
"Terimakasih banyak, karena mencintaiku sedalam ini, mungkin sekarang ini aku belum sepenuhnya mencintai Kakak, tapi aku janji akan berusaha untuk membuka hati ini hanya untukmu, Kak." ucapku.
Rayhan mengangguk dan tersenyum menatapku.
"Lusa aku akan balik , kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?"
"Iya, Kak," jawabku singkat.
"Ingat ya , kamu jaga hati dan mata kamu!" ucapnya mengingatkan.
" Astaga, seharusnya aku yang ngomong begitu sama Kakak, mana ada juga yang mau sama seorang janda kayak aku! Kak," ucapku merendah.
"Husshhh.... jangan ngomong begitu, buktinya aku lebih tertarik sama janda ketimbang gadis," katanya sambil terkekeh.
Kemudian dia berbisik.
"Janda itu lebih pengalaman dan menantang" bisiknya sambil terbahak.
Aku reflek memukul lengannya sambil mengomel.
"Dasar mesum!" ucapku.
Karena hari sudah sore jadi kami memutuskan untuk kembali ke rumah.
...******...
Tak terasa hari begitu cepat berlalu, pernikahanku dengan Rayhan tinggal dua Minggu lagi. Keluarga Rayhan yang meminta supaya tidak menunda-nunda dalam hal kebaikan.
Karena ini pernikahan kedua bagiku, inginnya sih pernikahan sederhana tapi dari pihak keluarga Rayhan tidak setuju, Mereka menginginkan pernikahan yang mewah untuk anak laki-laki mereka satu-satunya. Pestanya akan diadakan di tempat tinggal Rayhan, tapi akad nikah tetap akan di adakan di rumah orang tuaku. Semua persiapan pernikahan diurus oleh keluarga Rayhan.
Hari sudah beranjak senja, setelah membersihkan diri aku menemani Rafa yang sedang bermain di kamarnya. Bi Rahmi kemudian datang dan mengatakan kalau Mas Rasya datang. Aku mengajak Rafa turun
untuk menemui ayahnya.
Aku melihat Mas Rasya duduk di ruang tamu sambil memainkan gawainya. Setelah melihat kami dia langsung berjalan kearah Rafa dan memeluk dan menggendongnya.
Aku kembali ke dapur untuk membuatkan secangkir teh dan membawakannya. Dia sedang memangku Rafa sambil memperlihatkan gawainya. Entah apa yang dilihat Rafa di gawai Mas Rasya.
"Silahkan diminum Mas," ucapku padanya.
"Terimakasih," ucapnya sambil menampilkan senyum khasnya.
Dia kemudian menyeruput teh yang aku buat.
Setelah Rafa beranjak kembali bermain di depan televisi, hanya menyisakan aku dan Mas Rasya di ruang tamu.
"Aku kesini mau ngajak kamu keluar makan malam," ucapnya.
"Maaf, aku nggak bisa, Mas," ucapku menolak.
"Kita bawa Rafa juga," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Nggak bisa, Mas,'
"Ayolah, Fan, sudah lama kita nggak keluar bertiga," ucapnya memohon.
"Ajak Rafa aja, aku tetap nggak bisa, Mas," ucapku tetap menolak.
"Kali ini aja, Fan," katanya memelas.
" Maaf, aku tetap nggak bisa, Mas."
"Kenapa?? Kita kan perginya bertiga."
"Apa kata calon suamiku nanti kalau aku keluar bersama seorang pria apalagi kalau dia tahu kalau pria itu mantan suamiku," kataku memberikan alasan yang sesungguhnya menolak ajakannya.
"Hahhhh!!! Maksud ka --- mu, Fan?" tanya Mas Rasya kaget.
"Iya, Mas, dua Minggu lagi aku akan menikah.' ucapku padanya.
Kulihat wajah Mas Rasya seketika berubah murung, terlihat jelas kecewa di raut wajahnya.
Sepertinya Mas Rasya tidak begitu percaya dengan apa yang aku katakan.
"Kamu serius, Fan?" tanyanya lagi.
"Iya, Mas, buat apa juga aku bohong."
Mas Rasya mengusap wajahnya seakan tidak terima dengan apa yang aku katakan.
"Rafa seperti biasanya, Mas bisa datang kapan pun mau menemuinya" jawabku.
"Tapi alangkah baiknya Rafa bersama kedua orang tua kandungnya sendiri dalam satu atap," katanya menjadikan Rafa alasan.
"Maksud, Mas?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"Tolong pikirkan kembali Fan, kita rujuk ya, kumohon ...." pintanya lagi.
"Aku tau aku sudah menyakiti kamu, tapi tidak adakah sedikitpun rasa cintamu yang tersisa untukku?"
Cinta itu masih ada Mas,aku tak memungkirinya meskipun sudah terkikis oleh rasa sakit karena ketidak setiaanmu, kataku dalam hati.
"Maaf, Mas, biarkan aku meraih kebahagiaanku," ucapku kembali.
Aku berusaha bersikap setenang mungkin, padahal dalam hati ada perasaan sedih mengatakan semua itu di hadapan Mas Rasya. Biar bagaimanapun dia pernah mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan.
Mas Rasya hanya tertunduk sambil mengaitkan kedua tangannya.
" Aku minta maaf Fan, aku nggak tau diri memintamu kembali, padahal aku sudah menyakitimu."
" Aku memang sampah yang tak layak untuk di pungut kembali."
"Aku menyesal karena kebodohanku sendiri, aku harus kehilangan kamu ,Fan."
__ADS_1
"Maaf, Mas,' ucapku merasa bersalah dengan ucapan yang pernah viral di sosmed sewaktu bertemu Lestari.
"Kamu nggak salah, Fan, aku yang bodoh,' ucapnya sendu.
"Aku pamit Fan, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu." ucapnya sambil melangkah kearah pintu.
Sebelum betul-betul keluar dari pintu, dia menoleh menatapku, kulihat matanya berkaca-kaca menatapku.
Tak terasa air mata yang dari tadi aku tahan akhirnya terjun bebas dari pelupuk mata.
Kulihat Mas Rasya juga mengusap air mata yang sempat menetes di sudut matanya.
'Aku titip Rafa," ucapnya dengan suara serak.
Aku hanya mengangguk tanpa bisa mengatakan apapun.
"Assalamu Alaikum"
"Waalaikum Salam" balasku dengan sesegukan.
Setelah menutup pintu, aku bergegas masuk ke kamar. Aku terduduk di tempat tidur.
Ya Allah semoga ini keputusan yang terbaik buatku, Aku percaya Rayhan akan menjadi imam yang terbaik buatku.
Mas Rasya hanya masa lalu dan Rayhan adalah masa depanku.
Aku sudah menutup buku untuk Mas Rasya dan aku akan membuka lembaran baru dengan Rayhan.
...******...
Rasya's POV
Niatnya ingin mengajak Fani keluar untuk mengenang kembali masa-masa indah kami ketika masih berstatus suami istri. Tapi keinginan itu hancur berkeping-keping saat dia menolak dan mengatakan kalau dia akan menikah dua Minggu lagi.
Hancur sudah harapanku untuk rujuk dengannya kembali. Hatiku sakit, perih tak terkira menerima kenyataan kalau wanita yang aku cintai, ibu dari anakku akan bersanding dengan pria lain.
Aku berteriak di dalam mobil merasa menyesal, kenapa bisa tergoda dengan wanita lain yang ada di luar sana.
"Bodoh kamu Rasya!!" umpatku pada diri sendiri.
Bukan hanya Fani yang aku pikirkan tapi juga putraku, Rafa. Belum tentu ayah tirinya nanti akan memperlakukan anakku dengan baik.
Aku mendokaan Fani semoga bahagia dengan pilihan hatinya, tapi di hatiku bagaikan tersayat sembilu ketika mengatakannya. Rasa sesak, sakit, hancur melebur jadi satu.
Aku tak sanggup melihatnya dengan pria lain.
Aku teringat dengan tawaran Bos beberapa hari yang lalu. Dia menawarkan aku posisi sebagai pimpinan cabang dari perusahaan yang di buka di luar kota. Aku menolaknya waktu itu karena aku tidak mau meninggalkan Fani dan Rafa. Aku optimis kalau Fani akan mau aku ajak rujuk kembali. Aku tahu Fani akan luluh, karena sifatnya yang terlalu baik dan cepat iba pada orang, aku akan memanfaatkan kelemahannya itu dengan terus mengejar dan membujuknya untuk menerimaku kembali.
Tapi kini harapan itu sirna, aku akan mempertimbangkan tawaran Bos ku , aku tidak sanggup melihat Fani dengan pria lain. Aku akan pergi untuk sementara untuk melupakan sakit hati yang aku buat sendiri karena kebodohanku.
...*******...
__ADS_1