
Semua persiapan resepsi pernikahan sudah seratus persen selesai. Kami sudah berada di salah satu hotel terbesar di kota tersebut. Aku sudah mulai di dandani oleh MUA terbaik yang dipilihkan oleh mama mertua.
"Cantik, sempurna," ucap sang MUA.
Seakan tidak percaya melihat tampilan wajahku di cermin, betul-betul sekarang semuanya bisa di sulap jadi cantik oleh tangan-tangan MUA profesional. Pipiku yang sedikit chubby menjadi tirus olehnya.
"Nona cantik sekali," puji sang MUA.
" Ini semua hasil kerja, Mba, " jawabku.
"Aslinya memang cantik, Nona, jadi tinggal poles sedikit sudah Wow," pujinya.
"Bisa ambil gambar, Nona? Buat promosi," pinta sang MUA.
" Iya, boleh, Mba," ucapku.
Dia mengambil gambarku dari berbagai arah, tak ketinggalan kami berselfi berdua.
Tak henti-hentinya aku menatap wajahku di cermin. Pakaian pengantin yang panjang menyentuh lantai berwarna peach senada dengan jilbabnya, ditambah mahkota menghiasi bagian atas kepala.
Sedang asyiknya melihat tampilan diri di cermin hingga tak sadar jika ibu dan mama mertua datang.
"Kamu cantik sekali, Sayang, " ucap mama mertua.
Ibuku juga pangling melihatku. Aku hanya tersenyum di puji oleh mereka.
"Kamu siap-siap ya sebentar lagi kita ke acara resepsi," ucap mama mertua.
"Iya, Ma," jawabku.
Setelah menunggu beberapa menit ditemani MUA. Rayhan kemudian datang menjemputku.
Saat dia membuka pintu, akupun menoleh padanya. Dia melongo menatapku bahkan mulutnya sedikit terbuka sambil berjalan mendekatiku.
"Kamu istriku, Fani, kan?" tanyanya tak percaya.
"Iyalah, Kak, masa orang lain," ucapku.
"Subhanallah," kamu cantik sekali, Sayang,"
Sang MUA hanya tersenyum melihat tingkah Rayhan.
"Kakak juga tampan," ucapku memuji.
Kemudian dia mendekat dan membisikkan sesuatu.
"Jadi nggak sabar beronde-ronde,"
Mataku membulat sempurna mendengar kalimat mesumnya, untung saja sang MUA agak jauh dari kami.
"Bisa tinggalkan kami berdua?" pintanya pada sang MUA.
Setelah sang MUA keluar, Rayhan mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa gambar kami. Ada pose dia mencium pipiku, aku yang di suruh cium pipinya. Pokoknya banyak gaya dari pose mesra hingga pose konyol kami berdua.
Setelah puas mengambil gambar berbagai pose. Dia mengajakku ke gedung resepsi.
__ADS_1
Karena baju yang panjang hingga aku kesulitan untuk berjalan di tambah lagi sepatuku yang lumayan tinggi. Rayhan memegang gaunku yang terjuntai menyentuh lantai.
Acara segera di mulai, kami berhenti di pintu masuk sebelum MC memanggil kami.
Saat MC memanggil kedua mempelai, kami pun masuk kedalam tempat resepsi tersebut menuju pelaminan, aku melingkarkan tanganku di pergelangan tangan suamiku. Tepuk tangan dan sorak hadirin meriah saat kami berjalan ke pelaminan. Senyum tak pernah lepas dari wajah kami berdua.
Sungguh resepsi pernikahan yang sangat megah, dekorasi yang sangat indah, pelaminan yang dipenuhi dengan bunga yang di tata dengan apik, di hibur oleh artis ibu kota, dan banyaknya tamu undangan dari kalangan pengusaha, pejabat dan masih banyak lagi. Sebagian besar tamu tersebut tidak aku kenal kecuali Romi, Bosku di kantor yang ternyata sahabat Rayhan.
Saat berada di atas pelaminan tak henti- hentinya Rayhan berjabat tangan dengan tamu yang datang memberikan ucapan selamat seakan tiada habisnya.Sedangkan aku hanya mengatupkan ke dua tanganku di dada seperti permintaan Rayhan sebelum kami masuk di dalam gedung acara.
Sudah dua jam kami berdiri menyalami tamu undangan. Perasaan lelah menghampiri, betisku rasanya sudah membatu, sesekali aku meringis.
Rayhan menyadarinya dan menyuruhku duduk saja, tapi perasaan tidak enak juga, nanti dianggap tidak menghargai para tamu undangan.
Setelah tamu agak berkurang, Rayhan kemudian mengajakku duduk.
" Kamu capek?"
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
" Buka aja sepatunya," ucapnya.
Aku mengikuti sarannya buka sepatu, aku masih pakai kaos kaki pikirku, apalagi kakiku tidak kelihatan karena di tutupi gaun yang panjang. Cuma akan terlihat pendek jika berdiri berdampingan dengan Rayhan.
Tamu terus berdatangan meskipun jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Kulihat Rafa masih berlarian ke sana kemari.
Senyum terukir di bibir ketika melihat putraku dengan senangnya.
"Mas Rasya, batinku.
" Selamat atas pernikahannya, Pak Rayhan, Salam dari Pak Rudi, dia tidak sempat hadir jadi dia menyuruhku mewakilinya." ucap Mas Rasya.
"Salam balik buat beliau, Terima kasih atas kedatangannya,' jawab Rayhan.
Kemudian dia beralih ke arahku.
"Selamat, Fan, semoga kamu bahagia,' ucap Mas Rasya dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku tertegun menatapnya, sungguh dunia ini begitu sempit kenapa Mas Rasya bisa hadir di sini.
"Terima kasih, Mas," aku mengatupkan kedua tanganku .
Mas Rasya meninggalkan kami dan turun dari pelaminan. Ku lihat Rafa berlari ke arahnya dan Mas Rasya langsung menggendongnya.
Pemandangan itu tak luput dari perhatian Rayhan. Dia menoleh ke arahku dan dengan gerakan bibir dia bertanya padaku.
"Mantan?" begitulah gerakan bibirnya yang kutanngkap.
Aku hanya mengangguk padanya.
Dia hanya tersenyum kepadaku dan kemudian kembali menyalami tamu yang datang memberikan selamat.
Sejak kedatangan Mas Rasya ada perasaan tidak nyaman yang menyeruak dalam dada. Perasaan yang sedih, sakit, kecewa masih bersarang dalam relung hati. Tapi untunglah Mas Rasya cepat pulang atau entah kemana. Sedangkan Rafa bersama Fira dan Ridho.
__ADS_1
Para tamu undangan juga satu persatu meninggalkan gedung acara, Begitupula keluarga yang lain bergegas ke kamar hotel yang telah di sediakan. Karena malam ini memang kita akan menginap di hotel tersebut.
Aku dan Rayhan bergegas ke kamar untuk istirahat. Sesekali kami saling melemparkan senyum satu sama lain.
Awalnya aku heran kenapa kami menggunakan lift karena kamar yang ku tempati tadi berada di lantai dua.
Sesampainya di kamar yang ada di lantai teratas hotel tersebut. Dia membuka dan kami masuk dalam kamar suite room.
Aku terperangah melihat kamar tersebut. " Sewanya pasti sangat mahal, batinku.
Di atas ranjang bertaburan bunga berbentuk hati.
"Kamu suka? ucap Rayhan.
"Iya, Kak, tapi tidak perlu semewah ini." kataku.
"Ini tidak seberapa dibandingkan rasa bahagia yang kurasakan saat ini, Kamu tau?? impian terbesarku adalah bersanding denganmu dan hidup bahagia dengan mu dan anak-anak kita kelak."
"Terima kasih, Kak," hanya itu yang bisa aku katakan padanya.
"Aku ke kamar mandi dulu, Kak,"
Aku bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengganti gaun yang dari tadi menempel di tubuhku. Tapi sungguh sayang tanganku tidak sampai untuk membuka resleting yang letaknya di belakang.
"Susah banget sih," gerutuku.
Mau tak mau aku harus minta tolong pada Rayhan, meskipun agak malu sih sebenarnya. Nanti dia pikir aku sengaja menggodanya.
Kubuka pintu kamar mandi, dia langsung menoleh.
"Kenapa tidak diganti bajunya? tanyanya.
"A---anu, Kak," ucapku terbata.
Dia langsung melangkah ke arahku.
"Kamu sengaja menggodaku, kan ?" ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.
Aku langsung memukul lengannya, saat dia tepat berdiri di depanku.
"Bantuin, buka resletingnya!" perintahku dan langsung membelakanginya.
"Nggak, mau" ucapnya lagi.
Terpaksa aku berbalik lagi menghadapnya.
"Ya udah kalau nggak mau, aku tidur pakai ini saja," ucapku jengkel dan pura-pura melangkah ke tempat tidur.
"Eits..." dia langsung menarik tanganku cepat.
"Sini aku bukain, "
Aku langsung berbalik membelakanginya.
"Jangan ngambek, nanti cantiknya hilang," ucapnya sambil membuka resleting gaun yang kupakai.
__ADS_1