
"Sayang ... papa kamu masih marah." Ucapku mengelus perutku yang membuncit.
"Sayang...bilang sama mama jangan suka nuduh papa sembarangan." Ucapnya tak mau kalah seakan mengadukanku pada si kembar.
Kurasakan pergerakan bayiku di dalam sana,
seolah mereka mendukung papanya.
"Maaf....ucapku menatapnya.
"Aku mau tanya si kembar dulu apa mamanya di maafkan atau tidak." Ucapnya sambil menempelkan telinganya di perutku.
"Thanks, My Twins." Ucapnya mencium perutku dan beralih menatapku sambil tersenyum.
"Kata si kembar, maaf di terima asalkan....?" ucapnya menggantung.
Aku hanya mengernyitkan keningku, kalau lihat gelagatnya sih pasti ada maunya.
"Dijenguk Papanya, " ucapnya tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
"Modus teruuuus." Ucapku menutup wajahnya dengan tanganku.
Dia langsung menangkap tanganku dan menciumnya, dan kemudian beralih ke kening dan lanjut ke bibir. Dan akhirnya acara jenguk menjenguk sikembar--pun terjadi dengan begitu lembut dan nikmat tiada tara.
Ya...begitulah pasangan suami istri, sebesar apapun masalah yang di hadapi harus dengan kepala dingin. Dan tempat ampuh untuk membujuk sang suami yang sedang ngambek atau marah itu di tempat tidur.Asalkan kesalahan itu tak terlalu fatal.
Malam berlalu dengan begitu cepatnya menyongsong pagi yang cerah. Matahari seolah tersenyum bahagia menyinari alam semesta.
Jalan-jalan pagi merupakan rutinitas yang kulakukan semenjak kehamilanku menginjak usia sembilan bulan. Rayhan dengan setia menemaniku tiap pagi. Tak ketinggalan makan bubur ayam di warung yang tak jauh dari rumah kami. Baru saja masuk ke dalam rumah.
Terdengar bel berbunyi. Segera aku membuka pintu dan tampaklah seorang gadis manis yang kira-kira masih berumur dua puluh tahun berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
"Assalamu Alaikum, Bu." ucap gadis itu ramah.
"Waalaikum Salam." Jawabku
"Saya Maya, Bu.' ucapnya memperkenalkan diri.
"Waduh ... kenapa juga aku yang bukain pintu." Batinku.
Aku mencoba tersenyum tapi senyum keki campur malu berhadapan dengan Maya.
"Eh ... silahkan masuk, Dek." Ucapku.
Maya masuk dan duduk di kursi tamu. Rayhan yang baru datang karena dia tadi mengambil sesuatu di mobilnya.
Rayhan bergabung dengan kami di ruang tamu.
' Tabe' ... Pak Rayhan, ini ponsel Bapak," ucap Maya sambil menyodorkan ponsel di tangannya.
"Iya ... Terima kasih." jawab Rayhan mengambil ponsel tersebut.
Aku hanya terdiam tak tau harus ngomong apa.
"Ini Maya, Sayang!! Resepsionis di hotel kita.
"Aku udah tau, kenapa di perkenalkan lagi," gerutuku dalam hati.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya.
"Maaf, Bu, kemarin Pak Rayhan lupa ponselnya di hotel. Kebetulan pada saat Pak satpam memberikan kepada saya, ibu menelpon." Ucapnya merasa bersalah.
Ya memang namaku di ponsel suamiku "My Wife Fani."
"Gara - gara kamu angkat...istriku ini mengamuk, dia pikir kita ada hubungan." Cerocos Rayhan.
'Astaga....ini suami nggak bisa simpan rahasia banget sih," umpatku dalam hati.
Ingin rasanya aku bekap mulutnya supaya diam. Ingin rasanya aku berubah menjadi Casper supaya bisa menghilang segera dari hadapan Maya.
""A---aku...Awwwwwww,"teriak Rayhan.
Belum sempat Rayhan mengatakannya aku menginjak kakinya dan melotot padanya sambil tersenyum paksa.
Maya yang ada di depan kami tak kuasa menahan tawanya. Tapi dia mungkin takut juga.
"Aku pamit dulu, Pak, Bu." Ucap Maya mengerti dengan situasi.
"Iya...Terima kasih banyak, Dek!" Ucapku tersenyum.
Setelah kepergian Maya, aku segera menghampiri Rayhan dan aku mencubit perutnya sangat kencang.
'Awwww.....sa---sakit, Sayang!" ucapnya merintih.
"Kamu itu suami nggak tau akhlak banget!" Ucapku terus mencubit perutnya.
Itulah kekurangan suamiku ini, terkadang mulutnya tidak ada remnya.
"Ampun, Sa --- sayang!!" Ucapnya masih menggosok perutnya bekas cubitanku. Kemudian dia melihat bekas cubit. Dia melongo karena cubitan itu meninggalkan bekas di kulitnya.
"Rasain...atau mau tambah lagi?" Ucapku sambil tanganku siap-siap mencubitnya lagi.
"Cubitan kamu kok sakit banget, sih?" Ucapnya mengeluh.
Tanpa memberikan jawaban aku hendak berdiri untu ke kamar. Tapi baru saja menegakkan badanku rasanya nyeri di bagian perutku.
"Awwww..." ringisku sambil memegang perutku.
"Kenapa, Sayang?!" Tanya suamiku panik.
Dia kemudian menuntunku duduk kembali.
"Perutku kram!" Ucapku.
Rayhan memanggil Bi Rahmi untuk mengambilkanku air minum. Setelah minum air putih, rasa nyeri itu kembali muncul.
Aku berusaha menggigit bibir bawahku untuk menahan rasa nyeri itu. "Mungkin ini cuma kontraksi palsu,"batinku.
Setelah nyeri itu mereda Rayhan membawaku ke kamar untuk istirahat.
"Perkiraan dokter kan dua Minggu lagi? Tanya Rayhan.
"Ini mungkin kontraksi palsu, Biasalah." Jawabku.
Dia hanya manggut-manggut.
__ADS_1
"Makanya jangan banyak pikiran... jangan stress, inilah jadinya." Ucapnya sok menasehati kayak Dokter.
"Iya, Pak dokter," ucapku mengejeknya.
"Atau kita ke Rumah Sakit?" Ucapnya lagi khawatir.
"Nggak usah, belum waktunya." Ucapku santai,
karena memang rasa nyerinya sudah mereda.
Suamiku memutuskan tidak ke kafe karena khawatir perutku akan sakit kembali. Aku sudah mengatakan padanya kalau ini cuma kram biasa, dia tetap ngotot menemaniku di rumah.
Kalau dia terus di rumah otomatis aku hanya bisa istirahat saja. Tidak boleh banyak gerak apalagi pagi ini agak merasakan nyeri.
Kerjaan cuma makan, tidur, main ponsel itu membuatku bosan di kamar.
Melihat suamiku tidak ada di kamar, aku bergegas turun dari tempat tidur, niatnya ingin menghibur diri ke taman belakang. Tak lupa aku mengajak Rafa yang sedang bermain.
Ya...setidaknya selfy--lah untuk di jadikan kenangan bagaimana gendutnya pada saat hamil.Rambutku yang panjang sengaja kubiarkan tergerai. Sedangkan di tubuhku hanya melekat daster panjang dengan lengan pendek, aku memasangkan cardigan di luarnya.
Saat tiba di taman belakang, beberapa kali aku mengambil foto bersama Rafa, dan sesekali aku menyuruh Rafa mengambil gambarku. Kemudian aku melihat foto-foto tersebut sambil tersenyum sendiri melihat semua poseku yang sok imut padahal jauh dari kata imut. Kuperhatikan setiap hasil jepretanku dan Rafa sungguh sangat lucu. Aku tersenyum melihat pipiku yang seperti bakpao, badan yang seperti gentong.
Hingga sang suami posesif keluar dari ruang gym.
"Ngapain keluar kamar?" Tanyanya ketus.
"Astaga....Sayang!! Aku itu nggak sakit!!Nggak baik juga cuma di kamar terus."Ucapku.
"Tapi sudah tidak nyeri lagi,'kan?" Tanyanya lagi.
"Nggak," ucapku singkat.
"Yuk kita foto, Sayang, "ajak--ku.
"Tapi aku nggak pakai baju."
"Nggak apa-apa...buat dokumentasi pribadi saja".
Rayhan kemudian menurutku dan berselfi ria bersamaku. Karena Rafa sudah masuk ke dalam.
"Jangan di upload!!" Ucapnya memperingatkan.
"Yang ini bagus di upload." Sambil memperlihatkan fotonya yang memonyongkan bibirnya yang hanya beberapa senti dari pipiku. Tapi badannya yang kekar jelas nampak.
"Nggak mungkin 'kan?"
Dia yakin aku tidak akan upload karena aku tidak pakai jilbab dalam foto tersebut.
Aku edit gambar tersebut kemudian hanya menyisakan gambarnya dan memperlihatkan padanya.
"Hapus!!!" Perintahnya.
"Nggak!!" Ucapku menyembunyikan ponselku di belakang sambil menertawakannya.
Dia mencoba mengambilnya dari tanganku.
Karena aku tidak bisa bergerak dengan lincah akhirnya dia mengambil ponselku dan menghapus foto itu.
__ADS_1
...*****...
Nb: Kata "Tabe" biasanya di gunakan orang Bugis Makassar untuk menyatakan rasa sopan kepada lawan bicaranya.