
Jodoh adalah satu di antara perkara paling misterius seperti halnya kematian. Tidak ada yang tahu dengan siapa, kapan dan bagaimana seseorang akan menemukan jodohnya.
Seperti itulah yang di alami oleh dua sejoli Pak Erwin dan dokter Tiara. Meskipun sudah terpisah lebih dari dua puluh tahun tapi mereka di pertemukan dan disatukan dalam sebuah ikatan yang namanya pernikahan.
Di sinilah kami berada di acara sakral dua sejoli yang berumur empat puluh tahun itu. Wajah ke duanya begitu bahagia setelah mempelai pria melafaskan ijab kabul. Pak Erwin yang aku kenal dingin, kaku dan jarang senyum ternyata bisa juga jatuh cinta. Tepatnya CLBK dengan dokter Tiara. Sungguh penantian yang sangat panjang bagi ke duanya sampai bisa sampai kejenjang pernihkahan.
Pernikahan mereka di laksanakan secara tertutup hanya keluarga dekat yang hadir. Tak butuh waktu yang lama mereka memutuskan untuk menikah. Mungkin karena mereka sudah kenal lama dan pernah menjalin hubungan sehingga hanya butuh waktu dua bulan saja mereka sepakat ke jenjang yang lebih serius.
Usia kehamilanku sudah memasuki bulan ke sembilan. Menurut prediksi dokter HPL sekitar satu Minggu lagi. Aku menyempatkan diri menghadiri acara pernikahan dokter Tiara dan Pak Erwin.
Setelah acara pernikahan selesai kami pun bergegas pulang. Kebetulan ke dua mertuaku juga datang karena sudah menganggap Pak Erwin adalah sebagai keluarga.
Sebagai kado pernikahan kami ke dokter Tiara dan Pak Erwin, kami memberikan Fasilitas menginap di hotel milik suamiku selama yang mereka mau.
Aku memijit kakiku yang semakin membengkak karena efek hamil.
"Kamu capek, Sayang?" Tanya suamiku.
Aku hanya mengangguk dan dia membantuku untuk mengoleskan minyak gosok dan memijitnya.
"Pak Erwin dan dokter Tiara lagi ngapain, Ya...Sayang?" Ucapku membayangkan mereka sekarang lagi malam pertama.
"Ya pastilah lagi ehm...ehm" jawab suamiku.
"Apalagi Pak Erwin udah lama nggak gituan...pasti dia ganas benget, bisa-bisa dokter Tiara encok besok pagi.Hahaha." Tambah suamiku lagi.
"Astagfirullah Al Adzim...Dosa kita gibahin orang, Sayang." Ucapku
"Ups.." Ucap suamiku menghentikan tawanya.
"Gimana kalau kita ehm..ehm juga Sayang." Ucap suamiku menaik turunkan alisnya.
"Lihat perut aku, dah besar banget begini." Ucapku.
"Kan menurut dokter bagus untuk merangsang jalan lahir." Alasannya.
"Modus."
"Ayolah..Sayang! apalagi aku akan puasa lagi kalau baby girl habis launching nanti." Katanya mengiba.
Melihat wajahnya yang begitu mengiba aku tak tega untuk menolaknya apalagi memang alasannya masuk akal.
"Ya udah...aku ke kamar mandi dulu." Ucapku bergegas ke kamar mandi.
Dia tersenyum sumringah karena bujukannya berhasil.
Sesampainya ke kamar mandi dan berjalan ke arah closet entah apa yang ku pijak aku langsung tergelincir dan terjatuh.
"Awww....." Jeritku.
"Kamu kenapa, Sayang!" Teriak suamiku setelah mendengar jeritanku.
__ADS_1
Aku mencoba berdiri dan bergegas keluar dari kamar mandi
Alangkah terkejutnya aku ketika melihat ada darah yang menetes di kedua pahaku.
Seketika aku merasakan sakit di bagian perutku. Sakitnya semakin terasa dan melilit.
Aku berusaha keluar dari kamar mandi sambil berpegangan di dinding toilet. Aku membuka kamar mandi dan Rayhan langsung menoleh ke arahku.Melihatku kesakitan dengan wajah yang pucat disertai darah yang sudah memenuhi celana tidurku membuatnya berteriak keras memanggilku.
Karena merasakan pandanganku gelap aku terduduk di depan kamar mandi hingga kurasakan seseorang menggendongku dan membawaku keluar kamar.
Samar-samar kudengar suamiku berteriak.
"Telpon dokter Tiara cepat!!"
"Ray...kamu????"
Hingga aku tidak mendengarkan apa-apa lagi.
Aku mengerjapkan mata dan nampak di mataku serba putih. Aroma khas rumah sakit sangat terasa di Indra penciumanku.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar, Sayang." Ucap suamiku.
Aku hanya bisa tersenyum karena kepalaku masih pusing dengan pantulan cahaya lampu yang begitu silau.
Aku kembali menutup mataku mencoba mengingat apa yang terjadi padaku.
Aku teringat dengan kandunganku. Aku segera meraba perutku dan ternyata sudah tidak buncit lagi. Pikiranku sudah tak karuan memikirkan hal-hal yang buruk yang menimpa bayiku.
"Bayi kita ada khusus bayi, Sayang." Ucap suamiku tersenyum.
"Dia sehat?" Tanyaku
"Alhamdulillah sehat, Sayang." Ucapnya mengecup keningku.
"Aku mau melihat bayiku." Pintaku pada suamiku.
"Aku panggil dokter Tiara dulu."
Setelah di periksa oleh dokter, dan bayiku di bawa dan di baringkan ke sampingku. Rasa syukur dan haru bercampur jadi satu.
"Anak kita cantik, Sayang kayak kamu." Ucap suamiku.
Tak lama kemudian papa,mama mertua, orang tuaku, Pak Erwin datang.
"Selamat ya Fan?" Ucap dokter Tiara.
"Makasih,dok." Ucapku.
Baby girl ku sudah di gendong oleh mama mertua.
"Namanya siapa,? Tanya mama mertua.
__ADS_1
"Namanya Fadiyah, Ma." Jawab suamiku.
"Fadiyah ...masih kecil udah iseng gangguin orang ,batal deh malam pertama nya Om Erwin" Ucap mama mertua seolah mengajak bicara baby girl yang baru lahir.
Pak Erwin dan dokter Tiara hanya nyengir mendengar ucapan mama mertua .
"Tambah karatan deh." Ucap papa mertua menambahkan. sambil tertawa.
"Nanti sering-sering di asah ya ..Win! Supaya tambah tajam." Timpal mama mertua lagi.
"Itu sudah pasti, Tante ." Ucap Pak Erwin tiba-tiba.
Dokter Tiara langsung mencubit pinggang suaminya sehingga Pak Erwin langsung merintih kesakitan. Kami pun semua tertawa mendengar lelucon mereka. Benar-benar cinta bisa merubah segalanya.
Rayhan berjalan mengambil bayiku di gendongan mamanya. Aku baru tersadar kalau dia bisa berjalan.
"Sayang..Ka---kamu?" Tanyaku.
"Iya..aku sudah bisa jalan, Sayang, Putri cantik kita ini memang bawa berkah." Ucap suamiku sambil membawa bayi kami di sampingku.
"Alhamdulillah ya Allah." Ucapku sambil menangis bahagia.
Rasa syukur tak henti-hentinya aku panjatkan kepada Sang Pencipta atas segala limpahan karunia Nya yang di berikan pada keluargaku.
Setelah semuanya meninggalkan kamar perawatan. Tinggal lah aku, suamiku serta bayi kami di dalam kamar.
Rayhan menyuapiku makan apel.
Aku belum bisa banyak bergerak karena bekas operasi caesar masih terasa sakit dan ngilu.
"Sebenarnya kamu kenapa bisa jatuh." Tanya suamiku.
Aku kemudian menceritakan semua yang terjadi di kamar mandi. Ternyata ada hikmah di balik semua kejadian. Setiap kejadian yang ada itu pasti ada sebab dan akibatnya. Mungkin jalan Tuhan suamiku mengalami kecelakaan sebagai perantara Pak Erwin bertemu dengan jodohnya. Aku terjatuh di kamar mandi punya hikmah suamiku bisa berjalan kembali.
"Tapi aku heran kenapa kamu bisa langsung jalan, Sayang?" Tanyaku merasa tidak percaya.
"Aku juga nggak tau, pas lihat kamu lemas dan lihat darah, aku begitu panik, awalnya aku sempat terjatuh tapi aku bisa berdiri dan membawamu tepat waktu ke Rumah Sakit."Kata suamiku.
"The Power Of Panick, Sayang, hehehe." Ucapku.
"Itu kuasa yang Di Atas, Sayang, Yang penting kita ikhtiar dan berdoa dengan ikhlas Tuhan pasti menjabat doa-doa kita." Ucap suamiku mengecup keningku lembut.
"Oe....oe...."
Suara tangisan bayiku seolah cemburu dengan keromantisan kami.
Rayhan segera menggendongnya dan membawanya untuk menyusu.
Mata Rayhan terbelalak melihat sumber kehidupan bayinya yang sudah basah karena dari tadi sudah keluar.
"Mimi yang banyak ya, Nak...tuh stoknya banyak " Ucap suamiku terus membelai pipi bayi mungil kami.
__ADS_1