
Satu kali keburukan akan menghapus seribu kebaikan. Kesalahan terbesar Mas Rasha adalah pengkhianatan. Setelah Rafa mengetahui alasan kami berpisah dulu. Terlihat perubahan sikapnya terhadap papa kandungnya. Anak seusia dia memang pemikirannya masih labil. Aku tak mau masalah ini berpengaruh pada dirinya.
Akhir-akhir ini dia tak kerumah papanya. Dia malah menghabiskan waktu bersama Rayhan. Mereka memang seperti layaknya anak dan ayah kandung. Walaupun anak sambung tapi Rayhan tak membeda-bedakan mereka. Kasih sayang dan perhatikan sama dia berikan pada anak-anaknya.
Suamiku juga menyadari perubahan sikap Rafa pada ayah kandungnya. Sehingga dia mencoba memberikan pengertian pada Rafa. Kami juga tak mau di anggap mempengaruhi Rafa.
"Kamu tidak nginap ke rumah Papa, Raf?" Tanyaku ketika kami sedang di taman belakang.
"Nggak, Ma." Ucapnya singkat.
"Tumben nggak ke sana?" Tanya suamiku.
"Lagi pingin sama Papa Ray dan adik-adik." Katanya lagi.
"Tau nggak Ma...Kak Rafa udah pacaran." Ujar Fadiyah ketika kami bertiga sedang asyik bicara.
Aku dan Rayhan langsung saling menatap.Sedangkan Rafa begitu geram melihat Fadiyah.
"Kamu tau dari mana?" Tanyaku pada Fadiyah.
"Jangan dengarkan Fadiyah, Ma.Dia bohong." Sangkal Rafa.
"Cie ..cie...Rafa udah punya cewek." Ejek suamiku.
Jangan di tanya Rafa begitu malu dengan ejekan Rayhan.
"Nggak, Pa...aku nggak pacaran." Sangkalnya lagi.
"Kak Rafa boong, Pa...nih ada chatnya." Ucap Fadiyah.
Rafa baru sadar kalau ponselnya ada di tangan Fadiyah.Dan langsung mengambil ponsel tersebut dari adiknya.
"Apa katanya, Dek? Tanya Farhan.
"Tuh cewek namanya Almira, dia kirim gambar love sama Kak Rafa." Terang Fadiyah.
Aku dan Rayhan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Fadiyah yang sok tau.
"Emang benar kamu udah punya pacar, Raf?" Tanya Rayhan.
"Yaelah ..Papa Ray...Fadiyah di percaya." Ucapnya.
"Tapi kan kalau love itu artinya cinta, kan, Pa?" Ucap Fadiyah.
"Iya ..tapi nggak selamanya juga orang kirim gambar love itu artinya pacaran." Ucap suamiku.
__ADS_1
"Oh gitu...yah ..ntar aku mau kirim gambar love sama ketua kelasku." Ujar Fadiyah manggut-manggut.
"Eh ..jangan...jangan." Ucap Rayhan cepat.
"Lho, ko nggak boleh sih, Pa?" Tanyanya lagi.
Rayhan bingung mau jelasin apa pada Fadiyah.
"Kamu jelasin sama anak kamu nih," ucapnya padaku.
"Emang cuma anak aku aja? kan anak kamu juga!" Ucapku padanya.
"Emang aku bukan anak papa, ya? Tanya Fadiyah dengan wajah polosnya.
"Anak pungut." Ujar Farha yang dari tadi diam saja.
Hua ...hua....hua... tangis Fadiyah begitu kencang padahal dia sudah SD tapi kalau nangis masih seperti anak umur dua tahun.
Jadi ramai deh kalau begini. "Gara-gara kamu sih." Aku menyalahkan Rayhan.
Rayhan lalu menggendong Fadiyah dan membujuknya.
"Kamu anak Papa dan Mama, Kak Farha cuma bercanda." Bujuk Rayhan.
"Iya, Sayang!" Ucap Rayhan mencium gemas pipi Fadiyah.
Ya begitulah kalau kita semua kumpul pasti ramai. Fadiyah yang paling sering menangis di antara mereka. Cuma dia yang mau usil dengan saudara-saudaranya, sedangkan giliran dia yang di ejek pasti dia akan menangis. Sedangkan anak bungsuku Fadhil, sangat cuek dan kalem. Karakternya seperti Farha.
Aku mendidik anak-anakku hidup sederhana. Hanya waktu-waktu tertentu aku izinkan mereka main handphone. Yaitu pada hari libur, itupun tidak bisa lewat dari dua jam dalam sehari.
Sedangkan Rafa, aku sudah izinkan memiliki ponsel. Tapi harus tau waktu. Mas Rasya selalu memberikan barang-barang pada Rafa walaupun Rafa tak memintanya. Baru-baru ini dia membelikan motor baru bagi . Bukannya aku tak bisa membelikannya tapi aku tak ingin membiasakan dia hidup boros. Motor yang lamanya baru satu tahun kini Mas Rasya membelikannya lagi.
Beberapa kali aku melarang Mas Rasya untuk memberikannya tapi dia mengatakan kalau itu sudah kewajibannya dan hanya ingin membahagiakan anak semata wayangnya.
Setelah drama bujuk membujuk Fadiyah selesai. Dan dia kembali bermain. Aku, Rayhan dan Rafa kembali berbincang. Aku mau anakku terbuka. Kami bukan hanya sebagai orang tua saja tapi sebagai teman dan sahabat bagi anak-anakku. Apalagi anak seusia Rafa sangat rentang dengan prilaku ugal-ugalan dan pergaulan bebas di luar sana.
"Mama nggak ngelarang kamu pacaran, kalau kamu memang cinta sama dia kamu harus jaga dia, jangan rusak dia, jangan lakukan hal-hal yang di larang oleh agama, ingat!!kamu punya adik perempuan" Nasehatku padanya.
"Astaga Mama... aku nggak punya pacar. Walaupun ada beberapa cewek yang deketin aku, tapi aku nggak mau pacaran, Ma." Ucapnya serius.
"Betul itu, Raf, jangan mudah mengobral cinta sama cewek, ikutin jejak Papa Ray hanya jatuh cinta sekali ya..sama Mama kamu yang cantik ini." Ujar suamiku bangga sambil merangkul ku.
"Iya kah?" Tanya Rafa serius.
"Masa Papa bohong, kamu pasti nggak percaya kalau Papa jatuh cinta sama Mama kamu kala Mama kamu ini masih SD, bahkan masih jaman dia ingusan" Ucap Rayhan terkekeh sambil menunjuk Fadiyah yang selalu mengisap ingusnya karena habis menangis.
__ADS_1
"Aku nggak mau ah...sama cewek ingusan...jijik." Ucap Rafa mengedikkan bahunya.
Pas Rafa mengatakan jijik soal ingus, Fadiyah usil lagi dan dia malah mendekat ke Rafa dan menjadikan lengan baju Rafa sebagai tisyu untuk menghilangkan ingusnya.
"Fadiyah!!" Teriak Rafa.
Fadiyah malah terkekeh dan berlari meninggalkan Rafa.
"Awas kamu, ya..!! Teriak Rafa dan mengejar Fadiyah.
Suara teriak dan tawa kembali memenuhi halaman belakang. Di tambah Farhan juga ikut mengejar Fadiyah. Dan setelah Fadiyah berhasil di tangkap Rafa menggelitik adiknya. Begitulah Rafa se-marah apapun kepada adik-adiknya, dia tak akan tega memukul ataupun menyakiti adik-adiknya.
"Sudah...jangan di gelitik lagi nanti dia ngompol." Ucapku pada Rafa.
"Minta maaf sama Kakak." Perintah Rafa pada adiknya.
"Maaf kakak guanteng." Ucap Fadiyah dan mencium pipi Rafa
"Pasti ada maunya, iya, 'kan? Curiga Rafa.
"Kita makan bakso ntar sore ya, Kak?" Pinta Fadiyah sambil manaik turunkan alisnya.
"Aku ikut." Semuanya serempat minta ikut.
"Mana muat naik motor." Ucap Rafa lagi.
"Fadiyah nggak usah ikut." Ucap Farha lagi.
Akhirnya Fadiyah nangis lagi. Dan Farha tersenyum puas lagi.
Entah kenapa kedua anak perempuanku itu tak pernah akur. Tapi mereka saling peduli. Mungkin karena Farha tidak menyukai sikap usil adiknya.
"Kalau nggak berhenti nangis, nggak jadi makan baksonya." Rafa memperingati Fadiyah.
Dan spontan tangis Fadiyah berhenti.
"Begitu dong adik cantik " Ucap Rafa mencubit gemas pipi Fadiyah.
"Papa juga ikut."
"Mama juga."
Akhirnya kami sepakat makan bakso nanti sore sekalian jalan-jalan sore
Tak lama kemudian Bi Rahmi datang dan memberitahukan kalau ada tamu.
__ADS_1