SESAL

SESAL
Ridho dan Fira


__ADS_3

Ridho's Pov


Kisah cintaku dengan Fira tak sedramatis kisah cinta pak Erwin dengan dokter Tiara dan Rayhan dan Fani.


Kami berdua pacaran sejak SMA. Meskipun sering putus nyambung ketika masih pacaran tapi itu membuat aku menyadari kalau aku dan Fira memang di takdirkan bersama dan sejujurnya Fira adalah cinta pertamaku dan kami saling mencintai dan membutuhkan.


Fira adalah sosok perempuan yang centil, manja dan ceplas ceplos.


Pertemuan pertama kami kala itu aku sedang di kantin bersama teman sekelasku. Dia siswa kelas satu sedangkan aku kelas dua.


Awalnya aku tak tertarik padanya karena menurutku dia bukan tipeku. Aku menyukai gadis yang kalem, berjilbab, lembut dan tidak banyak bicara. Sedangkan Fira, dia siswa baru tapi hebohnya minta ampun di kantin.


Kala itu ada cowok yang terkenal playboy yang naksir sama Fira. Dia selalu mencari perhatian Fira baik di kantin ataupun selalu mendatanginya di kelas. Tapi Fira cuek karena dia mengetahui sepak terjang pria tersebut.


Hingga pada suatu hari pacar pria tersebut tau kalau pacarnya punya incaran baru yaitu Fira.


Saat jam istirahat tempat yang paling diminati adalah kantin sekolah. Saat Fira sedang asyik-asyiknya makan bakso. Pacar pria tersebut datang melabrak Fira. Mereka jadi tontonan siswa lain.Fira juga tak mau kalah dia perang mulut dengan cewek tersebut.


"Baru kelas satu aja belagu, sok cantik." Ucap cewek tersebut yang bernama Risa.


"Oh... jadi kalau udah kelas tiga harus songong, ya?" Ucap Fira tak kalah sengitnya.


"Eh aku peringatkan ya!Aldi itu pacar gue." Ucap Risa lagi.


"Terus apa hubungannya dengan gue?" Timpal Fira.


"Ya ada dong....palingan Aldi cuman mainin kamu.' Ucap Risa.


"Sorry ya...gue itu nggak tertarik sama pacar lho, asal tau aja gue udah punya pacar jauh lebih tampan dari si Aldi itu." Ucap Fira berani.


Benar-benar Fira berani melawan Risa yang notabene adalah idola dan juga siswa yang paling sombong di sekolah kami.


"Aku nggak percaya, mana ada yang mau sama lho ." Ejek Risa.


Karena merasa tertantang Fira naik pitam . Dia tak mau dipandang remeh oleh si Risa akhirnya Fira tanpa pikir panjang langsung menarikku yang kebetulan berada tak jauh darinya. Padahal saat itu aku cuma ikut-ikutan menonton pertengkaran mereka.


"Tolong bantu aku, Kak." Ucapnya pelan ketika dia menarik tanganku.


Aku sangat kaget ketika dia menarik tanganku. "Berani juga anak ini." batinku.


"Ini pacar aku, puas!! Teriak Fira.


Aku melototkan mataku menatap Fira . Netra kami bertemu seolah mata hitam Fira meminta supaya aku membantunya.


Akhirnya aku cuman diam tak menyangkal dan tak mengiyakan. Dan karena itulah Risa percaya kalau kami memang pacaran.


"Cowok gitu di bilangin ganteng." Cibir Risa.

__ADS_1


"Tapi bagi gue dia yang paling ganteng." Ucap Fira.


Sungguh membuatku malu setengah mati. Teman-temanku begitu kaget mendengar pengakuan Fira.


Setelah Risa meninggalkan kantin. Fira pun kembali melanjutkan makan baksonya. Aku nggak di pedulikan lagi. Jujur saat itu aku marah sama dia. Sudah aku tolongin ucapin terimakasih pun tidak ada yang keluar dari mulutnya. " Sungguh cewek yang sangat menjengkelkan." Batinku.


Hingga menjelang acara Ulang Tahun Kemerdekaan aku dan Fira terpilih menjadi pasukan Paskibraka utusan dari sekolahku. Sekitar dua Minggu kami latihan. Dan sejak itulah kami dekat. Dan aku merasa nyaman dan ingin selalu dekat dengannya. Di balik sisi manjanya, ceplas ceplosnya dia cewek yang sangat baik, taat agama meskipun kala itu dia belum memakai jilbab. Kami tiap hari pergi latihan bersama. Walaupun kami naik motor butut yang suara mesinnya satu komplek yang dengar. Dia tetap mau ikut denganku.


Hingga kami kuliah pun hubungan kami masih berlanjut. Apalagi Fira sudah mengenakan jilbab itu menambah aura kecantikannya. Kami seperti pasangan pada umumnya, keluar malam mingguan atau kadang jalan bersama. Tapi hanya sebatas pegangan tangan. Kami tak pernah melakukan lebih dari itu. Karena aku memang serius dengannya dan tak akan merusaknya sebelum kami halal. Kadang Fira ngambek dan mengatakan ingin putus denganku. Aku hanya mendiamkannya beberapa hari dan kemudian dia sendiri yang datang menemuiku dan minta maaf setelah menyadari kesalahannya. Begitu pula sebaliknya kalau aku merasa yang melakukan kesalahan aku dengan segera meminta maaf padanya.


Setelah kami selesai kuliah, dan kami-pun mendapatkan pekerjaan, aku ingin segera melamarnya tapi Fira menolak katanya tunggu dua tahun lagi. Akupun setia menunggunya kapan pun dia siap aku tak akan memaksanya.


Keluarga kami juga sudah merestui hubungan kami. Ketika melihat Kak Fani di selingkuhi suaminya aku melihat kak Fani yang begitu sedih, terpuruk, putus asa dan terpukul. Sebegitu sakitnyakah kalau di selingkuhi. Aku berdoa dalam hati semoga aku tak melakukan hal yang sama pada istriku nanti. Di samping aku sangat mencintai Fira, aku juga takut dengan ancaman Fira kalau aku melakukan hal itu. Karena setiap ucapan Fira kadang dia buktikan sendiri.


Hingga pada akhirnya kami menikah dan itu adalah hari yang sangat bahagia bagiku. Kami sudah melewati banyak suka duka ketika kami pacaran. Dia yang selalu mensuportku, memberikan aku semangat. Dia juga sudah akrab dengan orang tuaku dan adik-adikku.


Setelah ayahku meninggal otomatis ibu dan adik-adikku menjadi tanggung jawabku. Fira tak mempermasalahkan kalau sebagian gajiku aku serahkan kepada keluargaku. Mana lagi cicilan mobil dan rumah yang belum lunas harus aku tanggung.


Akhirnya Fira tetap bekerja untuk membantu perekonomian kami. Jujur memang penghasilan Fira lumayan tinggi. Tapi terkadang Fira kelelahan dan mungkin itulah yang membuat Fira belum hamil setelah satu tahun pernikahan kami. Untung dia gampang sekali tidurnya. Asal kepalanya kena bantal pasti dia langsung tidur. Terkadang aku kasihan sama dia pasti dia sangat lelah bekerja seharian. Kadang aku harus menahan keinginanku untuk bercumbu dengannya kalau melihatnya sedang nyenyak dalam mimpi indahnya.


Hingga akhirnya kami di berikan kepercayaan dengan kehamilannya yang sangat aku nantikan. Walaupun aku tak pernah mengatakan padanya.


Fira"s POV


Aku bersyukur memiliki seorang suami yang baik, penyayang kalem seperti Ridho.Dia tidak pernah membentak atau memarahiku. Walaupun aku salah dia hanya mendiamkanku,Seandainya aku bisa memilih lebih baik dia membentak atau memarahiku dari pada mendiamkanku.


Setelah dia membantuku aku tak mengucapkan kata terimakasih. Soalnya aku juga malu padanya. Tampa kenal atau apalah aku langsung ngaku sebagai pacarnya.


Setelah pertemuan demi pertemuan dilatihan Paskibraka akhirnya Ridho kirim surat padaku untuk menyatakan cintanya. Di kertas tersebut dia hanya tulis "Fir...aku sayang sama kamu, mau tidak jadi pacar aku...balas"" Isi suratnya.


"Dasar cowok kalem, nggak ada romantisnya nembak cewek." pikirku kala itu.


Aku tidak membalas suratnya itu karena aku ingin dia mengatakan langsung padaku.


Keesokan harinya saat kami di sekolah, dia terlihat gugup dan membuang pandangannya saat melihatku.


Aku sengaja mengerjainya kala itu, Dia semakin gugup kalau aku mendekatinya. Padahal sebelum kirim surat dia biasa saja.


"Kok kamu keringatan Dho?Kamu sakit?" Tanyaku pura-pura, padahal dia nggak keringatan hanya kelihatan gugup.


"Nggak," Ucapnya cepat.


Aku menyerahkan kembali surat yang di berikan nya kemarin padaku. Dan diapun langsung membukanya tapi tak ada balasan apapun.


"Kayak anak SD aja nembaknya." Ucapku sinis.


Dia hanya terdiam dan melipat kembali surat tersebut dan memasukkannya di dalam saku celananya.

__ADS_1


Kemudian dia langsung berdiri hendak meninggalkanku.


"Oe...mau tau apa jawabanku nggak?" Ucapku berteriak.Padahal ada beberapa teman tak jauh dari kami, aku nggak perduli.


Rido langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku. Aku memanggilnya kembali duduk di depanku.


Sungguh cowok enggak peka, batinku.


Saat dia terduduk kembali di depanku. Aku hanya terdiam diapun juga diam.


"A--apa jawaban kamu, Fir." Tanyanya memecah keheningan.


"Emang pertanyaannya apa?" Tanyaku pura-pura lupa . Padahal dalam hatiku aku juga mau jadi pacarnya cuma aku suka lihat ekspresinya. Dan juga aku ingin mendengar langsung dari mulutnya.


Dia menarik nafasnya dan membuangnya.


"Kayak mau akad nikah aja, tarik nafas segala." Ejekku.


Dia tambah gugup dengan ucapanku.


Dia memejamkan mata sambil mengatakan.


"Kamu mau nggak jadi pacarku?" Pas ucapannya selesai dia buka juga matanya.


Ingin rasanya aku tertawa melihatnya. Beginilah kalau dapat cowok kalem, pendiam. Ungkapin cinta aja susah banget.


Aku terdiam tak menjawabnya kemudian dia pamit. Ketika dia akan berdiri aku langsung menjawab.


"Nggak..." Ucapku.


Kulihat raut kecewa dan sedih di wajahnya.


"Nggak nolak, maksudnya." ucapku. Sebenarnya dalam hatiku sangat riang mendengar dia nembak aku. Seolah jantungku sudah berdetak dengan kencangnya.


Dia tersenyum sumringah mendengar ucapanku. Dan kala itu dia berjanji tidak akan nyakitin, kecewakan aku. Dan terbuktii sampai detik ini dia tak pernah sekalipun dia melakukannya. Walaupun tak jarang kami punya masalah tapi bukan dengan adanya orang ketiga.


Setelah pernikahan kami dan kami di anugrahi seorang putra yang tampan. Jujur Riyan lebih dekat dengan Papanya. Aku seolah hanya yang melahirkannya saja. Saat Riyan masih bayi Ridho yang bangun tengah malam membuatkannya susu formula. Sedangkan aku enak-enak tidur. Kadang aku merasa bukanlah seorang istri dan ibu yang baik. Tapi suamiku mengatakan kalau dia ikhlas melakukannya.Dia senang melakukannya karena melihatku mempertaruhkan nyawa melahirkan sudah sangat membuatnya berterima kasih. Suamiku memang yang terbaik.


Hingga suatu hari dokter Tiara menawarkan vitamin yang membuat kita bergairah melakukan hubungan suami istri.Meskipun aku tidak pernah menolak suamiku. Tapi ya.. melayani begitu saja dan kadang aku seperti batang pisang seperti kata suamiku.


Jujur aku merasa bersalah tapi aku juga tidak memaksakan diri untuk menikmatinya sedangkan aku merasa lelah dan ngantuk.


Aku memang tak pernah konsultasi dengan dokter saking sibuknya dengan kerjaan. Aku pikir suamiku tak ada masalah. Tapi setelah mendengar pengakuannya di depan kami semua itu membuatku harus berusaha membuatnya puas di ranjang. Untung suamiku setia kalau tidak mungkin dia akan cari kepuasan di luar.


Malam harinya setelah taruhan itu. Ridho benar-benar mengambil kesempatan dalan kesempitan. Dia minta terus alasannya ingin menang. Padahal itu hanya akal-akalannya saja.


Setelah masuk ke kamar dia langsung melakukannya, awalnya aku sangat menikmatinya karena perlakuannya yang sangat lembut dan durasinya yang lumayan lama. Mungkin bagi perempuan lain itu sangat istimewa sangat menyukainya. Tapi bagiku aku merasa sangat lama. Karena aku ingin cepat istirahat. Pagi harinya dia meminta jatah lagi disaat aku masih sangat mengantuk. Itu membuatku kurang tidur. Hingga aku jengkel padanya. Tapi rasa jengkel itu hilang saat mengetahui kalau kamilah yang dapat hadiahnya. Aku juga berniat untuk konsultasi dengan dokter Tiara mengenai masalahku. Mudah-mudahan hanya faktor kelelahan saja, tidak ada masalah atau penyakit di tubuhku.

__ADS_1


__ADS_2