SESAL

SESAL
Panggil aku, Sayang


__ADS_3

Malam yang begitu indah, semilir angin berhembus dengan pelan menerpa wajah, bulan bersinar dengan terangnya dan bintang yang bertabur di atas langit menambah indah suasana malam.


Aku terduduk di dekat kolam renang sambil menatap langit.Hari-hari kujalani dengan kebahagiaan. Itulah hidup, sehabis gelap pasti ada terang, setelah kesedihan pasti ada kebahagiaan. Dua hari setelah resepsi pernikahan, keluargaku sudah kembali ke rumah dan Rafa pun di bawa serta oleh ibuku. Sedangkan mertua sedang berangkat keluar kota karena ada urusan pekerjaan. Hanya aku dan Rayhan serta pembantu yang tinggal di rumah besar tersebut.


Sebenarnya mertua menyarankan kami untuk bulan madu ke manapun kami inginkan, tapi bagiku itu tidak terlalu penting. Aku dan Rayhan sepakat bulan madunya di tempat lamaran kami dulu. Dengan pertimbangan tempat itu tidak terlalu jauh, dan tempatnya juga lumayan bagus.


Sedang asyiknya menatap langit, sebuah tangan kekar memelukku dari belakang.


"Ngapain di sini?"


"Cari angin, Kak."


"Masa angin di cari? mendingan cari-in aku," jawabnya sambil mencium rambutku.


"Nempel terus kok di cari--in" ucapku terkekeh geli karena dia menekan dagunya di pundakku.


" Kapan kita balik, Kak?" Tanyaku.


"Nggak betah ya tinggal di sini?" tanyanya.


"Betah, Kak, tapi gimana dengan kerjaan aku?"


Dia membalikkan badanku menghadap dengannya.


"InsyaAllah aku bisa nafkahin kamu dan Rafa," ucapnya serius.


"Bisa nggak ... aku tetap kerja, Kak?" kataku memelas.


"Aku nggak mau kamu capek, Sayang, aku mau kamu hanya mengurus aku , Rafa dan adik-adiknya Rafa kelak.Aku mau secepatnya ada Rayhan junior tumbuh dalam sini." Katanya mengelus perutku yang rata.


"Kan belum ada, Kak."ucapku memegang tangannya yang ada di perutku.


" Boleh ya---ya, Kak?'


Ucapku dengan wajah memohon.


"Kalau pasang muka begini sih, aku bisa apa,Sayang?" ucapnya langsung mencubit pipiku.


Aku langsung mendaratkan ciuman sekilas di pipinya kemudian memeluknya.


"Thanks, Suamiku sayang," ucapku semangat.


"Kamu bilang apa tadi? coba ulangi lagi?" ucapnya melepaskan pelukanku.


Aku baru tersadar dengan apa yang kukatakan, wajahku merona karena malu.


"Tidak ada siaran ulang," jawabku malu-malu.


"Batal deh ijinnya kalau gitu," ucapnya pura-pura.


"Thanks, Suamiku sayang,' ucapku cepat.


Dia langsung mengeratkan kembali pelukannya.


"Gitu dong, Sayang, mulai hari ini kamu panggilnya kayak tadi, ya...?Jangan panggil Kakak terus, kesannya aku tu ... aa banget." Ucapnya terkekeh.


"Ok, Kak, e ... Sayang." jawabku sambil mengangkat jempolku.


Setelah beberapa lama bercanda tawa, udara malam semakin menusuk pori - pori. Akhirnya kami masuk ke kamar untuk beristirahat. Tapi sebelum terlelap dalam mimpi yang indah, tak lengkap rasanya kalau pasangan pengantin baru tak melakukan sesuatu yang membuat terbang ke alam nirwana yang penuh dengan kenikmatan yang tiada tara.


Azan subuh berkumandang, kami bergegas membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban dua raka'at secara berjamaah.

__ADS_1


Sepertinya sudah menjadi kebiasaannya, pagi dia harus mendapatkan jatah lagi. Sudah hampir seminggu ini jatahnya tidak pernah dia kurangi. Bahkan dia pernah mengatakan kalau itu bukan seberapa kalau harus menuruti hasratnya. Cuma dia tidak mau membuatku kelelahan dan menganggapnya hanya untuk pemuas nafsunya saja.


Sebenarnya aku tak masalah juga karena itu merupakan kewajiban yang harus aku lakukan kapanpun dan di manapun dia meminta haknya aku akan mencoba memenuhinya. Karena keharmonisan sebuah keluarga juga ditunjang dengan kepuasan lahir batin setiap pasangan.


Aku pernah gagal dalam membina rumah tangga, itu akan ku jadikan pembelajaran dalam pernikahanku yang sekarang, kekuranganku sebagai istri yang sebelumnya akan aku perbaiki.Itu janjiku pada diriku sendiri.


Saat mengerjapkan mata setelah olahraga panas yang kami lakukan, aku mencari sosok yang tadi saat aku tertidur aku berada dalam pelukannya. Mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, kucek di kamar mandi dia tidak tampak juga. Aku keluar dari kamar dan aku membuka ruangan gym, ternyata dia sedang berolahraga di sana. Karena dia tidak mengenakan atasan sehingga tampak jelas otot-ptotnya menonjol.Keringat bercucuran memenuhi sekujur tubuhnya.


"Pantasan dia kuat," gumanku.


Aku tersenyum ketika dia menoleh ke arahku.


"Mau ikutan olahraga?" katanya sambil berdiri menghampiriku.


"Aku udah olahraga,'" ucapku.


"Kapan?" tanyanya kebingungan.


"Tadi pagi," ucapku asal.


Dia hanya mengacak rambutku, sambil tertawa.


"Itu sih aku yang olahraga, kamunya cuma nikmatin aja," ucapnya tak mau kalah.


Aku hanya mengerucutkan bibirku, kemudian aku mengambil dan mencoba mengangkatnya.


"Aw..." teriakku.


Dia bergegas mendekat dan membantuku mengangkat barbel tersebut.


Posisinya dia di belakangku.membantuku mengangkat barbel tersebut.


Karena merasa akan terjadi sesuatu kalau aku berada terus di situ akhirnya aku menghentikan olahraga tersebut.


" Kok "kakak"lagi sih,! ucapnya protes.


"Sorry, lupa, hehe."ucapku berteriak.


Setelah ganti baju aku langsung bergegas ke kolam renang. Dan mulai berenang.


"Byurrrrrrrr"


Rayhan langsung melompat masuk dan berenang mengejarku yang sudah berada hampir di tengah kolam. Karena dia kuat dan jago dalam hal apapun sehingga dia lebih duluan sampai di pinggir kolam. Aku ngos - ngosan pada saat tiba di pinggir kolam.


"Yuk kita lomba renang," ujarnya.


"Nggak ah, pastinya aku yang kalah,"tolak--ku.


"Kamu duluan yang berenang nanti pas di tengah aku baru star."


Aku tertarik dengan tawarannya hingga aku menyetujui usulnya.


Aku memulai berenang dengan kekuatan maksimal, aku tidak memperhatikan apa dia sudah mulai berenang atau tidak, aku hanya fokus untuk sampai secepatnya. Tapi pas sampai di pinggir kolam aku mengangkat wajahku ternyata dia sudah duduk di bibir kolam.


Dadaku naik turun dengan nafas yang cepat, mau ngomong tapi masih ngos-ngosan dia hanya tertawa di depanku.


"Butuh nafas buatan?"Tanyanya menggoda.


"Kakak curang!" ucapku masih dengan nafas yang cepat.


Dia langsung masuk kembali ke dalam air.

__ADS_1


" Aku nggak curang,Sayang."


"Buktinya aku nggak lihat kakak di belakangku."


"Bagaimana mau lihat kalau kamu berenangnya seperti ikan tokek."


Aku mencubit perutnya dari dalam air.


"Awww ...." teriaknya.


"Kenapa?" tanyaku pura-pura.


"Ada kepiting yang nyubit," ucapnya .


Aku tau dia pura-pura juga tak tau kalau pelakunya aku.


Kemudian dia menyelam dan langsung mengankatku sehingga aku lebih tinggi darinya.


"Udah ku tangkap kepiting cantiknya," teriaknya.


Aku berusaha melepaskan diri tapi tak bisa akhirnya menikmati kebahagiaan dan tertawa bersamanya. Menyelam, berenang bersama dengan di iringi tawa canda memenuhi kolam renang.


Aku bersandar di pinggir kolam renang karena merasa lelah. Dia kemudian mendekat dan ikut bersandar di sampingku. Dari dalam air jemari jemari kami saling mengait.


"Kamu bahagia?" tanyanya sambil menatapku dari samping.


"Sangat," ucapku menoleh ke arahnya.


Mata kami saling bertatapan, deru nafasku masih terasa cepat karena habis berenang di tambah lagi tatapannya yang membuat jantung mau meloncat keluar.


"Apa cinta itu sudah hadir di sini?" ucapnya sambil menunjuk dadaku.


Bukannya menjawab malah aku bertanya kembali.


"Apa harus aku jawab?"


"Aku ingin mendengar langsung dari bibirmu."katanya terus menatapku.


Aku tersenyum menatapnya.


"Iya, bahkan aku tak tau kapan perasaan itu muncul, tapi sekarang aku pastikan aku telah jatuh cinta padamu," ucapku sambil mengelus pipinya dengan sebelah tanganku.


Senyum merekah di wajah tampannya dan langsung memelukku.


"Thanks, Sayang, I love you so much,"


"Love you too my husband."


Tak henti - hentinya dia mencium dari tangan, kening, pipi, hingga tiba di bibir.


"Eitssss....stop, Sayang, nanti ada yang lihat." ucapku.


"Nggak ada yang berani naik di sini."


"Tapi dari sana?" kataku menunjuk ke arah depan karena ada juga bangunan setinggi dengan kami berada saat ini.


"Nggak kelihatan kok, cermin itu nggak tembus pandang, cuma kita yang bisa melihatnya,"katanya meyakinkanku.


"Tapi....."ucapku ragu.


"Kecuali ada kapal yang lewat." ucapnya tergelak.

__ADS_1


Aku pun ikut tertawa hingga kami keluar dari kolam dan masuk ke kamar untuk membersihkan diri kemudian sarapan.


__ADS_2