SESAL

SESAL
Gara-Gara Pengaman


__ADS_3

Bagiku bertemu dengan seseorang yang menjadi masa lalu sangat tidak kuharapkan. Apalagi seseorang itu telah menorehkan luka yang begitu dalam. Meskipun luka itu telah disembuhkan oleh seseorang yang telah mengisi relung hati.


Seandainya aku bisa memilih, aku tak ingin bertemu lagi dengan mantan suamiku. Aku tak ingin dia kembali meskipun untuk menemui Rafa, putra kami. Aku takut Rafa akan merasa nyaman dan tinggal bersama papa kandungnya. Terbayang wajah riang Rafa saat bertemu dengannya. Ada perasaan khawatir akan kah Rafa meninggalkanku dan memilih ayah kandungnya.


"Mikirin mantan?" Suara Rayhan membuatku kaget.


"Hmmm...ya?" jawabku spontan.


Dia melotot menatapku.


"Eee...kamu tanya apa tadi?' Ucapku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Kamu mikirin Mantan?"


"Nggak," Jawabku menggeleng.


"Ngapain melamun terus? Dari tadi aku panggil-panggil di cuekin" Ucapnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Aku berdiri dan menarik tangannya dan akupun duduk dibibir ranjang dan menyuruhnya duduk di depanku,aku berniat membantu mengeringkan rambutnya. Dan dia-pun seperti anak kecil yang patuh kepada ibunya dan langsung duduk tepat di depanku.


"Aku mikirin Rafa, aku takut dia ninggalin aku dan tinggal bareng papa-nya." Ucapku jujur.


"Itu tak akan terjadi." Jawab Rayhan.


'Bisa aja 'kan?'


Rayhan berbalik dan menatapku..


"Nggak mungkin Rafa memilih papanya yang hanya bersamanya lima hari dan meninggalkan kamu yang sudah tujuh tahun bersamanya.


"Tapi aku ragu."


"InsyaAllah Rafa nggak akan bisa jauh sama kita, Sayang." Ucapnya meyakinkanku.


"Mantan kamu udah kawin lagi atau belum sih?" Tanyanya mengalihkan kekhawatiran ku.


"Mana aku tau!! Please deh .. sebut aja namanya jangan bilang mantan terus." Protesku.


"Lho .. dia kan memang mantan kamu, bahkan mungkin Mantan terindah, Ucapnya mengejekku.


"Ya elah ... kalau dia yang terindah nggak akan jadi mantan." Jawabku kesal.


" Tapi yang aku lihat dari tatapannya tadi terhadapmu dia masih cinta sama kamu." Ucap Rayhan terus menggodaku.


Akupun sebenarnya merasakan tatapannya itu tak berubah, sama seperti dulu.


"Bilang aja kalau kamu cemburu, iya 'kan?" Ucapku mencubit hidungnya.

__ADS_1


"Ya... wajarlah, istri cantik begini." Gombalnya sambil beranjak duduk di sampingku dan mencium pipiku.


Sejak pernikahanku dengan Rayhan aku tak pernah tau dan tak mau tahu urusan pribadi Mas Rasya lagi.


Malam telah tiba, kami berlima berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Farha duduk di samping Rayhan sedangkan Farhan di dekatku. Meskipun mereka makannya masih disuapi. Bi Rahmi juga memang sejak dulu selalu makan bersama kami. Dia sudah seperti keluarga bagiku. Dia juga menganggap anak-anakku seperti cucunya sendiri.


Setelah makan malam selesai, kami ke ruang keluarga menemani si Kembar bermain. Biasanya si Kembar akan bermain bersama Rafa tapi kali ini hanya aku dan Rayhan yang menemaninya.


Mungkin karena mereka tidak melihat keberadaan Rafa, sehingga mereka selalu memanggil nama kakaknya.


Ponselku di atas meja berdering. Dan terlihat nama Mas Rasya muncul di layar yang akan melakukan Vidio Call.


Aku tak mengangkatnya, hingga Rayhan menanyakannya, aku hanya langsung memberikan ponselku itu padanya. Dia pun menerima panggilan itu. Terdengar suara Rafa yang sedang berteriak memanggil papa Ray.


Rayhan beranjak ke samping Farha dan Farhan, mereka dengan senangnya berbicara lewat Vidio Call. Entah apa yang di ucapkan oleh Si Kembar. Yang jelas hanya kata "Kaka dan main" yang aku bisa tangkap.


Aku tertawa mendengarkan mereka berkomunikasi dengan bahasa-nya sendiri, Rayhan pun demikian terkekeh geli mendengar si Kembar dengan celotehannya.


Rayhan memberikan ponselnya kepadaku ternyata Rafa ingin bicara denganku.


"Rafa kangen mama,," Ucapnya sendu.


Aku merasa terharu dengan ucapan anakku hingga tak terasa mataku berkaca-kaca.


"Mama juga kangen kamu, Sayang, Rafa jangan nakal ya?"


Hingga dengan cepatnya aku mengarahkan kamera ponsel ke arah langit-langit. Masalahnya aku tidak memakai penutup kepala. Hingga Rafa memutuskan panggilannya.


Malam semakin larut dan terlihat Farha dan Farhan menguap. Kami membawanya ke kamar. Setelah membacakan dongeng mereka-pun terlelap dalam mimpi indahnya. Baru aku beranjak ke kamarku dan langsung ke kamar mandi ber wudhu dan melaksanakan kewajiban shalat Isya. Sedangkan Rayhan setelah menggendong Farhan ke kamar dia kembali menonton televisi. Karena merasa ngantuk aku tak menunggunya untuk shalat.


Baru saja akan memakai mukena untuk shalat dia datang dan menyuruhku menunggunya untuk shalat bersama.


Kami-pun shalat Isya bersama dengan khusyu.


Setelah membuka mukena dan menyimpan di tempatnya semula aku bergegas naik ke tempat tidur.


Ketika memejamkan mata Rayhan sudah memeluk dari belakang. Kalau cuma peluk sih tidak masalah, aku masih bisa tertidur. Tapi seperti biasanya tangannya tidak tinggal diam.


Ditambah lagi sesuatu di bawah sana ada yang mengeras dia gosokkan di bagian belakang tubuhku. "Sinyal begadang lagi." Batinku.


Aku hanya menggigit bibir bawahku ketika tangannya terus meremas benda kenyal yang merupakan tempat paforitnya. Tak puas di bagian depan dia juga mencium tengkuk.


Tubuhku sebenarnya sangat lelah hari ini, pinginnya cuma langsung tidur tapi apalah daya, aku akan di laknat kalau menolak kemauan suamiku. Karena itu adalah kewajibanku memberikannya haknya.


Dia membalikkan tubuhku dan menghadapnya.


Matanya begitu sayu menatapku. Aku tau dia sudah sangat menginginkannya. Wajah kami saling berhadapan hanya menyisakan beberapa senti saja. Ciuman lembut mendarat di bibir di lanjutkan dengan ******* dan gigitan kecil seakan sebagai candu buatnya.

__ADS_1


Rasa ngantuk seakan menguap entah kemana dengan ciuman panas itu. Lama kami berciuman saling menyesap rasa yang ada. Bibir saling berpagutan, tangannya juga berkelana kemana-mana di bawah sana. Dia selalu mempunyai cara dan gaya yang lihai untuk membuat pasangannya melayang dan bergairah. Merasa sudah waktunya si junior menyerang gawang yang dari tadi sudah siap sedia. Dia mengambil alat tempur dan memasangya perlahan, kemudian dia mengangkat tubuhku yang duduk diatasnya yang sedang terlentang. Tanpa mengatakan apapun aku mengerti maksudnya. Penyatuan dua insan yang terbakar gairah pun terjadi di dalam kamar tersebut entah yang ke berapa kalinya yang jelas sudah tak terhitung jumlahnya. Belum puas gaya yang satunya dia membalikkan posisi, gairah semakin menggebu, gerakan seakan seirama dengan perpaduan dua kulit yang bersentuhan seakan menjadi musik pengiring percintaan panas itu.


Hingga akhirnya kami sama-sama mencapai kepuasan menuju puncak yang penuh kenikmatan tiada tandingnya.


Cairan hangat menyembur ke dalam rahim. Yang seketika membuatku tersadar dan membelalakkan mata, netraku mengarah ke pusaka suamiku dan yang membuatku kaget pusaka itu tak memakai pengaman. Hanya kehamilan yang terlintas di kepalaku.


Rayhan akan melepas pengaman yang dia pasang sebelumnya akhirnya juga membuatnya tak kalah terkejutnya karena pengaman itu sudah tak terpasang di tempatnya.


Bertolak belakang dengan apa yang aku pikirkan, Yang terlintas di kepala Rayhan bahwa pengaman itu tertinggal di dalam tubuhku.


Karena itulah langsung membuat kami panik sehingga kami langsung terduduk berhadapan.


"Pengamannya lepas." Ucapnya panik


"Apa?Kamu nggak sengaja melepasnya?" Tanyaku mulai ikut panik.


Kini kekhawatiran ku melebihi dari yang kupikirkan sebelumnya. Kini yang ada di kepalaku sama dengan Rayhan, jangan sampai pengaman itu nyangkut di dalam.


"Coba kamu baring dulu," perintahnya.


Dia kemudian akan membuka pahaku lebar. Tapi aku menolaknya. Dan aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku.


'Kamu buka dulu siapa tau pengamannya nyangkut di anu kamu.' Ucapnya semakin panik.


Aku berlari ke kamar mandi memeriksanya dan berharap siapa tau pas buang air kecil akan ikut keluar. Tapi setelah aku periksa benda itu tak ku dapatkan.


Sungguh benda sialan itu membuatku takut setengah mati.


'Bagaimana dong?kamu jangan hanya duduk doang di situ, coba kamu cari siapa tau terjatuh." Bentakku padanya setelah keluar dari kamar mandi.


Kami terus mencari dan benda itu tak kami dapatkan.Dia semakin frustrasi. Sedangkan aku jangan di tanya lagi perasaanku. Sepertinya aku mau pingsan saja.


"Ayo ke dokter." Ajaknya.


"Ngapain ke dokter?"


"Keluarin pengamannya ." ucapnya cepat.


Sungguh sesuatu yang tak pernah kubayangkan dalam hidupku Sangat-sangat memalukan.Kalau dokternya tanya apa yang harus aku jawab.


Rayhan terus mondar mandir tanpa sadar kalau dia tidak memakai apa-apa di tubuhnya saking paniknya. Dia bergegas ke nakas mengambil ponselnya entah mau menghubungi siapa. Aku melihat ada sesuatu menempel di punggungnya.Aku dengan cepat menghampirinya dan mengambil benda tersebut dan akhirnya kami menemukan benda tersebut yang membuat kami hampir frustrasi😀.


"Aku nggak akan makai benda ini lagi!! Umpatnya kepada benda tersebut sambil meremasnya.


"Kamu sih nggak hati-hati." ucapku menyalahkannya.


Di satu sisi aku merasa lega karena benda tersebut kami temukan. Tapi di sisi lain muncul kekhawatiran kalau aku hamil lagi. Bukannya tak mau punya anak lagi tapi kami sudah sepakat kalau nanti umur si Kembar tiga tahun kami program anak lagi.

__ADS_1


"


__ADS_2