SESAL

SESAL
Sial


__ADS_3

Sinta"s POV


Saat mencintai seseorang begitu dalam , kita cenderung menutup mata terhadap saran dari orang lain, karena di saat itu kita sedang sangat memercayai orang tersebut, bahkan sulit untuk melihat sisi negatif yang dimiliki oleh orang yang kita cintai.


Tapi hidup bersama dengan orang yang tidak kita cintai itu lebih menyesakkan. Meskipun jiwa dan raga sudah di miliki olehnya tapi hati tak bisa menerimanya.


Aku dan Erwin menikah karena perjodohan. Awalnya aku menolak karena aku mempunyai pilihan sendiri tapi orang tuaku terus memaksaku hingga akhirnya aku menerima perjodohan itu. Sebenarnya kala itu aku akan kabur dengan pacarku tapi aku juga tak bisa melakukannya karena pacarku hanyalah seorang pengangguran. Apalagi pacarku kala itu tak terlalu merespon ajakanku untuk kawin lari.


Akhirnya hari pernikahan kami tiba, Erwin lumayan tampan, berkharisma, dewasa. Karena usia kami memang terpaut lumayan jauh yakni sepuluh tahun. Berasa aku seperti kemenakannya saja. Biasanya pengantin baru akan melalui hari-harinya dengan kebahagiaan tapi bagiku tidak, Erwin yang cuek, dingin, kaku, sungguh membuatku muak bersama dengannya. Tidak ada romantis-romantisnya. Walaupun kewajibanku sebagai istri aku lakukan tapi ada perasaan kosong dalam hatiku. Wajah pacarku masih terbayang bahkan tak jarang saat aku melakukan hubungan suami istri dengan Erwin wajah pacarku lah yang aku bayangkan.


Hingga ketika aku dinyatakan positif hamil, Erwin mulai berubah, dia makin perhatian, menjadi suami yang siaga. Apapun yang aku inginkan dia turuti. Walaupun kata cinta belum pernah keluar dari bibirnya. Aku juga berusaha menerimanya tapi tak kupungkiri itu sangat sulit bagiku menghapus nama pacarku di hati ini.


Erwin selalu mengantarkanku tiap bulannya ke dokter untuk periksa kandungan. Apapun permintaanku dia kabulkan. Soal materi aku tak kekurangan bahkan aku bergaya bak sosialita yang mengenakan tas dan pakaian branded. Maklum Erwin mempunyai penghasilan yang lumayan banyak. Karena dia bekerja di perusahaan batu bara yang cukup besar.


Hingga aku melahirkan anak laki-laki mungil yang sangat lucu. Itu menambah kebahagiaan kami. Kebetulan aku tinggal bersama ibu mertua jadi aku tak terlalu repot mengurus putraku. Apalagi ibu mertuaku juga sangat dekat dengan cucunya. Jadi aku bebas ke mana saja, shopping dan ngumpul sama teman-temanku. Yang penting malam aku bisa ada di rumah sebelum suamiku pulang.

__ADS_1


Hingga pada suatu hari ketika aku dan geng sosialita ku lagi ngumpul aku bertemu dengan Haris, mantan pacarku di sebuah restoran. Tak kupungkiri rasa cinta itu masih bersemayam di hati. Setelah pertemuan itu kami selalu janjian dan hubungan kamipun terus berlanjut tanpa sepengetahuan suamiku. Terkadang aku pulang malam karena menghabiskan waktu bersama baik di hotel ataupun di rumah Haris. Bahkan tak segan-segan aku membelikan rumah untuk Haris.


Setelah enam bulan kami menjalin cinta terlarang, aku dan Harus memutuskan kabur dari kotaku. Aku meninggalkan suami dan anakku yang masih berumur satu tahun. Dalam hatiku buat apa aku melanjutkan pernikahanku dengan Erwin sedangkan aku tak mencintainya. Aku ingin meraih kebahagiaanku dengan menikah dengan orang yang benar-benar aku cintai, yaitu Haris.


Rencanaku sangat matang, semua isi ATM Erwin aku pindahkan ke rekening pribadiku. Bahkan semua perhiasan dan barang branded yang aku beli dari uangnya aku bawa semua. Hingga tak tanggung-tanggung aku membawa uang Erwin sebanyak setengah milyar.


Kami kabur keluar provinsi dan membeli sebuah rumah dan hidup bersama tanpa adanya ikatan pernikahan selama satu tahun.


Tahun berikutnya baru kami nikah siri.


Tahun berganti tahun. Aku yang terbiasa hidup berkecukupan merasa sangat tersiksa, penghasilan dari penjualan pulsa juga makin merosot karena banyaknya toko serupa yang menjamur. Sehingga muncul ide untuk mendapatkan uang dari Erwin kembali dengan menjadikan anakku sebagai alasan. Padahal tak ada niat untuk mengambil hak asuh anakku. Pasti Haris juga tidak setuju. Punya anak saja dariku dia belum siap. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Karena alasan cinta aku menuruti apa saja maunya.


Keberuntungan berpihak padaku, aku mencoba menghubungi Erwin lewat nomor lamanya ternyata tersambung. Pucuk dicinta ulan tiba dia setuju menemui-ku dan pasti dia setuju untuk memberiku uang agar aku tak mengambil hak asuh putra kami. "Gampang juga Erwin aku perdayai." Batinku kala itu.


Aku berdandan cantik dan memakai pakaian yang bagus supaya saat bertemu denganku Erwin beranggapan kehidupanku setelah meninggalkannya lebih baik. Tapi kenyataan tidak sesuai dengan ekspestasiku. Ternyata yang menemui-ku bukan Erwin tapi istrinya.

__ADS_1


Harapanku untuk mendapatkan keuntungan malah jadi buntung. Bahkan dia membawa dua orang temannya dan yang satunya penampakannya daja cewek sedangkan tenaganya kayak cowok. Sungguh membuat punggungku sakit ketika dia mendorongku.


Merasa tak terima di hina dan di permalukan oleh mereka akhirnya aku mengajak suami dan teman suamiku mengejarnya dan membalas perlakuannya padaku. Aku tak perduli dia istri kapolres atau istri siapapun aku akan memberinya pelajaran. Setidaknya membalas sakit hatiku setelah mempermalukan aku.


Setelah berhasil menghadang mereka aku sudah yakin bahwa kami akan membuat perhitungan dengannya . Apalagi mereka hanya perempuan pastilah mudah untuk membalas sakit hatiku padanya.


Tapi lagi - lagi nasib sial menimpaku, ternyata salah satu temannya jago bela diri. Bahkan Haris saja tak bisa berbuat apa-apa setelah pusakanya terkena tendangan.


Istri Erwin juga seperti orang kesetanan menjambak rambutku. Sungguh membuatku mengerang kesakitan. Aku berusaha melawan tapi dia memakai jilbab hanya itu yang aku bisa jangkau.


Di tambah lagi ada seorang pria yang menolongnya. Tamparan keras pun aku dapatkan dari wanita jadi-jadian itu. Sungguh pipiku terasa panas dan terbakar karena tamparannya. Percuma saja Haris dan temannya besar tapi melawan perempuan saja kalah.


Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah ibaratnya aku. Sekujur tubuhku sakit semua. Mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Malah di bawa ke kantor polisi. Sungguh benar-benar sial. Dapat hadiah tamparan lagi dari Erwin. Sungguh aku tak sanggup lagi. Wajahku terasa terbakar, rambut acak-acakan. Sedangkan Haris kepalanya benjol dan teman yang satunya giginya malah patah.


Aku kira kami akan di bebaskan tapi kenyataannya kami di masukkan ke sel walaupun sebelumnya kami di tangani oleh tenaga medis.

__ADS_1


Aku mencoba membela diri di depan polisi tapi dia tetap menahan kami. Haris juga tak henti-hentinya memarahiku karena ini memang murni ide-ku. Bahkan dengan marahnya dia mengumpatku dengan mengatakan aku bodoh.


__ADS_2