
Tiara's POV
Malam itu ketika suamiku sedang di kamar mandi aku melihat ponselnya berdering beberapa kali. Baru saja aku mau menjawab panggilan tersebut bunyi dering ya berhenti.Aku mengambil benda pipih tersebut dan melihat ada pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau. Karena aku dan suamiku memang bebas membuka ponsel kami masing-masing akhirnya aku membuka pesan tersebut. Sebuah nomor baru yang mengirimkan pesan. Dia menginginkan hak asuh anaknya dan kalau suamiku tidak setuju dia menginginkan uang.
Aku bisa menebak kalau pengirim pesan tersebut adalah mantan istri suamiku.
Aku tak membalas pesan tersebut, tapi aku menghapusnya kemudian memblokir nomornya, supaya suamiku tak mengetahuinya. Bukannya aku mau ikut campur tapi aku takut kalau suamiku yang menemuinya, dia akan murka pada mantan istrinya, karena suamiku selalu mengatakan kalau dia bertemu dengan mantan istrinya dia akan memberikan pelajaran padanya karena itu adalah sumpahnya.
Aku kemudian screenshoot pesan tersebut dan .engirim ke group "Beautiful Wife." Itu adalah group yang dibuat Fira yang beranggotakan aku, Fani dan Fira. Tapi walaupun cuma kami bertiga hebohnya minta ampun. Kadang kami memposting anak-anak kami yang sedang main, bahkan tak jarang kami memposting suami kami dengan caption lucu.
Fani :"Wah berani juga mantan pak Erwin."
Fira. : Kita kerjain aja dia, Dok."
Akhirnya Fira memberikan ide padaku agar aku menemuinya dan entah kenapa aku langsung setuju dengan ide Fira tersebut. Jujur aku juga penasaran ingin melihat mantan Erwin. Terkadang kalau kita bergaulnya dengan orang yang suka tantangan kita juga ikut-ikutan dengan ide menantangnya.
Akhirnya aku meminjam ponsel suamiku dan membuka blokirnya kembali dan mengirim pesan pada Sinta, mantan istri suamiku.
Aku membalas pesan tersebut seolah-olah suamiku yang membalasnya.
"Ok...aku akan memberimu uang tapi kamu harus tanda tangani surat perjanjian." Balasku.
Dia hanya membalas dengan tiga jempol.
"Besok aku akan menemui mu di restoran Humble Resto, jam 10.00" pesanku padanya, kemudian aku blokir lagi nomornya.
Keesokan harinya pada saat kami kumpul di rumah Fani, kami langsung pamit pada suami masing-masing dengan alasan mau ke Mall.
Tak lupa aku mengambil ponsel suamiku. Karena memang kalau sedang kumpul dengan Rayhan dan Ridho dia jarang pegang ponsel.
Ada rasa bersalah pada suamiku karena tidak berkata jujur tapi aku juga tertarik dengan idenya Fira. Kala itu Fira mengatakan kalau aku jangan kasi Sinta uang, kalau aku kasih berarti dia akan minta terus dan menjadikan putranya sebagai tameng.
__ADS_1
Ketika kami sampai di restoran aku bingung bagaimana bisa menemuinya kalau orangnya saja aku tak mengenalinya. Aku menghubunginya menggunakan ponsel suamiku tapi aku tak berbicara. Melihat seorang wanita mengangkat ponsel maka kami bisa menebak kalau dialah orangnya.
Aku kemudian mengirimkan pesan padanya seolah-olah Erwin lah yang mengirimkan dia pesan, kalau kami ketemunya di toilet saja. Kulihat dia tersenyum, mungkin merasa idenya akan berhasil mendapatkan uang.
Kami akhirnya bertemu terlihat raut kesal di wajahnya ketika yang menemuinya bukan Erwin. Langsung mengucapkan bahasa kasar dan menghinaku. Walaupun umur sudah kepala empat tapi aku merasa aku lebih cantik darinya meskipun dia memang masih muda.
Untung Fira dan Fani datang saat dia akan menamparku.
Setelah Fira memberikan peringatan pada Sinta dan sempat mendorongnya hingga terjatuh kami langsung keluar dari restoran tersebut karena kami sudah jadi pusat perhatian. Apalagi ada beberapa orang mengenaliku karena mereka pernah menjadi pasienku. Bisa-bisa aku jadi viral di sosmed. Kenapa aku sampai lupa memakai masker.
Aku pikir masalahnya sampai disitu ternyata Sinta datang ke restoran tak sendiri, dia datang bersama suaminya dan satu orang pria. Karena dia tidak terima dengan perlakuan kami akhirnya dia mengikuti kami dan memang mungkin berniat akan mencelakai kami. Saat Fira melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi tak hentinya aku membaca doa dan ayat-ayat Alquran supaya kami tak kecelakaan. Benar-benar Fira menguji nyali kami. Untung aku tak ada riwayat penyakit jantung.
Setelah mobil kami berhenti,aku mengambil uang di dompet yang ada sekitar lima jutaan, karena awalnya aku pikir dia begal atau rampok. Semua barang aku akan ikhlaskan kalau mereka memintanya selain cincin kawin ku aku sengaja sembunyikan.Yang penting mereka tidak mencelakai kami. Tapi alangkah terkejutnya ketika melihat Sinta turun dari mobil. Ternyata dia yang mengikuti kami. Aku memberikan uang yang dia minta walaupun aku tak tau sebenarnya dia minta berapa tapi aku akan memberikannya dengan mentransfernya asalkan mereka tidak mencelakai kami.
Sungguh membuatku emosi ketika dia menyuruhku berlutut di kakinya untuk meminta maaf. Emangnya siapa dia menyuruhku tunduk padanya. Dalam hatiku aku akan melakukannya jika dia berjanji tidak mencelakai kami. Baru saja aku mau bernegosiasi dengan Sinta Fira sudah menyerang duluan. Ya aku terpaksa ambil jurus ampuh yaitu menjambak rambutnya. Karena hanya itu yang aku tau dalam soal perkelahian. Sekuat tenaga aku menarik rambutnya hingga banyak yang ikut di tanganku. Sedangkan Sinta menarik jilbabku.
Aku akui Fira memang ahli dalam soal bela diri. Dengan lincahnya dia menangkis pukulan pria itu. Tanganku dengan kuat menarik rambut Sinta sedangkan dalam hatiku berdoa semoga secepatnya ada orang yang lewat dan melerai kami.
Tak lama kemudian polisi datang dan membawa kami ke kantor polisi. Beginilah kalau tidak jujur sama suami akan dapat kesialan, dan akhirnya ketahuan juga. Erwin, Rayhan dan Ridho datang dengan tatapan sulit diartikan. Aku tau Erwin sangat marah ketika melihat Sinta dan suaminya, dia langsung memukul dan menampar pasangan tersebut. Itulah yang aku takutkan kalau mereka bertemu. Tapi akhirnya terjadi juga. Untung di kantor polisi seandainya tidak mungkin Sinta dan suaminya akan berakhir di Rumah Sakit.
Saat perjalanan pulang dari kantor polisi, Erwin hanya diam saja. Aku juga memilih untuk diam karena aku sadar dengan kesalahanku yaitu tak jujur dengannya. Sesampainya di rumah Fani pun dia tak banyak bicara. Hingga dia ke taman belakang dan aku mengikutinya. Selama kami menikah baru kali ini dia terlihat kesal denganku. Sesampainya kami di taman belakang rumah Fani, dia terduduk di kursi taman dan akupun duduk di sampingnya.
"Aku minta maaf, Win." Ucapku tulus.
Tak ada jawaban darinya. Dia terlihat seperti saat kami bertemu untuk pertama kalinya setelah berpisah berpuluh-puluh tahun.
Aku mendekat dan menggenggam jemarinya.
"Sorry.."ucapku dengan mata berkaca-kaca.
Dia langsung menarik tubuhku dalam pelukannya.
__ADS_1
"Jangan seperti ini lagi, Ra, aku takut kehilangan kamu," ucapnya sendu.
"Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, apalagi aku nggak apa-apa, 'kan?" Ucapku.
"Aku akan memberikan pelajaran pada manusia laknat itu." Katanya lagi.
"Dia sudah menerimanya, aku jambak rambutnya hingga rontok.hehehe." Ucapku bercanda.
'Kamu nggak ada yang sakit, Yang?" Tanyanya memperhatikan wajah dan tanganku.
"Sakitnya tuh disini saat kamu diamin aku." Ucapku menunjuk dadaku.
"Makanya jangan buat ulah." ujar suamiku.
"Aku dah kapok, betul-betul buat aku sport jantung." Ucapku bergidik ngeri mengingat Fira melajukan mobil terlalu kencang.
"Oh iya...Hana udah married, belum?" Tanyaku pada suamiku.
Hana adalah sepupu suamiku yang berumur sekitar 30-an yang seorang guru SD.
"Kok nanyain dia?" Tanya suamiku bingung.
"Pokoknya ada deh." Ucapku.
"Ingat jangan buat ulah lagi...ingat...umur!!" Ucapnya.
"Siap...Big Bos." Ucapku sambil menirukan gaya orang hormat.
Suamiku hanya geleng kepala.
"Makin lama kamu ketularan Fira." Ucapnya terkekeh.
__ADS_1
Harus ada kejujuran dalam sebuah rumah tangga. Apapun itu harus di bicarakan dengan pasangan. Menyelesaikan masalah bersama akan semakin ringan dari pada menyelesaikannya sendiri.