SESAL

SESAL
Rafa Kangen Papa


__ADS_3

Matahari bersinar menyambut pagi yang indah. Kusingkap selimut yang menutupi tubuh dan bergegas menyambut pagi yang begitu cerah.Sebelum beranjak meninggalkan peraduan, kutatap suamiku yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Thanks, Sayang, sudah menjadi suami terbaik buat aku."Ucapku sambil membelai wajahnya yang mulai agak brewok.


"Thanks juga, Sayang, karena mau jadi istri dan mengandung anakku," ucapnya tanpa membuka matanya.


"Astaga ... sejak kapan kamu bangun?" Ucapku merasa malu.


"Sejak kamu merhatiin wajah tampanku ini," ucapnya membuka matanya.


"Ya...ellah...masih malu-malu. Kayak gadis yang baru di tembak aja." ucapnya tertawa.


Dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya.


"Kamu tau nggak, Sayang?Aku paling suka ekspresi kamu malu-malu kayak gini.


Dia meraba perutku yang agak membuncit.Padahal usianya baru tiga bulan.


" Impian terbesar aku itu memilikimu dan mempunyai anak yang banyak darimu, kalau perlu kita buat keseblasan." ucapnya terkekeh.


Aku terbelalak mendengar pernyataannya.


"Emangnya aku mesin pencetak anak?" ucapku ketus.


"Aku ingin rumah kita ramai, Sayang,"


"Tapi nggak sebanyak itu juga, 'kan??"


"Sebelas itu nggak banyak, kan udah ada Rafa, jadi kita tinggal buat sepuluh." ucapnya menggodaku.


"Buatnya gampang!! Tapi kamu pikir melahirkan itu nggak sakit, apa?" ucapku.


"Emang sakit banget ya?" tanyanya serius.


"Ya ... sakit--- lah, nggak ada rasa sakit melebihi melahirkan. Itu sih menurut aku."


"Kalau sakit hati?"Ucapnya tergelak.


"Itu lain ceritanya, itu tak berdarah tapi sakitnya tuh di sini." ucapku menirukan penyanyi lagu dangdut Cita Citata.


"Tapi ... tau nggak, Sayang? Setelah anaknya lahir perasaan jadi plong apalagi kalau udah lihat bayinya...senang banget terasa sakit itu tak terasa lagi." ucapku panjang lebar sambil mengenang memori waktu melahirkan Rafa.


"Begitu ...ya?"


"Makanya jangan cuma tau buatnya aja, " ucapku sambil membelai pipinya.

__ADS_1


"Baby-nya boleh di jenguk?" ucapnya menatapku.


"Kan udah tadi malam!!"


"Habis kamu mancing-mancing sih."


"Sebenarnya aku juga pingin sih, Sayang. Tapi aku takut bayinya kenapa-kenapa."Ucapku memasang muka khawatir.


Kalau bicara soal janin di perutku pasti dia mengalah.Aku juga takut kalau keseringan berhubungan intim pada trimester pertama akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada kandunganku.


"Itunya aja yang cepat banget On!"ucapku dengan mengarahkan mataku ke juniornya yang sudah siap sedia menyerang.


Disisi lain aku ingin terbahak melihat ekspresinya saat ini, tapi di sisi lain aku juga sungguh sangat kasihan melihatnya tersiksa menahan hasrat yang sudah ke ubun-ubun.


Hingga aku memuaskannya dengan caraku tanpa khawatir dengan janinku. Diapun sangat menikmati dengan apa yang aku lakukan padanya. Hingga dia berhasil mencapai puncak kenikmatan itu.


"Terima kasih, Sayang, kamu memang hebat, I love you," ucapnya mengecup keningku.


Setelah aku membersihkan diri dan Rayhan dengan drama morning sickness--nya, seperti biasa aku santai saja di rumah sedangkan suamiku berangkat ke kafe.


"Aku berangkat dulu ya, Sayang?? kamu istirahat aja di rumah, jangan capek-capek."


"Rafa ... jagain mama ya??" Pesannya pada Rafa.


"Ok ...Papa Ray." jawab Rafa.


Setelah kepergian Rayhan ke kafe, aku dan Rafa ke taman belakang melihat bunga-bunga yang tumbuh subur di sana. Skenario Tuhan sangat indah mempertemukan seseorang dengan jodohnya. Seperti aku dan Rayhan karena tanaman bunga yang aku posting di sosmed, pertemanan kami bisa terjalin dan akhirnya melangkah ke jenjang pernikahan.


Aku duduk di gazebo bersama Rafa yang sedang memainkan mobil-mobilan.


Tanpa angin tanpa hujan Rafa menanyakan ayahnya, Mas Rasya.


"Ma ... Rafa kangen papa," ucapnya sendu.


"Papa Ray 'kan baru berangkat, Sayang?"


Ucapku mengalihkan padahal aku tau yang dia maksud adalah papa kandungnya.


Memang sejak pertemuan kami di hari pernikahanku, Mas Rasya tidak pernah menghubungiku lagi, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar Rafa.Dia seakan menghilang bak di telan bumi. Yang aku tau dari Fira kalau dia mutasi ke Kalimantan. Wajarlah Rafa kangen padanya karena mereka sangat dekat, walaupun kami bercerai tapi mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama.


Biarpun Rayhan bisa menjadi sosok ayah baginya, tapi ikatan batin antara anak dan ayah kandung itu pasti ada. Rasa rindu itu akan ada bagi keduanya.


Aku memanggil anakku untuk duduk di pangkuanku, membelai rambutnya. Rasa bersalah muncul dalam hati, karena asyiknya diriku menikmati masa-masa pengantin baru dan kehamilanku sehingga aku melupakan anakku yang merasakan rindu pada ayah kandungnya. Mataku seolah tertutup karena melihat keakraban Rafa dan Rayhan sebagai layaknya anak dan ayah, tidak terpikirkan olehku kalau anakku merindukan sosok ayah kandungnya.


Sungguh ... anaklah yang akan menjadi korban dari perceraian orang tuanya.

__ADS_1


"Maafkan mama, Nak." batinku.


"Rafa kangen, Papa?" tanyaku menatapnya.


Dia hanya mengangguk pelan.


"Rafa pingin main sama papa, Ma." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Nanti Rafa ketemu papa,ya? Papa sekarang lagi kerja, cari uang banyak buat Rafa. Nanti kalau papa pulang, Rafa di beliin mainan a...pa aja yang Rafa suka." Ucapku berusaha membujuknya.


Matanya langsung berbinar, begitulah anak-anak hanya dengan menjanjikan hal-hal yang di sukainya dia bisa tersenyum kembali.


Setelah Rafa kembali bermain, aku mengambil ponsel yang tergeletak di sampingku, kucoba membuka kontak WhatsApp Mas Rasya berniat ingin mengirimkan pesan tentang Rafa, tapi aku melihat nomornya aktif sekitar dua bulan yang lalu.


"Apa dia ganti nomor?" tanyaku dalam hati.


Kucoba menghubungi lewat panggilan telepon, hanya suara merdu operator yang menjawab.


Di saat Rafa sudah asyiknya menonton kartun kesukaannya, aku masih kepikiran dengan apa yang dia katakan waktu di taman.


Hingga dering ponselku berbunyi, kulihat Rayhan yang menelfon. Dia menyuruhku bersiap-siap karena dia sudah dalam perjalanan untuk menjemputku ke dokter kandungan.


Ketika dia sampai di depan rumah aku langsung berpamitan kepada Rafa dan Bi Rahmi dan bergegas naik ke mobil.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Rayhan yang mengajakku bicara aku jawab seadanya saja.


"Kenapa, Sayang?" ucapnya sambil memegang pucuk kepalaku sebentar kemudian memegang stir kembali.


"Rafa kangen sama papanya." kataku jujur.


Kami memang sepakat untuk terbuka satu sama lain apapun itu.


"Rasya nggak pernah telepon kamu atau Rafa?" tanyanya heran.


Aku menggeleng pelan.


"Sudah kamu hubungi?" tanyanya lagi.


"Nomornya nggak aktif"


"Nanti kita cari nomornya, jangan di jadikan beban, kamu sedang hamil."Tegasnya.


"Tapi aku kasihan sama Rafa." ucapku sendu.


"Aku janji aku akan cari nomornya, kamu tenang aja."

__ADS_1


" Terima kasih, Sayang." ucapku tersenyum.


"Ya ... gitu dong ... Bumilku, Sayang!! Smile...." Ucapnya menampilkan senyum lebarnya.


__ADS_2