SESAL

SESAL
Once More Again, Please!!


__ADS_3

Rasha"s Pov


Saat Fani dimiliki oleh orang lain hatiku begitu hancur, sakit. Ada rasa tak rela dia dimiliki pria lain. Ketika dia bukan milikku lagi baru aku menyadari kalau aku sangat mencintainya.Dia wanita yang sangat sempurna dan merugilah aku yang telah menyia-nyiakannya.


Kucoba untuk menata hidupku kembali, memperbaiki semua yang terjadi karena kebodohanku. Semua waktuku habiskan hanya untuk bekerja dan bekerja. Kalaupun aku bukan suami yang baik tapi setidaknya aku akan menjadi putra,kakak dan ayah terbaik dalam hidupku.Aku tak boleh larut dalam penyesalan karena perbuatan bodohku, biar bagaimana aku masih memiliki tanggung jawab yang harus aku nafkahi yaitu ibu, adikku dan Rafa.


Bukannya aku tak merindukan putraku, Rafa.Terkadang aku hanya bisa memandang fotonya sambil menangis. Tapi cara ini harus aku lakukan untuk melupakan mantan istriku. Walaupun ini akan sulit bagiku karena ada Rafa diantara kami berdua. Aku percaya seiring berjalannya waktu aku bisa melupakannya.


Hingga pada akhirnya mantan istriku mengirimkan pesan padaku kalau putraku merindukanku. Naluriku sebagai ayah yang sangat merindukan putraku tak bisa aku bendung. Aku akhirnya menghubunginya lewat Vidio Call.


Rasanya aku ingin sekali memeluk putraku itu,mendengar celotehannya membuatku ingin rasanya menangis mendengar keluh kesahnya terhadapku. Wajahnya berbinar saat dia mengatakan kalau dia sudah mempunyai adik kembar.


Ketika aku melihat wajah mantan istriku walaupun hanya sekilas di layar ponselku, hatiku berdesir, dia begitu cantik meskipun pipinya agak chubby karena baru melahirkan tapi itu menambah aura kecantikannya.


Seandainya aku tidak melakukan hal bodoh itu mungkin posisiku sebagai suami Fani tak akan tergantikan. "Argghhhh," aku mengacak kasar rambutku.


"Rafa ...maafkan Papa,Nak." batinku.


Bila saatnya nanti aku akan datang menemui anakku, tapi tidak untuk sekarang ini. Aku masih belum sanggup bertemu dengan mantan istriku. Mungkin aku terlalu egois, tapi inilah caraku agar bisa melupakannya. Kata orang cinta itu tidak harus memiliki dan apabila kita mencintai seseorang maka kita akan ikut bahagia bila melihatnya bahagia. Tapi kalimat itu gampang diucapkan sedangkan dalam prakteknya sangat susah untuk di lakukan. Dan yang paling menyesakkan di dada, kami pernah seerat nadi tapi karena sebuah kebodohan dia menjauh dan sulit untuk kugapai kembali.


...****...


Setelah menyusui Si kembar dan mereka kini sudah tertidur pulas, akupun beranjak naik ke tempat tidur untuk menyusul suamiku yang sudah mangarungi mimpi yang indah. Baru saja membaringkan tubuh, sebuah lengan kekar melingkar di perutku. "Kamu belum tidur?" Tanyaku."Hmmmm," hanya itu yang keluar dari mulutnya. Dia semakin mengeratkan pelukannya bahkan kepalanya dia dekatkan di dadaku. "Kirain sudah bebas karena ke dua bayiku sudah tidur ternyata masih ada bayi gede yang minta di kelonin," batinku sambil aku menyunggingkan senyum.


"Sudah boleh buka puasa,Sayang?" Ucapnya tanpa membuka matanya.


"Belum cukup empat puluh hari!" Jawabku karena memang aku tak menghitungnya.


"Ini sudah hari ke empat puluh satu." Jawabnya mendongak.


Aku berpikir sejenak dan menghitungnya dalam hati ternyata memang benar. Dasar pria urusan begituan dia takkan pernah lupa.


Tanpa persetujuan dia langsung mencium bibirku dengan lembut hingga lama kelamaan menjadi ******* yang penuh gairah. Kemudian dia turun ke leher dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Selanjutnya menjelajah ke sumber kehidupan Si kembar, awalnya dia hanya menciumnya tapi lama kelamaan dia seolah seperti ke-dua bayinya .

__ADS_1


"Ini jatah Si kembar!" Bisikku.Dia mendongak menatapku dan tersenyum.


Mau tak mau dia harus mengalah dan jatah Si kembar tak boleh di ganggu gugat.


"Ahhh....Ray,"******* itu lolos keluar juga, ketika dia bermain di bawah sana.


"Terus sebut namaku, Sayang " Ucapnya serak.


Gairahnya semakin menggebu akhirnya penyatuan pun terjadi setelah empat puluh hari lebih tak melakukannya. Walaupun aku sering memuaskan dengan caraku sendiri tapi sangat bedalah rasanya.


"Terima kasih, Sayang." ucapnya sambil mengecup keningku dan kemudian membaringkan tubuhnya di sampingku.


Tiba-tiba aku teringat kalau kami tidak memakai pengaman waktu melakukannya.


Spontan cubitanku mendarat di dada bidangnya dan itu membuatnya kaget.


"Mau lagi?" Ucapnya.


Aku mencubitnya lagi dan lagi,.


"Kita nggak pake pengaman!!bagaimana kalau aku hamil lagi? Bagaimana ini?" Ucapku panik.


"Ya...baguslah." ucapnya santai.


"Bagus...Bagus ..!!Si kembar baru satu bulan lebih, kasihan mereka kalau aku hamil lagi."


Dia tertegun mendengar alasanku yang membuatku khawatir.


"Jadi????" ucapnya bingun.


"Gara-gara kamu!! Ucapku menyalahkannya.


"Kok aku sih!! gara-gara kita berdua, kenapa nggak ingatkan aku? 'kan aku bisa siapkan pengaman, atau buang di luar." Ucapnya membela diri.

__ADS_1


"Bagaimana mau ingat kamu main nyerang aja."


"Jangan panik begitu, Sayang!!Kalaupun misalnya hasil enak-enak tadi jadi, berarti Tuhan percaya sama kita kalau kita mampu." Ucap Rayhan mengelus perutku.


Kita tunggu saja setelah kamu haid kamu bisa pakai alat kontrasepsi." Sambungnya lagi.


"Tapi aku nggak cocok, aku pernah suntik tapi haid terus, pernah minum pil KB juga kepalaku sering sakit." Jelasku.


"Besok kita ke dokter tanyakan yang cocok buat kamu, yuk kita tidur atau mau ronde ke dua?" Ucapnya menaik turunkan alisnya.


"Nggak!!Tolakku.


"Once more again, Please!!! Ucapnya mengiba.


Aku hanya bisa pasrah menuruti keinginannya. Dan tak lupa aku memberi ultimatum padanya supaya buang di luar, cukuplah yang pertama tadi membuatku khawatir.Setelah merasakan indahnya surga dunia kamipun tertidur dengan pulas.


Malam telah berlalu, pagi datang menyapa dengan indahnya. Setelah sarapan dan membawa Si kembar berjemur matahari pagi. Setelah itu aku memandikannya. Farha dan Farhan sudah mulai melihat dan bisa tersenyum kalau diajak bicara. Mereka berdua kembar identik, wajahnya gabungan antara wajahku dan wajah Rayhan.


Rafa juga mulai masuk sekolah hari ini. Dengan semangatnya dia berangkat bersama Rayhan.


"Aku berangkat dulu ya,Sayang!" Ucap Rayhan mengecup keningku, akupun mencium tangannya dengan takzim.


"Telpon saja kalau kamu sudah siap-siap mau ke dokter, nanti aku jemput.'" Tambahnya lagi.


Jam menunjukkan puku sepuluh pagi, kebetulan pada jam tersebut waktunya Si kembar tidur. Aku segera bersiap ke dokter dan Rayhan sudah menungguku di luar.


"Aku titip Farha dan Farhan bentar ya Bu?"Ucapku pada ibuku yang datang menengok Si kembar.


"Dengan senang hati, Nak." Jawab ibuku tersenyum lebar.


Hanya butuh waktu lima belas menit kami sudah sampai di klinik dokter Tiara, yang sebelumnya memang kami sudah melakukan janji.Kami berkonsultasi dengan alat kontrasepsi yang cocok untukku. Aku menceritakan pengalamanku alat kontrasepsi sebelumnya. Dia menyarankan berbagai jenis alat kontrasepsi termasuk menggunakan IUD tapi Rayhan tidak setuju dengan alasan jangka waktunya terlalu lama. Aku juga konsultasi apakah kemungkinan aku hamil cepat setelah baru selesai masa nifas kami melakukan hubungan suami istri.


Dan akupun merasa lega karena Dokter Tiara menjelaskan bahwa tubuh akan menghasilkan hormon saat menyusui bayi secara ekalusif yang bisa menunda kehamilan. Walaupun kemungkinan hamil itu bisa terjadi.

__ADS_1


Akhirnya kami pulang, dan kami memutuskan menggunakan alat kontrasepsi bongkar pasang dan buang😀.


__ADS_2