SESAL

SESAL
Tiara dan Erwin


__ADS_3

Tiara"s Pov


Erwin adalah teman sekaligus cinta pertamaku ketika kami masih sama-sama SMU. Kami menjalin hubungan sejak masih menjadi siswa baru. Tapi aku dan Erwin tidak seperti pasangan kekasih pada umumnya. Yang ke mana-mana selalu nempel kayak perangko. Erwin juga tipe laki-laki yang sangat kaku, tidak norak dan juga pendiam. Justru itulah yang membuatku jatuh cinta padanya. Kami ketemunya hanya di sekolah saja. Tak pernah ada malam mingguan atau apapun itu. Karena orang tuaku sangat disiplin dalam mendidik ku. Maklum ayahku seorang prajurit. Terkadang kami ketemuan di perpustakaan itupun hanya belajar bersama. Yang tau hubungan kami hanya sahabat dekatku saja.


Setelah tamat SMU aku lulus jurusan kedokteran di salah satu Universitas Negeri ternama di Ibukota. Sedangkan Erwin waktu itu tidak lulus. Pada saat acara kelulusan SMU yang acaranya di adakan malam hari. Itulah kali pertama aku keluar bersama Erwin. Kami hanya sebentar di acara perpisahan karena kami janjian ke sebuah tempat sebagai acara perpisahan berdua karena satu Minggu lagi kami akan berpisah.


"Aku ingin kamu janji, Ra, nggak lupain aku dan tunggu aku,." Ucap Erwin kala itu.


"Aku janji sama kamu.Tapi kamu juga harus janji jaga hati kamu hanya untuk aku." Ucapku membalasnya.


Kami pun akhirnya berjanji untuk saling setia, menjaga hati kami berdua. Kami janjian sebelum aku berangkat kami akan bertemu kembali.


Karena malam sudah larut akhirnya Erwin mengantarku pulang tapi tidak sampai di depan rumah. Saat aku akan berlalu dia menarik tanganku.


"Boleh aku cium pipi kamu, Ra?supaya kalau aku kangen kamu, setidaknya ada kenangan yang romantis yang bisa ku ingat, hehehe" Ucapnya sambil terkekeh.


Aku kemudian mengiyakan dan diapun dengan secepat kilat mencium pipiku. Itulah ciuman pertamaku dari dia.


Hatiku berbunga-bunga meninggalkan Erwin yang masih duduk di motornya melihatku sampai aku menghilang dari pandangannya. Dan tanpa kami sadari ternyata ada sepasang mata yang mengawasi kami. Ya dialah ayahku.


Ternyata ayahku datang menjemputku di acara perpisahan dan seseorang teman mengatakan kalau aku pergi bersama Erwin.


Aku tersenyum sambil bernyanyi kecil masuk kedalam rumah yang tidak terkunci. Ayahku sudah duduk dengan tatapan tajam ke arahku.


"Kamu pilih kuliah atau menikah dengan pacar kamu itu?" Ucap ayahku tanpa aba-aba.


"Maksud, ayah?" Tanyaku heran.


"Tidak usah pura-pura, aku tidak mau kamu membuat ayah malu." Ucap ayah tegas.


"Aku nggak pernah buat ayah malu." Ucapku membela diri.


"Apa ciuman di tempat umum kamu anggap tidak memalukan? Sedangkan di tempat umum kalian bisa melakukannya apalagi di tempat sepi, mungkin kalian bisa melakukan lebih dari ciuman." Ucap ayahku dengan emosi.


Aku tidak bisa mengatakan apapun, aku tahu ayahku. Sekuat apapun aku membela diri dia takkan percaya. Ibuku juga hanya terdiam dan memberikan isyarat supaya aku menuruti ayahku.


"Kamu pilih kuliah atau aku datangi pria itu untuk menikahimu." Ucapnya lagi.


Aku bingung kalau aku memilih menikah belum tentu juga Erwin setuju, bisa-bisa ayahku tambah malu dan otomatis cita-citaku sejak kecil akan musnah sudah.


Aku berpikir sejenak dan kata hatiku mengatakan aku harus kuliah, demi cita-cita dan harapan orang tuaku.


"Aku mau kuliah ayah." Ucapku sambil menunduk tak terasa cairan bening keluar dari mataku.


"Bagus ... besok lusa kita berangkat ke Jakarta." Ucap ayahku lalu meninggalkanku di kamar tamu.


Aku terduduk lemas di tempat tidurku.


"Maafkan aku, Win," ucapku lirih.


Dua hari kemudian aku dan ayahku berangkat ke Ibukota. Aku tak bertemu dengan Erwin ataupun memberinya kabar.

__ADS_1


Aku menjalani hari-hariku hanya fokus belajar dan belajar. Mau menghubungi Erwin tapi tak tau menghubungi lewat apa, telepon saja kala itu masih jarang yang memilikinya. Hingga saat liburan semester aku pulang ke kotaku. Aku pergi ke rumah Erwin dan kata tetangganya dia sudah pindah ke Kalimantan. Pupuslah sudah impianku bertemu dengannya.


Aku menjalani hari-hariku dengan fokus dengan kuliahku. Tapi nama Erwin masih terpatri di dalam hati. Aku memang susah untuk jatuh cinta. Bukannya tidak ada yang mendekati tapi dengan lantang aku mengatakan pada mereka kalau aku mempunyai tunangan. Aku masih setia dengan janji kami pada malam itu. Entah bagi Erwin dia masih setia atau tidak dengan janji kami.


Tidak susah bagiku untuk mendapatkan pekerjaan apalagi aku dokter spesialis kandungan. Aku mengisi hari-hariku dengan pekerjaan yang aku impikan yaitu seorang dokter. Lucu juga aku membantu persalinan yang tak terhitung jumlahnya. Tapi aku sendiri belum pernah melahirkan bahkan menikah juga belum. Terkadang aku menertawai diriku sendiri. Sungguh miris hidupku. Orang tuaku berkali-kali menjodohkan ku tapi aku selalu menolak. Ayahku juga tidak memaksaku. Aku menunggu seseorang yang entah dia masih mengingatku atau sudah lupa denganku.


Hingga musim reuni-reunian menjamur. Akupun bergabung di group alumni putih abu-abu. Aku memang tidak pernah koment di group tapi kalau ada waktu aku akan membaca chat teman-teman. Aku melihat semua foto profil teman-temanku , sebenarnya yang aku cari adalah Erwin, hingga aku melihat foto profilnya bersama seorang anak laki-laki yang mirip dengannya. Maka sejak itulah aku putuskan tidak berharap darinya. Ternyata dia sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Dia yang ingkar janji tidak setia. Aku masih memegang janji kami pada malam itu, tapi nyatanya aku menghabiskan waktuku dengan sia-sia puluhan tahun dengan menunggunya.


Rasa kecewa dalam hati tapi aku tak menyalahkannya karena ini juga kesalahanku tak memberikan kabar kepergian ku.


Hingga kami kembali di pertemukan.


Deg...hatiku berdetak kencang saat melihatnya. Dia masih seperti dulu, kaku, dingin. Saat aku menyapanya dia dengan ketusnya menjawabku. Aku hanya mau meminta maaf karena meninggalkannya tanpa memberitahukannya. Tapi kayaknya dia memang sudah tak perduli lagi denganku. Walaupun aku terkadang menanyakannya lewat Fani. Tapi kan hanya sekedar ingin tahu tidak ada niat untuk merebut dari istri dan anaknya. Walaupun nama dia tetap terukir indah di hati. Dia adalah cinta pertama dan mungkin akan menjadi cinta terakhirku apalagi umurku sudah empat puluh tahun, mungkin sudah tidak ada lagi pria yang bersedia menikahiku. Tapi biarlah aku juga tidak ambil pusing. Toh banyak yang seperti aku. Bukan keinginanku jadi perawan tua karena jodoh sudah ada yang mengatur.


...******...


Erwin's Pov


Kalau aku di tanya siapa wanita yang aku cintai selain ibuku, wanita itu adalah Tiara. Dialah yang telah mengisi hatiku dan tidak pernah tergantikan. Dia wanita sederhana yang cerdas, baik, pemalu. Meskipun aku membencinya karena dia meninggalkanku tanpa alasan yang jelas tapi rasa cintaku padanya tak pernah pupus.


Hatiku sakit, kecewa saat dia meninggalkanku. Aku ingin menyusulnya di Ibukota tapi apalah daya, aku bukanlah orang yang berharta untuk bisa melakukannya.


Hingga akhirnya kami pindah ke Kalimantan dan akupun kuliah di sana. Aku bisa menjadi oran kepercayaan ayah Rayhan karena kemampuanku yang bisa diandalkan dan memajukan usahanya.


Aku pernah menikah karena orang tuaku kala itu memaksaku, di samping karena umurku semakin matang akhirnya aku menerima perjodohan dengan Sinta yang terpaut sepuluh tahun denganku.


Aku mencoba mencintainya dan menerimanya sebagai pendamping hidupku. Di saat aku mulai menerimanya di hatiku dan perlahan aku mencoba melupakan Tiara, tapi lagi dan lagi aku harus menelan kenyataan pahit. Istriku kabur dengan mantan pacarnya dan meninggalkan anak kami yang baru berumur satu tahun.


Hingga aku di pertemukan dengan Tiara. Dia semakin cantik. Jujur ketika aku melihatnya, jantungku berdetak tak karuan. Tatapannya masih sama ketika kami masih memakai seragam putih abu-abu. Aku menjawab pertanyaannya ketus. Padahal dalam hatiku ingin rasanya aku mendekapnya.


Hingga Fani mencoba mendekatkan kami, dalam hatiku bersorak dan berdoa semoga Fani tidak putus asa mendekatkan kami apalagi setelah aku tahu alasan dia meninggalkanku dan mengetahui Tiara belum menikah ingin rasanya aku langsung menghalalkannya. Malam itu juga ketika aku mengantarkan dia pulang aku sangat senang. Jiwa mudaku seakan kembali di masa kami masih pacaran dulu. Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung mengajaknya menikah, aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini lagi.


"Janji kita yang dulu masih berlaku ' kan Ra?" Ucapku memecah keheningan.


"Aku masih memegang janji itu sampai sekarang tapi kamu yang mengingkarinya." Jawab Tiara melihat keluar mobil.


Deg...jantungku terasa teriris.


"Maaf, Ra...bisakah kita mewujudkan janji kita itu?" Ucapku melirik sekilas dan kemudian fokus menyetir kembali.


Tiara tersenyum sangat manis kearah ku . Waduh... Bu dokter manis banget, batinku.


Aku menepikan mobil dan entah keberanian dari mana aku langsung mengecup pipinya.


Mata Tiara langsung membulat sempurna menatapku. Rasa takut muncul dalam hati jangan-jangan dia marah.


"Kamu masih ingat, Ra?" Ucapku sendu.


"Ciuman keduaku." Ucapnya malu-malu sambil memegang pipinya.


Aku mengejek diriku sendiri dengan apa yang aku lakukan," Ingat umur pak!" Batinku.

__ADS_1


"Kamu mau menikah denganku, Ra?" Ucapku to the poin.


"Kok buru-buru amat sih, Win?" Ucap Tiara ketika aku mengajaknya menikah.


"Justru ini terlambat sekali, Ra.Bayangkan 22 tahun kita harus menunggu."


"Kamu pikirkan baik-baik, Win! Umur kita sudah tak mudah lagi." Ucap Tiara memberi alasan.


"Justru itulah aku mau cepat kita menikah." Timpal Erwin lagi.


"Tapi dengan umurku ini kemungkinan aku nggak bisa memberimu keturunan." Ucap Tiara sendu.


"Kamu kan dokter?"


"Ya karena itulah aku tahu akan sulit karena udah tua." Ucap Tiara.


"Aku nggak peduli," Ucapku meyakinkan.


"Mau ya, Ra? Aku mohon." Ucapku.


Tiara tersenyum dan mengangguk dengan wajah yang merona.


Cinta memang tak mengenal usia. Walaupun umur kami sudah empat puluh tahun tapi rasanya tak kalah dengan anak muda yang sedang jatuh cinta.


Hari bahagia kami-pun telah tiba. Aku sangat bahagia bisa mempersunting wanita yang aku cintai. Ini tak lepas dari andil keluarga Rayhan, terutama Fani.


Acara pernikahan sederhana kami berlangsung dengan penuh kebahagiaan. Aku dan Tiara menginap di hotel Rayhan. Aku tak sabar dengan malam pertama kami. Bayangkan saja aku sudah lama menantikan malam ini.


Saat melihat Tiara malu-malu membuatku makin gemas dengannya.


Sungguh aku tak bisa menundanya lagi, aku segera membawanya ke tempat tidur. Saat panas-panasnya kami suara dering ponsel Tiara berbunyi. Aku menyuruh Tiara tak menghiraukan panggilan itu. Hingga ponselnya kembali berdering dan aku terpaksa mengangkatnya.


"Apa??Melahirkan?" Ucapku


Aku memberitahukan Tiara kalau Fani akan melahirkan. Dia langsung mendorong tubuhku yang sedang dipenuhi gairah. Tiara memakai baju yang tergeletak di lantai dan mengambil Jilbab besar dan bergegas keluar kamar. Akupun memakai kembali baju dan celana training dan berlari mengikuti istriku.


"Shirt...."umpatku dalam hati karena yang dibawah sana masih tidak bisa di ajak kompromi.


Aku menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi dan akhirnya sampai ke rumah sakit.


Untung saja kami datang tepat waktu.


Setelah kelahiran bayi Fani aku mengajak Tiara kembali cepat ke hotel. Tapi dia masih harus memantau Fani sampai sadar. Bahkan menyuruhku pulang duluan. Inilah resiko punya istri dokter. Keselamatan pasien lebih utama.


Tiara kembali keruangannya dan aku terus mengekor padanya. "Kamu istirahat di sofa atau di ranjang pasien itu, Win"


Aku tidak mau malam ini berlalu begitu saja, aku memeluknya dari belakang.


"Win..ini kantor." Ucap Tiara.


Aku membalikkan tubuhnya dan menciumnya lembut hingga membuat Tiara tak bisa menolaknya. Akhirnya kami melalui malam pertama kami di ruangan Tiara.

__ADS_1


__ADS_2