SESAL

SESAL
Vidio Call


__ADS_3

Kenangan masa lalu yang telah dikecewakan dan disakiti bukan untuk di lupakan, tapi itu akan di jadikan pelajaran dalam hidup di masa depan. Terkadang Tuhan memberikan rasa sakit itu karena Dia ingin menguji kita sejauh mana kita akan bersabar dan yakinlah Tuhan akan memberikan yang terbaik diantara yang baik untuk kita.


Sebagai wanita sepertiku kehidupan yang kujalani sekarang ini sudah sangat sempurna. Bahkan dulu kehidupan seperti ini hanya dalam khayalanku. Punya suami yang sangat mencintaiku, baik, setia, kaya-raya dan dikaruniai anak-anak yang lucu. Itu sudah seperti mimpi buatku. Begitupula denganku rasa cintaku padanya semakin hari semakin besar. Karena sejatinya sebuah keluarga yang baik itu dimulai dengan cinta, dibangun dengan kasih sayang dan dipelihara dengan kesetiaan.


Aku tersentak dari lamunanku ketika ibu mertua memanggilku untuk bergabung karena acara akikah anak kembarku segera dimulai.


Dekorasi akikahan yang sangat mewah sengaja di rancang oleh suami dan mertuaku. Bukannya untuk pamer tapi ini sebagai rasa syukurnya, karena diberikan anugrah yang terindah dengan hadirnya Si kembar dalam keluarga kami.


Keluarga, tetangga datang silih berganti, bahkan karyawan kafe juga semuanya datang karena memang sengaja di undang oleh Rayhan. Tak lupa juga mengundang anak-anak panti.


Setelah acara selesai aku dan bayi kembar ku kembali ke kamar. Sudah seminggu ini aku lebih banyak tinggal di kamar untuk mengurus ke--dua bayiku. Terkadang aku hanya keluar kamar kalau merasa lapar.. Bahkan lebih banyak makananku di antarkan ke kamar. Karena kebetulan aku dan Rayhan berasal dari suku yang sama jadi kami mempunyai tradisi yang sama pula. Seperti ibu yang baru melahirkan itu sebaiknya di batasi keluar rumah sebelum umur bayinya mencapai empat puluh hari. Sebenarnya itu aku dan Rayhan anggap itu mitos tapi tidak ada salahnya saran orang tua di dengarkan. Kita ambil positifnya saja.


Hari tak terasa terus berganti. Aku menikmati peranku sebagai istri dan ibu yang mempunyai tiga orang anak. Untung Rafa sudah mengerti kalau waktuku akan berkurang untuknya karena harus mengurus dua bayi sekaligus.Aku belum berniat menyewa pengasuh karena bayiku masih terlalu dini untuk di percayakan kepada pengasuh. Apalagi ada ibu dan mama mertua yang sering datang menemaniku.


Tengah malam disaat orang lain tertidur pulas sedangkan aku dan Rayhan harus terjaga karena Si kembar membuka lebar matanya bahkan kadang mereka tidak mau turun dari pangkuan. Itulah suka duka mempunyai bayi, malam di jadikan siang, sedangkan siang di jadikan malam.


"Kamu tidur saja, Sayang." Ucap Rayhan padaku ketika Si kembar sedang terjaga.


"Tapi kalau mereka nangis... gimana?" Tanyaku.


"Tenang aja, palingan kalau mereka lapar, baju kamu nggak usah dikancing supaya gampang bukanya." Jelasnya.


"Jangan macam-macam, belum saatnya!!"Tegasku.


"Piktor amat sih??"Maksudnya kalau Farha dan Farhan lapar langsung aku arahkan salah satunya, yang satunya aku kasi dot."


Memang aku kadang memompa ASI- ku untuk persiapan kalau mereka bersamaan ingin menyusu. Alhamdulillah ASI-ku sangat banyak, jadi aku memberikan ASI ekslusif kepada ke--dua bayiku.


Karena memang merasa sangat ngantuk, tak butuh waktu lama aku pun terlelap. Entah apa yang dilakukan oleh Rayhan bersama anak-anaknya. Hingga menjelang subuh aku terbangun. Aku mengerjapkan mata dan melihat suamiku tertidur di sampingku. Farha dan Farhan sudah tertidur nyenyak di tempatnya.Dengkuran halus suamiku menandakan dia sangat lelap tidurnya.


Gegas beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum mereka terbangun. Aku bergegas ke kamar Rafa melihatnya tapi dia masih tertidur. Aku ke dapur menyiapkan sarapan dan disana sudah ada Bi Rahmi dan Bu Ira sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi. Jadi aku hanya membuat susu coklat untuk Rafa, dan teh panas buatku dan suamiku.

__ADS_1


Setelah sarapan aku membawa Si kembar ke halaman belakang untuk berjemur.


"Hari ini aku pulangnya agak sore, kamu nggak apa-apa,'kan?' Ucap Rayhan.


Jujur aku kewalahan kalau dia tidak ada membantuku mengurus Farha dan Farhan. Mereka sangat dekat dengan Papanya, apalagi bayi perempuan kami. Seakan di gendongan papanya tempat ternyaman buatnya.


Aku hanya mengangguk. Walaupun sebenarnya tak bisa kubayangkan betapa repotnya aku nantinya kalau mereka terbangun bersamaan.


Setelah Si kembar tertidur Rayhan berangkat.


Aku mengajak Rafa juga ke kamar kami. Aku ingin menemaninya bermain karena sangat sedikit waktuku untuknya setelah aku melahirkan. Mungkin karena alasan itulah Rafa tiba-tiba menanyakan Mas Rasya. Mas Rasya juga seakan melupakan kalau dia mempunyai seorang anak. "Rafa mau telpon papa, Ma,"ucapnya semangat. Pingin menolak keinginannya tapi tidak tega juga.


Kuambil ponselku dan mencoba mencari kontak terbaru Mas Rasya di WhatsApp. Aku membuang rasa gengsi--ku untuk menghubunginya lebih dulu. Ini kulakukan semata-mata untuk Rafa.


Kucoba menghubunginya tapi tidak ada jawaban. Padahal nomornya aktif, kucoba sekali lagi tapi hasilnya sama.


Aku memutuskan untuk mengirimkan pesan lewat WhatsApp


"Assalamu Alaikum. Rafa pingin bicara sama papa kandungnya." Sengaja mengatakan itu supaya dia menyadari kalau dia selama ini seakan lupa dengan putranya. Semoga dia merasa.


Beberapa menit kemudian ponselku berdering dan di sana muncul nama Mas Rasya yang akan mengadakan Vidio Call.


Kutekan tombol jawab dan langsung memberikannya kepada Rafa.


Rafa menumpahkan keluh kesahnya kepada papanya.Mulai dari rasa rindunya sampai keinginannya untuk bermain. Rafa juga dengan riangnya mengatakan kalau dia sudah punya dua adik.


Sedangkan Mas Rasya terdengar tidak banyak bicara.


"Boleh kasih Mama ponselnya, Nak? Ucap Mas Rasa pelan.


Aku memberi Rafa isyarat kepada Rafa supaya mengatakan aku nggak ada.

__ADS_1


Tapi dasar anak-anak tidak bisa di ajak kerja sama. Dia malah mengarahkan layar hp ke arahku.


"Apa kabar, Fan?" Ucap Mas Rasya tersenyum.


"Aku baik, Mas,"


Rasa canggung diantara kami, aku tidak tau aku harus menanyakan apa. 'Oek...Oek...Oek."


"Maaf, Mas, Si kembar nangis." aku langsung berbalik untuk mengambil Farhan dari box nya dan membiarkan ayah dan anak itu melanjutkan perbincangan lewat Vidio Call.


Aku segera menggendong Farhan dan seketika dia terdiam.Dalam hatiku berterima kasih karena Farhan menangis pada waktu yang tepat. Seakan dia faham kalau ibunya tidak pantas menerima telpon dari seorang laki-laki apalagi dia itu sang mantan suami.


"Kamu seperti papa-mu, Nak," ucapku gemas.


Rafa juga sudah menutup sambungan telpon dari Mas Rasya. Dan dia mengembalikan ponselku. Terlihat raut gembira di wajahnya usai menghubungi Mas Rasya walaupun hanya lewat Vidio Call.


"Kok papa Rafa ada dua sih, Ma?" Tanyanya polos.


Aku terperangah mendengar pertanyaan Rafa, aku tak menduga dia akan menanyakan hal itu.


Aku bingung harus jawab apa yang bisa dimengerti anak-anak seusia dia.


"Rafa itu termasuk anak yang beruntung karena punya dua papa," ucapku, meskipun itu bukan jawaban dari pertanyaannya.


"Tapi kenapa cuma Papa Ray yang tinggal sama kita, Ma?" Tanyanya lagi menatapku.


Astaga...benar-benar anak ini rasa ingin taunya sangat tinggi.


"Tolong adiknya di jaga ya, Sayang? Mama mau ke kamar kecil." Ucapku mengalihkan pertanyaan Rafa


"Siap Mama cantik,' ucapnya sambil menirukan orang yang sedang hormat.

__ADS_1


Aku meletakkan kembali Farhan ditempatnya semula dan bergegas ke kamar mandi. Semoga dia akan melupakan pertanyaannya itu.


"Pada saatnya nanti kamu akan mengerti, biarlah waktu yang akan menjawab semuanya, batinku.


__ADS_2