
"Ayla bangun" teriak seorang laki-laki dari bilik kamar gadis itu, sementara yang diteriaki tidak menghiraukan suara yang sudah berkali-kali memanggil namanya.
"Aylaaaaaa lo mau sekolah nggak sih, lihat itu sudah jam berapa!?" ucap Raffa mengetuk-ngetuk pintu kamar Ayla, tapi tetap saja tak ada respon apapun di dalam sana. Ya, Ayla masih tertidur "Aylaaa lo mau bangun sekarang atau pintu kamar lo gue dobrak yaah" ucap Raffa memperingati " satu..... duaa.... tii..." ucapan Raffa tertahan, terdengar sesuatu bergerak di balik kamar "astagaa jangan bego, gila loh ya. Iyaa iyaaa gue udah bangun kok tungguin, awas aja lo ninggalin gue!" balas Ayla pada Raffa yang masih setia menunggunya di balik pintu kamarnya, Ayla langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk bersiap ke sekolah.
Tak perlu waktu lama Ayla sudah siap dengan seragam sekolahnyaa, lalu ia segera melangkahkam kakinya untuk menyusul Raffa yang sudah menunggu di bawah.
"pagii" ucap Ayla penuh semangat pada Devan dan juga Raffa yang sedang sarapan di meja makan, "kebiasaan banget sih dek bangun siang terus kasian tuh Raffa harus bangunin lo setiap hari tapi lo nya susah banget kalo di bangunin" ucap Devan sambil memakan sarapannya lalu melirik Ayla dengan tatapan mengejek "iih Raffa aja ga keberatan kok" ucap Ayla membela diri "emg iyaa Raf?" tanya Devan sambil menahan tawanya, sementara Ayla memasang wajah badmoodnya pada kaka laki-lakinya itu "sebenernya sih keberatan gue van, tapi untung sayang jadinya ga terasa berat" ucap Raffa sambil tersenyum meledek Ayla, tetapi gadis itu hanya membalas sinis senyum yang Raffa berikan “bisa aja lo Raff" tawa Devan tiba-tiba yang membuat Ayla semakin badmood dibuatnya.
Ayla langsung meneguk susunya sampai habis lalu menyambar tas sekolahnya, kemudian berjalan keluar rumah untuk berangkat ke sekolah "Raffa cepetan berangkat" ucap Ayla pada Raffa tanpa menghentkan langkahnya, yang empunya diri pun langsung mengiyakan "gue duluan ya Van" pamit Raffa pada Devan seraya menepuk pundaknya "tungguin gue kambing" balas Devan setengah berlari.
Kalau kalian bertanya ke mana orang tua Devan dan Ayla, jawabannya adalah orang tua mereka sudah berangkat kerja sebelum mereka bangun, lalu pulang malam ketika mereka sudah tertidur itu sebabnya terkadang Ayla dan Devan merasa kesepian, mereka memang hidup serba berkecukupan. Tapi, apalah artinya itu semua jika mereka tidak bisa merasakan perhatian sepenuhnya seperti anak-anak lain di luar sana? Biarpun Ayla tahu orang tuanya bekerja keras untuk dirinya dan abangnya tapi tetap saja Ayla butuh untuk sekedar meghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya.
"La muka lo jangan ditekuk kaya gitu kenapa sih? udah jelek tambah jelek loh La" ucap Raffa pada Ayla yang sedang berdiri di samping motornya, gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada "ihhs gini-gini juga sahabat lo kan?" balas Ayla tak mau kalah
"iyaaa, nggak usah ngambek lagi ya nanti gue kuncir mulut lo mau?"
"apaaan sih lo!" ucap Ayla dengan raut wajah kesal "yaudah ayok naik ntar telat lagi" ucap Raffa sambil memakaikan helm ke kepala Ayla seperti biasa, kemudian Ayla menaiki motor lelaki itu "udah La?" tanya Raffa memastikan
"yaiya sudah lah"
"kalau sudah turun La"
"cepetan Raff nanti telat lo mau dihukum?"
"nggak lah"
"yaudah jalan"
__ADS_1
"iyaa sayang"
"pala lo peyang" ucap Ayla kesal dengan tingkah sahabatnya yang selalu menguji kesabarannnya. Raffa pun menyalakan mesin motornya lalu pergi meninggalkan komplek rumah mereka untuk menuju ke sekolah. Selama di perjalanan tak ada yang membuka suara, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Raffa tersenyum melihat gadis itu dari kaca spionnya ‘sampe sekarang pun gue gatau la, kenapa gue bisa se-sayang ini sama lo. Padahal lo itu cuma sahabat gue dari kecil kita udah sama-sama, yang gue tau lo itu beda La dari cewe lain lo ga gampang baper, ga gampang didapetin juga. Gue gamau kehilangan lo Laa, dan satu hal yang gue paling suka dari lo, lo itu manis, lo itu ratu di hati gue buat saat ini dan selamanya’ kata lelaki berkacamata itu pada dirinya sendiri, tanpa ia sadari dari tadi Ayla memperhatikannya dengan tatapan aneh, bagaimana tidak? Raffa senyum sendiri tanpa alasan yang jelas.
"ehh lo gila ya cengengesan sendiri dari tadi!?" tanya Ayla dengan penuh curiga, yang ditanya hanya tertawa membuat gadis di belakangnya semakin bingung dibuatnya.
"iya gila karena lo La"
Plakkk....
Ayla memukul helm yang di pakai Raffa, anehnya bukannya kesakitan ia malah tertawa
"bisa ae cengcorang"
"Nggak usah ketawa lo, ubur-ubur"
"yee serbet bakso"
“ganteng tapi masih jomblo”
“nanti kalo gue punya pacar lo sedih lagi” ucap Raffa menyeringai
“ya nggaklah pede banget lo”
“tapi kamu sayang aku kan?” tanya lelaki itu pada gadis yang tengah menatapnya lewat kaca spion
"yaiyalah, lo kan sahabat gue Raff pake nanya lagi lo" balasnya. Ia memberikan senyum, tanpa Ayla sadari ada hati yang pedih di dalam sana, entah kenapa bagi Raffa ketika sahabatnya hanya menganggap dirinya sebatas sahabat , Raffa merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya.
__ADS_1
Raffa bicara dalam hati ‘iya selamanya sahabat ya La, ga akan pernah lebih’ ia melirik gadis itu kembali dari kaca spionnya dan tatapan mereka bertemu "nyetir yang bener Raffa ngaca mulu lo, muka lo nggak bakalan berubah mau dikacain sepanjang hari juga. Yang ada tuh kaca pecah di liatin lo terus"
"ehh gue ganteng yaahh, banyak La yang ngatri"
"pede banget lo, cengcorang"
"tapi lo masih jomblo tuh"
"jomblo itu pilihan La" ucap Raffa "nasib buat lo mah, lagian lo nggak pernah punya pacar kenapa sih?" tanyanya pada sahabat lelakinya itu ‘nunggu lo peka la, gue maunya pacaran sama lo doang’ batin Raffa tanpa berani mengunggkapkan yang sebenarnya "karenaku selow sangat selow" seru Raffa yang membuat gadis itu kesal
Tak terasa sudah 30 menit mereka berbincang selama di perjalanan, sekarang mereka sudah berada di parkiran sekolah SMA Mentari.
Ayla langsung membuka helmnya dan memberikan pada Raffa begitupun lelaki itu juga melepas helmnya, lalu di letakan di atas motor. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju kelas. Raffa merangkul Ayla, membuat beberapa pasang mata yang sedang duduk santai memperhatikan mereka detik itu juga, keduanya jadi pusat perhatian sepanjang koridor kelas
Semua murid di SMA Mentari tahu jika Raffa dan Ayla bersahabat. Bahkan, sebagian dari mereka mengharapkan keduanya mengganti status menjadi sepasang kekasih.
"kak Raffa kapan nembak ka Ayla?"
"Ayla jangan cuek-cuek sama Raffa dong!"
"kak Raffa sama gue aja deh yuk!"
Dan berbagai seruan lainnya menghiasi perjalanan mereka menuju kelas. Tapi yang diteriaki hanya acuh saja tak menanggapi sedikit pun. Begitulah Raffa, hanya pada Ayla ia bersikap beberda menjadi sosok yang jail, perhatian, bawel, suka bercanda, Raffa akan berubah 180° pada perempuan selain Ayla. Raffa memang ramah tapi hanya sekedarnya saja, tidak seperti saat ia bersama Ayla dan sahabat-sahabatnya yang lain yaitu Kaffel, Karrel, Nadira, juga Devan.
“Aiihhh aiihh baru dateng nih sepasang kekasih” ucap Karrel pada kedua sahabatnya itu.
“BERISIK LO!” ucap mereka bersamaan yang membuat Karrel bungkam tak berani bicara lagi
__ADS_1
-----
😻😻😻