. Sedangkan Farha, Farhan, dan Fadhil juga satu tim. Mereka main bola bersama. Suara riuh dan teriakan mereka kalau mencetak gol seakan terdengar di satu komplek.

__ADS_1


Sedangkan aku dan Rayhan duduk di sebuah bangku menonton mereka bermain.


Untuk sementara tim si kembar yang menang karena Fadhiyah dan Fadhilah asal tendang bola kemana saja. Terkadang kedua bocah itu memasukkan bola ke gawangnya sendiri. Sambil lompat-lompat dan berteriak gol...gol. Jadi Rafa seolah lawan lima orang.


Aku dan Rayhan terkekeh melihat kekocakan mereka.


"Tak terasa ya anak-anak kita sudah besar." Ujar suamiku.


"Iya...aku juga nggak nyangka bisa punya anak banyak." Ujarku terkekeh.


"Thanks ya Sayang?" Ujar suamiku lagi.


"Untuk???" Ujarku menatapnya.


"Karena kamu sudah melahirkan anak-anakku, sungguh mereka adalah harta tak ternilai." Ujarnya lagi.


"Justru aku yang berterimakasih yang mau menerima aku, mencintai aku tanpa batas." Ujarku membelai pipinya.


Dia menggenggam tanganku dan mencium ya lembut.


"Semoga kita seperti ini terus, Sayang... di beri kesehatan dan umur yang panjang supaya bisa melihat anak-anak kita sukses." Ujarnya.


"Kita akan menua bersama dan melihat mereka sukses ." Ujarku menambahkan.


Tidak ada kebahagiaan terbesar sebagai orang tua selain melihat anak-anak kita tumbuh sehat dan meraih kesuksesannya. Kalau sebagai anak senang ketika menjadi sukses, maka orang tua juga bahagia. Kebahagiaannya bukan lagi kesuksesan untuk dirinya, melainkan melihat kesuksesan anaknya.


NB. Cerita tentang Hana dan Rasya akan diceritakan dalam bonus chapter. Sedangkan Rafa dan Adhima akan di buat dalam judul yang baru.


Thanks tak terkira buat para readers yang telah berkenan membaca karya pertamaku ini. Walaupun masih banyak kekurangan. 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2