SESAL

SESAL
Tidak Bisa Move On


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah shalat subuh kami melanjutkan tidur kembali karena semalam tidurnya sangat larut. Tapi kami tidak bisa tidur semau yang kami inginkan karena ada si Kembar membuat kami mau tak mau harus bangun. Sungguh dengan kejadian semalam membuatku senyum-senyum sendiri. Bisa-bisanya pengaman itu bisa lepas.


Karena weekend kami berniat membawa si Kembar untuk jalan-jalan ke tempat permainan .Kami sampai ke tempat permainan tersebut. Pengunjung sangat ramai. Sebenarnya lokasi tempat permainan tersebut di salah satu Mall.Jadi aku berniat untuk shopping juga.


Saat sampai ke tempat permainan Farha dan Farhan dengan riangnya bermain. Mereka bermain di tempat khusus untuk anak- anak seusianya. Merasa ingin buang air kecil akupun bergegas ke kamar mandi.


" Lebih baik aku belanja pakaian atau tas mumpun si Kembar lagi asyik bermain," pikirku.


Terlebih dahulu aku kirim pesan ke suamiku kalau aku mau lihat baju dulu, dan dia pun meng-iya-kan.


Aku mengambil beberapa potong pakaian yang lagi diskon. Lumayan ada yang sampai 50% diskonnya. Saat aku memegang sebuah baju terusan berwarna krem sebuah suara membuatku seketika menoleh.


"Warnanya cocok buat kamu, sama-sama kalem."


Mataku membulat sempurna ketika melihat orang tersebut adalah Mas Rasya.


"Eh...ka---kamu Mas!, Rafa mana?" Tanyaku sambil terus memperhatikan baju yang lain untuk menyembunyikan rasa gugup ku.


"Lagi main, ternyata kita ketemu lagi, Fan, mungkin jodoh kali yah?" Ucapnya tersenyum.


"Jangan asal bicara,Mas." Ucapku ketus.


"Sama siapa kesini?" Tanyanya.


"Sama suamiku dan anak-anakku." Ucapku tanpa menoleh ke arahnya.


Karena merasa tak nyaman dengannya akhirnya aku memutuskan untuk tak belanja.


"Maaf..aku duluan" Ucapku bergegas meninggalkannya bahkan baju yang sudah ku pilih aku simpan kembali. Tidak mau tinggal berlama-lama dengannya.


"Tunggu dulu, Fan!!" Teriaknya sambil mencoba berjalan sejajar denganku.


"Apa lagi sih, Mas?" Ucapku mulai emosi.


"Kamu kok gitu sih, Fan? Judes banget." Ucapnya lagi.


"Maaf ya Mas, aku nggak mau suamiku ataupun istri kamu salah paham.' Ucapku to the point.


"Aku belum beristri." Ucapnya sendu.


Dia menghela nafas lalu membuangnya kasar.


"Aku belum bisa move on dari kamu, Fan." lirihnya.


"Itu bukan urusan aku lagi, Mas! Maaf aku pergi dulu." Ucapku sambil berlari kecil menuju tempat permainan dimana suamiku dan Anak-anakku berada.


"Apa tujuannya ngomong itu sama aku, apa dia pikir aku akan terharu dan iba padanya." ucapku dalam hati.


Sungguh pria yang sangat munafik , tidak bisa move on dari mantan yang sudah jadi milik orang lain.Padahal dia sendiri yang buat semuanya terjadi dengan perselingkuhannya.


Aku berjalan menghampiri Rayhan dengan muka cemberut.


"Mana belanjaannya?"


"Nggak jadi belanja, malas." Ucapku sambil duduk di sampingnya.

__ADS_1


'Nanti aku temani belanja."


Setelah dua jam menemani si Kembar bermain. aku mengajaknya keluar dari tempat itu.


"Mama...Papa Ray!!teriak Rafa berlari ke arah kami.


"Hai...Sayang kamu disini juga? Ucap Rayhan.


Aku mencium pipi Rafa. Jangan tanya Farha dan Farhan lompat -lompat kegirangan melihat kakaknya.


Mas Rasya dan adiknya juga mendekat ke arah kami.


"Apa kabar, Kak?" Tanya Risma padaku.


Aku tersenyum ramah padanya dan memeluknya.


"Kakak baik Ris,"


"Sudah mau pulang, Pak Rayhan?" Tanya Mas Rasya.


"Mau makan dulu," jawab Rayhan.


"Kebetulan kalau begitu, bagaimana kalau kita makan sama-sama." Tawar Mas Rasya.


"Katanya mau temenin aku belanja, Sayang?"Ucapku bergelayut manja ke suamiku.


Mungkin Rayhan mengerti yang ada di pikiranku kalau aku menolak ajakan Mas Rasya.


"Oh iya, aku lupa, Sayang. Maaf Pak Rasya lain kali aja ya Pak?"


"Pasti mama cantik." jawab Rafa.


Kami meninggalkan mereka dan akupun mengajak suamiku ketempat ku yang tadi bertemu Mas Rasya. Berniat mengambil pakaian yang aku simpan tadi.


Rayhan melihat harga baju yang ada disitu.Mungkin karena sangat murah apalagi diskon dia mengajakku cari di tempat lain.


"Nggak usah belanja di sini, kita cari yang lain aja." Ucapnya.


"Kenapa?" Tanyaku.


"Masa istri pemilik hotel beli baju obral."


Ucapnya terkekeh.


Aku memang sudah terbiasa memakai pakaian sederhana. Biarpun murah yang penting aku nyaman memakainya.


Rayhan membawaku ke sebuah toko pakaian merk terkenal.


Setelah masuk dan melihat-lihat, memang cantik sih tapi harganya juga cantik.


"Kamu cocoknya pakai baju yang begini." Bisiknya.


Rayhan mengambil baju gamis warna peach lengkap dengan kerudungnya dan menyerahkannya padaku agar aku mencobanya. Aku masuk ruang ganti dan memakainya ternyata pas, Tapi harganya sama dengan harga emas lima gram.


"Bagaimana...pas? Tanyanya.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk.


Kemudian dia mengambil tiga pasang baju lagi dan menyuruhku mencobanya.


Ternyata semua pas seakan baju-baju itu ukuran ku semua.


"Tolong bungkus semuanya, Mba." Ucapnya memberikan baju tersebut kepada pelayan toko.


"Jangan semuanya, satu aja, Mba." Ucapku pada pelayan toko.


Pelayan toko bingung harus mendengarkan aku atau Rayhan.


"Bungkus semua, Mba." ulang Rayhan


Dari pada berdebat ya aku mengalah saja. Rayhan memberikan Kartu kreditnya kepada pelayan toko.


Kami keluar dari toko pakaian dan Rayhan mengajakku ke toko tas bermerk lagi. Diapun mengambil empat tas senada dengan baju yang dipilihnya tadi. Lagi dan lagi memakai kartu kreditnya. Padahal aku juga punya kartu kredit dan ATM.


Kini kami beralih ke toko pakaian anak-anak. Aku mengambil lumayan banyak baju couple untuk si Kembar. Modelnya semua lucu-lucu menurutku.


Dengan inisiatifku sendiri kami ke toko pakaian khusus untuk pria. Aku mengambil beberapa kemeja dan celana jeans buat suamiku. Rayhan dan si Kembar menunggu di luar karena mereka sudah mulai rewel.


Setelah puas berbelanja kamipun ke restoran yang ada di Mall tersebut. Setelah itu kami bergegas pulang. Di dalam mobil si Kembar sudah terlelap karena kelelahan.


Jam sudah menunjukkan pukul dua siang setelah kami sampai di rumah. Farha dan Farhan masih tertidur ketika kami sampai di rumah.


Barang belanjaan sudah ada di kamar, lumayan hari ini belanjaan sangat banyak.


Aku membuka satu persatu belanjaan dari tempatnya.


"Cobain bajunya." Ucapku pada Rayhan sambil menyerahkan kemeja warna biru.


"Kali kamu yang pilih pasti cocok, Sayang." Ucapnya.


Aku tetap menyuruhnya untuk mencoba baju tersebut dan ternyata memang pas.


Aku kemudian mengambil bajuku yang baru di beli ternyata setelah aku hitung-hitung baju saja hampir dua puluh juta sedangkan tas menghampiri tiga puluh juta.


"Astaga....Empat puluh delapan juta cuma untukku saja?" Ucapku tak percaya.


"Itu mah sedikit, Sayang?? Mama aja harga satu tasnya itu ada yang hampir setengah milyar.


"Kamu jangan perhitungan dengan diri kamu sendiri, Sayang? Buat apa punya uang kalau nggak dipakai belanja." Ucapnya.


"Bukannya perhitungan, cuma aku sukanya memang pakaian sederhana." ucapku membela diri.


"Ya biasakan dong pakai yang limited edition."


"Aku cantik nggak pakai baju ini." Ucapku memperlihatkan bajuku yang kupakai ke Mall tadi.


"Apapun yang kamu pakai akan terlihat cantik, Sayang."


"Tau nggak ini harganya cuma lima ratus ribu diskon lima puluh persen." ucapku.


Mungkin karena dari kecil aku di didik dengan kesederhanaan jadinya aku sudah terbiasa dengan kehidupanku. Padahal sekarang aku bisa membeli apapun yang aku mau tapi bagiku kalau merasa nyaman dengan barang murah kenapa harus beli barang mahal.

__ADS_1


"


__ADS_2