
Malam berganti pagi yang indah. Hari ini aku dan Rayhan akan datang ke sekolah untuk perayaan kelulusannya. Tapi aku tak mengatakan kepada Rafa, kami ingin membuat kejutan padanya. Yang Rafa tahu hanya aku yang akan datang ke sekolahnya. Semalam Rafa tidak bermalam di rumah karena dia sebagai panitia di sekolahnya. Jadi dia menginap di rumah gurunya untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Karena macet akhirnya kami sedikit terlambat. Sehingga kami harus duduk di kursi belakang. Pembawa acara sudah membuka acara tersebut dengan sambutan dari kepala sekolah dan beberapa orang lainnya.
Kini tibalah acara puncak dengan pengumuman siswa yang memperoleh nilai tertinggi.
Yang pertama di panggil ke panggung adalah peringkat ke tiga dan kedua orang tuanya, kemudian selanjutnya peringkat ke dua beserta ke dua orang tuanya. Suara sorak tepuk tangan menggema di ruangan itu.
"Selanjutnya peringkat pertama yang memperoleh nilai tertinggi pada tahun ini atas nama Rafa Putra Rasya dari kelas IPA.1" Teriak pembawa acara dengan penuh semangat.
Seketika air mata kebahagiaan meluncur bebas keluar dari pelupuk mata. Rasa haru dan bahagia bercampur jadi satu karena putraku bisa membanggakan kami sebagai orang tuanya.
"Ntar aja nangisnya, yuk kita ke panggung."Bisik Rayhan.
Aku segera menghapus air mata yang menetes di pipi dan bergegas naik ke panggung.
Rafa sudah sampai di atas panggung dan ketika dia melihat aku dan Rayhan naik ke panggung senyum merekah di wajah tampan anakku.
Dia langsung mencium tanganku dan Rayhan secara bergantian.
Setelah penyerahan piala dan hadiah kepada Rafa. Kemudian dia di berikan kesempatan untuk memberikan sepatah kata sebagai juara pertama.
"Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Terima kasih Bapak dan Ibu guru, yang selalu sabar membimbing dan membekali berjuta ilmu pada kami, dan special thanks buat orang tuaku yang sudah memberikan kasih sayang kepadaku yang tak terhingga.Buat Mama terima kasih engkau selalu ada untukku, terima kasih untuk semua cinta yang kau berikan kepadaku.Terima kasih buat Papa Rayhan kasih sayang yang engkau berikan tak bisa aku balas dengan apapun di dunia ini.
Rafa menyampaikan ungkapan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Terima kasih Tuhan Engkau memberikan putra yang baik dan membanggakan seperti Rafa. Walaupun dari kecil orang tuanya berpisah tapi kasih sayang kami sebagai orang tuanya tetap kami berikan padanya.
Setelah acara selesai Rafa datang langsung memeluk Rayhan.
"Terimakasih Papa Ray sudah sempat datang." Ucapnya terharu.
"Buat jagoan Papa, tidak ada kata tidak sempat." Ucap Rayhan memukul pelan pundak Rafa.
"Kamu hebat, Nak." Ucap Rayhan lagi
"Ini semua karena Mama, Papa Ray dan papa," Ujar Rafa.
"Ini hasil kerja keras kamu, Nak." Ucapku padanya.
Kami mengabadikan moment itu dengan mengambil foto bersama.
Tiba-tiba datang seorang gadis yang lumayan cantik menghampiri Rafa dan mengucapkan selamat.
"Selamat ya Rafa, akhirnya lho berhasil ngalahin gue." Ucap gadis itu.
"Kan memang gue selalu ngalahin lho," Tukas Rafa judes.
"Iya juga sih, gue kan baru naik kelas tiga, heheh." Ujar gadis itu mengakui sendiri kekalahannya.
Kemudian gadis itu beralih memperkenalkan dirinya padaku dan Rayhan
"Hai Tante, kenalkan nama aku Adhima, calon mantu Tante, hehe." Ujarnya tanpa rasa malu.
__ADS_1
Aku dan Rayhan hanya saling berpandangan melihat ulah gadis tersebut.
Sedangkan Rafa sangat kesal pada gadis tersebut
"Lho ya!! Nggak tau malu banget jadi cewek. " Ucap Rafa dengan wajah yang memerah.
"Santai aja, nggak usah malu gitu." Ucapnya tersenyum memperlihatkan gigi ginsulnya yang menambah manis kalau tersenyum.
"Dasar cewek stress." Umpat Rafa.
"Dari pada lho cowok sok jual mahal." Balas Adhima.
"Suka-suka gue dong." Timpal Rafa.
"Padahal gue kesini mau nyampein pesan dari Ghina lho Raf." Ujarnya lagi.
"Apa?" Tanya Rafa penasaran.
"Nggak jadi deh ..bye Rafa." Ucap gadis tersebut dan berlalu meninggalkan kami.
Kemudian gadis tersebut berlari kembali ke arah kami untuk berpamitan padaku dan Rayhan.
"Dia pacar kamu?" Tanya Rayhan.
"Amit-amit deh punya pacar cewek stress kayak dia." Ucapnya mengedikkan bahu.
"Tapi dia cantik juga." Ucapku.
"Udah ah.. Ma, nggak usah mikirin cewek stres itu." Ucap Rafa mengajak kami berfoto kembali.
"Hai Tante, ketemu lagi." Ucap Adhima.
"Mau pulang?" Tanyaku basa basi.
"Iya, Tante ini tungguin Papa dan Mama lagi ke toilet." Ujar Adhima.
"Tante duluan ya?" Ujarku sambil bergegas ke mobil.
Baru saja berjalan beberapa langkah seseorang berteriak dengan hebohnya memanggilku
"Fani!!!" Teriaknya.
"Dewi? Astaga ini benar kamu kan Dew?" Tanyaku tak percaya kalau orang di depanku ini adalah Dewi, teman kantorku dulu.
Kami berpelukan melepas rindu karena lama baru ketemu.
Kemudian Adhima dan temannya datang mendekat.
"Mama kenal sama Tante ini?" Tanya Adhima seakan tak percaya.
"Iya, dia ini teman Mama, kamu kenal sama Tante Fani?" Tanya Dewi pada anaknya.
__ADS_1
"Kenalnya juga baru tadi, Ma." Ucap Adhima.
"Ini putri kamu, Dew?" Tanyaku pada Dewi.
"Iya... dan ini kemenakan aku,namanya Ghina." Ujar Dewi.
Oh jadi ini yang namanya Ghina yang di sebut Adhima tadi. Ucapku dalam hati.
"Anak kamu persis banget sama kamu, Dew." Ucapku pada Dewi.
"Sama-sama bawelnya." Ucap Dewi sadar diri.
Kami tertawa bersama.
"Rafa yang lulus, Fan?"
"Iya..."
"Mama kenal Rafa?" cerocos Adhima menyela obrolan kami.
"Iyalah ..kalian sering main waktu kecil." Ucapku pada Adhima.
Kulihat Adhima senyum-senyum saat aku membahas tentang Rafa.
"Kapan-kapan ya, aku main di rumah Tante." Ujar Adhima lagi.
Sedangkan gadis di sampingnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sepupunya.
"Atau mau ikut sekarang?" Pancingku padanya.
"Nggak ah Tante, Rafanya nggak ada." Ucapnya jujur.
"Kan kamu calon mantu Tante." Ujarku tertawa.
"Maksudnya Fan?" Ujar Dewi bingung.
"Anak kamu tadi ini ngakunya pacar Rafa." Ujarku tertawa mengadukannya pada Dewi.
"Astaga Adhima...kamu ya! Nggak tau malu banget jadi cewek." Ujar Dewi memarahi anaknya.
Adhima cengengesan diomelin sama mamanya.
"Jangan di dengar Fan, dia memang kayak gitu, semua cowok gagah diakuin pacarnya, bahkan Le Min Ho saja di katakan pacarnya." Ujar Dewi lagi.
"Maaf Tante, Aku cuma bercanda." Ujar Adhima.
"Nggak apa-apa kok, tapi kalau serius juga nggak apa-apa ." Ucapku lagi.
Adhima hanya tersenyum mendengar ucapanku.
Setelah mengobrol kami akhirnya bertukar nomor ponsel. Karena nomor lama Dewi sudah lama ternyata sudah di ganti Kemudian kami naik ke mobil masing-masing untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Karakter Dewi ternyata persis sama putrinya.
Dewi hadir di acara kelulusan itu untuk mendampingi kemenakannya karena orang tuanya berada di luar pulau.