SESAL

SESAL
Talak Untuk Lestari


__ADS_3

Lestari"s POV


Aku menyadari cinta Mas Rasya untuk Mba Fani sangat besar, aku mencoba mengalah dan mengubur dalam cintaku padanya. Tapi semakin aku ingin melupakannya semakin kuat rasa itu bertahta di hatiku.


Bahkan di saat aku mengetahui bahwa aku mengandung benih Mas Rasya, aku berusaha untuk tidak memberitahukan kepadanya, hingga pada saatnya justru Mba Fani lah yang mengetahuinya. Hatiku hancur, kecewa pada saat Mas Rasya tidak memperdulikan ku dan dengan bahagianya dia memeluk Mba Fani di depan mataku karena dia mengira Mba Fani yang sedang mengandung.


Setelah perceraiannya dengan Mba Fani dan menikahi ku, aku kira itu awal yang baik dalam hidupku. Tapi kenyataannya Mas Rasya tidak bisa terlepas dari bayang-bayang Mba Fani. Aku di nikahinya hanya sebagai bentuk tanggung jawab karena aku mengandung anaknya.


Di saat ibu hamil yang lain sedang bermanja-manja dengan suaminya , minta ini itu, sedangkan aku hanya bisa sendirian tanpa seorang suami yang menemani.


Mas Rasya sibuk dengan Rafa dan mengejar kembali mantan istrinya.


Aku benci dengan Mba Fani, aku benci Rafa, karena merekalah Mas Rasya tidak bisa sepenuhnya kumiliki. Seandainya Mba Fani benar-benar menutup jalan untuk Mas Rasya kembali, dia tidak menjadikan Rafa sebagai alasannya. Mungkin Mas Rasya akan sepenuhnya menjadi milikku.


Walaupun aku tau Rafa itu anak Mas Rasya tapi setidaknya dia memberikan aku sedikit waktunya karena aku juga mengandung anaknya, darah dagingnya.


Rasa benciku pada Mba Fani semakin menjadi ketika aku harus kehilangan anakku karena terjatuh.


Meskipun ini kesalahanku tapi Mba Fani ikut andil atas meninggalnya janin di kandunganku..

__ADS_1


Hari itu adalah hari ke tiga Mas Rasya tidak kembali ke rumah karena biasanya weekend dia akan menghabiskan waktunya bersama Rafa, padahal aku sudah mengatakan kalau aku lagi tidak enak badan, tapi Mas Rasya tetap pergi meninggalkanku dengan alasan akan menemani Rafa karena Mba Fani ada urusan mendadak.


Karena merasa lapar aku memaksakan diri untuk bangun, tapi naasnya baru beberapa langkah kepalaku terasa pusing hingga aku terjatuh dan perutku membentur sudut meja. Aku merasakan ada cairan yang mengalir di pahaku. Dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat yang keluar itu darah.


Dengan sisa tenaga dan sakit yang tak tertahankan aku mencoba menghubungi Mas Rasya. Dan akhirnya dia datang dan membawaku ke rumah sakit. Tapi sayang seribu sayang aku harus kehilangan janin dalam rahimku.


Bukannya Mas Rasya merasa bersalah atas kehilangan anak di dalam kandunganku, malah dia menyalahkan ku karena tidak becus menjaga anak dalam kandungan ku. Dia semakin menjadi dengan ketidak pedulian nya padaku. Sungguh laki-laki yang egois, tidak menyadari kesalahannya .


Semakin hari, Mas Rasya seakan semakin jauh untuk ku raih, aku seakan di anggap tidak ada.


Apalagi setelah viidio viral pertengkaran ku dengan Mba Fani beredar di medsos Mas Rasya sangat marah padaku. Katanya aku membuatnya malu. Niatku untuk membuat Mba Fani menjauhi Mas Rasya justru tindakanku itu yang membuat Mas Rasya menjauh dariku. Hari-harinya sibuk dengan pekerjaan sedangkan di hari libur dia sibuk dengan Rafa.


Dia hanya datang padaku jika dia ingin menuntaskan hasratnya saja, dan terkadang saat aku melayaninya hingga dia mencapai puncak nirwana tak jarang dia menyebut nama mantan istrinya. Itu artinya dia membayangkan Fani yang bercinta bersamanya. Sungguh aku muak dengan keadaan seperti ini.


Aku mulai bosan, jenuh, hingga pada suatu hari mantan pacarku menghubungiku, dan kami pun bertemu. Hingga akhirnya kami mulai dekat kembali, meskipun dia mengetahui statusku tapi dia tidak mempermasalahkannya. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Bersamanya aku merasa dianggap, di manja dan di perhatikan yang tidak aku dapatkan dari suamiku Mas Rasya.


Tiap hari Sabtu aku selalu mengajaknya bermalam di rumah, kami melakukan apa yang tidak seharusnya di lakukan, toh Mas Rasya juga tidak ada. Mas Rasya nggak akan tau juga pikirku.


Sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai akhirnya akan tercium juga. Itulah yang terjadi pagi itu . Setelah aku dan Deni menghabiskan malam panjang kami, mencapai nirwana bersama yang entah sudah berapa kali kami lakukan , kami pun tertidur pulas mengarungi mimpi yang indah sambil berpelukan dalam selimut yang sama. Dan tiba-tiba ada sesuatu yang mengenai tubuhku. Sontak aku dan Deni terbangun, dan alangkah terkejutnya lagi ketika Mas Rasya sedang berdiri di sana dengan amarah yang amat sangat.

__ADS_1


Mas Rasya menarik tangan Deni dan menghajarnya habis-habisan, aku takut dia akan membunuhnya dan Mas Rasya masuk penjara, yang lebih penting lagi aku tak mau kehilangan Deni ke dua kalinya.


Aku mencoba melerai tapi apalah dayaku, tenaga Mas Rasya bagaikan singa yang kelaparan, menghajar Deni tanpa ampun.


Untunglah Deni bisa melarikan diri walaupun wajahnya sudah babak belur.


Setelah Deni berhasil kabur, kami bertengkar hebat. Baru kali ini aku melihat sisi lain Mas Rasya, dia terlihat sangat menakutkan. Umpatan, hinaan serta tamparan dia tujukan padaku. Padahal kalau di pikir, apa bedanya aku sama dia, sama- sama selingkuh. Benar - benar egois.


Dengan amarah yang memuncak dia jatuhkan talak kepadaku. Kemudian mengusirku.


Aku tidak memintanya supaya memaafkan ku, karena aku sadar Mas Rasya tidak akan sudi menerimaku kembali.


Buat apa juga aku pertahankan terus bersamanya jika Mas Rasya tidak pernah sedikitpun mencintaiku. Itu hanya membuatku tersiksa.


Aku terduduk di kursi yang berada di teras rumah sambil menangis meratapi nasibku. Kenapa semiris ini hidupku, Di saat aku mencintai Deni tapi dia malah mengkhianatiku, Kini dia datang di saat aku menjadi istri Mas Rasya. Aku tidak akan melakukan perselingkuhan ini seandainya Mas Rasya memperlakukanku layaknya seorang istri. Di saat Mas Rasya datang dan dia mengisi hatiku yang hampa, untuk ke dua kalinya aku menelan pil yang pahit, dia hanya menganggap ku sebuah kesalahan.


Dan sekarang dia menjatuhkan talak padaku, artinya aku sudah bebas darinya. Tapi dalam hatiku aku merasakan sakit ketika kata itu keluar dari bibir Mas Rasya.


Ku ambil salah satu pakaian yang tergeletak di teras dan memakainya. Kemudian memungut kembali sisanya dan memasukkannya dalam tas sambil melangkah pergi dari rumah yang selama enam bulan ini aku tempati bersama Mas Rasya.

__ADS_1


Aku menyusuri jalanan yang sepi sambil menenteng tas pakaianku, Air hujan yang membasahi tubuhku tak ku pedulikan. Setelah lama berjalan akhirnya aku mendapatkan taksi. Tujuanku adalah kerumah Deni. Di samping memang tidak ada tujuan aku juga mengkhawatirkan keadaan Deni. Aku takut terjadi apa-apa dengannya.


...*******...


__ADS_2