
Dua hari kemudian, tepatnya malam Minggu dimana para muda mudi keluar untuk sekedar kencan atau hanya nongkron di kafe. Kami berdua mengajak dokter Tiara ke rumah. Aku dan Rayhan sepakat untuk mendekatkan mereka. Kebetulan Sabtu dan Minggu dokter Tiara tidak praktek. Jadi dia setuju saja untuk di ajak ke rumah. Pak Erwin tidak tahu dengan rencana kami berdua.
Ting tong
Suara bel berbunyi dan aku bisa menebak mungkin itu dokter Tiara. Karena Pak Erwin yang berada paling dekat dengan pintu otomatis dia yang membuka pintu.
"Assalamu Alaikum."
"Waalaikum Salam." balas Pak Erwin dan berbalik meninggalkan dokter Tiara tanpa menyuruhnya masuk terlebih dahulu.
"Dasar Pak Erwin tak ada sopan santunnya terhadap tamu."Umpatku dalam hati
Aku bergegas ke luar dan mempersilahkan dokter Tiara masuk.
Setelah kami berbincang sebentar, Rayhan dan Pak Erwin datang bergabung. Mungkin di ajak oleh Rayhan hingga dia mau bergabung. Ku lihat dari raut wajahnya dia merasa tidak ikhlas bergabung dengan kami.
"Pak Erwin dan dokter Tiara sudah kenal lama ya?" Tanya suamiku dan tatapannya ke Pak Erwin.
"Iya, Ray" Ucap Pak Erwin.
"Iya Pak"Jawab dokter Tiara.
Mereka bersamaan menjawabnya. Lucu juga seumuran mereka bertemu mantan.
"Tuh jawabannya kompak." Cerocosku.
Kelihatan Pak Erwin dan dokter Tiara begitu canggung.
"Aku ke dalam dulu siapkan makan malam." Ucapku memecah kecanggungan mereka.
"Aku juga mau ke toilet, tolong temani dokter Tiara, ya?" Ucap suamiku pada Pak Erwin
Aku mendorong kursi roda suamiku yang hendak ke kamar mandi dan ternyata itu hanya alasannya saja.
"Kok berhenti di aini, Sayang?"
"Aku mau nguping mereka, Sayang."
Rayhan menepuk jidatnya mendengar ucapanku.
"Kamu yah...udah kepo urusin orang malah kini tukang nguping lagi." Ucapnya menggelengkan kepala.
Dia menarik tanganku dan mengajakku ke kamar.
"Ngapain ke kamar? Jangan macam-macam minta jatah lagi." Ucapku tegas.
"Ayolah."
Aku hanya menurut dengannya.
__ADS_1
Sesampai di kamar dia membuka laptopnya dan tampaklah di layar dokter Tiara dan Pak Erwin. Ruang tamu adalah ruangan yang memang terpasang CCTV."
"Ahai...kenapa aku nggak kepikiran ya?" Ucapku sumringah.
"Ini namanya nguping elegan , di sini wajahnya jelas sama suaranya...heheh." Ucap Rayhan.
Terlihat di sana dokter Tiara dan Pak Erwin saling terdiam, Bi Rahmi kelihatan membawakan mereka minuman dan cemilan.
"Silahkan di minum, Win!" Ucap dokter Tiara.
Aku tertawa melihat mereka berdua. Hingga spontan aku memukul lengan suamiku karena gemesnya sama Pak Erwin yang begitu kaku.
Dokter Tiara seakan seperti tuan rumah padahal dianya yang tamu.
Lama mereka terdiam hingga dokter Tiara memulai percakapan mereka.
"Mau sampai kapan kamu kayak gini, Win?" Tanya dokter Tiara sendu.
"Aku tau aku salah, tapi setidaknya jangan benci aku,Win? Ucapnya kembali.
"Justru aku harusnya marah sama kamu karena kamu sudah menikah, sedangkan aku masih setia menyendiri sampai sekarang ini."
Dokter Tiara menumpahkan semua unek-uneknya sedangkan Pak Erwin hanya diam membeku.
"Tolong maafkan aku, agar hatiku merasa tenang." Lirih dokter Tiara.
Aku yang mendengar ucapan tulus dokter Tiara membuatku meneteskan air mata.
Aku segera menghapus air mataku yang lolos di pipi.
"Kita kayak nonton sinetronnya ikan terbang." Kata suamiku
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Impianku dari kecil sudah tercapai tapi hatiku kosong tanpa maaf darimu, Win!" Ucap dokter Tiara lagi.
"Aku pamit dulu, sampaikan pada bu Fani dan
pak Rayhan aku ada pasien." Terlihat dokter Tiara berdiri.
Aku bergegas keluar melihat dokter Tiara akan pulang. Aku merasa tidak enak karena meninggalkannya di ruang tamu.
Saat akan membuka pintu Rayhan memanggilku cepat. Aku segera melihat layar laptop kembali.Terlihat Pak Erwin memegang tangan dokter Tiara. Dan mereka kembali terduduk di tempat semula.
"Berani juga pria kaku itu pegang-pegang tangan.' batinku.
"Aku membencimu karena kamu meninggalkanku tanpa alasan yang pasti, Tiara,Seandainya kamu memberikan satu alasan saja agar bisa menunggumu ,aku akan lakukan, tapi nyatanya tak ada kan?" Ucap Pak Erwin.
"Justru itulah yang menjadi penyesalanku, Aku kira dengan meninggalkanmu aku bisa fokus dengan cita-citaku,aku pernah datang untuk menemui mu tapi kamu sudah pindah ke Kalimantan dan kuliah di sana.
__ADS_1
Mereka berbicara banyak saling menumpahkan perasaan mereka. Sungguh perjalanan cinta mereka sangat berliku. Tapi aku salut dengan dokter Tiara, dengan umurnya yang sudah termasuk sudah sangat dewasa dia belum menikah karena masih setia dengan seorang pria, tidak mungkin wanita seperti dia tidak ada yang menyukai, apalagi dia seorang dokter. Profesi yang sangat membanggakan.
Akupun segera keluar dari kamar dan menemui dokter Tiara.
"Maaf, dok aku tinggal lama soalnya si Kembar lagi rewel. "Ucapku berbohong.
"Nggak apa-apa, santai saja." Ucap dokter Tiara tersenyum.
Kemudian aku mengajaknya ke ruang makan untuk makan malam.
Kami makan berempat karena Rafa dan si Kembar sudah makan lebih awal.
"Oh iya, dokter sekarang tinggal sama siapa?" Tanyaku.
"Berdua dengan ART." ucap dokter Tiara.
"Bisa bertiga dengan Pak Erwin." Ucap suamiku dengan wajah serius.
"Uhuk...uhuk.." Pak Erwin langsung tersedak dengan ucapan Rayhan.
Dokter Tiara langsung menyodorkan minuman ke Pak Erwin.
"So sweet." Ucapku dalam hati, bukan aku yang di perlakukan begitu aku yang berbunga-bunga.
"Pak Erwin langsung meminum air putih yang di berikan oleh dokter Tiara.
"Bagaimana dokter Tiara, mau?" Tanya Rayhan lagi.
"Mau apa?" Tanya dokter Tiara bingung.
"Tinggal bertiga sama Pak Erwin " Ceplos Rayhan lagi.
Terlihat muka ke duanya merona menahan malu.
"Nggak ah ...aku tidak mau merebut yang sudah jadi milik orang lain."Ucap dokter Tiara sambil mengedipkan bahunya.
"Dokter nggak merebut kok, Pak Erwin juga statusnya single." Ucapku menegaskan kata single.
Dokter Tiara heran dan menatap sekilas Pak Erwin.Dan Pak Erwin tersenyum simpul seakan mengiyakan pernyataan ku. "Ternyata muka kaku ini bisa tersenyum juga dan senyumnya manis juga." batinku.
Aku dan Rayhan saling menatap mereka kelakuan manusia empat puluh tahunan itu saling curi-curi pandang.
Kami kembali ke ruang tamu, Kami bercerita bersama meskipun Pak Erwin menjawab seadanya saja.
Karena keasyikan berbincang jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan Dokter Tiara akhirnya pamit pulang.
Karena merasa khawatir dokter Tiara pulang sendirian, akhirnya Pak Erwin yang mengantarnya. Awalnya dokter Tiara menolak karena dia sudah terbiasa pulang larut malam. Tapi hujan deras di luar sana membuat aku dan Rayhan khawatir. Sekalian juga lebih mendekatkan mereka.
Pak Erwin mengantar dokter Tiara menggunakan salah satu mobil yang ada di rumah sedangkan mobil dokter Tiara akan di antar keesokan harinya.
__ADS_1
"Semoga mereka bisa CLBk." Ucapku pada suamiku ketika kami berjalan ke kamar.
"Kalau Tuhan berkehendak, semuanya bisa terjadi. Buktinya kita bisa menikah padahal itu aku anggap mustahil bagiku." Ucapnya suamiku.