SESAL

SESAL
Malam Pertama


__ADS_3

Entah sengaja atau memang susah di buka, dia dengan pelan sekali menarik turun resleting nya.


"Cepat bukanya, Kak, aku kebelet pipis," ucapku.


Karena memang dari tadi panggilan alam itu sudah mendesak untuk keluar. Setelah merasa resleting sudah terbuka, aku dengan cepatnya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Aku agak lama membersihkan diri di dalam kamar mandi.Karena keramas akibat rambutku yang lepek banget.


Tok tok tok


Dari luar terdengar Rayhan mengetuk pintu sambil berteriak.


"Kamu ngapain sih, Sayang? lama banget mandinya."


"Tunggu bentar, Kak."


Tak lama kemudian aku membuka pintu kamar mandi, dan diapun langsung masuk dengan terburu-buru.


Setelah mengeringkan rambut dan menyisirnya akupun duduk di sofa sambil membuka gawaiku. Banyak ucapan selamat dari teman dan rekan kerjaku.


Setelah membaca semua pesan whatsApp aku kemudian beralih di akun sosial mediaku. Postingan pertama yang aku lihat dari salah satu akun berita yang aku ikuti adalah foto pernikahan kami, disitu tertulis " Pernikahan megah putra salah satu pengusaha batubara di kota ini" Aku menggeser turun muncul lagi foto pernikahan kami "Pemilik Hotel R&R akhirnya mengakhiri masa lajangnya".


Aku terus menggeser turun beranda akun sosmed ku, banyak berita tentang pernikahan kami.


Pantasan pestanya sangat mewah dan megah ternyata suamiku dan keluarganya bukan orang biasa.Ternyata hotel ini milik keluarganya juga. Kenapa aku nggak tau apa-apa tentang suamiku dan keluarganya.


"Syukur-syukur suamiku pengusaha, gimana kalau penjahat, atau pembunuh bayaran," kataku dalam hati sambil bergidik ngeri.


Ternyata dari tadi Rayhan sudah keluar dari kamar mandi dan melihatku mengangkat ke dua bahuku membayangkan dia penjahat atau pembunuh bayaran.


"Kenapa?" tanyanya membuyarkan lamunanku.


"Kenapa nggak bilang kalau hotel ini milik kakak?" tanyaku.


"Kan kamu nggak nanya," ucapnya sambil duduk di sampingku.


Aku hanya menatap ponsel yang ada di tanganku. Perasaan gugup ketika dia makin mendekat.


"Kakak pengusaha batubara juga?" tanyaku


"Tepatnya papa yang punya usaha itu, aku lebih tertarik di usaha pariwisata dan perhotelan.


"Hotel R&R murni hasil usahaku sendiri, sama tempat lamaran kita itu."


"Ternyata kakak hebat, " kataku memujinya.


"Siapa dulu dong, Kumbang," ucapnya sambil menepuk dadanya

__ADS_1


"Sombong" ucapku terkekeh.


"Kamu capek?" tanyanya sambil mempermainkan ujung rambutku.


"Sedikit," ucapku.


Wajahnya semakin mendekat, deru napasnya dengan lembut menerpa pipiku.


Cup


Ciuman mendarat di pipi sebelah kanan, kemudian berbisik.


"Aku mau nagih janji," ucapnya dengan senyum menggoda.


Jantungku berdegup kencang, saat dia membelai pipiku, dia membalikkan wajahku menghadapnya, netra kami saling menatap. Perlahan tapi pasti dia mendaratkan ciuman lembut di bibir. Mungkin karena kami sudah melakukan hal itu sehingga dia tidak se-kaku saat pertama ciuman.


Sentuhan, belaian nikmat yang membuat diri melayang menembus nirwana, memasrahkan apa yang seharusnya dia nikmati.


Tanpa protes, tanpa penolakan, tubuh menyambut dengan terbuka setiap sentuhan itu hingga penyatuan yang indah antara dua insan menggapai indahnya surga dunia.


"Terima kasih, Sayang," ucapnya.


Hanya bisa tersenyum tanpa bisa mengatakan apa-apa. Setelah membersihkan diri di kamar mandi aku langsung terbuai dalam mimpi indah didalam pelukannya.


Baru beberapa menit tertidur, terasa ada yang mencium tengkuk dari belakang.. Aku mencoba tidur kembali tapi sentuhan itu seakan membuat diri berdesir kembali. Sungguh sentuhan itu membuatku tidak bisa menolaknya.Akhirnya terjadilah apa yang seharusnya terjadi di dalam kamar yang menjadi saksi bisu menyatunya dua insan.


Dia membangunkanku untuk shalat subuh. Badanku seakan remuk, perih di bagian bawah akibat perbuatannya semalam.


Ketika akan turun dari tempat tidur aku meringis karena badanku sepertinya habis lari marathon.


"Ada yang sakit?" tanyanya khawatir.


Dengan ketus aku menjawabnya."Gara-gara kakak, badanku sakit semua."


"Kamu nikmatin juga, kan?" ucapnya tersenyum.


Aku hanya mengerucutkan bibir, emang iya sih aku tidak memungkirinya menikmatinya juga.


Aku beranjak ke kamar mandi,


karena waktu hampir pagi aku dengan cepat mandi wajib, dan kemudian shalat subuh berjamaah dengannya walaupun agak telat.


Setelah shalat dia menyuruhku kembali istirahat, tapi susah memejamkan mata kalau sudah mandi pagi, aku hanya terbaring saja sambil melihat-lihat ponselku.Tak lupa mengirim pesan kepada Fira tentang Rafa, Syukurlah Rafa enteng saja.


"Kamu nggak tidur?" tanyanya.


"Nggak bisa tidur kalau sudah mandi, Kak," ucapku.

__ADS_1


" Katanya aku bisa sepuasnya, nyatanya baru tiga ronde udah KO," katanya menggodaku.


"Ish ... apa sih,Kak, " ucapku sambil menutup seluruh tubuhku dengan selimut.


Dia masuk juga ke dalam selimut, sambil tergelak mengejekku.


"Kamu tahu nggak, kamu itu sangat nikmat, Sayang, sungguh membuatku ingin dan ingin terus melakukannya denganmu, "ucap Rayhan.


"Aku bisa bonyok, Kak," ucapku asal.


"Masa begituan bonyok!! Yang benar itu pahalanya dapat nikmatnya juga dapat, Iya,kan?"


Katanya sambil menarikku tidur di lengannya sebagai bantal.


Perasaan begitu damai dalam pelukannya, merasa di cintai, di lindungi dan di perhatikan.


Aku memainkan telunjukku di dada bidangnya yang terbungkus baju koko yang dia pakai habis shalat subuh.


"Ada yang bangun, Sayang," ucapnya menatapku.


Aku hanya menaikkan alisku heran.


"Siapa?" tanyaku keheranan.


Dia langsung mengambil tanganku lalu menuntunnya menyentuh sesuatu dibagian tubuhnya.


Mataku membulat sempurna ketika tangan menyentuh benda tersebut


"Satu kali lagi, boleh?" pintanya dengan suara serak.


Tanpa persetujuan dia langsung melakukan apa yang dia inginkan. Tangannya juga tidak ketinggalan mengelus dan meraba bagian tubuh yang paling sensitif. Dia semakin lihai dalam memberikan sentuhan-sentuhan itu.


Sungguh nikmat tiada tara, mereguk gairah yang semakin menggebu.Sehingga kembali terulang kenikmatan yang memabukkan sebagai pasangan yang halal.


Karena kelelahan kami berdua tertidur pulas. Kami tertidur hingga jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku mengerjapkan mata dan meregangkan otot-otot yang terasa remuk. Kulihat Rayhan masih tertidur di sampingku. Aku menatap wajah yang begitu tampan di depanku, rahang yang tegas yang sedikit brewok yang membuat dia semakin maskulin.


Tanpa sadar aku memuji pria yang ada di depanku itu.


"Kenapa,?mau ronde selanjutnya?" Ucapnya sambil tersenyum menggoda.


"Dasar suami mesum," ucapku langsung bangun dan meninggalkan tempat tidur.


"Hei, mau kemana?," teriaknya sambil terkekeh melihat tingkahku yang langsung berlari hanya menggunakan selimut.


"Aku lapar , Kak" ucapku sambil berjalan ke arah kulkas dan mengambil apel dan mengisi perut perut yang memang sudah lapar.


Bukannya menolak keinginannya tapi butuh makan juga supaya ada tenaga sebelum melakukannya.

__ADS_1


Dia kemudian mengambil gawainya dan menelpon seseorang.


__ADS_2