
Beberapa menit kemudian bel di luar berbunyi, Rayhan segera bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu. Ternyata pelayan hotel yang mengantarkan makanan.
Karena memang sudah lapar, kami berdua makan dengan lahapnya. Setelah sarapan pagi plus makan siang karena waktunya memang agak siang aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Bareng ya ... mandinya?" ucap Rayhan.
"Nggak ah, Kak."
Aku langsung ambil langka seribu masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu. Bisa-bisa mandi plus- plus kalau dia ikut masuk.
Setelah membersihkan diri badan terasa lebih segar, lebih fresh,perut juga udah kenyang jadi aku siap - siap untuk menemui Rafa di kamarnya. Tapi sebelumnya aku telepon Fira menanyakan tentang keberadaannya. Ternyata Fira, Ridho dan Rafa pergi jalan-jalan sekalian belanja oleh-oleh untuk di bawa pulang.
"Kenapa sih nggak ngajak, Kakak?" Kataku lewat sambungan telepon.
"Nikmatin aja kak suasana pengantin barunya,"
Aku hanya melenguh mendengar ucapan Fira, sebenarnya aku juga pingin jalan-jalan, masa seharian ini cuma di kamar dan di kasur saja. Kalau di kamar terus, bisa-bisa si Kumbang perkasa itu minta jatah terus.
Setelah menutup telpon aku melihat Rayhan yang sudah keluar dari kamar mandi dan memakai baju kaos dan celana pendek
"Kak, yuk kita jalan-jalan," ucapku.
"Nggak, kita di kamar aja."Jawabnya sambil menjatuhkan bobotnya tepat di sampingku yang dari tadi duduk di sofa.
Aku hanya mengerucutkan bibirku.
"Aku pinginnya di kamar terus, Sayang, sama kamu, "
Kemudian dia membaringkan kepalanya di pahaku sambil melihat ponselnya.
"Tapi masa di kamar terus seharian, Kak?" ucapku.
Dia menatapku. "Emangnya kenapa?"
" Bosan, Kak!, aku juga kangen, Rafa." Kataku sendu sambil menyugar rambutnya yang masih basah.
"Nggak akan bosan kalau kita ah ... ah...." katanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Pikiran kakak itu-itu terus,"
"Harap maklum, Nyonya Rayhan! Kan baru rasain, apalagi servis kamu tuh...waduh... nikmat banget, Sayang." katanya sambil senyum-senyum sendiri.
Malu??? ya jelas dong apalagi membicarakan hal vulgar begitu.Meskipun kami suami istri tapi sungguh membuatku ingin lenyap dari hadapannya seketika itu juga. Mungkin karena masih baru jadi belum terbiasa dengannya.
"Yang tadi malam itu papanya Rafa?" tanyanya.
Aku mengangguk tanpa mengatakan apa-apa.
"Gantengan aku,' jawabnya pelan tapi jelas terdengar olehku.
"PD banget sih,Kak,' ucapku padanya.
"Menurut kamu?"
Aku hanya mengedipkan bahuku.
"Jawab dong, Sayang...." Ucapnya.
"Ha ha ha ha" tawanya sambil mengecup pipiku.
Kemudian dia berdiri dan menarik tanganku ikut berdiri.
"Yuk kita ke Rafa, kakak juga kangen sama dia."
Mataku langsung berbinar senang mendengar ajakannya. Memang dia benar-benar pengertian.
Aku langsung menelpon Fira menanyakan dimana keberadaan mereka.
Kami kompak memakai baju warna yang senada. Senyum terus terukir dari bibir kami. Bahagia?? Ya pastilah, cinta itu perlahan hadir dan akan terus bersemi selama di pupuk dengan kepercayaan dan kesetiaan.
Dia tak henti-hentinya menggenggam tanganku saat kami meninggalkan kamar.
"Fokus dong, Kak?" ucapku memperingatkan karena sesekali dia menoleh ke arahku padahal dia sedang mengendarai mobil.
Bukannya fokus malah dia malah menggenggam tanganku dan satu lagi tangannya memegang stir.
__ADS_1
Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya. Tapi pegangannya semakin erat.
"Astaga, Kak, kayak aku mau pergi saja, lepasin dong," ucapku mulai gak nyaman.
Karena aku terus memaksa akhirnya dia melepaskan tanganku.
Tak lama kemudian kami sampai di tempat di mana Rafa, Fira beserta Ridho berada. Tepatnya di sebuah pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota tersebut.
...*******...
Rasya's Pov
Melihat seseorang yang sangat kita cintai bersanding dengan pria lain itu sangat menyakitkan. Apalagi seseorang itu pernah kita miliki dalam sebuah ikatan yang suci yaitu pernikahan.Sakit di hati bagaikan tertancap ribuan anak panah.
Harapan untuk bersamanya begitu besar, tapi apalah daya takdir tidak memberikan kesempatan kedua untuk bersamanya.
Takdir seakan mempermainkan hidupku. Disaat ingin pergi jauh karena tak sanggup melihatnya di miliki oleh orang lain tapi kenyataannya aku harus menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri namanya di sebut dalam ijab kabul seorang pria.
Berjalan tanpa arah, tanpa tujuan menyesali segala kebodohan yang telah aku lakukan.
Dunia ini serasa sangat sempit, aku sangka menyaksikan akad nikahnya hanya kebetulan saja, tapi lagi-lagi takdir mengharuskan aku menyaksikan resepsi pernikahannya yang sangat megah. Senyum bahagia terukir di bibirnya. Justru senyum itu berbanding terbalik yang kurasakan. Senyumnya menjadi tangis bagiku.Bahagia yang dia rasakan tapi kesedihan bagiku.Posisiku telah tergantikan oleh pria yang dengan gagahnya bersanding di sampingnya yang selalu menatapnya penuh cinta. Apalagi setelah mengetahui bahwa pria tersebut bukan orang biasa. Jika di bandingkan denganku, bagaikan langit dan bumi.
Wanita baik-baik memang pantasnya bersanding dengan pria yang baik pula. Aku bukan pria yang baik buat Fani.
Kadang putus asa itu muncul, aku gagal menjadi suami yang baik tapi setidaknya aku akan berusaha menjadi ayah yang terbaik buat anak kami. Aku ingin anakku bangga menyebut bahwa aku ayahnya.
Ketika aku diminta atasanku untuk menggantikannya hadir memenuhi undangan pak Risman, aku langsung menyetujuinya. Seandainya aku tau bahwa mempelai perempuannya adalah mantan istriku, Fani, sudah ku pastikan aku akan menolaknya. Kisahku seperti drama yang tersusun apik oleh sang sutradara.
Aku dengan coolnya berjalan memasuki gedung resepsi, seketika terlonjak kaget ketika netraku menatap seorang anak kecil yang tak lain adalah putraku. Di tambah lagi keluarga besar Fani yang menyapaku seperti biasanya . Awalnya aku tidak mengenali Fani karena dia sangat cantik dengan gaun pengantin di tambah make up cantik seperti boneka Barbie di mataku. Mau tak mau aku menghampiri dan memberikan doa restu kepada kedua mempelai.
Tak kuasa aku menahan gejolak yang bergemuruh di dada. Ingin menangis, berteriak menumpahkan segala sesal. Karena tak kuasa menahan sesak di dada akhirnya memutuskan cepat meninggalkan tempat itu. Walaupun Rafa masih ingin bersamaku tapi hatiku tak bisa bertahan lebih lama lagi di tempat itu.
Kulajukan mobil tak tau harus kemana, karena aku belum terlalu mengenal kota ini hingga aku menemukan sebuah club. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam club tersebut. Setidaknya aku ingin melupakan segala yang membuncah di hati. Meminum beberapa gelas, sudah membuatku pusing dan rasanya mau muntah. Aku bergegas keluar dan memuntahkan segala yang ada di perut.
Ditambah lagi belum makan malam membuat asam lambungku naik. Aku kembali naik ke mobil dan melajukan kembali ke rumah dinas perusahaan. Aku berteriak, memukul stir yang jadi pelampiasan amarah pada diriku sendiri. Kenapa harus seperti ini hidupku. Wanita yang aku cintai sudah menjadi milik pria lain. Seandainya Lestari tidak hadir dalam hidupku, seandainya aku tidak akan tergoda olehnya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi. Penyesalanku tidak akan mengembalikan Fani menjadi milikku.
__ADS_1