
Setibanya di kelas Raffa langsung mendudukan diri, kemudian menaruh tasnya, tempat duduknya bersebelahan dengan Ayla, hanya saja mereka tidak duduk berdua. Raffa duduk bersama sendirian sementara Ayla duduk bersama Nadira.
Tapi sampai sekarang pun batang hidung Nadira belum terlihat biasanya, dia yang lebih dulu datang daripada Ayla dan Raffa.
Tak lama kemudian seorang gadis dengan rambut hitam legamnya datang menghampiri Ayla dari bilik pintu kelas.
"Aylaaaaa" teriak seorang gadis yang suarnya sangat familiar di telinga Ayla, siapa lagi kalau bukan Nadira, gadis itu langsung duduk disamping Ayla yang tengah asik membaca novel barunya.
"sumpah yaa Laa lo harus tahu, kenapa gue baru dateng jam segini" seru Nadira bergebu-gebu tapi yang diajak bicara tak merespon apapun apa yang gadis itu katakan. Biarpun Nadira taHu bahwa ia dikacangin oleh sahabatnya yang sangat mencintai novel. Ia tetap menceritakan alasan mengapa dia bisa datang terlambat seperti sekarang, beruntungnya guru mata pelajaran pertama tidak bisa hadir hari ini jadilah kelas mereka free yang menimbulkan kekacauan di kelas XI IPS 4
"jadi nih ya La, ban mobil gue bocor terus yaudah gue harus ke tukang tambal ban dulu." jelas Nadira, tapi gadis di sebelahnya tetap tidak merespon sepatah kata pun. Namun, Ayla masih bisa mendengar ocehan Nadira yang memang mengganggu ketenagannya.
"terus ya... abis gue dari tambal ban, gue kena macett Laa ya ampun sudah cukup penderitaan hayati hari ini, hayati lelahhh bang" ucap Nadira penuh drama di setiap perkataannya "Aylaa, lu mah novel mulu yang diperhatiin, yang dibaca setiap pagi apa lagi jamkos kaya gini. Aylaaa gue laper nih, kantin aja yuk Laa. Gue belum sarapan daripada gue pingsan lu juga kan yang repot gotong-gotong gue!?" ucap nadira pada gadis yang masih asik dengan novelnya, ia menyandar kepalanya di pundak Ayla. Gadis yang memakai jam tangan biru itu pun menutup novelnya dan menaruh kembali ke dalam tas "yaudah ayuk kantin, gue juga mau beli minuman" ucap Ayla, kemudian langsung berdiri dari tempat duduknya begitu juga gadis itu, ia mengikuti Ayla yang sudah duluan melangkahkan kakinya keluar kelas dan menuju kantin.
"ehh curut tungguin gue ogeb!" ucap Nadira setengah berteriak, kemudian gadis itu mesejajarkan jalannya agar sama dengan Ayla
Setibanya di kantin Nadira langsung memesan makanan di stand mie ayam mang Edo "mang, mie ayam satu sama es jeruknya dua yah" pesan Nadira pada penjual mie ayam tersebut. Lalu mang Edo segera membuatkan pesanan Nadira, tak perlu waktu lama pesanan itu sudah siap
"nih es jeruk buat lo, gue traktir deh" ucap Nadira sambil menyerahkan segelas es jeruknya pada Ayla yang sedang sibuk men-scroll instagram di ponselnya
Satu lagi fakta tentang ayla, gadis itu hobby sekali stalker kalau dia sedang membaca novel dan sedang melakulan hobby lainnya ia paling tidak suka diganggu, hanya Raffa dan Nadira yang berani mengusik Ayla ketika gadis itu tengah asik dengan dunianya sendiri. Begitulah Ayla gadis cuek yang punya dunianya sendiri tanpa memperdulikan kejadian di sekitarnya.
"woi itu di minum katanya mau beli minuman, sudah gua beliin malah dianggurin lagi stalk siapa sih La?" tanya Nadira seraya menyuapkan mie ayam ke dalam mulutnya lalu meminum es jeruk yang tadi dia pesan.
"gue lagi nontonin video makanan doang kok Ra" ucap Ayla sambil nyengir kuda tanpa rasa bersalah sedikit pun, lalu ia meminum es jeruk yang ada di hadapannya
Tak lama kemudian muncul lah Raffa dari pintu kantin diikuti dua lelaki kembar di belakangnya, siapa lagi kalau bukan Karrel dan Kaffel.
"ehh curut, lo udah berani bolos pas jamkos ya?" tanya Raffa seraya duduk disamping Ayla tanpa permisi lagi, langsung meminum es jeruk miliknya sampai tak tersisa "ehh Diraa lo, makin cantik aja hari ini jadi makin sayang akunya" ucap Karrel pada Nadira yang sedang menghabiskan sisa es jeruk miliknya. "Didiraa jangan jutekin bang Karrel yang ganteng ini dong nanti kalau aku diambil orang Didira sedih lagi" lanjut Karrel masih menggoda gadis di hadapannya, Nadira sampai kesal dibuatnya yang lain pun hanya tertawa menanggapi bualan yang Karrel lontarkan untuk gadis itu. Entah kenapa Karrel sangat suka mengusili Nadira tiada hari tanpa mengusik gadis itu 'kalo ga ganggu dis hidup gue bagai laut tanpa ikan. Hampa' seru Karrel saat di rumah Raffa.
Tak lama bel istirahat berbunyi membuat kantin yang tadinya hanya diisi oleh mereka berlima kini mulai di padati siswa-siswi lain yang juga ingin mengisi perutnya dengan makanan setelah 3 jam mereka belajar di kelas.
"Raff pulang sekolah nanti beli crapes di tempat biasa yuk. Terus movie maraton di rumah pohon yah" ucap Ayla pada lelaki berkacamata disebelahnya. Kini, mereka sedang duduk di taman belakang sekolah. Yaa, setelah dari kantin keduanya memustukan untuk duduk di taman sekolah sambil melihat aktivitas murid lainnya yang berlalu lalang. Sementara ketiga sahabatnya mereka memilih keatas rooftop sekolah untuk sekedar menghabiskan sisa waktu istirahat.
Raffa menolehkan pandanganya pada Ayla yang menunggu jawaban "yaudah iya nanti pulang sekolah kita kesana, tapi pas di rumah pohon gue yang milih filmnya ya?" ucap Raffa pada Ayla sambil tersenyum jahil. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya dan mengehembuskan nafas pasrah. Dengan berat hati akhirnya ia mengiyakan ucapan Raffa daripada mereka tidak membeli makanan favoritnya itu, Ayla lebih baik mengalah membiarkan Raffa yang memilih film apa yang akan mereka tonton nanti, di rumah pohon.
Di rooftop sekolah....
Kaffel sedang asik memetik gitarnya sambil sesekali bersenandung, sementara Karrel tengah asik duduk di pinggir rooftop sambil mengayuan-ayunkan kakinya entah apa yang sedang ia pikirkan, Nadira yang masih asik memandang langit pun tak menghiraukan apa yang kedua sahabatnya itu lakukan.
Tiba tiba Karrel bersuara karena ia melihat pesawat lewat di atas langit
"pesawat Karrel minta duit dong, buat ngajak Nadira jalan pas malem minggu. Terus Karrel mau ngasih makan si Belang" teriak Karrel pada pesawat terbang yang jauh di atas sana
"yah, pesawat ga denger ucapan Karrel ya? berarti Karrel ga jadi ngajak Nadira jalan sama ngasih makan belang dong!?" ucap Karrel dengan raut wajah kecewa. Jadi, si Belang yang di maksud Karrel itu adalah kucing kesayangannya
Plakkk..... Kaffel melempar sesuatu ke kepala kembarannya itu yang menurutnya, otak Karrel sudah tidak waras lagi. Masa iya pesawat diajak ngomong juga? di rumah setiap hari ia mengajak belang ngomong walaupun ia tau Belang tidak akan membalas perkataannya
"dasar kembaran ogeb, mana denger tuh pesawat kalo lo tereakin dari sini?. Samperin sana ke rumahnya" ucap Kaffel yang masih setia duduk dipinggiran rooftop
"otak lo terbuat dari apa sih Rel? sampe segitunya, gue tau lo jomblo tapi ga gini juga. Masa ngajak gue jalan minta duitnya sama pesawat sih!?" balas Nadira pada lelaki tersebut, Karrel hanya membalas ocehan kembarannya dan juga Nadira dengan cengiran yang sulit diartikan seraya menggusap lehernya yang tidak gatal,
lalu Karrel menjawab "iyaa nanti gue samperin ke rumah pesawat ah, mau minta duit, lo anterin ya kaf? Lo kembaran gue yang baik hati dan tidak sombong kan" ucap Karrel dengan raut wajahnya yang terkesan konyol.
Lalu Karrel menoleh kearah Nadira "gue kan jomblo karena nungguin lo sayang sama gue Didira, sekarang gue tanya lo udah sayang belom sama gue? Kalo belom nanti malem gue tanya lagi yah? Kalo belom juga besok gue tanya lagi, begitu seterusnya sampe lo sayang sama gue" ucap Karrel penuh semangat pada gadis yang menatapnya di sebelah Kaffel. Lelaki tersebut tidak pernah main-main dengan ucapannya kalau soal Nadira lihat saja nanti malam dia akan menanyakan hal yang sama pada Nadira dan tentu saja jawaban gadis berlesung pipi itu juga sama seperti sebelum-sebelumnya
__ADS_1
"bodoamat" ucap Nadira dan Kaffel berbarengan
Lalu Karrel berucap "cieee kompak banget udah kaya pasukan paskibra mau mengibarkan bendera merah putih" lalu tak lama Karrel tertawa entah karena apa, kemudian ia melangkahkan kakinya dan duduk di samping Nadira. Tentang keberadaan rooftop sekolah, hanya mereka berlima lah yang tahu dan mereka takkan pernah rela memberi tahunya pada siapapun sebelum mereka lulus dari sekolah ini
"gue bingung sama si Raffa kapan ya dia berani ngomong yang sebenernya ke Ayla?" ucap Karrel sambil mengarahkan pandangannya ke atas langit, membuat Kaffel dan Nadira menoleh dengan tatapan penuh tanya
"lo kenapa tiba-tiba nanya itu Rel?" tanya Nadira seraya menaikan sebalah alisnya
"yaa, gue greget aja sama Raffa betah bgt nunggu Ayla peka"
"ga semudah itu bodoh. Kalo Raffa nyatain perasaannya ke Ayla sekarang otomatis Ayla bakalan ngejauhin Raffa dan menutup kemungkinan, dia juga jauh dari kita secara kita juga sahabat dia dan juga sahabatnya Raffa" jelas Kaffel panjang yang kini sudah tak lagi memamainkan gitarnya
"lo berdua tau kan Ayla itu tipe cewe yang cuek setengah mati?" Karrel dan nadira menggangguk tanda membenarkan ucapan Kaffel
"orang cuek itu kalau dia tahu ada yang suka sama dia, dia bakalan ngejauhin orang itu sejauh-jauhnya. Kecuali kalau dia memang punya rasa yang sama. Ayla itu susah ditebak juga, gue nggak tahu dia ngerasain apa yang Raffa rasa atau nggak" lanjutnya lesuh karena dia tak mau kedua sahabatnya itu menjadi saling jauh-jauhan hanya karena virus merah jambu itu
"kita doain aja deh, semoga mereka terus akur sampe kakek nenek biarpun ga berjodoh sekalipun" tambah Karrsel yang masih setia memandang langit
"gue beharap semoga mereka emang di takdirkan bersama selamanya" ucap Nadira lalu mereka menganggukan kepala pelan kemudian Kaffel beridiri dari duduknya "masuk kelas yuk, udah bel tuh"
"ayok" lalu Karrel berjalan sambil merangkul pundak Nadira, yang di rangkul pun hanya diam saja tanpa merasa keberatan sedikit pun
‘lah tumben nih nggak marah gue rangkul-rangkul’katanya dalam hati karrel lalu melirik kearah gadis itu yang tengah menunduk memperhatikan langkah kaki mereka
"tapi gapapa lah kemajuan" lanjut Karrel dalam hatinya lalu tersenyum
Bel menandakan berakhirnya pelajaran hari ini pun berbunyi
Membuat seluruh murid bersorak gembira.
"ehh mimiperi lo mau pulang nggak?" tanya Kaffel pada kembarannya yang tengah mendengarkan musik dari ponselnya sambil menganggukan kepala mengikuti alunan musik yang ia dengarkan, lalu Karrel berdiri sambil melepas earphone di telinganya "dadahh Didiraa Karrel ganteng pulang dulu yaa" pamitnya pada Nadira sambil dadah-dah seperti miss Indonesia.
"sonoh lu jauh-jauh dari gue. Yaudah La gue duluan ya, bye see you. Muuach" pamit Nadira pada Ayla " dadah tiati yah bep" ucap gadis itu seraya melambaikan tangan
Kemudian Raffa meraih tangan Ayla keluar kelas dan menuju parkiran sekolah, setibanya di parkiran lelaki itu menaiki dan menyalakan motornya, tak lupa memakaikan helm ke kepala Ayla seperti biasa.
"yok naik LSa" suruhnya, gadis itu menurutinya tanpa sepatah katapun. Dan motor Raffa melaju meninggalakan parkiran sekolah
Tak lama kemudian mereka sampai di tempat penjual crapes yang biasa mereka beli sejak kecil bahkan, penjualnya pun sampai hafal dengan mereka berdua
"pak pesen crapes dua biasa yaa" kata Raffa pada pak Jidan yang sedang membuat pesanan orang lain "siap bro di tunggu ya" balas pak Jidan. Mereka pun menunggu pesanannya
"La, nanti nonton horor yaa?"
"iihh kok itu sih Raff yang lain aja ah"
"kan tadi lo udah setuju gue yang nentuin filmnya curut! gimana sih lo?"
Ayla memasang raut wajah pasrah, membuat lelaki itu tertawa. Karena menurutnya ekspresi gadis itu sangat lucu jika dia sedang ada disituasi seperti ini. Tak lama pesanan mereka datang lalu Raffa membayarnya dan langsung meninggalkan tempat itu untuk pulang dan menonton di rumah pohon di sebelah rumah Ayla
Setibanya di rumah pohon Ayla langsung saja memakakan crapesnya dengan lahap sementara Raffa sibuk mencari film yang akan mereka tonton "nah ketemu!" ucap Raffa saat menemukan film yang baru dia beli minggu lalu, cowok itu menoleh ke arah Ayla yang masih menikmati crapesnya sampai ia menghiraukan keberadaannya, tak lama film yang ia tonton di mulai dan lelaki tersebut langsung menyamakan posisinya agar sejajar dengan Ayla "ehh Raf, ini serem yaa gue kan takut Raffa" tanya gadis itu pada cowok di sampingnya padahal filmnya baru saja di mulai
"nggak elah, ada gue nggak usah takut" ucapnya sambil memakan makanan yang tadi ia ambil dari rumah.
"Aaagrh.... Raffa itu serem banget gilak! lu mah iihh" Ayla langsung memeluk Raffa erat karena ketakuta, jarak mereka sangat dekat sehinggga ia bisa mencium parfum di tubuh cowok tersebut "hahahhahahah La, La. Masa gitu doang lo takut?" ucap Raffa yang dibalas pukulan oleh gadis itu tapi tetap saja Ayla tidak merubah posisinya yang memeluk Raffa. Dirasa sudah tak takut lagi ia melepas pelukannya dan menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu.
__ADS_1
"huft gue ngantuk" tak lama gadis itu memejamkan matanya, tanpa ia sadari Raffa memperhatikan gadis itu cukup lama.
Hari menjelang sore, Raffa dan Ayla tertidur di rumah pohon "astaga jam berapa nih?" ucap Raffa, diliriknya gadis yang masih tertidur pulas "La bagun udah sore" panggilnya seraya menepuk pipi gadis yang masih mengenakan seragam itu pelan, tak lama Ayla terbangun dari tidurnya "iih gue ketiduran yaa? Terus itu lanjutan filmnya gimana?" tanya Ayla penasaran, lelaki itu hanya membalas pertanyaan Ayla dengan cengiran saja.
"gue juga ketiduran La"
"yee cengcorang gue kira lo nonton"
"udah ah gue mau mandi, dah Raffa"
"tungguin gue La" serunya lalu mengejar Ayla yang sudah turun lebih dulu
"Raff, nanti malem main basket yuk!?"
"sekalian nginep aja disana Laa"jawabnya, sambil merangkul gadis bertubuh mungil itu, Ayla meletotkan matanya ke arah Raffa
"bercanda" ucapnya lagi, cowok itu mengangkat jarinya membentuk huruf V
"yaudah deh, nanti malem rumah pohon"
"masuk sonoh mandi, bau lo tau ga?" katanya lagi
"iyaa iyaa, gue mandi bye Raffa"
Duukk.... Dukkkkk.....
Suara pantulan bola basket memenuhi pekarangan rumah bernuansa putih, hal itu sudah biasa keduanya lakukan jadi keluarga Raffa maupun keluarga Ayla tidak heran lagi dengan aktivitas yang mereka lakukan.
"haduhh capek gue, duduk dulu ah"
Ayla mendudukkan dirinya di tengah lapangan basket sambil memperhatikan Raffa yang masih mendrible bola, selang beberapa menit Raffa menghampirinya lalu meneguk air yang sudah disediakan gadi itu untuk mereka berdua. "ehh Raf bintangnya bagus liat deh"
Raffa pun mengalihkan pandangannya ke atas langit. "nggak biasa saja sii ye lebay loh"
"kan bintangnya ada di sebelah gue nih" seru lelaki itu seraya menautkan kedua alisnya
Ayla kaget mendegar perkataan cowok di sampingnya "apaan si lo Raf, yee kocak ahh" balas gadis itu memukul punggung Raffa
"eh Laa, dulu waktu kecil kita sering nginep di rumah pohon itu ya?" tanya Raffa seraya mengalihkan pandangannya ke rumah pohon, lalu ia menoleh ke arah Ayla, dan gadis itu melakukan hal yang sama juga, pandangan mereka bertemu 'gue selalu suka sama mata lo yang menenangkan La, ralat semua yang ada dalam diri lo gue suka' kata Raffa dalam hatinya sambil menatap mata hazel milik Ayla.
"kapan-kapan kita nginep di rumah pohok yuk!?" ucap mereka berbarengan
"mengulang masa kecil" lagi-lagi mereka mengatakan hal yang sama, lalu keduanya tertawa. Bingung, mengapa bisa mengatakan hal yang sama
"lo mau?" tanya Raffa memastikan.
"ya mau lah Raf, tapi beli jajanan yang banyak" sahut gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam.
Kemudian Raffa berdiri dari duduknya tak lupa membawa bola basket itu "yaudah lo tidur sana, besok jangan kesiangan" ucap Raffa, mengajak Ayla untuk masuk ke dalam rumah mereka masing-masing
"selamat malam Ayla" ucap raffa sebelum masuk ke dalam rumahnya
"malam juga jelek" balas gadis itu, kemudian tertawa "sayang lo deh" ucap mereka berbarengan
"tapi bohong" kata mereka lagi. Kemudian, keduanya masuk ke rumah masing-masing untuk istirahat dan melanjutkan aktivitas esok hari
__ADS_1
"Lo kapan pekanya sih La?" tanya Raffa pada dirinya sendiri. Ia menatap kamar gadis itu yang sudah gelap. Menandakan gadisnya sudah beranjak tidur.