SESAL

SESAL
Salahkah Aku?


__ADS_3

Rasya"s Pov


Cinta itu ibaratnya seperti wifi selama kita tidak mengumbar sandi penghuninya ya hanya satu.


Kalau benar-benar kamu mencintai pasanganmu janganlah memberikan akses pada orang lain untuk masuk untuk merusak kebahagiaanmu.


Melihat kebahagiaan mantan istri, putraku beserta keluarga besarnya di saat liburan membuatku menelan ludah dan iri. Ada rasa sakit, sedih, cemburu di rongga dada melihat kebahagiaan mereka.Diam-diam aku selalu melihat akun sosmednya. Hanya senyuman kebahagiaan yang terpancar di wajah cantik mantan istriku. Kenapa aku tak bisa melupakan-nya. Berkali-kali ibuku memintaku untuk menikah lagi tapi hatiku belum siap. Aku merasa nyaman hidup sendiri. Aku hanya ingin fokus pada putraku yaitu Rafa. Seandainya Fani memberikan hak asuh Rafa padaku sungguh itu membuatku sangat bahagia. Tapi aku tak tega memaksanya, aku tak ingin menyakiti untuk kedua kalinya.


Cukuplah sekali aku melakukan kebodohan yang sampai saat ini penyesalan yang merajai hati.


"Sampai kapan kamu akan begini terus, Nak?" Ucap ibuku sedih.


"Mungkin ini karma buatku, Bu," Ku-paksakan senyum walau hatiku terasa kosong dan sepi.


"Sebaiknya kamu menikah lagi, Nak, jangan kamu hukum dirimu dengan rasa bersalah pada mantan istrimu.Dia sudah bahagia" Nasehat ibuku.


"Belum ada yang cocok, Bu." Jawabku.


"Bagaimana ada yang cocok kalau kamu tak membuka hati. Kamu masih mencintai Fani?" Tanya ibu menatapku.


"Nggak, Bu, cuma belum ada yang pas aja di hati,"sangkalku.


"Mungkin kamu bisa membohongi seluruh dunia tapi ibu tidak, Nak...Ibu tau kamu masih mencintai Fani." Ujar ibuku.


"Salahkah aku, Bu kalau rasa itu masih ada sampai sekarang?" Ucapku sendu.

__ADS_1


"Cinta itu tidak salah, Nak... tapi rasa cinta kamu itu pada orang yang salah, wanita yang memiliki suami." Ujar ibuku lagi.


"Aku bodoh ya, Bu?" Ucapku lirih.


" Ini sudah takdir, Nak. Tuhan menyiapkan yang terbaik buat kamu, ibu mohon kamu buka hati untuk wanita lain. Kamu mau kan, Nak?" Ucap ibuku lagi.


"Akan aku coba, Bu ' Ujarku sendu.


Aku melanjutkan kembali melihat postingan liburan mereka. Aku tersenyum melihat vidio putraku yang begitu antusias bermain dengan adik-adiknya. Ya memang Fani sangat menyukai pegunungan. Tiap kali pergi liburan saat kami masih suami istri dulu pasti pilihannya puncak atau daerah pegunungan. Berbanding terbalik denganku yang menyukai pantai. Kalau weekend terkadang aku pergi ke pantai hanya sekedar melihat sunset atau memandang ombak saja.


Sama seperti waktu aku menolong Fani kala dia dihadang oleh preman. Kebetulan waktu itu aku pergi ke pantai hanya sekedar jalan-jalan untuk menghilangkan penat. Awalnya aku tak mengetahui kalau dia mantan istriku. Karena aku kasihan karena masa cewek berkelahi dengan pria. Apalagi kala itu pria tersebut akan menonjok salah satu wanita yang sudah terjatuh. Aku segera membantunya. Dan aku begitu kaget ketika mengetahui kalau dia mantan istriku dan adiknya.


Ucapan terima kasih selalu di ucapkan padaku seolah aku seorang pahlawan yang menolongnya.


Saat suaminya datang terlihat raut khawatir dari wajahnya. Dan langsung memeluk Fani. Cemburu...itu sudah pasti. Aku tau ini salah tapi apalah daya aku tak bisa menghentikan rasa cinta ini padanya. Walau aku tau dalam hati Fani namaku sudah tak ada lagi tersisa.


Setelah suaminya sembuh dia sudah mengizinkanku datang kembali kapan-pun untuk menemui Rafa.


Lestari's Pov


Lagi dan lagi aku harus bertemu dengan Fani, wanita yang pernah jadi sainganku.


Setelah kepergian ku meninggalkan Mas Rasya dan menikah dengan pacarku, Irsan. Setelah pacarku menyelesaikan kuliahnya kami akhirnya meninggalkan kota dan melamar pekerjaan di Rayni Flowers. Karena suamiku yang lulusan sarjana maka dia langsung mendapatkan posisi yang baik dan beberapa lama kemudian dia diangkat menjadi manager yang bertanggung jawab pada restoran di Rayni Flower's.


Sedangkan aku hanya sebagai pelayan karena aku cuma lulusan SMU.

__ADS_1


Awalnya aku tak bekerja hanya fokus mengurus suami dan anak nantinya. Tapi karena aku tak kunjung hamil juga akhirnya aku memutuskan bekerja. Apalagi aku pernah melihat suamiku mengantar pulang seorang wanita yang juga bekerja di tempat itu. Ya selain untuk bekerja aku juga mau mengawasi suamiku.


Selama bekerja di tempat kerjaku aku tak pernah bertemu dengan pemilik tempatku bekerja karena memang beliau jarang datang dan hanya mempercayakan pada seseorang untuk mengawasi semuanya.


Semua yang bekerja di restoran yang menjadi bawahan suamiku aku buat tunduk padaku. Karena aku istri atasan mereka. Walaupun aku hanya pelayan tapi tidak ada yang berani menyuruhku. Tapi aku profesional dalam bekerja walaupun tanpa disuruh.


Saat aku bertemu Fani di tempat itu, aku kira dia hanya pengunjung biasa yang menyewa salah satu penginapan.


Karena suamiku menelpon mengatakan kalau sang pemilik datang dan kami harus memberikan yang terbaik akhirnya aku kembali dengan terburu-buru. Kadang memang aku balik ke rumah sebelum jam pulang tiba.


Aku berjalan dengan terburu-buru hingga tak sengaja aku menabrak seseorang dan orang tersebut adalah ternyata adalah Fani.


Awalnya aku ingin minta maaf tapi setelah tau kalau dia aku urungkan minta maaf. Jujur aku kaget saat bertemu dengannya. Bayangan masa lalu terngiang kembali.Aku kehilangan anakku karena Mas Rasya hanya sibuk mikirin dia untuk rujuk kembali sehingga melupakan aku yang sedang hamil.


Apalagi aku sudah memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya aku akan susah punya anak lagi, karena akibat benturan waktu aku jatuh saat hamil dulu membuat rahimku bermasalah. Tapi itu aku rahasiakan pada suamiku, aku takut dia akan meninggalkanku.


Pada saat sang pemilik Rayni Flower's akan makan malam. Seorang anak perempuan menjatuhkan guci di dalam restoran. Aku sudah tau kalau itu anak Fani karena aku sempat melihatnya di dekat kolam. Aku langsung mencubitnya. Karena dalam hatiku muncul rasa dendam. Apalagi aku mengira kalau anak itu anak Fani dan Mas Rasya.


Hingga aku dan Fani adu mulut dan dia menamparku. Aku yang akan mempermalukannya justru aku yang di tampar dan dipermalukan. Ternyata Fani istri dari pemilik tempatku bekerja. Di tambah lagi anaknya yang sangat pintar mengadu.


Sungguh Fani bernasib mujur, lepas dari Mas Rasya malah dapat suami kaya raya dan tampan pula. Kenapa hidupnya selalu beruntung tak seperti denganku.


Saat kami menunggu di depan ruang kerja pak Rayhan, kepalaku rasanya mau pecah mendengar omelan dan cacian suamiku. Yang mengatakan aku bego, tolol, perempuan sial. Semua umpatan dia tujukan padaku. Bahkan dia mengatakan kalau dia sampai di pecat dia akan meninggalkanku saking emosinya dengan perbuatanku.


Tapi untunglah dia tidak jadi di pecat hanya aku yang harus berhenti bekerja.

__ADS_1


Amarah, rasa benci masih tertanam dalam hati. Tapi aku sadar sulit melawan orang seperti mereka.


__ADS_2