
Rasha"s Pov
Sejak pertama kali melihat Hana di acara peresmian Toserba Erwin membuatku senyum-senyum sendiri karena saat aku ingin memperkenalkan diri dia hanya mengatupkan kedua tangannya di dada. Kecewa si... iya tapi aku menghargai sikapnya itu.
Awal perkenalan biasa saja, tak ada istimewa menurutku. Di antara wanita yang ada di acara tersebut menurutku Fani lah yang paling cantik. Cantik paras dan hatinya. Walaupun aku pernah meggoreskan luka di hatinya tapi tak ada dendam di hatinya. Bahkan di saat putra kami kecewa setelah mengetahui alasan kami bercerai dulu, Fani begitu sabar memberikan pengertian pada Rafa. Dan Rafa pun bisa menerima dengan lapang dada walaupun kecewa itu pasti ada di hati putraku.
Memang benar wanita baik-baik akan mendapatkan pria yang baik pula. Fani mendapatkan suami yang sangat baik , pengertian dan setia. Aku melihat begitu besar cinta Rayhan pada istrinya. Aku iri melihat kemesraan mereka tapi apalah dayaku aku hanya bisa berdoa semoga mereka selalu bahagia. Bukankah cinta tak harus selalu memiliki.
Setelah dokter Tiara memperkenalkan sepupu Erwin yang bernama Hana. Bagiku seperti sebelum- sebelumnya saat berkenalan dengan lawan jenis tak ada rasa ketertarikan pada dirinya.
Walaupun Rayhan, Erwin dan Ridho mengolok karena sudah lama menduda.Sebagai laki-laki normal tak kupungkiri terkadang keinginan untuk melakukan hubungan itu ada. Aku tak mau juga mencari pelampiasan dengan wanita-wanita panggilan di luar sana. Cukuplah dulu aku melakukan dosa besar yang menghancurkan kebahagiaanku.Aku tak mau melakukannya lagi. Sudah tiga tahun juga aku berteman dengan seorang ustad yang mengajarkanku ilmu agama dan cara memperbaiki diri menjadi lebih baik. Walaupun belum sepenuhnya hijrah tapi aku berusaha demi putraku. Aku ingin menjadi ayah yang bisa di banggakan oleh anakku.
Sehari setelah peresmian Toserba Erwin aku di suruh datang ke rumah Erwin untuk mengambil sisa pembayaran pembangunan Toserba-nya.
Saat tiba di rumah Erwin yang membukakan pintu adalah Hana.
Setelah memberi salam dan di jawab olehnya.
"Erwin ada?" Tanyaku basa basi, padahal sebelum berangkat kami sudah saling kirim pesan
"Ada ..silahkan masuk." Ucapnya .
Aku segera masuk dan menunggu Erwin di ruang tamu. Sedangkan Hana berlalu meninggalkan aku sendiri di ruang tamu.
Tak lama kemudian bukannya Erwin yang datang malah dokter Tiara yang mengatakan kalau Erwin sedang mandi.
Aku ditemani dokter Tiara. Kami mengobrol banyak hal. Aku dan keluarga Erwin memang dekat sejak aku jadi kontraktor pembangunan Toserba-nya.
"Kamu serius mau aku cariin calon?" Tanya dokter Tiara.
"Ya bolehlah, dok." balasku santai.
"Menurut kamu Hana cantik nggak?" Tanyanya lagi.
Aku bingung kenapa dokter Tiara bertanya padaku tentang si Hana. Karena aku pikir Hana itu sudah punya keluarga karena dilihat dari usianya sudah pantas memiliki suami bahkan anak.
Aku hanya mengerutkan keningku mendengar pertanyaan dokter Tiara.
"Cantik nggak?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Semua perempuan itu cantik, dok." Ucapku padanya.
Aku tak begitu merespon apa yang di katakan oleh dokter Tiara hingga akhirnya dia mengatakan kalau Hana itu masih sendiri. Dalam hatiku berkata apa hubungannya denganku dia bersuami ataupun tidak.
Aku hanya menjawab iya dan iya. Hingga Erwin datang menemuiku di ruang tamu dan dokter Tiara pun masuk meninggalkan kami.
Setelah urusan kami selesai akhirnya aku pamit pulang. Baru saja aku menyalakan mobilku satu pesan masuk di ponselku.
"Save nomor ini, Hana."
Aku tak membalas pesan tersebut.
"Berani juga ni cewek, nyuruh-nyuruh save nomornya."batinku.
Sesampainya di rumah aku langsung ke kamar membersihkan diri. Setelah itu aku berbaring di tempat tidur sambil memainkan ponselku. Kubuka kembali pesan yang masuk.
Aku save nomor Hana di ponselku. Tidak ada salahnya juga.
Tak lama kemudian ponselku berbunyi tanda ada pesan masuk.
"Assalamu Alaikum."
"Maaf mengganggu " balasnya lagi.
"Tidak apa-apa." jawabku.
Kami berbalas pesan sekitar sepuluh menit, setelah aku basa basi menanyakan kerjaaanya. Dia tak membalasnya lagi.
Aku menunggu balasan darinya tapi tidak kunjung di balas.
"Aneh... dia yang mulai chat malah nggak balas." Batinku.
Selang beberapa hari tak ada pesan yang di kirim oleh Hana. Kulihat foto profil WhatsAppnya hanya gambarnya yang membelakangi kamera.
Kuberanikan diri mengirimkan pesan padanya menanyakan kabarnya. Tapi tak ada balasan darinya padahal terlihat centang biru berarti dia membaca pesanku.
Entah kenapa aku menunggu balasan darinya. Akhirnya entah kenapa aku iseng - iseng menelponnya dan dia pun mengangkatnya.
"Hallo...Assalamu Alaikum." Ucapnya ketika telepon tersambung.
__ADS_1
"Waalaikum salam, " jawabku.
"Anda siapa ya?" Tanyanya.
Kenapa dia tanya siapa aku, padahal dia yang menyuruhku save nomornya.
"Sa--saya Rasya temannya Erwin." Ucapku gagap.
Lama tak ada sahutan dari sebrang sana.
"Oh iya saya ingat, bapak tau nomorku dari siapa?" Tanyanya dari seberang sana.
Waduh nih orang sudah pikun atau amnesia sih, jelas-jelas dia yang hubungin aku duluan minta di save nomornya, panggil bapak lagi.
"Lho anda kan yang pertama kirim pesan minta di save nomor ini?" Ucapku padanya. Aku tak mau dia geer kalau aku yang duluan menghubunginya.
"Tapi maaf ya Pak saya tidak pernah mengirim pesan sama pak Rasya." Ucapnya masih menyangkal.
Aku segera men-screen shoot pesannya padaku beberapa hari yang lalu dan mengirimkannya.
"Maaf itu bukan saya yang kirim, Pak." balasnya.
Tak lama kemudian ponselku berdering tanda ada panggilan masuk. Dan ternyata itu dari dokter Tiara. Dokter Tiara mengatakan kalau waktu itu dia yang mengirimkan pesan padaku dengan menggunakan nomor Hana.
Katanya Hana tidak enak hati dan menyuruh dokter Tiara untuk mengklarifikasi padaku.
Astaga ternyata yang aku temani chat kala itu adalah dokter Tiara bukan Hana.
Sejak saat itu aku penasaran dengan Hana. Aku sering mengirimkan pesan padanya. Kadang di balas kadang juga tidak, mungkin karena kesibukannya sebagai guru.
Hari terus berganti kami saling bertukar kabar walaupun hanya lewat pesan.
Ada rasa ingin selalu menghubunginya. Walaupun lebih banyak kecewanya karena pesanku tidak dibalasnya.
Tak ada pembicaraan yang bersifat pribadi.
Aku tak tau banyak tentang masalah pribadi Hana. Aku ingin bertanya pada dokter Tiara aku malu juga. Yang aku tau kalau dia masih sendiri, entahlah dia janda atau memang tak pernah menikah.
Karena desakan ibu agar aku segera mencari pendamping, apalagi putraku memberikan lampu hijau. Aku coba membuka hati. Entahlah apakah ini kepepet ataukah memang Hana di takdirkan Tuhan jadi jodohku akhirnya aku memberanikan diri untuk datang ke rumahnya. Aku tak memberitahukan kepada dokter Tiara atau siapa pun. Hanya Rafa yang aku ajak.
__ADS_1