
Dua tahun kemudian
" Cepat dong, Sayang!" Teriakku memanggil Rafa. Entah apa yang diambilnya di dalam kamar. Sekarang dia sudah bersekolah di Sekolah Dasar.Dari tadi Rayhan sudah menunggunya sambil bermain dengan Farha dan Farhan.
Tak lama kemudian Rafa sudah datang dengan menenteng tas di pundaknya. Aku ingin bertanya kenapa tasnya kelihatan penuh tak seperti biasanya, tapi itu akan semakin membuatnya terlambat lagi.Mungkin isinya dia membawa jaket karena memang musim penghujan.
Setelah berpamitan mereka-pun berangkat. Saat berangkat ke sekolah,Rayhan yang akan mengantarnya kemudian dia ke kafe. Tapi saat pulang sekolah giliran aku yang menjemputnya.
"Dada Mama cantik-ku." Ya begitulah Rafa selalu mengataiku cantik. Memang anak itu jago gombal mungkin turunan papanya.
Farha dan Farhan juga sedang aktif-aktifnya lari ke sana kemari. Untung ada Bi" Rahmi yang membantuku menjaga mereka. Aku memutuskan tidak menggunakan jasa baby sitter, di samping karena aku memang tidak ada kerjaan selain mengurus anak-anakku. Aku juga tidak mau mempekerjakan pengasuh yang tidak aku kenal. Tidak seperti Bi Rahmi, dia sudah seperti keluargaku sendiri.
Waktu sudah menunjukkan saatnya aku menjemput Rafa. Aku bergegas mengambil kunci mobil karena aku sudah terlambat lima menit. Sedangkan hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai di sekolah Rafa. Biasanya kalau aku terlambat dia akan di temani oleh wali kelasnya.
Sesampainya di gerbang sekolah, aku mencari keberadaan Rafa tapi tidak menemukannya. Aku bergegas ke kelasnya tapi sudah terkunci. Teman sekelasnya yang masih menunggu jemputan juga mengatakan kalau tidak melihat Rafa. Aku ke ruang guru dan menanyakan keberadaan Rafa dan wali kelasnya mengatakan kalau Rafa sudah pulang di jemput sama papanya. "Jemput nggak bilang-bilang." Batinku merasa jengkel sama Rayhan.
Aku mengomel sendiri dan segera menghubungi Rayhan.Setelah tersambung tanpa aba-aba aku langsung mengomelinya.
"Kalau mau jemput Rafa, apa sih susahnya telpon aku,?"
"Lho...aku nggak jemput Rafa." Jawabnya.
"Apa!!! Kamu jangan bercanda!! Teriakku.
"Aku tidak pernah keluar dari Kafe." Ucapnya lagi.
"Astaga ...lalu Rafa di jemput sama siapa?" Tanyaku panik.
"Kamu dimana sekarang?"
"Di sekolah Rafa."
"Tunggu aku di sana."
Rasa panik, takut menjadi satu. Terbayang sinetron -sinetron yang sering aku nonton tentang penculikan. Aku bergidik ngeri membayangkannya. "Semoga itu tidak terjadi ya Allah.' Doaku dalam hati.
Terlintas dalam pikiranku siapa tau Mas Rasya yang menjemputnya. Karena Rafa mengatakan kepada gurunya kalau dia di jemput oleh papanya. Tapi kenapa dia tidak mengatakannya padaku. Mas Rasya juga sudah tiga tahun ini tidak pernah menemui Rafa.Memang ayah dan anak itu sering berhubungan lewat telepon tapi kenapa bertemunya harus sembunyi-sembunyi sih.
Aku bergegas masuk mobil dan mencoba menghubungi Mas Rasya. Sudah dua kali aku melakukan panggilan, dia tidak mengangkatnya.
Dalam hatiku berharap semoga Rafa benar-benar bersama Mas Rasya. Kalau tidak fix Rafa di culik.
Aku menghubungi Mas Rasya kembali dan akhirnya di angkat juga.
__ADS_1
"Rafa ada bersamaku," ucapnya tanpa rasa bersalah.
Dalam hatiku mengucap Alhamdulillah karena dugaannku benar Rafa bersamanya.
"Kamu bawa Rafa kemana?" Tanyaku emosi.
Dia kemudian mengatakan kalau dia akan membawa Rafa bermain di salah satu Mall terbesar dan sekarang dia sedang berada di restoran yang tak jauh dari sekolahan Rafa.
Aku segera melajukan mobilku ke restoran yang dia maksud. Tak lupa aku menghubungi suamiku kalau langsung ke restoran saja.
Setelah sampai di depan restoran aku memarkirkan mobil dan bergegas masuk ke dalam. Netraku terus mencari keberadaan Rafa, hingga melihatnya berjalan bergandengan tangan bersama Mas Rasya.Rafa sudah berganti pakaian, benar-benar tersusun rapi rencana ayah dan anak ini. Ternyata yang membuat tasnya kelihatan besar tadi pagi adalah pakaian ganti.
Aku sedikit berlari menghampirinya.
"Mama..." Teriak Rafa dengan senyum yang mengembang.
Aku tersenyum walaupun sedikit terpaksa.
"Kenapa nggak nungguin mama, Sayang??" Tanyaku mensejajarkan tubuhku dengannya.
"Kan Rafa jalan sama papa,Ma?" Ucapnya polos .
Kemudian aku berdiri dan melihat Mas Rasya dengan senyuman khasnya, netra kami bertemu.Tatapannya masih seperti dulu saat kami masih suami istri. Aku segera memutuskan pandangan kami. Tak ada lagi rasa seperti dulu terhadapnya. Hanya rasa jengkel yang ada di hati mungkin itu tercermin di mataku.
"Kenapa sih bawa Rafa tidak tanpa izin dulu ?" Tanyaku sedikit ketus.
"Tapi tidak begini caranya, bawa dia diam-diam." Kesal--ku.
"Siapa yang bawa diam-diam?" Aku sudah tanya Rafa untuk ijin sama kamu, betul 'kan, Sayang?" Ucapnya menoleh ke Rafa.
"Kan kemarin aku bilang sama mama kalau aku mau main sama papa." Ucap Rafa polos.
"Astaga jadi maksud Rafa kemarin itu mainnya sama papa kandungnya?Aku pikir sama papa Ray. Beginilah kalau punya dua papa,'batinku.
"Rafa lapar, Pa." Ucap Rafa membuyarkan lamunanku.
"Pulang sama Mama, Ayo?" Aku menarik tangan Rafa.
"Biarkan dia makan dulu." Ucap Mas Rasya.
Tapi aku tak melepaskan tangan Rafa. Dan terus mengajaknya pulang.
Karena melihat tanganku tak melepaskan tangan Rafa akhirnya dia menarik pelan tanganku menuju ke kursi yang ada di dekat kami.
__ADS_1
Mataku membulat sempurna karena Mas Rasya dengan kurang ajarnya memegang tanganku. Baru saja aku akan melepaskan tanganku sebuah suara yang tak asing di telingaku.
"Lepaskan tangan istriku!!" Ucap Rayhan tegas.
Aku segera menarik paksa tanganku dan menoleh ke arah suamiku. Kulihat wajahnya yang memerah dan tangannya mengepal. Untung restoran tak begitu ramai karena belum waktunya makan siang. Ada beberapa tamu yang menoleh kepada kami." Aduh ... kenapa harus berada di situasi seperti ini sih? Suami bertemu dengan mantan suami," batinku.
Aku takut Rayhan salah paham padaku. Mas Rasya juga kenapa langsung pegang tangan segala, apa dia sengaja membuat suamiku cemburu.
"Papa Ray," Teriak Rafa dan langsung berlari ke arah Rayhan.
Rayhan langsung berjongkok dan menggendongnya. Mukanya yang tadi memerah kini normal kembali.
Terlihat raut muka Mas Rasya berubah melihat keakraban Rayhan dan Rafa. Mungkin ada rasa sesak dalam hatinya karena putranya begitu akrab dengan papa tirinya.
Rayhan mendekatiku dan langsung merangkul pundak--ku. Mas Rasya mengajak kami duduk dan sekalian makan bersama.
"Maaf Pak Rayhan, kalau membuat kalian panik." Ucap Mas Rasya merasa bersalah.
"Silahkan menemui Rafa kapan--pun anda mau tapi harus sepengetahuan kami dulu."
"Saya mengerti, Pak Rayhan. Boleh saya bersama Rafa selama aku ada di kota ini, Fan? Tanya Mas Rasya padaku.
Aku menoleh kepada suamiku dan dia memberikan kode supaya aku menyetujuinya.
"Berapa lama?" Tanyaku.
"Lima hari," jawab Mas Rasya.
"Rafa mau ikut sama papa?" Tanyaku pada Rafa, berharap dia menjawab "tidak", tapi jawabannya tidak sesuai harapanku.
Yang di tanya tersenyum riang dan mengangguk.
Hanya bisa menyetujuinya karena aku tak boleh egois. Mas Rasya juga punya hak terhadap Rafa.
Karena merasa aku sudah terlalu lama meninggalkan Si kembar akhirnya kami pamit pulang.
Ada rasa tidak rela membiarkan Rafa bersama Mas Rasya selama lima hari. Meskipun Rafa sering menginap bersama orang tuaku tapi entah kenapa perasaan khawatir muncul dalam hati ketika akan bersama Mas Rasya.Aku dan Rayhan bergandengan tangan keluar dari restoran. Dan pada saat tak terlihat oleh Mas Rasya dia menggosok tanganku.
"Kenapa sih? Tanyaku.
"Menghapus jejak tangan mantan suamimu." Ucapnya ketus.
"Cemburu .Yaaa?" Ucapku menaik turunkan alisku.
__ADS_1
" Kalau iya kenapa?? Ntar malam kamu akan aku kasi pelajaran." Ucapnya membuatku mencubit pinggangnya.
Akupun berlalu meninggalkannya yang masih berdiri di parkiran.