SESAL

SESAL
Tak Pernah Akur


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan Dewi di acara kelulusan Rafa. Kami sering berhubungan lewat telepon. Kalau berbicara dengannya tak terasa hingga menghabiskan waktu ber jam-jam mengobrol lewat telepon. Itupun hanya malam hari karena Dewi masih bekerja di tempat yang dulu.Rayhan sudah berangkat ke Kalimantan selama dua hari. Baru dua hari serasa sebulan. Rindu sudah tak terkira, rindu dengan keromantisannya, kelucuannya yang paling penting rindu dengan kehangatannya.


Rencananya weekend besok Dewi mau datang berkunjung di rumah.


Tentu saja aku yang mengundangnya untuk datang. Sebenarnya dia mengusulkan untuk jalan berdua saja mengenang masa kami satu kantor dulu. Jalan berdua seperti anak remaja. Tapi setelah aku pikir-pikir, nggak mungkin aku ninggalin anak-anakku. Meskipun mereka sudah pintar dan tidak nakal tapi tidak ada yang menemaninya karena papa mereka juga sedang tidak ada. Akhirnya jalan berdua dengan Dewi aku pending dulu. Nanti setelah suamiku datang baru di planning lagi.


Rafa juga masih belum terlalu sibuk, terkadang dia ke kafe. Sebelum pengumuman kelulusan masuk di Universitas keluar, dia lebih banyak di rumah bersama adik-adiknya dan mengurus kafe.


Hari libur yang dinantikan oleh semua orang terutama anak sekolah dan pekerja kantoran telah tiba. Sedangkan bagiku semua hari sama tetap libur hanya mengurus anak dan suami itupun di bantu oleh ART dan pengasuh. Benar-benar menikmati hidup. Hanya duduk cantik di rumah uang mengalir di rekening. Benar-benar tak pernah kubayangkan hidup seperti ini. Mempunyai keluarga yang harmonis, kaya raya dan enam anak..


Ponsel berdering dan ternyata Dewi yang menghubungiku.


"Hallo...rumah kamu yang mana Fan?" Ujar Dewi lewat sambungan telepon.


"Kan aku sudah kirim lokasinya." Jawabku.


"Iya sih ..aku sudah pas di lokasinya tapi benar ini rumah kamu?" Ucapnya lagi sambil mengirim foto rumahku.


"Astaga kamu udah di luar?" Tanyaku heran.


" Iya nih ...tapi aku nggak turun takutnya salah." Ujarnya cengengesan.


Aku segera keluar dan menyuruh Satpam membuka pintu gerbang.


Dewi datang bersama anaknya.


"Wow ...rumah Tante bagus banget." Ujar Adhima.


"Istri Sultan," timpal Dewi terkekeh.


"Yuk masuk." Ajak--ku.


Setelah Dewi dan putrinya masuk, mereka langsung aku ajak di ruang keluarga. Kalau di ruang tamu terasa formal sekali.


Anak-anakku sedang berada di ruang keluarga kecuali Rafa dan Fadhilah, entah kemana anak itu.


Aku mengajak anak-anak berkenalan dengan Dewi dan Adhima.


"Ini semua anak-anak kamu, Fan?" Ujar Dewi dengan senyum merekah.


"Ini mah masih kurang dua." Ujarku tertawa.


"Suami kamu tokcare banget." Kata Dewi terkekeh.


"Tokcare apaan sih Tante?" Ujar Fadhiyah.


Dewi menatapku seolah ingin terbahak.


"Tokcare artinya kamu cantik sayang " Ucap Dewi berbohong sambil mencubit pipi Fadhiyah.


" Terima kasih Tante cantik." Ujar anakku.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat Dewi mengobrol sama anak-anakku. Sedangkan Adhima langsung bersama Farha yang sedang memainkan ponselnya.


Tak lama kemudian Rafa dan Fadhilah datang dari arah belakang.


Mata Rafa langsung membulat melihat kehadiran Adhima.

__ADS_1


"Ngapain ke rumah gue?" Tanya Rafa sinis.


Adhima langsung mendongak dan melihat Rafa.


"Oe...tamu itu adalah raja, hormati dong." Ujar Adhima ketus.


"Apa sih Rafa, salim sama Tante Dewi." Ucapku pada Rafa. Aku heran biasanya Rafa sopan sama tamu atau orang lain entah kenapa kalau ketemu sama Adhima bawaannya marah-marah melulu.


Rafa langsung menuju ke arah Dewi dan memberi salim, begitu juga dengan Fadilah.


"Cantiknya." Ucap Dewi sambil mencium pipi Fadhilah.


Fadhilah yang tau mau di cium terus oleh Dewi langsung bergabung dengan Farha dan Adhima.


"Tak terasa ya kamu sudah besar Rafa? Padahal terasa baru kemarin lihat kamu masih kecil saat main sama Adhima." Ujar Dewi mengingat moment kami ketika berlibur di puncak.


"Bukan main tapi ganti-gantian nangis kalau mereka bersama." Ucapku terkekeh mengingat kedua anak itu yang jarang akur.


"Sampai sekarang Tante, dia itu nyebelin banget," cerocos Adhima yang duduk tak jauh dari kami.


Rafa menatap tajam Adhima yang nyengir.


"Apa lihat-lihat, naksir ya?" Ucap Adhima asal.


"Cih ...sorry ya...lho bukan tipe gue ." Ujar Rafa sinis.


"Apalagi gue...kamu mah lewat." Ujar Adhima tak mau kalah.


"Kenapa sih kalian berantemnya dari orok sampai sekarang."


Ujar Dewi.


"Ogah ah."Ujar Rafa kesal.


"Amit-amit deh." Ucap Adhima mengedikkan bahunya.


"Sebenarnya Rafa tu naksir sama gue Tante, cuma dianya aja sok jual mahal," Ujar Adhima percaya diri.


"Ha?" Ucapku bersamaan dengan Dewi


"Oeek..." Teriak Rafa seolah mau muntah.


"Cie...kak Rafa udah punya pacar." Ejek Fadhiyah.


Kami semua tertawa melihat kekesalan Rafa. Karena merasa cuma sendirian di kerjain akhirnya Rafa berlalu ke kamarnya.


Setelah Rafa meninggalkan kami , aku mengajak Dewi ke taman belakang untuk ngobrol. Sedangkan anak-anak masih di ruang keluarga sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


"Kamu beruntung Fan lepas dari Rasya dapat suami tajir melintir." Ujar Dewi.


"Alhamdulillah Dew, yang paling buat aku bersyukur suamiku sangat mencintaiku," Ujarku tersenyum penuh kebahagiaan.


"Kamu nggak pernah ketemu sama Rasya?" Tanyanya.


"Sering sih, dia biasa kesini jenguk Rafa."


"Pasti dia menyesal lihat kamu seperti sekarang ini." Kata Dewi lagi.

__ADS_1


"Dia juga sudah menikah." Ujarku .


"Aku pernah ketemu beberapa tahun lalu, kayaknya sebelum menikah deh, dia curhat katanya menyesal khianatin kamu dulu. Katanya susah lupain kamu. Katanya dia cinta mati sama kamu Fan."Ujar Dewi lagi.


"Terus kamu bilang apa sama dia?" Ucapku.


"Ya aku bilang aja cinta mati itu nggak khianatin, menjaga kesetiaan, dia itu nggak cinta mati tapi cinta ************. Hahaha," Kata Dewi tertawa.


"Udah ah.. bahas dia, kabar suami kamu gimana?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Dia baik cuma kadang kolestrol dan asam urat naik, maklum udah tua." Jawab Dewi.


"Tapi masih kuat kan?" Ledekku.


"Kalau itu mah amaaaan... walaupun ngos-ngosan." Katanya sambil tertawa.


Memang Dewi kalau berbicara tak ada filternya. Dan kami pun dari dulu tak ada rahasia-rahasiaan.


Dewi punya dua anak laki-laki dan perempuan. Kami mengobrol banyak hingga tak lama kemudian Bi Rahmi datang memanggil kami makan siang.


"Bi Rahmi awet muda ya?" Ujar Dewi pada Bi Rahmi. Mereka memang kenal karena Dewi dulu sering datang ke rumah.


"Bu Dewi bisa aja." Ujar Bi Rahmi merasa malu.


"Benar kok Bi." Kata Dewi serius.


Akhirnya kami bergegas ke ruang makan untuk makan bersama. Hanya Farha, Farhan dan Adhima di meja makan. Yang lainnya sedang makan di depan televisi. Aku segera memanggil Rafa untuk makan siang. Dan dia pun menurut untuk makan bersama.


Setelah Rafa bergabung dengan kami matanya menatap sinis ke arah Adhima.


Sedangkan Adhima sepertinya tersenyum sarkas ketika melihat Rafa.


"Apa lihat-lihat, emang gue pisang?" Ujar Adhima, tapi langsung di potong oleh Rafa.


"Monyet lu!"


"Ayo makan, berantemnya tunda dulu." Ujarku kepada dua anak muda itu. Mereka seperti Tom dan Jerry saja.


Kami makan bersama, sesekali aku menawarkan kepada Dewi dan Adhima supaya nambah. Sedangkan Rafa hanya diam saja sesekali mengangkat wajahnya melihat Adhima yang super cuek. Bahkan tak segan-segan Adhima bersendawa setelah selesai makan.


Benar-benar Adhima gadis yang super cuek, tidak jaim walaupun di depan orang lain.


Berkali - kali mamanya menegur tapi dia santai saja. Setelah makan dengan telaten Adhima mengangkat semua piring dan mencucinya. Aku berusaha mencegahnya karena sudah ada ART yang akan melakukannya. Tapi dia ngotot melakukannya katanya.


"Kata nenek, kalau sudah makan harus cuci piring supaya dapat suami setia." Ucapnya sambil cuci piring.


Entah apakah itu benar atau tidak, atau mungkin salah satu trik juga supaya dia rajin cuci piring.


Tak terasa hari sudah sore dan Dewi pun pamit pulang.


"Kapan-kapan kamu yang ke rumah aku ya, Fan?" Ujar Dewi sebelum pulang.


"Iya Tante nanti aku buatin Kapurung." Ujar Adhima semangat.


"Emang kamu bisa buatnya?" Tanyaku.


"Bisa dong Tante, Ajak Om sama krucil-krucil ya Tante?" Kata Adhima.

__ADS_1


Mereka- pun bergegas naik ke mobil.


"Bye bye calon imam." Teriak Adhima sambil menatap kearah loteng lantai dua. Spontan kami menatap ke atas dan di sana terlihat Rafa yang dengan wajah kemerahan karena malu seolah tertangkap basah sedang mengintip.


__ADS_2