
Standar dan ukuran kebahagiaan satu orang dengan lainnya itu berbeda, begitu pula denganku, dengan memiliki orang-orang yang selalu membuatku tersenyum dan mendampingiku di saat susah senang serta melimpahkan cinta dan kasihnya itu sudah membuatku bahagia dan bersyukur.
Hari terus berganti, aku sudah kembali dengan aktivitasku seperti biasa, sebagai ibu dari seorang putra dan di tambah sebagai seorang istri. Hari ini hari pertamaku masuk kerja setelah cuti selama dua minggu. Rayhan mengantar ke kantor kemudian dia akan meninjau hotel R&R yang ada di kotaku. Sebelum kami menikah terkadang dia datang meninjau satu bulan sekali. Sungguh aku tak menyangka kalau suamiku ternyata orang yang sangat mapan. Karena sebelum kami menikah aku memang tak pernah mencari tahu tentang apa pekerjaannya atau sebanyak apa hartanya.
Karena itu tidak terlalu penting bagiku. Justru orang tuaku yang duluan tahu tentang kehidupan Rayhan dan keluarganya.
Mobil yang kami kendarai sudah sampai di parkiran tempat kerjaku. Aku segera membuka pintu dan bergegas turun. Rayhan pun turun mengikuti dan menghampiriku.
" Katanya mau langsung ke hotel?" Ucapku keheranan.
"Aku akan memastikan istriku sampai di ruang kerjanya."
Aku langsung berjalan masuk kantor karena meskipun aku melarangnya dia akan tetap ngotot mengantar.
Kami melangkah beriringan masuk ke kantor. Hingga ketika di depan pintu ruang kerjaku kami bertemu dengan atasanku yang baru saja datang.
"Hai, bro!" ucap pak Romi, atasanku menyapa duluan.
"Ngapain pagi - pagi ke kantorku?" Tambahnya lagi.
"Antar istriku---lah." ucap Rayhan.
"Gimana rasanya punya bini?" kata pak Romi lagi sambil tersenyum.
"Muantaaaaap," Rayhan menaikkan dua jempolnya ke arah Romi.
"Astaga ini orang kenapa bahas ini sih, padahal ini kan kantor, tidak tau sikon banget,' umpatku dalam hati.
"Aku masuk dulu, Pak?" ucapku pada pak Romi.
Pak Romi hanya mengangguk pelan dan tersenyum ke arahku.
Rayhan yang melihatku membalas senyum pak Romi langsung memeluk pinggangku.
"Jangan senyum sama dia,Sayang! Dia itu playboy kelas kakap." ucap Rayhan memperingatkan.
"Sorry ya! Itu dulu, sekarang gue udah tobat." Timpal pak Romi.
Aku melotot pada Rayhan karena banyak karyawan yang memperhatikan kami.
Sungguh dia membuatku malu hingga aku melepaskan diri dan masuk di ruang kerjaku.
__ADS_1
Aku mendengar pak Romi tertawa melihat tingkah Rayhan.
Berbanding terbalik tentang anggapanku selama ini terhadap pak Romi, atasanku itu jarang sekali bercanda atau berbicara yang tidak berfaedah kepada orang lain. Dia itu disiplin terhadap karyawannya. Berbeda kalau bersama Rayhan, sungguh bukan pak Romi yang kukenal selama ini. "Sedekat apakah persahabatan mereka dulu?"
Baru saja menjatuhkan bobot di kursi, Rayhan masuk dalam ruang kerjaku.
"Ada apa lagi?" ucapku sedikit jengkel.
Tanpa menjawab dia langsung mencium pipiku dan berlalu pergi.
Untung hanya Dewi yang ada di ruangan itu.
"Dasar bucin," ucap Dewi terkekeh.
Setelah kepergian Rayhan, Dewi memberondongku dengan banyak pertanyaan.
Aku menceritakan semua mulai dari awal perkenalan kami sampai akhirnya kami bisa menikah.Bahkan aku menceritakan kalau Mas Rasya sempat datang ke pernikahan kami.
"Kamu beruntung, Fan, dapat suami seperti Pak Rayhan, udah tampan, baik, setia, ka ... ya lagi."
"Mudah-mudahan dia tidak mengecewakan aku, Wi," ucapku penuh harap.
Pada saat jam kerja, aku sibuk dengan laptop yang ada di depanku. Cuti selama dua Minggu membuat pekerjaanku menumpuk. Untung Dewi dan rekanku yang lain bersedia membantuku. Entah berapa kali Rayhan mengirimkan pesan tapi hanya membalasnya singkat saja. Hingga jam makan siang dia datang membawa nasi kotak . Bukan hanya aku tapi rekan kerja yang lain dia bawakan juga. Setelah makan siang aku melanjutkan kembali pekerjaanku.
Baru saja akan membuka pintu. Suami tampanku sudah membuka pintu lebih dahulu.
Kadang merasa risih dengan teman yang lain karena hanya suamiku yang bebas keluar masuk ke kantor tanpa teguran dari pak Bos.
Rayhan melajukan mobil dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan kota yang lumayan macet. Dia terus bercerita tawaran salah seorang temannya yang akan menjual kafenya. Karena lokasi kafe tersebut strategis tidak ada salahnya kalau dia mencoba bisnis tersebut. Rayhan berniat untuk membeli kafe itu dan dia meminta persetujuanku. Aku hanya menjawab seperlunya saja.
Pas kendaraan berhenti karena lampu merah dia menoleh ke arahku.
"Kamu kenapa, Sayang? Capek?" ucapnya sambil menoleh ke arahku.
'Sebaiknya jangan sering-sering datang ke kantor?"
"Kenapa?"tanyanya.
'Nggak enak aja sama teman yang lain."
"Ngapain juga pikirin kata orang, Romi saja tidak keberatan." ucapnya santai.
__ADS_1
"Pokoknya besok-besok, tunggu di parkiran saja." ucapku agak ketus.
"Aneh..... justru kamu harusnya senang kalau suami selalu nyamperin kamu, itu tandanya suami kamu yang tampan ini cinta banget sama kamu."
"Masalahnya aturan kantor itu, nggak boleh ada orang luar yang boleh keluar masuk di kantor. Walaupun pak Romi nggak negur tapi kita harus tau diri juga." ucapku menjelaskan.
Dia hanya terdiam sambil melajukan mobil. Entah dia paham atau tidak apa yang aku katakan.
Hingga beberapa menit kemudian kami sampai di rumah. Rafa sedang asyik bermain. Ketika kami masuk Rafa langsung minta di gendong Rayhan. Bahkan sekarang dia memanggil Rayhan dengan sebutan ayah. Perasaan lelah dan kesal seketika hilang dan berganti dengan senyum kebahagiaan melihat kedua pria berbeda generasi tersebut begitu akrab layaknya ayah dan anak kandung.
Aku meninggalkan mereka yang masih asyik bercanda, menuju kamar untuk beristirahat sejenak. Walaupun hanya berbaring sebentar itu sudah lebih dari cukup.
Pintu kamar di buka perlahan oleh Rayhan dan melangkah mendekat ke arah tempat tidur. Aku kaget ketika dia memijit kakiku. Perlahan aku bangun dari tempat tidur.
"Kamu pasti capek, istirahat saja."titahnya.
Aku berbaring kembali dan dia melanjutkan kembali memijit kakiku.
"Inilah alasanku kenapa melarangmu untuk bekerja, aku tak tega melihatmu kelelahan seperti ini." Ucapnya seakan protes karena aku kekeuh untuk tetap bekerja.
Aku perlahan bangun dari tempat tidur.
"Aku nggak capek kok, Sayang,"elakku.
"Jelas terlihat di wajah kamu, Sayang, " katanya sambil mengelus pipiku.
"I---ini cuma aku kurang tidur." ucapku beralasan.
"Maaf, gara-gara aku kamu kurang tidur," ucapnya sendu.
Astaga kenapa sih aku bilang kurang tidur segala. Buntut-buntutnya dia merasa bersalah.
"Kenapa harus minta maaf, itu sudah kewajiban aku sebagai istri kamu." Ucapku menatapnya.
"Kamu resign aja ya, Sayang? Nanti aku yang ngomong sama Romi." Ucapnya sedikit memohon.
"Tapi aku happy dengan kerjaan aku, Sayang. Aku janji kalau disini udah ada calon buah cinta kita, aku pasti resign tanpa kamu minta." Ucapku sambil memegang perutku yang masih rata.
"Aamiin."
Dia meraba perutku dan kemudian menciumnya berkali-kali.
__ADS_1
"Semoga hasil begadang kita cepat berkembang disini." ucapnya sambil terkekeh.
Sungguh semakin hari semakin tumbuh rasa cinta ini terhadapnya. Dari cara dia memperlakukan dan mencintaiku sepertinya aku wanita yang sangat beruntung memilikinya.