SESAL

SESAL
Kangen


__ADS_3

Apa karena sudah ada seseorang pengganti ku di hatimu?" ucap Mas Rasya sambil menatapku dalam.


Aku bingung harus jawab apa, tapi untung juga cincin ini aku pakai, bisa jadi alasan lah untuk menolak Mas Rasya, batinku.


"I..iya Mas," ucapku tergagap.


Mas Rasya hanya tersenyum sinis.


"Aku tau kamu Fan, tidak mudah bagimu untuk jatuh cinta, " ucapnya yakin.


"Ini buktinya Mas" aku mengangkat tanganku dan memperlihatkan cincin di tanganku.


"Kalau nggak bisa bohong, jangan paksakan diri," ucap Mas Rasya tambah yakin.


"Terserah Mas deh, percaya atau tidak, yang jelas untuk saat ini aku sangat menikmati kesendirianku, bagiku Rafa sudah lebih dari cukup buatku", kataku.


Biar apapun yang aku katakan dia terus memaksa untuk rujuk, keras kepala sekali. kataku dalam hati.


" Sudah larut, Sebaiknya Mas pulang, atau Mas bermalam saja?" katanya mulai aneh.


"Nggak Mas, tidak baik seorang DUDA bermalam di rumah seorang JANDA, nanti kita di grebek warga," kataku sambil menekankan kata janda dan duda.


"Palingan kita di nikahkan," jawabnya asal.


"Enak di Mas, sengsara di aku," jawabku ketus sambil berdiri menuju kearah pintu.


Kulihat Mas Rasya terkekeh sambil beranjak ke arah pintu, sebelum benar-benar keluar dan menoleh ke arahku


"Sebelum ijab qobul keluar dari mulut pria itu, aku akan tetap mengejarmu,' katanya dengan senyum tipisnya.


'Astaga Mas tambah aneh deh," ucapku mulai jengkel.


Mas Rasya benar-benar membuatku heran, waktu aku jadi istrinya malah di sia-siakan, pas udah di lepas eh malah kembali mengejar. Benar- benar aneh.


"Lihat jam Mas, udah larut, ucapku .


Mas Rasya berlalu menuju mobilnya, sebelum benar-benar meninggalkan pekarangan rumah dia membunyikan klakson dua kali, padahal aku sudah menutup pintu.


Ya begitulah Mas Rasya, seakan punya seribu macam cara untuk mendapatkan apa yang di inginkan.


...**********...


Hari terus berganti, Mas Rasya membuktikan apa yang dia katakan, dia sering berkunjung ke rumah dengan alasan bertemu Rafa, kadang juga membawakan makanan kesukaanku. Berbagai rayuan mautnya kepadaku bukannya membuatku terhanyut atau terlena. Malah membuatku risih mendengarnya.


Berapa kali aku mengatakan kalau jangan sering-sering ke rumah, malah dia tidak peduli, ucapanku dia anggap angin lalu.

__ADS_1


Kadang aku merasa nggak enak dengan tetangga yang sudah tahu kami sudah bercerai, mereka menganggap kami ada hubungan lagi.


Rayhan juga seakan di telan bumi, tidak pernah ada kabarnya.


Keadaan ini membuatku bingung harus memutuskan apa, di satu sisi Mas Rasya yang selalu meminta rujuk, di sisi lain Rayhan yang menunggu jawaban dariku malah tidak ada kabarnya sampai sekarang.


Dalam untaian doa malam ku aku meminta kepada Tuhan pilihan yang diRidhoiNya. Kalaupun masih ada jodoh untukku berikanlah yang terbaik. Pria yang mencintaiku karenaMu ya Allah, pria yang akan membimbingku untuk menuju JannahMu.


Setelah melantunkan do'a tanpa sadar bibirku menyebut nama Rayhan. Hati dan pikiran tertuju padanya.


"Apakah ini pertanda bahwa Tuhan sudah menunjukkan yang terbaik untukku?" kataku dalam hati.


"Bismilah semoga ini yang terbaik Ya Allah" doaku dalam hati.


...******...


Di sebuah rumah berlantai tiga jauh diseberang sana, Di sepertiga malam didalam sebuah kamar yang luas.Seorang pria sedang terduduk bersimpuh di atas sajadahnya. Melantunkan doa kepada Allah sang pemilik cinta.


Dia meminta jika memang Fani adalah jodoh yang digariskan oleh Tuhan untuknya maka dekatkanlah, jika bukan maka jauhkanlah dari hati dan pikirannya.


Setelah melaksanakan shalat malamnya, Rayhan bergegas untuk kembali ke peraduannya.


Tapi matanya tak bisa terpejam karena memikirkan wanita yang amat di cintanya, siapa lagi kalau bukan Fani Rahayu.


"Maaf Fan, akhir-akhir ini aku tidak menghubungimu, aku hanya bisa mendoakan mu dalam diam karena dengan begitu akan melatihku mencintaimu dengan tulus, tanpa syarat." batinnya.


Alasan Rayhan juga tidak menghubungi Fani karena ingin memberikan waktu untuk Fani berfikir dan mengambil keputusan tanpa merasa adanya paksaan atau ketidak nyamanan di hatinya.


Rayhan berpikir kalau dia menghubungi Fani terus akan muncul perasaan tidak enak Fani jika dia menolaknya nanti.


Dan juga seandainya penolakan yang dia dapatkan maka setidaknya dia sudah terbiasa karena sudah dua Minggu ini mereka jarang berhubungan meskipun lewat telepon.


Karena mata Rayhan sulit terpejam, maka dia mengambil gawainya yang tersimpan di atas nakas. Dia membuka akun facebooknya dan dia melihat akun sosmed Fani sedang online.


Dengan ragu Rayhan mencoba mengirimkan pesan lewat messengger.


" Bunga... belum tidur?"


Tidak ada jawaban di aplikasi tersebut.


Ting .... sebuah pesan masuk di aplikasi WhatsApp.


Bunga. :"Nggak bisa tidur.


Kumbang :Kenapa?

__ADS_1


Bunga. : KK kenapa belum tidur juga.


Kumbang : Nggak ngantuk.


Bunga. : KK kapan kesini?


Kumbang.: Aku nggak tahu.


Bunga. : Rafa kangen KK


Kumbang. : Kamu????


Bunga. : ☺️☺️


Kumbang : Kangen apa nggak??


Bunga. : Kangen juga Kak☺️☺️


Kumbang. : InsyaAllah besok aku


akan datang.


Rayhan tersenyum sumringah membaca pesan dari wanita yang sangat dicintainya, berulang kali dia mengulang membaca pesan tersebut. Sesekali dia mencium layar gawainya itu. Tak henti -hentinya senyum terlukis di bibirnya Setidaknya ini awal yang baik buatnya karena Fani mengatakan kangen padanya.


Rayhan tidak bisa memejamkan matanya kembali, bayangan Fani selalu menari di pelupuk matanya. Ingin rasanya secepatnya beranjak pagi dan segera menemui sang pujaan hati


Dia langsung memesan tiket penerbangan pertama keesokan harinya.


Setelah shalat Subuh Rayhan bergegas bersiap untuk terbang ke kota sang pemilik hati. Dia hanya membawa tas rangsel di pundaknya. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.


"Kamu mau kemana sepagi ini?" tanya sang ibu.


"Mau menemui Fani , Bu" jawabnya.


"Dasar bucin," ejek ibunya terkekeh.


Sang ibu memang sudah dari dulu mengetahui kalau putranya itu sangat mencintai Fani. Karena selain sebagai ibu, bagi Rayhan ibunya juga sahabat sekaligus tempat curhatnya.


Sang ibu tidak melarang Rayhan untuk mendekati Fani, karena kebahagiaan anaknya lah yang utama, dia tidak memperdulikan walaupun Fani seorang janda. Itu tak jadi masalah buatnya yang penting Rayhan bahagia.


Setelah sarapan dan berpamitan dengan orang tuanya, Rayhan bergegas ke bandara karena penerbangannya tinggal satu jam lagi, padahal jarak rumahnya dengan bandara hanya butuh waktu lima belas menit. Tapi dia sudah tidak sabar untuk berangkat secepatnya.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya dia naik di atas pesawat. Dia berdoa dalam hati semoga apa yang di harapkannya akan terwujud. Fani akan menerimanya, soal cinta baginya itu belakangan yang penting Fani mau menerimanya dulu. Dia pasti bisa membuat Fani jatuh cinta padanya.


Fani...My Silent Love .I'm coming.....Wait me honey....

__ADS_1


__ADS_2