SESAL

SESAL
Positif


__ADS_3

Setelah sampai ke dokter kandungan, aku menceritakan keluhan yang di alami oleh Rayhan.


"Kapan terakhir kali ibu menstruasi?"Tanya dokter yang bernama Tiara.


"Sekitar empat hari yang lalu, Dok" ucapku.


"Haid seperti biasa atau cuma berupa flek?" tanya dokter Tiara lagi.


"Berupa flek, Dok."


Dokter Tiara kemudian menyuruhku berbaring di sebuah ranjang pasien, setelah mengoleskan gel kemudian menempelkan alat USG dibagian perutku.


Senyum tersungging di bibir dokter tersebut,


"Selamat ... Ibu positif hamil!" Ucap dokter Tiara.


"Serius, Dok????" ucap Rayhan mengagetkan aku dan dokter Tiara, kami serentak menatapnya.


"Iya, Pak!Bapak dan Ibu bisa lihat di layar monitor .Ini janinnya ... masih sebesar biji kacang,usianya sekitar enam minggu, denyut jantungnya normal."


Jangan di tanya ekspresi Rayhan, wajahnya berbinar, senyum merekah terlukis di wajahnya. Dia menatap layar monitor tak berkedip melihat calon bayi kami. Haru,gembira,senang terpancar jelas diwajahnya.


Setelah selesai pemeriksaan, kami kembali konsultasi dengan dokter Tiara.


"Apa nggak bahaya,Dok, kalau keluar flek?" Tanya Rayhan terlihat khawatir.


"Selama keluarnya hanya berupa flek, tidak terlalu sering, tidak demam atau tidak nyeri itu tidak masalah,. Pak."' Jelas dokter Tiara.


Satu lagi, Pak ... Bu! berhubungan intimnya dibatasi dulu untuk trimester pertama ini. Bisa di lakukan tapi dengan pelan.


"Tapi, kenapa saya nggak merasakan ngidam ya,Dok? seperti waktu hamil anak pertama? tanyaku penasaran.


"Setiap kehamilan itu beda-beda, ibu termasuk beruntung karena kali ini suami ibu yang ngidam, dalam dunia kedokteran di sebut couvade syndrome atau kehamilan simpatik." Jelas dokter Tiara.


"Sampai kapan ,Dok? tanyaku.


"Bisa sampai ibu melahirkan bisa juga hanya awal kehamilan." ucap dokter Tiara.


"Itu tidak masalah buatku, Dok, yang penting calon anak kami dan istriku baik-baik saja." ucap Rayhan semangat sambil menggenggam jemariku.


Dokter Tiara hanya tersenyum kepada kami berdua.


"Ada yang mau di tanyakan lagi, Pak ... Bu?"


"A...anu, Dok, soal hubungan intimnya ... bagaimana kalau istri saya yang minta duluan, Dok?"


"Awwwwww......."


Aku langsung mencubit pinggangnya dan melotot padanya.Sungguh membuatku malu, rasanya aku ingin menghilang dari tempat itu secepatnya.


Dokter hanya tergelak sambil geleng-geleng kepala.


"Itu pengaruh hormon, Pak, seperti yang saya bilang tadi, bisa di lakukan, tapi ingat! Lakukan dengan lembut dan secara pelan ya, Pak ... Bu?"


Dokter menyarankan kami konsultasi setiap bulannya untuk mengetahui perkembangan janin kami.


Setelah meresepkan vitamin untukku dan obat untuk Rayhan kami--pun bergegas pulang.


Tak henti - hentinya Rayhan menggenggam tanganku dan sesekali menciumnya.

__ADS_1


Mobil berjalan dengan lambat padahal situasi jalanan sangat lengang.


"Alhamdulillah, akhirnya ... jadi juga," ucapnya sambil meraba perutku yang masih rata.


"Gimana nggak jadi, siang malam digempur terus." Ucapku tertawa.


"Emang bibit aku itu unggul, Sayang!"


Kami bercanda dan tertawa selama dalam perjalanan kami. Meskipun wajahnya masih terlihat pucat tapi rasa gembiranya mengalahkan rasa sakit yang dia alami.


Sesampainya di rumah Rayhan segera menelpon orang tuanya dan kemudian orang tuaku.Mertuaku tak kalah hebohnya mendengar berita kehamilanku.


Rafa pun tak kalah senangnya mendengar kalau dia akan menjadi seorang kakak.


Hari - hari kami lalui dengan rasa bahagia, walaupun Rayhan tiap bangun pagi harus mual dan muntah dan ***** makannya juga menurun sehingga tubuhnya sedikit kurus. Berbanding terbalik denganku tidak ada keluhan apapun, pinginnya makan terus sehingga badanku gendut.


Aku juga memutuskan untuk resign dari pekerjaanku.


Aku bersandar di tempat tidur sambil berselancar di akun sosial mediaku. Banyak gambar makanan enak yang di posting di berandaku. Entah mengapa ketika melihat gambar sate aku langsung menelan salivaku. Ingin rasanya langsung mencicipi sate tersebut.


Rayhan langsung menebak apa yang kupikirkan, mungkin karena aku doyan makan hingga tebakannya tepat.


"Kamu lapar, Sayang?"


Aku hanya mengangguk sambil memperlihatkan gambar yang ada di ponselku.


Aku biasanya makan apa aja yang ada, tapi sekarang aku maunya makan sate.


Dia langsung terperangah ketika melihat gambar di ponselku. Matanya langsung beralih ke jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Sekarang?" Tanyanya meyakinkanku.


Dia langsung mengambil jaket dan kunci mobil yang ada di atas meja.


"Aku ikut," ucapku segera turun dari tempat tidur.


"Biar aku yang beli." ucapnya sambil memakai jaketnya.


"Aku mau ikut," rengekku seperti anak kecil.


"Bumilku sayang ... cintaku... di luar dingin, kamu tunggu di sini, ya??"


Aku langsung mengambil kunci mobil ditangannya dan dan berjalan mendahuluinya.


"Ngeyel banget sih, " samar kudengar dia menggerutu.


Aku menunggunya di ruang tamu, ketika dia datang dia memberiku jaket hoodie.


"Nih... pake."


"Makasih, Sayang ...'


Muachhh.... satu kecupan mendarat di pipi kanannya.


""Sekali lagi, Sayang," ucapnya sambil menunjuk pipi kirinya.


"Muachhh...."


"Disini lagi," dia kembali menunjuk bibirnya.

__ADS_1


"Nggak ah ....bisa-bisa beli satenya batal." Ucapku terkekeh.


Rayhan melajukan mobil dengan kecepatan sedang sambil mencari penjual sate yang masih terbuka. Tapi sudah setengah jam kami keliling kami tak menemukan apa yang kami cari. Dia terus menyusuri jalanan yang sudah terlihat sepi hingga kami menemukan penjual sate keliling yang sudah kelelahan mendorong gerobaknya.


Rayhan segera memelankan mobil dan membunyikan klaksonnya, aku membuka jendela mobil dan dengan semangatnya berteriak memanggil tukang sate tersebut.


Mobil berhenti tepat di penjual sate.


Kamipun turun menghampiri penjualnya.


"Mau sate, Pak?" tanya penjual sate tersebut.


"Iya, Pak," jawab kami bersamaan.


"Berapa porsi, Bu?" tanyanya lagi.


"Bungkus semua, Pak." ucap Rayhan.


Setelah membungkus dan meyerahkannya padaku.


"Berapa semuanya, Pak? " Tanyaku.


"Seratus Ribu, Bu."


Rayhan mengeluarkan uang dua lembar uang merah dan memberikannya kepada bapak itu.


"Uangnya lebih, Pak." Sambil menyodorkan kembali uang seratus ribu kepada Rayhan.


"Buat bapak saja."


"Terima kasih banyak, Pak, Bu"." ucap bapak itu sambil membungkukkan badannya.


"Sama - sama, Pak," kami bersamaan membalasnya.


Kamipun bergegas pulang dan di dalam perjalanan aku sudah memakan satu persatu sate tersebut.


"Mau?" ucapku menyodorkan ke arahnya.


Dia hanya menggeleng tanda tak mau. Mulutku terus mengunyah tanpa henti.


Setelah puas makan sate akupun bersendawa saking kenyangnya.


"Upsss ... sorry ... hehehe."


Dia menyodorkan air mineral yang memang selalu tersedia di mobil.


"Kalau ngantuk kamu tidur aja." Ucapnya lagi.


"Aku nggak ngantuk,"


"Kira - kira anak kita cowok atau cewek ... ya? Maunya kamu apa, Sayang ?" ucapku sambil mengelus perutku.


"Aku sih mau cowok atau cewek nggak masalah, yang penting kamu dan anak kita sehat walafiat.Besok jadwal kontrolnya, kan?" ucapnya mengingatkan.


"Iya, jawabku.


"Habis periksa besok,kita jalan - jalan ya?"


"Ibu hamil itu nggak boleh capek, Sayang."

__ADS_1


Memang setelah mengetahui kehamilanku dia lebih posesif, dari segi makanan hingga jalan-jalan ke luar harus atas pengawasannya. Tapi itu tidak membuatku tertekan. Justru aku merasa bahagia karena perhatiannya itu.


__ADS_2