
Siapapun tentunya pernah merasa disakiti orang lain, rasa sakit hati terkadang sangat sulit disembuhkan. Namun hal ini tidaklah baik, pasalnya sakit hati yang tak kunjung sembuh bisa berujung dendam.
Jika kejahatan dibalas kejahatan, itu dendam. Jika kebaikan dibalas kebaikan, itu biasa. Jika kebaikan dibalas kejahatan, itu zalim. Tetapi jika kejahatan dibalas dengan kebaikan. Itu adalah mulia dan terpuji.
Dulu, aku sengaja menghindar agar tidak bertemu dengan Mas Rasya. Tapi seiring berjalannya waktu kami layaknya seperti teman.
Bulan berganti bulan dan tak terasa usia kehamilanku tujuh bulan.
Sore itu Mas Rasya dan ibunya datang ke rumah mengantarkan undangan pernikahan Mas Rasya dan Hana.
Aku tak tau bagaimana mereka sampai siap menikah. Sejak pertemuan di acara peresmian Toserba Pak Erwin dulu aku tak pernah tau lagi hubungan mereka.
Terlihat wajah ibu mertua bahagia karena akhirnya Mas Rasya akan melepas masa dudanya.
Sebelum Mas Rasya memutuskan menikah dia terlebih dahulu meminta persetujuan dari putranya yaitu Rafa. Dan dengan senang hati Rafa menyetujui kalau Hana menjadi mama tirinya.
Hari pernikahan Mas Rasya dan Hana berlangsung sederhana. Itu sesuai permintaan Hana. Hana begitu cantik dengan balutan baju pengantin model gamis yang berwarna putih sedangkan Mas Rasya menggunakan jas berwarna hitam. Acara akad nikah berlangsung di tempat kediaman Hana yang berjarak sekitar seratus kilometer dari kotaku. Aku sempatkan datang sebagai rombongan mempelai pria.
Aku tertawa dalam hati karena aku datang di acara pernikahan mantan suamiku. Jarang lho seperti aku, mungkin satu diantara sepuluh yang melakukannya. Tapi ini murni sebagai teman dan aku menganggap dia sebagai ayah dari putraku Rafa. Apalagi Rafa sangat mengharapkan aku datang di acara akad nikahnya papanya.
"Sah...."
Akad nikah diucapkan dengan lantang dengan satu tarikan nafas dari Mas Rasya.
Setelah akad nikah mempelai wanita mencium tangan suaminya dengan takzim dan mempelai pria mencium kening istrinya. Kemudian saling memasangkan cincin pernikahan.
"Selamat ya Mas. Semoga menjadi keluarga sakinah, Mawaddah Warahmah."Ucapku tulus ketika kami naik memberikan ucapan pada mereka.
"Makasih ya Fan?" Balasnya.
Aku juga mengatakan hal yang sama pada Hana.
"Selamat ya Bro, semoga pernikahannya langgeng sampai kakek nenek.'Ujar Rayhan.
"Aamiin." jawab Mas Rasya.
Setelah bersalaman dengan pasangan pengantin aku beralih ke mantan ibu mertua. Kami saling berpelukan.
"Terimah kasih ya Nak karena sudah datang. Sehat-sehat ya bersama calon bayimu." Ujarnya padaku sambil mengelus perut buncitku.
"Makasih Bu." Ucapku.
Walaupun aku bukan menantunya lagi tapi kami tetap seperti dulu.
Setelah memberikan ucapan selamat pada ke dua mempelai aku beranjak duduk di samping dokter Tiara.
"Nggak nyangka ya ternyata mereka jodoh." Ucapku pada dokter Tiara.
Dokter Tiara hanya tersenyum sambil mengangguk.
Tak lama kemudian akhirnya kami pun pamit pulang.
Karena keadaanku yang hamil sehingga Rayhan melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Melihatku yang sudah kelelahan akhirnya Rayhan mengajakku singgah istirahat.
"Kamu capek?" Tanyanya.
"Lumayan." Ucapku sambil memijat kakiku yang sudah pegal karena kelamaan duduk.
"Kita singgah dulu ya, Sayang?" Ucap Rayhan padaku
Aku hanya bisa mengiyakan karena aku memang merasa sangat lelah. Aku juga tak bisa tidur kalau di dalam mobil.
Ternyata Rayhan singgah di sebuah hotel yang tak terlalu besar. Dan kamipun memesan satu buah kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
Karena merasa kelelahan aku langsung terbaring dan terlelap. Sedangkan Rayhan aku tak tau entah apa yang dia lakukan.
Setelah aku terjaga aku melirik jam tangan yang melingkar di tangan ternyata sudah menunjukkan jam lima sore. Rupanya aku tertidur dua jam lamanya.
Aku mengerjapkan mata dan aku tidak melihat suamiku di kamar .Aku segera ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan shalat ashar.
Setelah melaksanakan shalat Ashar aku segera keluar dari ruang istirahat berniat mencari suamiku, tapi aku urungkan akhirnya kembali ke tempat tidur sambil menonton TV untuk menunggunya.
Selang tak berapa lama suamiku datang dengan membawa paperbag di tangannya.
"Sudah bangun, Sayang?" Ucapnya sambil mengecup keningku. Aku seperti anak kecil yang ditanya sudah bangun atau belum padahal nyata-nyatanya akun sudah duduk cantik di ranjang.
"Kenapa nggak bangunin aku?" Tanyaku.
"Habisnya tidur kamu nyenyak banget, aku nggak tega." Ucapnya lagi.
"Tapi dari tadi pagi kita tinggalkan anak-anak." Ujarku lagi karena khawatir dengan anak-anak.
"Jangan kuatir, Mama dan Papa tadi telepon katanya mereka ada di rumah sekarang." Ucap suamiku.
"Astaga...yuk kita pulang!" Ucapku sambil mengambil dompet pesta yang terletak di pinggir tempat tidur.
"Besok aja, Sayang!" Ucapnya santai.
"Nggak ah, yuk kita pulang, kasihan anak-anak." Ucapku lagi.
"Aku capek nggak kuat bawa mobil." Ucapnya beralasan.
"Jadi....." Tanyaku bingung.
"Bermalam di sini." Ujarnya santai.
"Yaelah ...palingan kita di jalan cuma satu jam." Kataku lagi.
"Aku udah tidur tadi." Ucapku lagi.
"Aku yang capek, ngantuk."Tangkasnya.
Aku tau ini akal-akalan dia saja, mau nginap di hotel. Biasanya juga pulang larut malam, ini masih sore alasan capek.
"Tapi masa aku pakai baju pesta terus." Kilahku.
"Tuh... aku sudah belikan kamu pakaian ganti," Ucapnya lagi mengarahkan pandangannya di paperbag tadi.
Dia langsung ke tempat tidur pura-pura memejamkan mata seolah dia sudah terlelap padahal aku tau dia hanya bersandiwara.
Aku hanya bisa mengalah karena apapun alasan yang aku berikan kalau dia maunya bermalam ya mau apa lagi.
Akhirnya aku menghubungi mama mertua dan diapun heboh menyuruh kami bermalam saja. Masalah anak-anak dia yang akan menghandle semua.
Saat makan malam kami keluar, kami tak memakan yang di siapkan dari pihak hotel tapi kami jalan-jalan terlebih dahulu menikmati indahnya kota tersebut. Hingga kami makan malam di sebuah warung pinggir jalan. Menurut orang-orang warung tersebut yang paling terkenal di kota ini.
Saat kami masuk dan kami duduk tempat duduk yang kosong. Seseorang memukul pundak--ku. Ternyata dokter Tiara bersama pak Erwin.
"Ngapain di sini?" Tanyanya.
"Makan... lah." Ucap Rayhan.
"Maksudnya kenapa masih di kota ini?" Tanya dokter Tiara lagi.
"Tuh....katanya capek, nggak kuat mengemudi. Kami nginap di hotel." Ujarku sambil melirik Rayhan.
"Alasan," Ucap pak Erwin terkekeh.
__ADS_1
"Aku memang capek, Win!" bantah Rayhan.
"Yaelah masa mengemudi dua jam saja capek, biasanya enam jam nggak ngeluh." Ejek pak Erwin.
Rayhan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dokter Tiara singgah makan, Ya? Tanyaku.
"Bukan singgah tapi sengaja kesini memang buat makan." Jawabnya.
Aku merasa kebingungan melihat dokter Tiara yang juga merasa kesal pada pak Erwin.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Kami juga nginap di hotel, maunya dia tuh." Ucapnya menunjuk suaminya.
"Kalian janjian nginap di hotel?" Ucapku pada mereka berdua pak Erwin dan Rayhan.
"Nggak." Ucap mereka bersamaan.
"Kok bisa kebetulan?" Tanyaku pada mereka berdua.
Mereka hanya mengedikkan bahunya bersamaan.
Akhirnya kami makan bersama dalam satu meja.
Ternyata kami menginap di hotel yang sama. Sungguh kebetulan yang luar biasa. Apasih yang ada di pikiran kedua pria tersebut
"Ngapain sih kita nginap di hotel segala Win? Tanya dokter Tiara ketika kami sampai di hotel.
"Mau bulan madu." Ucapnya simple.
Aku tak bisa menahan tawaku melihat dokter Tiara begitu kesal pada suaminya.
"Yang kawin siapa yang mau bulan madu siapa?" Ujar dokter Tiara masih kesal.
Rayhan juga tak bisa menahan tawanya
"Lihat saja sayang ...Mereka aja yang tua mau bulan madu apalagi kita yang masih muda." Ujar suamiku.
"Muda apanya?" Ujarku mengejek.
"Kita curi star duluan dari pengantin baru, Sayang." Bisiknya padaku.
"Dasar suami mesum," Ucapku padanya.
Setelah kami sampai di kamar jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam aku langsung berbaring di tempat tidur dan menutup tubuh dengan selimut. Sedangkan Rayhan sedang asyik dengan ponselnya kadang dia tertawa terbahak-bahak. Tak lama kemudian dia datang dan terbaring di sampingku sambil mengelus lembut perut buncitku.
"Jangan ngambek dong, Sayang. Aku nggak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa." Ucapnya pelan.
"Ayo tidur,...habis shalat subuh kita pulang, takutnya mama dan papa kerepotan ngurus anak-anak." Ujarku.
"Mereka sudah besar nggak akan bikin ulah.' Ujarnya lagi.
"Sayang?" panggilnya.
Hmmm
"Kira-kira si Rese dan Hana lagi ngapain, ya?" Ujar suamiku.
"Nggak usah ngurusin orang, mending kita tidur." Ucapku lagi.
Awalnya hanya mengelus perut tapi akhirnya pindah mengelus yang lainnya. Aduh buat aku nggak sanggup menolaknya. Akhirnya terjadilah pergumulan indah dengan penuh kenikmatan yang tiada tara.
__ADS_1