
Setelah satu Bulan berlalu, masalah dengan Sinta sudah selesai walaupun kami beberapa kali di panggil ke kantor polisi. Dan dengan sabarnya suami kami mengantar kami. Dan Sinta dan suaminya sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal karena telah mengancam dan berusaha memeras pak Erwin.
Seperti biasa aku kembali bergelut dengan kesibukan di rumah mengurus empat orang anak. Terkadang rasa jenuh datang dengan rutinitas yang sama tiap hari. Tubuh butuh penyegaran dan refreshing. Begitu pula dengan anak-anakku.
Saat kami sedang sarapan di meja makan aku mengungkapkan keinginanku pada suamiku
"Aku pingin liburan." Ucapku padanya.
"Ayo...kita bulan madu." Ucap suamiku semangat.
"Yaelah ...bulan madunya sudah expired." Ujarku.
"Kamu mau kemana,Sayang?" Tanya suamiku.
"Aku ingin keliling dunia, kita ajak anak-anak, Fira dan dokter Tiara." Ucapku asal padahal aku cuma bercanda.
Suamiku seolah berfikir sejenak. Mungkin dia juga kaget dengan permintaanku yang sangat berlebihan. Mungkin dalam pikirannya aku tidak pernah meminta liburan sekalinya aku meminta langsung Wow.
"Bagaimana? " Tanyaku lagi.
"Ya...tapi harus jual beberapa aset kita dulu, Sayang ." Ucapnya pelan.
"Tenang aja .. di rekening aku lumayan." Ucapku percaya diri.
"Itu nggak akan cukup....mana mau ajak orang lagi " Ucapnya pelan.
"Hahahahah" Aku memegang perutku tertawa melihat ekspresinya.
"Aku cuma bercanda, nggak usah panik begitu " Ucapku masih tertawa.
"Tapi kalau itu kemauan kamu biarlah kita jual ." Ucapnya terlihat serius.
"Saat pulang kita tinggal di kolom jembatan." Ucapku menambahkan.
"Kita liburannya di Rayni Flower's" aja." Ucapku semangat.
"Serius?" Ucap suamiku.
"Ya....iyalah, apalagi sudah lama kita nggak ke sana."Ucapku.
Terlihat wajah suamiku tersenyum sumringah. Bagaimana kalau keliling dunia bayangkan aja berapa biayanya tak akan cukup walaupun aset semua di jual tak akan bisa mencukupi biayanya. Karena suamiku tak sekaya Raja Salman.
Akhirnya aku mengajak Fira dan dokter Tiara. Karena liburan tak akan seru kalau tidak ada mereka. Dan diapun setuju Minggu depan kita liburan.
Hari yang di nanti telah tiba, bahkan liburan kali ini sangat ramai karena orang tua Rayhan dan orang tuaku juga ikut serta. Anak-anakku begitu gembiranya. Karena kami memang jarang liburan bersama.
Setelah sampai di tempat tujuan. Aku terkagum-kagum dengan pemandangannya. Sudah banyak perkembangannya. Bunga-bunganya juga tambah banyak jenisnya. Wahana permainan juga sudah bertambah. Ternyata banyak juga pengunjung yang datang. Kami semua tinggal di satu tempat hanya beda kamar. Karena memang ada satu rumah lantai dua khusus untuk pemilik tempat tersebut. Rumah tersebut terdapat sepuluh kamar.
"Aku tidak menyangka tempatnya sebagus ini, Ray." Ucap pak Erwin.
"Ya..Alhamdulillah." Ucap suamiku.
"Pasti banyak omsetnya per bulan, lihat aja pengunjungnya banyak banget " Tambah pak Erwin lagi.
__ADS_1
"Itu nyonya bos yang tau," Ucapnya melirik ke arahku.
Memang semua penghasilan bersih perbulannya masuk ke rekening pribadiku. Pendapatan perbulannya tak menentu. Kalau musim liburan terkadang lumayan banyak.
Tak lama kemudian Fira sampai bersama suami dan anaknya.
"Ko telat sampainya, Fir?" Tanyaku.
"Fira mabok, jadi beberapa kali kami mampir." Ucap Ridho.
Fira memang kelihatan pucat dan loyo.
Ibu segera memberikan minyak kayu putih pada anak bungsunya. Kemudian memijit pundaknya
"Kamu mungkin nggak sarapan." Tanya ibu khawatir.
"Aku sarapan kok, Bu, padahal tadi waktu berangkat aku nggak apa-apa." Ucap Fira.
"Efek begadang mungkin, iya kan Dho?" Ucap Rayhan mengedipkan matanya pada Ridho.
Fira langsung menatap kepada Rayhan kemudian beralih ke suaminya.
"Nggak usah tegang gitu Fir, gimana efeknya vitamin dari istriku..mantap, 'kan?" Tambah pak Erwin lagi mengerjai Fira dan Ridho.
Papa mertua dan ayahku saling berpandangan karena tidak mengerti arah pembicaraan pak Erwin dan Rayhan
"Vitamin apa?" Tanya papa mertua penasaran.
"Bagi dong, kita juga mau." Ucap papa mertua dan di iyakan oleh ayahku.
"Nggak baik buat usia lima puluh tahun ke atas, bisa-bisa encok." Ucap Rayhan sok tau.
"Emangnya vitamin apaan, Dho yang kamu minum?" Tanya ayahku.
"Eee...anu Yah... " Ucap Ridho sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Vitamin apaan " tanya papa mertua tambah penasaran.
" Bukan aku yang minum,Om, tapi Fira." Ucapnya sambil melihat kearah istrinya.
"Obat penambah gairah, Yah, Om." Ucap Fira tanpa rasa malu.
Papa mertua dan Ayah langsung terdiam dan saling menatap.
Sedangkan mama mertua menambahkan apa yang di ucapkan Fira
"Aku mau juga, Dok, siapa tau bisa produksi adiknya Rayhan lagi." Cerocos mama mertua.
"Ingat umur, sudah kadaluarsa juga" Ucap papa mertua pelan, tapi masih bisa kami dengar.
"Ma...kalau aku punya adik lagi, bisa - bisa orang bilang itu anak Rayhan." Timpal suamiku.
"Tante Rita masih mens?" Tanya Fira.
__ADS_1
'Nggak." Ucap mama mertua tersenyum.
Ya begitulah mama mertua karakternya hampir sama dengan Fira, ceplas- ceplos .
Setelah istirahat sebentar, aku dan dokter Tiara jalan-jalan mengitari taman bunga. Karena yang lainnya masih betah istirahat.
"Fan...Mantan suami kamu sudah punya calon? Tanya dokter Tiara.
"Tumben...nanyain Mas Rasya." Jawabku merasa heran.
Erwin punya sepupu, gimana kalau kita comblangin sama mantan kamu itu, aku lihat dia orang baik " Ucap dokter Tiara."
Aku hanya terdiam, aku tak berani mencarikan jodoh buat Mas Rasya, siapa tau nanti ya dia akan melakukan hal yang sama padaku dulu. Karena terkadang selingkuh itu seperti penyakit kadang akan kambuh kalau merasa ada yang lebih menarik.
"Kok diam, kamu nggak rela ya?" Ucap dokter Tiara mengejekku.
" Amit-amit de, dok, sedikitpun tak ada terlintas dalam hatiku," Ucapku mengedikkan bahuku.
Kemudian aku menjelaskan alasanku tidak mau mencarikan pasangan buat Mas Rasya, meskipun beberapa kali dia memintaku mencarikannya.
Dokter Tiara terkejut mendengar penjelasan ku kalau Mas Rasya dulu selingkuh dariku
"Asataga Fan, aku baru tau kalau kalian cerai itu karena dia selingkuh ,karena yang aku lihat dia itu baik." Ucap dokter Tiara.
Aku memang tak pernah menceritakan tentang mantan suamiku padanya.
"Ya...terkadang mata kita bisa tertipu, dok,kalau hanya melihat luarnya saja." Ucapku.
"Iya juga, sih, aku juga ragu mengenalkan Hana padanya." ucap dokter Tiara lagi.
"Tapi aku bisa pastikan, Dok, dia itu sangat penyayang dan peduli, tapi tetaplah Rayhan yang terbaik, hehehe " Ucapku memuji suamiku.
"Suamiku juga yang terbaik," Ucap dokter Tiara tak mau kalah.
Hingga kamipun tertawa sambil melihat- lihat bunga yang berwarna-warni. Ditambah senja yang menampakkan warna jingga di cakrawala menambah indahnya pemandangan sore itu.
Meskipun sudah sore masih banyak pengunjung karena mereka ingin menikmati senja dan hamparan bunga yang begitu indahnya.
Karena asyiknya melihat pemandangan sambil bercanda dengan dokter Tiara, aku ditabrak oleh seseorang.
Burgh......
Kami bersamaan meringis kesakitan karena kami berdua terjatuh. orang tersebut jalannya agak terburu-buru hingga menabrakku.
"Kalau jalan lihat-lihat dong." Ucap dokter Tiara saat membantuku berdiri.
Aku mencoba berdiri dibantu oleh dokter Tiara.
"Maaf, Mba...aku buru-buru." Ucap perempuan tersebut.
Saat aku melihatnya aku terlonjak kaget karena perempuan itu tak asing bagiku.
"Kamu!!"
__ADS_1